Breaking News
light_mode
Beranda » Headline » Fakawel/Vauf:Jalan Konservasi dan Pariwisata Berbasis Masyarakat (3)

Fakawel/Vauf:Jalan Konservasi dan Pariwisata Berbasis Masyarakat (3)

  • account_circle Redaksi
  • calendar_month 14 jam yang lalu
  • visibility 63

Sejak pagi di pertengahan Mei 2026 lalu itu, para ibu telah berkumpul di tepi pantai Desa Gemia. Ada kurang lebih 26 orang. Mereka berasal dari Desa Blifitu, Woyobibil, Gemia dan Santosa  Kecamatan Patani Utara Kabupaten Halmahera Tengah Maluku Utara.Para ibu ini adalah peserta lomba fakawel/vauf mancing tradisional perempuan  Gam Range.

Salah satu pesertanya adalah Rahima Kadir (60 tahun). Dia bersama tiga rekannya ikut lomba tersebut. Agenda lomba ini  dilaksanakan pemerintah desa Gemia bersama lembaga swadaya masyarakat Yayasan Studi Etnologi Masyarakat Nelayan Kecil (SEMANK) Maluku Utara. Lomba ini, tujuannya melestarikan Budaya Fakawel/Vauf sebagai kearifan lokal masyarakat pesisir.  Selain itu ingin menguatkan peran perempuan pesisir dalam pelestarian budaya bahari yang selama ini sudah dijalankan turun temurun.

Dalam lomba ini Rahima dan rekan rekannya mendapatkan  puluhan ekor ikan karang. Hasil  ini mengantarkan  mereka juara dalam lomba tersebut. Kegiatan itu terbilang meriah sebab selain peserta   lomba ini, masyarakat umum juga ikut hadir menyaksikan aktivitas sehari-hari yang dilombakan tersebut.

Beberapa jenis ikan karang yang biasa dipancing saat dilakukan lomba  Fakawel.  oleh ibu-ibu  desa Gemia Patani Utara, foto Semank

“Saya senang dan bersemangat karena lomba ini. Selain menyenangkan karena sudah jadi hobi, juga ikannya menjadi milik kita,”cerita Rahima.

Menurutnya, Vauf ini memang sudah mentradisi dan dilakukan setiap saat. Tetapi perlu dengan lomba seperti ini, agar memberikan perhatian dari masyarakat dalam menjaga dan melindungi tempat ikan  di sekitar pesisir desa. Untuk mama mama seperti dirinya yang masih biasa melakukan Fakawel, tempat yang punya ikan banyak rata rata sudah diketahui.  Karena itu perlu dijaga agar wilayah  itu tidak dirusak.

Menurutnya di laut sekitar desa Gemia praktik destruktif  sudah jarang terjadi. Namun ada kekuatiran dilakukan orang orang di luar desa.

“Budaya Fakawel  ini  cara dapat ikan yang sederhana, ramah lingkungan, serta mendukung keberlanjutan sumberdaya perairan,”ujar pendiri SEMANK Mufti Murhum dalam acara tersebut.

Praktik ini katanya adalah contoh baik yang lahir dari warga sehingga perlu dilesatarikan. Salah satu caranya dengan membuat lomba agar masyarakat merasa penting dan terus menjalankan  dan menjaga laut mereka.

Selain itu ikut mendorong keterlibatan generasi muda dalam pelestarian budaya pesisir. Hal lain perlu diangkat melalui agenda seperti ini, sehingga menjadi potensi pengembangan wisata bahari berbasis budaya lokal di Kecamatan Patani Utara Halmahera Tengah.

Dia bilang, jika  menjadi agenda pariwisata, secara tidak langsung masyakarat akan melindungi wilayah laut mereka dari berbagai aktivitas destruktif secara sukarela.

“Kegiatan semacam ini hanya pemantik. Baik kepada masyarakat maupun pemerintah desa dan kabupaten. Tujuannya diperhatikan dan dilestarikan. Bisa menjadi potensi wisata yang menarik,” tutup Mufti.

Kepala Desa Gemia Wahyudin Majid melihat tradisi ini adalah potensi besar pariwista. Karena   pemerintah desa akan menjadikan Fakawel/Vauf ini  jadi agenda tahunan. Ini  bagian dari mendorong pariwisata mancing tradisonal.

“Vakawel ini kita akan tetapkan menjadi agenda tahunan untuk pariwisata. Kita mulai untuk tingkat kabupaten dulu,” kata Wahyudin.

Nantinya akan melibatkan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten (DLH) Halmahera Tengah dan Dinas Pariwisata.

“Pelibatan ini terutama mendorong instansi terkait  menyediakan fasilitas yang jadi kebutuhan dalam pengembangan wisata di desa ini,”jelas Wahyudin.

Kegiatan Vauf/Fakawel yang dilaksanakan oleh kaum perempuan di Gemia Patani Utara Halmahera Tengah, foto SEMANK

Mendorong Konservasi Berbasis Masyarakat

Desa Gemia di kecamatan Patani Utara Kabupaten Halmahera Tengah, memberikan contoh baik dalam upaya konservasi laut.  Mereka mendorong perlindungan pesisir laut juga biota lainnya.  Salah satunya mengkonservasi biota laut dilindungi seperti penyu. Upaya tu, melibatkan anak muda di kampung ini. Mereka bentuk komunitas konservasi.

Desa berpenduduk 1.488 jiwa dengan 346 KK ini juga sedang mendorong Peraturan Desa (Perdes) khusus melindungi penyu dari perburuan dan dikonsumsi telurnya.

“Proses draft peraturan desanya (Perdes) sedang digodok dan sudah dibahas dalam Musyawarah Desa (Musdes),” jelas  Majid akhir  September 2026 lalu.

Desa dengan luas mencapai 6, 10 km²   lautnya  menghadap  samudera pasifik. Di bagian tenggara  desa ada Pulau Liwo, Pulau Sayafi dan Pulau Jiew. Kawasan pulau-pulau ini  masuk kawasan konservasi perairan yang ditetapkan oleh pemerintah.

Kampung ini juga memiliki tradisi fakawel/vauf seperti desa- desa lainnya di Halmahera Tengah. Praktik memancing oleh kaum perempuan pesisir di Halmahera Tengah masih terus dilestarikan warganya.

Wahyudin bilang Fakawel/Vauf adalah model praktik menangkap ikan yang sangat ramah lingkungan dan menjaga keberlanjutan sumber daya ikan. Karena itu perlu dilindungi.  Di desanya, sudah tidak ada lagi aktivitas bom dan potas. Pemerintah desa sudah memperketat pengawasan untuk upaya- upaya destruktif seperti itu.

“Vakawel ini masih dipertahankan hingga kini. Setiap saat ibu-ibu masih menjalankan bahkan menjadi bagian dari keseharian mereka,” jelas Wahyudin.

Kawasan Laut Desa Gemia Kecamatan Patani Utara,terlihat perahu nelayan milik nelayan lego sauh karena cuaca kurang bersahabat,  foto M Ichi

Bukti tetap bertahannya Fakawel/Fauf dari generasi ke generasi bisa dilihat dalam keseharian Rahima Kadir. Meski sudah  60 tahun usianya  masih menjadikan kegiatan ini sebagai bagian dari hidupnya, terutama memenuhi kebutuhan protein anak cucunya selain sebagai hobi.

Pertanyaannya mengapa harus perempuan yang melakukan aktivitas ini?

Menurut Rahima, dibanding laki-laki karena perempuan lebih sabar menunggu ketika melempar umpan saat Fakawel/Vauf ke laut.

“Kalau laki-laki rata-rata tidak sabar menunggu. Jika ikan belum makan mereka langsung pindah. Berbeda dengan perempuan, ketika umpan dilemparkan ke laut selalu sabar menunggu hingga mendapatkan ikan yang dicari,”ujarnya.

Selain itu menurutnya, perempuan seperti dirinya gemar memancing tradisonal ini  karena merupakan cara mencari ikan paling mudah yang bisa dikerjakan.

“Kita berdiri di pantai belakang kampung ini satu dua jam sudah bisa daptkan ikan satu atau dua ekor  dan sudah bisa memenuhi kebutuhan makan siang atau malam,” imbuhnya.

Jika sudah memancing ada banyak jenis ikan karang  bisa didapat. Dari ikan gutila, kakap, goropa, baronang  termasuk ikan bobara.  Ikan yang didapat   bukan untuk dijual  tapi hiburan. Hiburan sekaligus memenuhi kebutuhan.

“Artinya ikan yang diambil sesuai apa yang dapat saja,” imbuh Rahima.

Karena mudahnya mencari ikan lewat Fakawel dia turut berharap, kawasan pesisir perlu dilindungi. Terutama berhubungan dengan kegiatan yang  merusak terumbu karang.

Dia berharap Fakawel  dipertahankan. Dengan begitu  anak cucu di kemudian hari  masih dapat ikan. Kalau  diracun atau bom,   tempat ikan rusak dan bibit ikan akan habis.

“Vauf ini tidak akan hilang jika terumbu karang tidak rusak. Terumbu karang itu   tempat ikan bertelur dan berlindung.   Jadi kalau torang jaga berarti dia terus ada,” katanya.

Dia cerita kurang lebih 15 tahun lalu, Vauf sempat terhenti karena banyaknya aktivitas destructif fishing. Ada banyak bom dan potasium waktu itu. Akhirnya para perempuan malas lakukan Fakawel.  Nanti sekira 10 tahun belakangan bom dan potas sudah dilarang keras, para perempuan mulai turun fakawel/lagi.

Dia lantas mencontohkan, sekira 25 tahun lalu, masih ada warga panen telur ikan terbang yang terdampar di pantai desa ini. Tetapi kini sudah tidak lagi. Padahal dulu saat musim telur ikan terbang, ramai dipanen warga. Namun demikian masih ada mimyen (laor) atau sejenis cacing laut yang dipanen warga setiap April dan  Mei saat bulan di langit 19 dan 20 malam. Laor dipanen dari pukul 23:00 wit hingga pukul 06:00 Wit.

Panen laor atau mimyen (cacing laut) salah satu potensi pesisir di Gemia yang dipanen setiap tahun, foto wahyudin

Mimyen atau nama latinnya Polychaeta saat naik ke  pesisir , sangat ditunggu-tunggu.  Ketika musim tiba, warga menyiapkan alat tradisional untuk mengambilnya. Mereka gunakan sib-sib atau serokan ikan. Setelah diambil selanjutnya diolah menjadi berbagai menu seperti wirwor (gohu), poto (laor panggang), mimyen garo (masak rempah), dan sambal.

Banyak  potensi selain ikan itu, maka laut dan pesisir perlu dilindungi  termasuk daerah yang biasa dilakukan Fakawel/Vauf,”tutupnya. (*)

 Penulis: Mahmud Ichi

Tulisan ini adalah, hasil liputan kolaborasi Kabarpulau dalam Program Fellowship Media Grant “Coastal Voice, Hidden Conservation: Reporting OECMs from Indonesia’s Marine Frontline”. Oleh Yayasan Kolase

 

  • Penulis: Redaksi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Sebuah Catatan Tentang  Laut Maluku Utara

    • calendar_month Kam, 13 Jul 2023
    • account_circle
    • visibility 1.338
    • 1Komentar

    Dari Tambang, Sampah  hingga Matinya Mamalia Laut Studi dari Survei Geologi Amerika Serikat (USGS), menyebutkan bahwa sekitar 72 persen bagian dari bumi tertutup air. 97 persen air yang ada  adalah  lautan.    Indonesia yang merupakan negara kepulauan terbesar di dunia, terbentang dari Sabang sampai Merauke,   dengan 17.499 pulau besar dan kecil  memiliki  luas wilayah  sekitar […]

  • Melihat Festival Kalaodi, dan Pekan Lingkungan Hidup P3K

    • calendar_month Sen, 26 Nov 2018
    • account_circle
    • visibility 784
    • 0Komentar

    Ajakan Kembali ke Alam  hingga Lindungi Pulau dan Laut Gendang dan tifa mengiringi  soya-soya Kalaodi. Tarian  itu sekaligus menjadi salam pembuka kepada tamu  dan warga  yang datang   menyaksikan    festival  Buku se Dou Kalaodi   Kota Tidore Kepulauan. Selain festival Kaaodi,   dilanjutkan  dengan  Pekan Pelestarian Hutan Mangrove dan Ekowisata Pesisir Laut  di Kayoa Halmahera Selatan. Acara ini   adalah satu […]

  • KLHK Sosialisasikan FOLU Net Sink 2030 di Maluku Utara

    • calendar_month Rab, 22 Feb 2023
    • account_circle
    • visibility 647
    • 0Komentar

    Indonesia Forestry and Other Land Uses (FOLU) Net-Sink 2030 merupakan suatu kondisi dimana tingkat serapan karbon sektor kehutanan dan penggunaan lahan lainnya sudah berimbang atau bahkan lebih tinggi dari tingkat emisi yang dihasilkan sektor tersebut pada tahun 2030 merupakan   Komitmen Indonesia  untuk mendorong tercapainya tingkat emisi GRK sebesar -140 juta ton CO2e pada tahun 2030 […]

  • Jaga Hutan Terakhir Halmahera Timur Lewat Olah Sagu, Berkebun dan Bentuk Forum Adat    

    Jaga Hutan Terakhir Halmahera Timur Lewat Olah Sagu, Berkebun dan Bentuk Forum Adat    

    • calendar_month Kam, 16 Okt 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 1.028
    • 0Komentar

    Sarade Kasim 50 (tahun) dan istrinya Nurima (45 tahun) sibuk membangun sebuah rumah papan di lahan kebun mereka. Bahan rumah  dari papan serta kayu olahan lainnya, diangkut dari hutan tak jauh dari situ. Rumah itu berdiri kurang lebih 1,5 kilometer dari desa Bicoli Maba Selatan Kabupaten Halmahera Timur (Haltim) Provinsi Maluku Utara. Tepatnya di bagian […]

  • Dari Mana Kenari Makean Berasal ?

    • calendar_month Kam, 3 Des 2020
    • account_circle
    • visibility 1.520
    • 0Komentar

    Isi kenari yang ditelah dipisahka dari cankangnya/ foto mahmud Ichi

  • Pasca Longboat Terbalik, Bupati Instruksikan PNS Sumbang Pelampung

    Pasca Longboat Terbalik, Bupati Instruksikan PNS Sumbang Pelampung

    • calendar_month Jum, 19 Agu 2016
    • account_circle
    • visibility 2.026
    • 0Komentar

    Entah apa yang ada dalam benak Bupati Kabupaten Kepulauan Sula Ahmad Hidayat Mus,  pasca tragedi kecelakaan longboat dari Mangole Tujuan Sanana pertengahan September lalu, dia lalu mengeluarkan instruksi untuk seluruh PNS daerah itu. Instruksi tegas mewajibkan untuk menyumbang tiap orang satu pelampung atau life jaket untuk diserahkan ke long boat atau alat transportasi lainnnya. Kecelakaan […]

expand_less