Breaking News
light_mode
Beranda » Kabar Kampung » Gane Dihantam Abrasi Parah dan Kesulitan Air Bersih

Gane Dihantam Abrasi Parah dan Kesulitan Air Bersih

  • account_circle
  • calendar_month Sab, 4 Jun 2022
  • visibility 450

Dua desa di Gane Barat Selatan dan Gane Timur Selatan yakni Gane Dalam dan Gane Luar, tidak hanya bermasalah  dalam urusan jalan dan penerangan listrik. Masalah air bersih dan ancaman abrasi parah juga tengah  dialami   warga  dua  desa ini.

Masalah air bersih  muncul   sejak terjadinya gempa besar yang menyebabkan hancurnya rumah dan berbagai fasilitas umum pada 4 Juni  2019 lalu. Fasilitas air bersih yang bermasalah itu hingga kini  belum juga dilakukan perbaikan. Begitu juga talud penahan ombak   yang hancur dilanda gempa, belum dibangun kembali. Akibatnya warga  di tepian pantai  terancam tenggelam saat air pasang. Apalagi saat laut bergelombang,   abrasi parah   terjadi dan tepian pantai terkikis  bahkan terendam air laut.  

Di  Gane Dalam,  sebagian kampung sudah tenggelam. Area pemakaman umum misalnya sebagian sudah tenggelam. Di Gane luar   juga sama.  Di ujung kampung bagian selatan, abrasi pantai sudah mencapai puluhan meter ke darat. Pengakuan warga setempat sudah ada puluhan rumah terpaksa pindah karena dihantam abrasi. Sementara talud penahan ombak yang dibangun menggunakan dana PNPM Mandiri di tahun 2009 lalu   yang hancur   saat gempa  belum mendapat perhatian.

“Talud penahan ombak di desa ini panjangnya mencapai 750 meter. Dibangun sudah puluhan tahun dengan   menggunakan dana PNPM.  Di bagian utara dan selatan desa yang ada taludnya sudah rusak parah karena itu butuh perbaikan,”keluh Saleh Hamid warga Gane Luar  ditemui Senin (Senin (30/5/2022) lalu.

Kondisi ujung Selatan Desa Gane luar yang sudah dihantam abrasi parah,, tanaman kelapa milik warga juga bertumbangan, foto M Ochi

Dia bilang dalam sepuluh tahun terakhir air laut yang mengikis pantai   sudah mencapai 25 meter ke darat. Karena itu sebagian warga yang rumahnya dihantam abrasi, memilih pindah  dari ujung selatan Gane Luar tersebut.

“Dorang so pindah (mereka sudah pindah, red). Ada beberapa kepala keluarga. Bahkan  pohon kelapa    di tepi pantai tersebut juga sudah banyak yang roboh,” jelasnya.

Sementara soal air bersih di dua desa ini, juga bermasalah. Di Gane Luar sebagian warga menggunakan sumur. Namun untuk puluhan rumah di daerah ketinggian terpaksa harus naik turun mengangkut air untuk kebutuhan   sehari- hari.

Talud penahan ombak di bagian utara desa Gane Luar yang kini telah tenggelam, foto M Ichi

Di Gane Dalam air bersih juga bermasalah. Sebagian besar warga masih menggunakan air sumur sementara jaringan pipa untuk air bersih kadang mengalami kemacetan. Dua masalah penting ini disuarakan warga dua desa ini karena  dianggap sangat urgen.

“Air bersih dan talud penahan ombak ini butuh ada perhatian. Baik dari pemerintah kabupaten maupun provinsi. Saat ini kawasan pemakaman umum di Gane Dalam sudah tenggelam jadi butuh perhatian terutama aggota DPRD  membantu menyampaikan ke pemerintah untuk  segera dibangun,” kata Umar Hanafi warga Gane saat kegiatan reses anggota DPRD Malut M Rahmi  Husen Senin (29/5/2022).

 M Rahmi Husen saat reses ke dua desa itu  meminta warga  menyampaikan secara terbuka masalah masalah tersebut kemudian dicatat dan bisa diperjuangkan ke provinsi.

Dia  menyampaian bahwa, selain   akses jalan dan listrik atau penerangan hal paling urgen  adalah tersedianya air bersih bagi warga. Menurutnya, air itu   masalah vital yang  harus diseriusi. Karena itu terkait permintaan warga soal air bersih itu   diberikan perhatian penuh. Pasalnya air dan penerangan adalah kebutuhan mendasar yang sangat perlu segera dipenuhi. “Hal ini akan diperhatikan sungguh sungguh. Sementara soal tanggul penahan ombak   karena banyak  aspirasi yang diterima melalui reses ini akan dibuat laporannya dan disampaikan melalui paripurna di hadapan gubernur. “Hal ini akan disampaikan sehingga segera mendapat perhatian terutama percepatan pembagunannya, karena kondisi sangat parah”katanya.

Dia bilang, pembangunan fisik ini menjadi masalah karena pembiyaan dari pemerintah yang terbatas. Pemerintah kata dia tidak hanya  memikirkan persoalan di Halmahera Selatan tetapi juga 10 kabupaten/kota lainnya. Karena itu  usulan yang masuk akan dilihat  urgensi  dan mendesak tidaknya. “Nanti akan dilihat masalah paling mendesak  di   masyarakat,”tutupnya. M Rahmi menggelar reses ini di 8 desa di Gane Mandioli, Botanglomang dan Bacan. (*)

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ancaman Di Masa Depan Sangat Serius Perlu Kolaborasi Lintas Sektor

    • calendar_month Sab, 14 Mar 2020
    • account_circle
    • visibility 383
    • 0Komentar

    Jurnalis dan Aktivis Samakan Persepsi Adaptasi dan Mitigasi Perubahan Iklim   Dampak perubahan iklim, sudah nyata di depan mata. Berbagai bencana telah terjadi. Tidak  hanya menyababkan korban harta tetapi juga nyawa. Karena itu perlu ada gerakan bersama,  diawali  dengan penyamaan persepsi elemen tingkat atas–pengambil kebijakan, kelompok menengah hingga masyarakat  umum.   Perlu dipahami, perubahan iklim terjadi setidaknya diakibatkan berbagai hal. Laju kerusakan lingkungan yang […]

  • Merekam Sunset di Oba Tengah Tikep

    • calendar_month Kam, 17 Jun 2021
    • account_circle
    • visibility 389
    • 1Komentar

    Momen matahari terbit dan terbenam memang menakjubkan. Apalagi, jika  berada di tepi pantai, atau puncak gunung. Tidak heran banyak orang mencoba mengabadikannya menjadi sebuah foto. Meski kelihatannya mudah, namun untuk dapat foto sunset  dan surise yang sempurna cukup sulit. Apalagi, kadang turunnya sunset cukup sulit diperhitungkan waktunya. Dibutuhkan momen yang tepat dan kesabaran menanti momentum. Memang  bukan fotografer handal, […]

  • Laut Obi Dalam Tekanan Destruktif Fishing dan Tambang?

    • calendar_month Kam, 19 Jun 2025
    • account_circle
    • visibility 602
    • 0Komentar

    Laut Kepualaun Obi Kabupaten Halmahera Selatan Provinsi Maluku Utara kaya sumberdaya perikanan. Dari jenis ikan pelagis maupun demersal, setiap saat ditangkap  untuk menghidupi masyarakat setempat.  Tidak itu saja, ikan–ikan itu juga dijual antarpulau ke Ternate, untuk kebutuhan lokal  maupun  eksport. Seiring waktu, saat ini kondisi sumberdaya laut Obi tidak  baik-baik saja. Ada dua persoalan serious […]

  • Ini Masalah Warga Pulau Kecil di Halmahera Selatan  

    • calendar_month Jum, 4 Feb 2022
    • account_circle
    • visibility 549
    • 1Komentar

    Tambyambut atan perahu desa Hatejawa Moari yang tenggelam jika air pasang. Terlihat anak anak desa ini berdiri menyambut speed boat yang akan sandar di tambatan perahu desa ini

  • Mengangkat Kearifan Nelayan Ternate  Lewat Festival Nyao Fufu

    Mengangkat Kearifan Nelayan Ternate  Lewat Festival Nyao Fufu

    • calendar_month Rab, 8 Okt 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 396
    • 0Komentar

    Nyao fufu adalah salah satu tradisi memasak atau mengawetkan ikan yang dilakukan  warga Ternate dan Maluku Utara secara turun temurun. Kelurahan Dufa-dufa sebagai salah satu kampong/kelurahan nelayan di Kota Ternate  melestarikan tradisi nyao   fufu atau ikan asap  tidak  hanya untuk  konsumsi tetapi juga  usaha ekonomi produktif. Masyarakat di Pantai Dufa dufa juga turut menjaga dan […]

  • Buku Adalah Subversif ?

    Buku Adalah Subversif ?

    • calendar_month Sen, 30 Nov 2020
    • account_circle
    • visibility 373
    • 0Komentar

    Penulis: Syaiful Bahri Ruray Putra Wayabula A room without books is like body without soul (Cicero). Ditengah hiruk pikuk pandemik yang belum juga selesai, tiba-tiba saja jagad maya kita dikagetkan dengan tarik menarik soal buku. Dan itu berawal ketika ada postingan Anis Baswedan yang berkain sarung, sedang membaca How Democracies Die, buku karya Steven Levitsky […]

expand_less