Breaking News
light_mode
Beranda » Kabar Kampung » Menjaga Mangrove di Titik Nol Khatulistiwa

Menjaga Mangrove di Titik Nol Khatulistiwa

  • account_circle
  • calendar_month Sel, 19 Mar 2024
  • visibility 1.091

Membangun Asa dari Kampung Tawabi    

Senin (11/2/2024) sekira pukul 12.00 siang itu terasa  menyengat. Matahari tegak lurus di atas ubun-ubun. Cuaca panas  itu begitu terasa karena  sedang berada di titik nol khatulistiwa.  Tepatnya di desa Tawabi Kecamatan Kayoa Kabupaten Halmahera Selatan. Sebuah patok   menjadi penanda  titik nol khatulistiwa  berada di  hutan mangrove tepi pantai kurang lebih 400 meter di bagian utara desa.   

Perjalanan  mengunjungi desa  ini bersama perwakilan  lembaga  Seacology, mau melihat dari  dekat pembangunan fasilitas sekolah mangrove yang sedang dibangun warga. Gedung sekolah  ini dikerjakan  warga  didukung oleh lembaga yang berpusat di Amerika Serikat . Lembaga ini membantu masyarakat desa melakukan konservasi  berbagai kekayaan sumberdaya hayati peisisir dan laut demi keberlanjutan.

Sekadar diketahui, Seacology adalah organisasi nirlaba yang berkantor pusat di Berkeley, California Amerika, bekerja untuk melestarikan ekosistem dan budaya kepulauan di seluruh dunia. Lembaga yang didirikan  pada 1991 ini berawal dari karya ahli etnobotani Paul Alan Cox, yang meneliti tanaman tropis dan nilai obatnya di desa Falealupo di Samoa pada pertengahan tahun 1980-an. Ketika penduduk desa ditekan menjual hak penebangan hutan hujan mereka pada tahun 1988 untuk membangun sebuah sekolah baru, Cox dan istrinya menawarkan bantuan untuk mendapatkan dana bagi sekolah baru tersebut sebagai imbalan atas kesepakatan dengan penduduk desa melindungi hutan mereka.  Langkah ini dilakukan  karena tingginya risiko kepunahan fauna pulau dan menurunnya ekosistem terumbu karang. Fokus tama Seacology adalah proyek-proyek di mana penduduk desa menandatangani kontrak  dan setuju untuk membantu melindungi habitat darat atau laut untuk waktu tertentu dengan imbalan bangunan atau layanan lainnya.  

Titik nol Khatulistiwa desa Tawabi Kecamatan Kayoa, foto M Ichi

Karena sesuai dengan misi lembaga  di mana Desa Tawabi   memiliki  kepadatan mangrove yang perlu dijaga dan dilindungi,  masyarakat dibantu,  agar mereka  melindungi mangrove yang ada.

Gedung sekolah mangrove  yang dibangun   diharapkan selain menjadi sekolah juga sekaligus laboratorium untuk anak anak di kampung ini. Dari sekolah ini  mereka nanti  belajar dan mengenal lebih jauh hutan mengrove yang mereka miliki. Tidak itu saja  orang  luar desa  juga  bisa ikut belajar bersama mangrove yang mereka jaga dan lindungi.  

Tawabi yang terletak tak jauh dari desa Guruapin Ibukota Kecamatan Kayoa itu, terbilang unik. Pasalnya selain dikelilingi hutan mangrove, kawasan laut desa ini terbilang dangkal dengan dihiasi pasir  putih terhampar. Air laut berwarna hijau tosque.  Ketika air surut   kawasan  pantai beberapa desa sekitarnya nyaris tersambung. Misalnya menuju ke desa Pasir Putih di bagian selatan dan desa Guruapin di bagian  utara. Desa ini sebenarnya  berada di atas pulau karang yang terpisah oleh laut dengan pulau kayoa besar. 

Warga Tawabi bersantai dengan hamock di siang hari memanfaatkan mangrove yang ada do belakang rumah mereka foto M Ichi

Pemandangan paling eksotis bis disaksikan di saat air surut. Pasir putih menghampar  jauh   ke  laut. Sementara di tepi pantainya dilindungi mangrove jenis posi posi atau soneratia  padat akar akarya tertancap padat. Padatnya mangrove jenis ini di tepi pantai depan kampung, membuat perkampungan  nyaris tertutup. 

Mangrove  sekitar kampung ini sudah dilindungi, bahkan yang mati mulai ditanam kembali. Anakan mangrove yang tumbuh sendiri ikut dirawat dan dijaga. Di ujung kampung bagian utara misalnya suksesi mangrove yang padat khusunya jenis soneratia. Sementara ketika speed boat yang ditumpangi sandar  di pelabuhan, lalu turun menuju kampung, disambut jalan memanjang yang ditimbun menuju daratan. Di sisi kiri kanan jalan lebat dengan mangrove yang dahannya dibiarkan rindang menjulur ke tanah.  Mangrove di tepi pantai di kala siang hari menjadi tempat santai warga memasang hammock di dahan dahan mangrove hingga tidur tiduran di dalam perahu yang ditambatkan di di bawah pohon mangrove.

Hamparan pasir putih yang jauh menjulur ke laut saat air mulai surut foto M Ichi

Di kawasan Pantai  selain hutan mangrove, padang lamun dan terumbu karang dengan fitur pantai berpasir putih, ganggang besar, lamun dan terumbu karang bisa terlihat  jelas saat air surut. Selain echinodermata, pantai ini juga menjadi rumah bagi berbagai makhluk seperti udang merah, ikan karang, dan abalon.

Pantai Desa Tawabi terletak di depan pemukiman warga yang merupakan lokasi jalur kegiatan aktivitas melaut seperti penangkapan ikan dan eksplorasi beberapa spesies Gastropoda dari masyarkat setempat untuk kebutuhan makan dan dijual. 

Kepala Desa Tawabi Sukardi Talib bilang  khusus hutan mangrove  di Tawabi ini, sudah dijaga kelesetariannya oleh masyarakat. Karena itu  adanya pembangunan sekolah mangrove ini akan ikut mendorong masyarakat lebih menjaga warisan alam ini untuk masa depan.  “Hutan mangrove yang mengelilingi desa ini akan dijadikan kawasan wisata. Saat ini kami sedang siapkan badan hukum lembaga dalam bentuk Badan Usaha Milik Desa (Bumdes)  yang akan mengelola kawasan wisata ini,”  kata  Sukardi.

Dia bilang lagi, kampung ini sebenarnya memiliki potensi kekayaan wisata tidak hanya dari hutan mangrove tetapi juga pantai pasir putih dan bawah lautnya. “Ini semua adalah potensi yang perlu dijaga dan dilindungi,”katanya.

akar mangrove jenis posi-posi yang padat dan kokoh di tepi pantai desa TAwabi foto M Ichi

Rencana dibuatnya  sekolah mangrove ini diharapkan lebih menambah wawasan anak- anak dan masyarakat umum  tentang pentingnya menjaga hutan mangrove untuk masa depan.    

Zulham Harahap, fasilitator program ini, yang juga Fakultas Perikanan Univeristas Khairun Ternate mengjelaskan sekolah, ini selain menyelesaikan fisik gedung sekolah   di lingkungan sekolah madrasah ibtidaiyah desa tersebut, para guru juga akan dilatih dan diberi penguatan  dalam pelatihan dan training  masalah lingkungan hidup terutama menyangkut mangrove dan hal terkait lain. Misalnya terumbu karang, lamun hingga pesisir dan laut. Tidak itu masyarakat juga akan diberi pembiayaan untuk membangun track menuju pusat hutan mangrove sebagai sarana studi.

“Nanti tidak hanya bangunan fisik yang dibangun tetapi ada pendukung lainnya. Terutama penguatan  kapasitas para gurunya,”jelasnya saat meninjau pembangunan sekolah mangrove bersama pemerintah desa dan tokoh masyarakat. Sekolah mangrove ini katanya, akan menjadi tempat belajar untuk lebih menjaga hutan mangrove dan ekosistem terkait lainnya tetap terlindungi. (*)

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Krisis Iklim Mengancam Anak Pesisir  

    Krisis Iklim Mengancam Anak Pesisir  

    • calendar_month Jum, 26 Jun 2026
    • account_circle Redaksi
    • visibility 343
    • 0Komentar

    Harga Mahal Harus Dibayar  oleh Pembangunan yang Abai   Krisis iklim tidak lagi bisa dibaca sebatas cuaca ekstrem. Dia  adalah ancaman terhadap keadilan antar generasi. Laporan Children’s Climate Risk Report 2026 dari UNICEF menunjukkan hampir seluruh anak di dunia terpapar risiko iklim, dengan 1,1 miliar anak menghadapi tiga ancaman sekaligus: kekeringan, panas ekstrem, dan gelombang […]

  • Safri Bubu, Pahlawan Konservasi Mamua dari Galela Halmahera

    • calendar_month Rab, 10 Nov 2021
    • account_circle
    • visibility 967
    • 1Komentar

    “Saya hanya ingin suatu saat generasi  dari Galela, Maluku Utara bahkan dunia,  pada 50 atau 100 tahun mendatang masih bisa menyaksikan burung mamua/ bertelur dan berkembang biak di pantai Simau. Ini jadi dasar saya memperjuangkan dengan segala upaya konservasi burung Mamua ini. Konservasi ini saya gagas meski awalnya  dicemooh. Akhirnya semua orang di kampong ini  […]

  • Akibat Tambang Nikel, Pesisir dan Sawah di Halmahera Timur Tercemar

    Akibat Tambang Nikel, Pesisir dan Sawah di Halmahera Timur Tercemar

    • calendar_month Sel, 2 Des 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 817
    • 0Komentar
  • Petani Dapat Penguatan Usaha Kelapa dan Hortikultura

    • calendar_month Jum, 18 Sep 2020
    • account_circle
    • visibility 795
    • 0Komentar

    Hasil Kolaborasi Pakativa – Disperindag dan Distan Provinsi Turunan hasil kelapa yang  mencapai 50 jenis produk hingga kini belum dimanfaatkan  oleh petani  di Maluku Utara.  Mereka hanya mengandalkan kopra sebagai sumber pendapatan utama. Karena itu ketika harga kopra anjlok petani menjadi  terpuruk. Sementara, hasil lain dari kelapa  seperti tempurung, air dan sabuk kelapa  hanya dibuang […]

  • WALHI Malut Kirim Pesan untuk Sidang COP

    • calendar_month Jum, 29 Okt 2021
    • account_circle
    • visibility 694
    • 1Komentar

    Spanduk besar yang dibentangkan di laut Pantai Falajawa Ternate, foto WALHI

  • Indonesia Perkuat Diplomasi Iklim Menuju COP 30:

    • calendar_month Ming, 3 Agu 2025
    • account_circle
    • visibility 797
    • 9Komentar

    Dorongan Kolaboratif, Inklusif, dan Berbasis Sains untuk Hadapi Krisis Global Menyambut Konferensi Perubahan Iklim PBB ke-30 (COP 30) yang akan digelar di Belem, Brasil pada 10-21 November 2025, Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ) menyelenggarakan Workshop Jurnalis bertajuk “Amplifying COP 30 to Indonesia: Memperkuat Dampak Peliputan COP 30”. Agenda ini menjadi forum penting untuk menguatkan […]

expand_less