Breaking News
light_mode
Beranda » Opini » Doho-doho Kemerdekaan  

Doho-doho Kemerdekaan  

  • account_circle
  • calendar_month Kam, 17 Agu 2023
  • visibility 590

Ironi Negeri El Dorado dan El Picente

Setelah menemukannya, saya berani mengatakan bahwa Hindia adalah wilayah terkaya di dunia ini. Saya bicara tentang emas, mutiara, batu berharga dan rempah rempah berikut perdagangan dan pasar yang mereka miliki, karena semuanya tidak muncul begitu saja. Saya menahan diri untuk tidak mengeksploitasinya, (Cristopher Columbus  surat dari perjalanan  ketiga yang ditulis di Jamaika 7 Juli 1503).  

Isi surat yang saya kutip dari buku Jack Turner Sejarah  Rempah dari Erotisme Sampai Imprealisme ini, sebenarnya ingin memotret Maluku Utara.   Di sini tidak bermaksud menggambarkan perulangan sejarah pencarian Columbus pada Hindia yang kaya raya akan sumberdaya alam. Sebab apa yang Columbus  cari seperti dalam suratnya, ternyata dia temukan benua Amerika  bukan Hindia dalam misi pencarian El Dorado (emas,red) dan El Picente (rempah-rempah,red). Laporan Columbus  itu dimentahkan para penjelajah lain yang tidak menemukan jenis rempah apa pun. Columbus pun disebut sebut menuliskan sesuatu yang sifatnya hayali bahkan melakukan genocide di benua Amerika.

Terlepas dari itu, apa yang digambarkan dalam suratnya tentang  hasil bumi emas, mutiara dan rempah adalah sebuah kenyataan yang hari-hari ini jadi sumber berita yang mengisi ruang diskursus  tentang  negeri hindia yang kaya raya tersebut.

Terlalu  banyak catatan sejarah telah menulis  perjuangan, mempertahankan kekayaan alam yang direbut bangsa  bangsa Eropa zaman itu.

Lalu apa saja yang menghipnotis mereka,  hingga berlayar dari negeri yang jauh mendatangi pulau pulau terpencil dan tak tertera di peta dunia itu? Jawabannya sumber daya alam biji cengkih dan pala.

Giles Milton menulis dalam Pulau Run,Magnet Rempah rempah Nusantara  yang Ditukar dengan Manhattan, (2015), menyebut biji Pala adalah kemewahan paling diidamkan di Eropa abad ke 17.

Pala  misalnya adalah satu jenis rempah yang memiliki khasiat luar biasa untuk pengobatan. Sehingga itu orang orang mempertaruhkan nyawa mereka mendapatkannya.

Begitu juga pohon cengkih yang menghasilkan biji cengkih, begitu mahalnya, hingga ketika mencium baunya dijuluki aroma surgawi. 

Negara yang pernah menjajah Indonesia, yaitu Portugis, Spanyol, Belanda, Prancis, Inggris  memiliki alasan  beragam. Mulanya,  ingin membeli dan bertukar barang, tetapi akhirnya menjajah lalu menguasai sumber daya alam dan hasil bumi lainnya. Maluku Utara sebagai bagian dari sebutan Hindia  zaman itu, menyimpan kekayaan yang tergambarkan seperti surga dunia. Dikejar dan diimpikan semua bangsa.  

Akan halnya hari hari terakhir ini, Eldorado di wilayah ini tidak hanya emas. Ada nikel,  biji besi dan beragam hasil  tambang lainnya.  Eldorado adalah sumberdaya alam yang terus diperebutkan. Sementara El picente redup karena tidak menjadi komoditas Negara yang dijadikan proyek strategis nasional (PSN). Elpicente yang lebih menjadi  komoditas rakyat bawah,  mesti diurus dan diperjuangkan sendiri agar bisa hidup dan menghidupkan.

El-dorado, hari hari ini meski menjadi sumber pemiskinkan dan menderitakan rakyat,  tetap dilindungi dan dijadikan obyek vital negara. Benar benar kemerdekaan yang terkekang. Merdeka karena  bebas mengakui bumi Indonesia dan segala isinya dikuasai Negara dan dipergunakan  sebesar besarnya kemakmuran dan kesejahteraan rakyat. Sebagaimana diamanahkan Pasal 33 UUD 45.

Tetapi di sisi lain, terkekang karena seluruh asset itu menjadi hak pemilik modal mengelola dan menghisapnya.  

Padahal, kalau menilik lebih jauh kata merdeka, menurut  Kamus  Besar Bahasa Indonesia dari Pusat Bahasa Edisi Keempat Departemen Pendidikan Nasional Terbitan Jakarta tahun 2012,  menyebutkan bahwa Merdeka artinya bebas. Baik dari penghambaan, penjajahan dan sebagainya.

Merdeka juga memiliki makna  berdiri sendiri. Tidak terkena atau lepas dari  tuntutan, tidak terikat, tidak tergantung  kepada orang atau pihak tertentu.

Merujuk makna yang  telah disebutkan dalam buku setebal 1700 halaman itu, dikontekskan dengan kekinian  Maluku Utara dan Indonesia, maka akan memunculkan diskursus “Belum Merdeka dari  Penjajahan akibat biji emas, biji besi, biji nikel dan lainnya. 

Penjajahan karena biji tambang saat ini tidak mengangkat senjata seperti di zaman penjajahan  karena biji cengkih,  pala,  lada  kopi  dan lain sebagainya.    Tetapi dampaknya lebih menyakitkan  karena akan berlangsung turun temurun.

Hutan Halmahera yang Menghijau kini mulai dkuras Foto kawasan taman nasional TNAL foto Opan Jacky

Penjajahan  karena  ada biji- bijian  dalam perut bumi itu  makin menjadi– jadi. Mengharu biru kelompok proletar dan marhean.  Membuat semua mulut tersumpal  dari  suara lantang.  

Menarik melihat kemerdekaan mengelola dan memanfaatkan  kekayaan tak tepermanai yang tersimpan di bumi Maluku Utara. Terutama yang ada  Hale–mahera (tanah induk, bahasa Tidore,red) dan kepulauan sekawasan (Taliabu, Sulabesi, Obi, Bacan, Kasiruta) bersama empat persekutuan kerajaan  (moti verbond, red) serta Morotai, .

Kekayaannya sejak lama telah menghipnotis bangsa kulit putih. Tercatat  bangsa barat silih berganti datang  menjajah sebelum Negara pulau ini diproklamirkan 17 Agustus 1945. (sumbernya elpicente,red).   

Kini penjajahan itu masih saja ada.  Kolaborasi ras dalam menjajah semakin menghidupkan semangat menghisap dan menghabiskan sumberdaya yang ada. Ras kuning bersama elit sawo matang bersatu menghabiskan sumberdaya titipan anak cucu yang ada di perut bumi (el dorado,red).

Lihatlah Hal- Mahera. Dalam bahasa Ternate Hal berarti persoalan. Sementara Mahera yang berarti induk (induk persoalan,red) telah mencatatkan selaksa masalah yang akan diwariskan generasi hari ini dan  anak cucu di 20, 30, 50  hingga 100 tahun ke depan.

Pulau Obi salah satu negeri yang menyimpan eldorado, foto M Ichi

Hutan yang dulu menghijau kini kerontang, bulldozer menggeruduk tanah, debu membungkus kampong. Sungai berair bening  kini kuning keemasan. Hilang suara nuri dan kakatua hingga karamat para moyang yang kini entah di mana. Di sana datang puluhan ribu orang  mencari nafkah, tetapi suatu saat entah kapan, akan meninggalkan “sampah” yang  dipungut anak cucu bumi Hal—Mahera. (*)

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kepastian Ake Sagea “Tercemar” Tunggu GAKKUM KLHK

    • calendar_month Rab, 20 Sep 2023
    • account_circle
    • visibility 387
    • 1Komentar

    Direkotrat Jenderal (Ditjen) Penegakan Hukum (GAK-KUM) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menggelar rapat dengan beberapa pihak dari Maluku Utara membahas persoalan Sungai Sagea pada Selasa (19/9/2023). Rapat tersebut dipimpin oleh Direktur Pengaduan, Pengawasan dan Sanksi Administrasi Lingkungan Hidup dan Kehutanan (PPSA-LHK) Ditjen. Gakkum KLHK Ardyanto Nugroho. Agenda ini sendiri merupakan tindak lanjut aspirasi dari […]

  • BMKG: Waspadai Angin Kencang dan Gelombang

    • calendar_month Rab, 24 Feb 2021
    • account_circle
    • visibility 347
    • 2Komentar

    ilustrasi: kondisi gelombang besar yang menghantam pantai sulamadaha.foto wawan ilyas

  • Hutan Malut Kritis, Tanggung jawab Gubernur?   

    • calendar_month Rab, 22 Mar 2023
    • account_circle
    • visibility 441
    • 2Komentar

    Aksi aktivis Walhi bersama Sylva Unkhair di depan rumah dinas GUbernur Malut

  • Raja Ampat dan Halmahera, Surga yang Terluka di Timur Indonesia

    • calendar_month Sen, 9 Jun 2025
    • account_circle
    • visibility 576
    • 0Komentar

      Penulis Badrun Ahmad Dosen Universitas Khairun Di ujung  timur Indonesia, terbentang  gugusan pulau karang nan memesona: Raja Ampat. Hamparan atol dan atolnya yang berkilau di atas lautan biru jernih menjadikannya salah satu kawasan dengan keanekaragaman hayati laut tertinggi di dunia. Lebih dari 500 spesies karang dan ribuan spesies ikan menjadikan Raja Ampat sebagai laboratorium […]

  • Wacana Konsesi Tambang untuk Kampus Harus Ditolak

    • calendar_month Rab, 12 Feb 2025
    • account_circle
    • visibility 657
    • 0Komentar

    Wacana konsesi tambang untuk kampus melalui revisi UU 3/2020 tentang Pertambangan Mineral dan Batu Bara (Minerba) mesti ditolak. Lewat wacana itu, pemegang otoritas berupaya menggerus independensi kampus sebagai institusi pendidikan yang berorientasi pada tridarma. Kampus seyogianya menjadi kompas moral dan intelektualitas, bukan jadi alat negara untuk mencuci  Praktik-praktik buruk industri ekstraktif. Ilham Majid, dosen Universitas […]

  • Koalisi CSO dan Masyarakat Sipil Kawal RUU Masyarakat Adat

    • calendar_month Kam, 10 Sep 2020
    • account_circle
    • visibility 364
    • 0Komentar

    Masyarakat Adat Tobelo Dalam di Hutan Halmahera Benteng Terakhir Hutan Halmahera foto Opan Jacky Polhut TNAL

expand_less