Breaking News
light_mode
Beranda » Headline » Walhi Paparkan Hasil Riset Air Bersih di Kawasi Obi  

Walhi Paparkan Hasil Riset Air Bersih di Kawasi Obi  

  • account_circle Redaksi
  • calendar_month 6 jam yang lalu
  • visibility 36

Kontaminasi  Cr(VI) di Air Bersih Melebihi Nilai Acuan

Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Maluku Utara, bersama tim risetnya telah melakukan riset  kualitas air di Desa Kawasi, Pulau Obi, Halmahera Selatan. Penelitian yang dilakukan meliputi pengambilan sampel air, uji laboratorium, dan penyusunan laporan analisis hasil riset selama lima bulan  Mei hingga September 2026  lalu.

Hasil riset ini didesiminasikan dalam  laporan resmi saat  peringatan Hari Ulang Tahun Walhi ke- 46. Pemaparan itu dilakukan dalam bentuk konferensi pers dan diseminasi hasil riset air di Kawasi Pulau Obi.

Dalam pemaparan itu WALHI mengangkat tema “Jejak Beracun di Kawasi” Acara ini dipusatkan di Coffe Sua Benteng Orange, Kelurahan Gamalama, Ternate Tengah Kota Ternate.  Kamis, (15/10/2026) lalu.

Hadir juga  Pro.Dr. Muhammad Aris, S.Pi., M.P secara daring, bersama Direktur Eksekutif Daerah WALHI Astuti N Kilwouw  dan Ahmad Ibrahim warga Kawasi yang juga  Ketua Canga Kawasi.

Dalam pemaparannya Astuti N Kilwouw menyebut  dalam pengujian sampel air  ada empat parameter logam berat yang diuji, yaitu Kromium Heksavalen atau Cr(VI), Merkuri (Hg), Kobalt (Co), dan Nikel (Ni).

Airnya diambil di 6 titik di perairan pesisir laut (2 di timur, 2 di tengah, dan 2 di barat), 2 titik di Sungai Akelamo, 2 titik di Air Terjun, dan 2 sumur warga  yang berada di ujung timur dan barat pemukiman).

Sementara standar baku mutu yang digunakan sebagai alat ukur komparasi adalah Kepmen LH Nomor 51 Tahun 2004 untuk air laut, PP Nomor 22 Tahun 2021 untuk Air Terjun (Danau), Permenkes Nomor 2 Tahun 2023 untuk air sumur.

Suasana pemaparan hasil riset dan konferensi pers oleh WALHI Maluku Utara, foto SAF

Walhi dalam pengujian sampel air itu menemukan  Cr(VI) merupakan parameter yang memiliki variasi konsentrasi paling menonjol di antara parameter yang dianalisis. Sampel air laut AL 1–AL 6, air sungai SN 1–SN 2, dan air sumur SM 1–SM 2, konsentrasi Cr(VI) dilaporkan <0,005 mg/L. Sementara  sampel air danau ditemukan konsentrasi Cr(VI) sebesar 1,04 mg/L pada AT 1 dan 0,699 mg/L pada AT 2.

“Hasil analisis terhadap parameter Hg, Co, dan Ni menunjukkan nilai yang relatif seragam pada seluruh kelompok sampel. Konsentrasi Hg pada seluruh sampel berada pada nilai <0,00005 mg/L, sedangkan Co dan Ni masing-masing  pada nilai <0,001 mg/L. Tanda “<” menunjukkan bahwa konsentrasi parameter berada di bawah batas nilai yang dapat dilaporkan oleh metode pengujian laboratorium dan tidak berarti bahwa parameter tersebut memiliki konsentrasi nol,”  jelas Astuti

Berdasarkan hasil riset itu  Astuti menyampaikan, temuan utama dalam pengujian sampel air di Desa Kawasi terdapat pada parameter Cr(VI) dalam sampel air danau. Konsentrasi Cr(VI) pada sampel AT 1 sebesar 1,04 mg/L dan AT 2 sebesar 0,699 mg/L, sedangkan nilai acuan yang digunakan 0,05 mg/L. Kedua hasil  itu menunjukkan konsentrasi Cr(VI) melebihi nilai acuan.

Perlu diketahui bahwa zat kimia Cr(VI) ini  bersifat karsinogenik, dapat memicu kanker pada jaringan hidup.

Sementara  sampel air laut, air sungai, dan air sumur tidak ditemukan parameter yang melebihi nilai acuan numerik yang digunakan dalam evaluasi. Parameter Hg, Co, dan Ni juga tidak menunjukkan konsentrasi yang melebihi nilai acuan pada sampel yang memiliki nilai pembanding. Khusus Co pada sampel air laut dan air sumur, hasil pengujian tetap dilaporkan, tetapi tidak dilakukan perbandingan numerik karena tidak tersedia nilai acuan Co yang digunakan pada masing-masing dasar hukum.

Secara keseluruhan, hasil analisis Walhi Malut menunjukkan bahwa Cr(VI) pada sampel air danau AT 1 dan AT 2 merupakan temuan utama yang perlu menjadi perhatian dalam hasil pengujian ini. Temuan   merupakan hasil perbandingan antara data laboratorium dengan nilai acuan yang digunakan dan tidak dengan sendirinya menunjukkan sumber atau penyebab keberadaan Cr(VI), sehingga diperlukan pengujian atau pemantauan lebih lanjut apabila ingin mengetahui kondisi dan pola kandungan Cr(VI) secara lebih menyeluruh.

“Titik Kordinat Air Terjun 1°32’34.8″S 127°24’55.3″E. Air Terjun ini merupakan sumber air bersih yang dialirkan ke bak penampungan dan mengalir ke rumah-rumah warga,” jelas Astuti.

Pro.Dr. Muhammad Aris, S.Pi., M.P menyampaikan Ia pernah melakukan riset bersama timnya di Pulau Obi pada 2019. Menurutnya kondisi kualitas perairan waktu itu sangat buruk.  Dijelaskan bahwa, riset dilakukan untuk membuka fakta pembenaran berdasarkan hasil analisis secara ilmiah. Ia membenarkan penelitian Walhi Malut dalam hasil riset mereka.

Warga Kawasi, Kecamatan Obi, Halmahera Selatan, membentangkan baliho besar sebagai protes relokasi ke kawasan ecovillage, pada Jumat, 5 Desember 2025. Foto: Warga

Protes Warga  Justru Berujung Intimidasi

Dalam pemaparan hasil riset tersebut  Walhi Malut juga  menyampaikan  di tengah kerusakan lingkungan yang dihadapi  warga Desa Kawasi, ternyata mereka juga selalu dihantui  ancaman, intimidasi, dan upaya kriminalisasi oleh aparat Negara.

WALHI  mencatat sepanjang 2025 ada lima warga  mendapatkan surat panggilan dari Polres Halmahera Selatan karena melakukan  aksi demonstrasi terhadap pihak perusahaan. Lalu pada September 2026 hanya satu bulan mengalami peningkatan,  ada 10 orang dikriminalisasi, yakni 8 warga dan 2 staf WALHI Maluku Utara.

Mereka yang dilaporkan itu, yaitu Ahmad Ibrahim, Sanusi, Nurhayati, Mahmud Ibrahim, dan Hut Ibrahim.  Ada juga dua staf WALHI yakni Mubaliq Tomagola dan Ucok S. Dola.

Mereka dilaporkan oleh kuasa hukum Arifin Saroa, Kepala Desa Kawasi pada 8 September 2026, karena dianggap memblokade jalan. Mereka klaim  punya dasar hukum Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP Pasal 317 dan 339.

Ahmad yang turut dilaporkan mengatakan, selama ini warga tidak dilibatkan secara keseluruhan dalam proses rencana relokasi. Ketika Pemkab Halsel  bersama CSR PT Harita Nickel dan lembaga konsultasi Deameter lakukan sosialisasi relokasi,  3 September 2026, dilakukan  tidak transparan. Mayoritas warga tak dilibatkan, padahal mereka menolak rencana relokasi.

Rencana relokasi ini sesuai Peraturan Daerah Kabupaten Halmahera Selatan Nomor 12 Tahun 2023 tentang Penataan Permukiman dan Pengendalian Pertumbuhan Permukiman di Kawasan Strategis Nasional. Selain itu, juga Peraturan Bupati Halmahera Selatan Nomor 72 Tahun 2023 tentang Pelaksanaan Relokasi Kawasan Permukiman Desa Kawasi ke Kawasan Permukiman Baru.

“Masyarakat minta perusahaan dan Pemda Halsel harus terbuka  terkait relokasi  biar  jelas.  Hanya saja sejauh ini, kegiatan itu dilakukan secara tersembunyi hingga warga tak mengetahuinya,”kata Ahmad

Pada 4 September 2026 warga  membangun pos jaga dan pemasangan portal jalan Desa Kawasi untuk pengamanan wilayah dan upaya pencegahan aktivitas pihak CSR  perusahaan. Ini sebagai  protes terhadap Pemda dan Harita Nickel yang mengabaikan  aspirasi mereka.

Karena itu Walhi Malut dan warga Kawasi mendesak,  Polda Maluku Utara  mengevaluasi dan menindak anggotanya yang merespons situasi dengan cara-cara yang tidak dapat dibenarkan. Begitu juga media dan pihak perusahaan serta akademisi terkait untuk menghentikan kampanye yang tidak sesuai kenyataan di lapangan. Pemerintah juga didesak untuk melakukan audit menyeluruh secara independen dan terbuka terhadap praktik pertambangan di Pulau Obi.

Pihak Harita melalui KlausOberbauer  Vice President Sustainability  Harita Group  dalam  beberapa kali konfirmasi  media menyampaikan bahwa, Harita Nickel memahami perhatian publik terhadap isu lingkungan dan sosial di sekitar Kawasi, Pulau Obi.  Perusahaan menghormati ruang penyampaian aspirasi dan pandangan masyarakat sipil.

Namun pihak Harita juga menilai bahwa isu yang kompleks perlu dilihat secara utuh, proporsional, dan berbasis pada data yang dapat diverifikasi. Sebagai perusahaan pertambangan, pengolahan, dan pemurnian nikel terintegrasi yang telah tercatat di Bursa Efek Indonesia serta menjadi bagian dari Proyek Strategis Nasional, Harita Nickel berkomitmen menjalankan kegiatan usaha sesuai dengan ketentuan yang berlaku, termasuk dalam aspek lingkungan, keselamatan, dan sosial.

“Di luar kepatuhan terhadap regulasi nasional, Harita Nickel juga secara sukarela mengikuti proses penilaian independen melalui Initiative for Responsible Mining Assurance atau IRMA,” jelas Klaus.

Hal ini merupakan bagian dari komitmen perusahaan untuk terus memperkuat tata kelola, transparansi, dan praktik operasional yang bertanggung jawab sesuai standar yang diakui secara internasional.

Perusahaan katanya menjalankan berbagai upaya pengelolaan lingkungan di Pulau Obi, termasuk pengelolaan air limpasan, pemantauan kualitas air, reklamasi pascatambang, pengelolaan sisa hasil produksi, serta inisiatif efisiensi energi.

“Komitmen kepatuhan lingkungan perusahaan juga tercermin dari capaian PROPER Biru yang secara konsisten diperoleh entitas usaha Harita Nickel dalam beberapa tahun terakhir,” jelasnya.

Harita Nickel akan terus berkoordinasi dengan pemerintah dan pemangku kepentingan terkait, serta menjalankan kegiatan usaha secara bertanggung jawab, transparan, dan sesuai ketentuan yang berlaku.(saf/mici)

  • Penulis: Redaksi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Percepat Pengakuan Hutan Adat, Pemerintah Daerah Harus Proaktif

    • calendar_month Sel, 13 Feb 2018
    • account_circle
    • visibility 663
    • 0Komentar

    Pengakuan  dan perlindungan hak-hak masyarakat adat masih minim di negeri ini. Dalam dua tahun terakhir, kurang dari 50.000 hektar hutan adat mendapatkan penetapan dari 9,3 juta hektar pemetaan partisiatif yang diserahkan Badan Registrasi Wilayah Adat. Untuk itu, pemerintah provinsi dan kabupaten/kota diminta lebih aktif demi percepatan ini.  Di Provinsi Maluku Utara sendiri saat ini diusulkan […]

  • Kelola Sampah untuk Kesejahteraan

    • calendar_month Sab, 18 Feb 2023
    • account_circle
    • visibility 832
    • 1Komentar

    Sampah di Pulau pulau yang belum dikelola jadi masalah cukup pelik foto M Ichi

  • Kisah “Kampung Tua” Tifure di Pulau Batang Dua

    • calendar_month Kam, 17 Jun 2021
    • account_circle
    • visibility 1.285
    • 1Komentar

    Tifure (Kiri) Pulau Gurida (Kanan) Dulu warga yang berkebun di pulau Gurida dijangkau dengan jalan kaki. Kini seiring waktu karena naiknya permukaan air laut untuk menuju pulau Gurida harus menggunakan perahu. foto koleksi pribadi Asgar Saleh

  • Kondisi Lingkungan Maluku Utara Butuh Perhatian

    • calendar_month Rab, 17 Jun 2020
    • account_circle
    • visibility 2.368
    • 0Komentar

    Hari Lingkungan Hidup Sedunia 5 Juni 2020 ini mengambil  tema  “Time For Nature” yang mengajak  penduduk dunia menyadari bahwa makanan yang dimakan, air yang diminum, dan ruang hidup di planet yang ditinggali adalah sebaik-baiknya manfaat dari alam (nature) sehingga harus dijaga kelestariannya. Sayangnya apa yang didengungkan ini  berbanding terbalik dengan kondisi  saat ini.  Di Provinsi Maluku […]

  • Ambisi Transisi Energi Terbarukan Dibajak Pebisnis Energi Kotor

    • calendar_month Sel, 7 Okt 2025
    • account_circle
    • visibility 648
    • 0Komentar

    Koalisi Transisi Bersih, yang terdiri sejumlah organisasi masyarakat sipil seperti Satya Bumi, Trend Asia, Sawit Watch, SPKS, Greenpeace dan Walhi, menemukan, pendekatan transisi energi di Indonesia tidak mengarah pada transformasi sistem tata kelola energi, melainkan hanya pada pergantian teknologi. Pendekatan yang tidak transformatif, bertemu dengan biaya proyek yang tinggi dan kejar target bauran energi membuat […]

  • Merawat Ake Sali, Warisan Air dari Kampung Tua yang Kini Jadi Hutan

    Merawat Ake Sali, Warisan Air dari Kampung Tua yang Kini Jadi Hutan

    • calendar_month Rab, 17 Des 2025
    • account_circle Penulis: Burhanuddin Jamal Warga Kelurahan Tosa Tidore Kepulauan
    • visibility 1.015
    • 0Komentar

    Sebuah Catatan dari Kampung Tomadou Kota Tidore Kepulauan  Di Kota Tidore Kepulauan, tepatnya di Kampung Tomadou Kelurahan Tosa Kecamatan Tidore Timur  memiliki salah satu sumber mata  air yang dikenal dengan Mata Air Ake Sali. Sekitar wilayah  mata air ini dahulunya adalah sebuah perkampungan tua yang dikenal dengan nama Kampung Buku Mira. Warga   Buku Mira ini […]

expand_less