Breaking News
light_mode
Beranda » Kabar Kampung » Gane Dihantam Abrasi Parah dan Kesulitan Air Bersih

Gane Dihantam Abrasi Parah dan Kesulitan Air Bersih

  • account_circle
  • calendar_month Sab, 4 Jun 2022
  • visibility 831

Dua desa di Gane Barat Selatan dan Gane Timur Selatan yakni Gane Dalam dan Gane Luar, tidak hanya bermasalah  dalam urusan jalan dan penerangan listrik. Masalah air bersih dan ancaman abrasi parah juga tengah  dialami   warga  dua  desa ini.

Masalah air bersih  muncul   sejak terjadinya gempa besar yang menyebabkan hancurnya rumah dan berbagai fasilitas umum pada 4 Juni  2019 lalu. Fasilitas air bersih yang bermasalah itu hingga kini  belum juga dilakukan perbaikan. Begitu juga talud penahan ombak   yang hancur dilanda gempa, belum dibangun kembali. Akibatnya warga  di tepian pantai  terancam tenggelam saat air pasang. Apalagi saat laut bergelombang,   abrasi parah   terjadi dan tepian pantai terkikis  bahkan terendam air laut.  

Di  Gane Dalam,  sebagian kampung sudah tenggelam. Area pemakaman umum misalnya sebagian sudah tenggelam. Di Gane luar   juga sama.  Di ujung kampung bagian selatan, abrasi pantai sudah mencapai puluhan meter ke darat. Pengakuan warga setempat sudah ada puluhan rumah terpaksa pindah karena dihantam abrasi. Sementara talud penahan ombak yang dibangun menggunakan dana PNPM Mandiri di tahun 2009 lalu   yang hancur   saat gempa  belum mendapat perhatian.

“Talud penahan ombak di desa ini panjangnya mencapai 750 meter. Dibangun sudah puluhan tahun dengan   menggunakan dana PNPM.  Di bagian utara dan selatan desa yang ada taludnya sudah rusak parah karena itu butuh perbaikan,”keluh Saleh Hamid warga Gane Luar  ditemui Senin (Senin (30/5/2022) lalu.

Kondisi ujung Selatan Desa Gane luar yang sudah dihantam abrasi parah,, tanaman kelapa milik warga juga bertumbangan, foto M Ochi

Dia bilang dalam sepuluh tahun terakhir air laut yang mengikis pantai   sudah mencapai 25 meter ke darat. Karena itu sebagian warga yang rumahnya dihantam abrasi, memilih pindah  dari ujung selatan Gane Luar tersebut.

“Dorang so pindah (mereka sudah pindah, red). Ada beberapa kepala keluarga. Bahkan  pohon kelapa    di tepi pantai tersebut juga sudah banyak yang roboh,” jelasnya.

Sementara soal air bersih di dua desa ini, juga bermasalah. Di Gane Luar sebagian warga menggunakan sumur. Namun untuk puluhan rumah di daerah ketinggian terpaksa harus naik turun mengangkut air untuk kebutuhan   sehari- hari.

Talud penahan ombak di bagian utara desa Gane Luar yang kini telah tenggelam, foto M Ichi

Di Gane Dalam air bersih juga bermasalah. Sebagian besar warga masih menggunakan air sumur sementara jaringan pipa untuk air bersih kadang mengalami kemacetan. Dua masalah penting ini disuarakan warga dua desa ini karena  dianggap sangat urgen.

“Air bersih dan talud penahan ombak ini butuh ada perhatian. Baik dari pemerintah kabupaten maupun provinsi. Saat ini kawasan pemakaman umum di Gane Dalam sudah tenggelam jadi butuh perhatian terutama aggota DPRD  membantu menyampaikan ke pemerintah untuk  segera dibangun,” kata Umar Hanafi warga Gane saat kegiatan reses anggota DPRD Malut M Rahmi  Husen Senin (29/5/2022).

 M Rahmi Husen saat reses ke dua desa itu  meminta warga  menyampaikan secara terbuka masalah masalah tersebut kemudian dicatat dan bisa diperjuangkan ke provinsi.

Dia  menyampaian bahwa, selain   akses jalan dan listrik atau penerangan hal paling urgen  adalah tersedianya air bersih bagi warga. Menurutnya, air itu   masalah vital yang  harus diseriusi. Karena itu terkait permintaan warga soal air bersih itu   diberikan perhatian penuh. Pasalnya air dan penerangan adalah kebutuhan mendasar yang sangat perlu segera dipenuhi. “Hal ini akan diperhatikan sungguh sungguh. Sementara soal tanggul penahan ombak   karena banyak  aspirasi yang diterima melalui reses ini akan dibuat laporannya dan disampaikan melalui paripurna di hadapan gubernur. “Hal ini akan disampaikan sehingga segera mendapat perhatian terutama percepatan pembagunannya, karena kondisi sangat parah”katanya.

Dia bilang, pembangunan fisik ini menjadi masalah karena pembiyaan dari pemerintah yang terbatas. Pemerintah kata dia tidak hanya  memikirkan persoalan di Halmahera Selatan tetapi juga 10 kabupaten/kota lainnya. Karena itu  usulan yang masuk akan dilihat  urgensi  dan mendesak tidaknya. “Nanti akan dilihat masalah paling mendesak  di   masyarakat,”tutupnya. M Rahmi menggelar reses ini di 8 desa di Gane Mandioli, Botanglomang dan Bacan. (*)

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Cara Menyiapkan Warga Adaptif Ketika Bencana (2 habis)

    • calendar_month Sab, 15 Agu 2020
    • account_circle
    • visibility 2.336
    • 0Komentar

    Bagaimana Melakukannya di Komunitas? Bencana baik alam maupun non alam berdampak cukup serius bagi warga.  Pandemi Covid-19 misalnya, membuat hampir semua orang menjadi kurang produktif.  Pemenuhan kebutuhan hidup di masa pandemi pun  jadi tantangan.   Warga menjadi sangat rentan terutama  dalam memenuhi kebutuhan pangan. Karena itu perlu membangun  ketangguhan. Menata kembali kehidupan sosial dan lingkungan, yang […]

  • Kisah Esau Sidemo yang Tak Hilang Harapan, 26 Hari Terombang-ambing di Samudera Pasifik

    Kisah Esau Sidemo yang Tak Hilang Harapan, 26 Hari Terombang-ambing di Samudera Pasifik

    • calendar_month Kam, 3 Sep 2026
    • account_circle Redaksi
    • visibility 601
    • 0Komentar

    Minum Air Laut, Makan Ikan Mentah hingga Ada Petunjuk dari Lumba-lumba   Fajar mulai menyingsing di ufuk Timur pada Selasa (7/07 2026).  Waktu menujukan pukul 04.30 WIT, Esau Sidemo (57 tahun) bersiap untuk melaut. Dia hendak mencari ikan untuk kebutuhan makan keluarga.Dia lantas menyiapkan berbagai peralatan mancing, mesin dan perahu berkapasitas 2 GT bersama bahan bakarnya. […]

  • Climate Rangers Bersama Orang Muda Sedunia Serukan Hentikan Energi Fosil

    Climate Rangers Bersama Orang Muda Sedunia Serukan Hentikan Energi Fosil

    • calendar_month Sen, 10 Nov 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 1.003
    • 0Komentar

    Catatan dari COP 30 di Brazil   Di tengah meningkatnya dampak krisis iklim dan melambatnya komitmen negara-negara untuk menekan suhu bumi di bawah 1,5°C, orang muda dunia menyatukan suara mereka. Melalui Global Youth Statement (GYS), ribuan orang muda dari lebih dari 150 negara menyerukan perubahan arah kebijakan iklim global menuju transisi energi yang adil, pendanaan […]

  • Kenalkan Kehati Malut Lewat Pameran Kehidupan Liar

    • calendar_month Ming, 13 Jun 2021
    • account_circle
    • visibility 798
    • 1Komentar

    Foto yang ditampilkam dalam pameran pertama yang dilaksanakan pada 2020 lalu

  • Ikan dan Manusia di Teluk  Weda Tercemar Logam  Berbahaya      1:24 Play Button

    Ikan dan Manusia di Teluk Weda Tercemar Logam Berbahaya     

    • calendar_month Sel, 27 Mei 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 3.395
    • 0Komentar

    Ini Hasil Riset Nexus3 Foundation dan Universitas Tadulako       Nexus3 Foundation bersama Universitas Tadulako Palu Sulawesi Tengah merilis laporan penelitian mengenai status lingkungan dan human biomonitoring  di daerah Teluk Weda, Halmahera Tengah, Maluku Utara. Wilayah ini menjadi tempat pengambilan sampel karena   menjadi salah satu sentra industri nikel di Indonesia.    Nexus3  Foundation Nexus for […]

  • Di Musyawarah IKAPERIK, Bahas Perikanan Malut dan Tantangan Era 4.0

    • calendar_month Ming, 24 Jan 2021
    • account_circle
    • visibility 665
    • 0Komentar

    Farid Terpilih Secara Aklamasi Ikatan Alumni Perikanan dan Kelautan (IKAPERIK) Universitas Khairun Ternate menggelar musyawarah memilih pengurus baru untuk masa jabatan 4 tahun ke depan Sabtu (22/1) kemarin.  Kegiatan yang dilaksanakan di Aula Gamalama Hotel Sahid  itu, turut diisi dengan seminar bertema   “Perikanan Maluku Utara dan Tantangan Industri era 4.0” Beberapa pemateri penting turut hadir yakni […]

expand_less