Breaking News
light_mode
Beranda » Kabar Kota Pulau » Ekowisata di Punggung Gamalama

Ekowisata di Punggung Gamalama

  • account_circle
  • calendar_month Jum, 28 Agu 2020
  • visibility 805

Menikmati  Keindahan  Ternate dari  Puncak Hutan Pala dan Cengkih 

Pagi jelang siang di pertengahan Juli lalu, ketika udara hutan pala dan cengkih masih  segar, saya  coba menyusuri  punggung Gunung Gamalama. Lokasi ini berada tepat di kawasan puncak Kelurahan Moya Kota Ternate Tengah Maluku Utara. Lokasi ini dalam beberapa  bulan belakangan  menjadi salah satu spot paling diburu penggila swafoto di Ternate. Mereka talk sekadar mengabadikan keindahan   dan pemandangan alam Ternate dari ketinggian. Tempat   di titik  750 meter di atas permukaan laut  dengan kemiringan 65 derajat,dengan  luas tak cukup 1 hektar menjadi spot wisata yang banya   diburu. Selidik punya selidik  ternyata dari sini bisa menyaksikan  Ternate dari ketinggian. Jika melepas pandangan  ke selatan cukup indah  gugusan pulau-pulau  seperti Maitara, Tidore Mare dan Moti.   

Kawasan  yang  dinamai  “Taman  Cinta”  ini, menjadi  destinasi wisata bagi warga  Ternate bersama keluarga.  

Untuk mencapai lokasi, memang tidak mudah. Berjalan menanjak, hamper 1,5 kilometer dari ujung  Kelurahan Moya  yang dekat dengan puncak Gamalama.  Satu jam atau bahkan lebih  bisa sampai ke sini. Pengunjung  juga harus berjalan menyusuri jalan tanah  menanjak yang baru dalam bentuk badan jalan hampir 1  kilometer. Dari situ,     perjalanan  sampai ke puncak bukit sekira 500 meter   melewati  jalan kebun.  

Karena jalan yang menanjak, hampir semua pengunjung  susah  payah    bisa sampai spot ini. Meski begitu, ketika mencapai puncak, semua lelah bisa terobati. Udara segar, pegunungan, pemandangan kota Ternate yang menawan bisa dinikmati.  Tidak itu saja,  dalam perjalanan menuju puncak,   menghirup  aroma wangi udara  hutan cengkih dan pala. Bahkan di sepanjang perjalanan menyaksikan perkebunan pala,  cengkih dan durian yang umurnya sudah ratusan tahun. Pengunjung juga bisa menyaksikan warga yang memanen hasil pala  dan cengkih di tepi- tepi jalan.   

Kawasan ini juga terbilang ramai pengunjung karena tidak hanya  pemburu swa foto. Jalan ini juga   menjadi   perlintasan para pendaki  puncak Gunung  Gamalama  yang naik maupun turun setiap waktu.  Tidak itu saja,  belakangan tempat wisata ini menjadi lokasi camping bagi berbagai kalangan yang ingin menikmati  dinginnya  alam pegunungan  sambil melihat  indahnya Kota Ternate di malam hari.  

Tempat wisata ini, memang belum memiliki banyak fasilitas.  Baru ada tiga cottage, taman bunga dan wahana outbond  berupa flyng  fox.  Meski begitu karena memiliki panorama indah dan berada dalam kawasan hutan  sangat memikat  wisatawan lokal. Di sini juga bisa berburu foto kupu-kupu yang beterbangan dari satu bunga ke bunga  lainnya.   

Tempat wisata ini sebenarnya berada dalam kawasan hutan produksi konversi (HPK) atau berbatasan langsung dengan hutan lindung Gamalama.   Hadirnya tempat wisata ini, awalnya  digagas oleh Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Ternate Tidore. Selanjutnya  pengelolaanya diserahkan kepada kelompok Perhutanan Sosial (PS) Kelurahan Moya yang membentuk   Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Ake Balanda.  Kelompok ini diberikan izin untuk mengelola kawasan wisata ini. “Izin konsesi atau kelolanya selama 35 tahun. Modelnya pemberdayaan  masyarakat. Semua  hasil usaha  dikelola  kelompok dan warga kelurahan Moya. Hasil itu   didapatkan  warga  terutama  mereka yang memiliki lahan kebun di tempat wisata ini,” jelas Kepala KPH  Ternate Tidore  Ibrahim Tuhateru    di lokasi  wisata ini Juli lalu.

Ketua Kelompok LPHD Ake Balanda Rajab Hayat yang mengelola kawasan wisata ini menjelaskan, yang  mereka kelola ini adalah kawasan ekowisata  puncak Gamalama. “Ide awalnya dari KPH Ternate Tidore kemudian mereka mencari lokasi yang tepat dan memilih kawasan puncak Moya ini,” katanya.  Beberapa fasilitas  di taman ini  dibangun secara swadaya  oleh kelompok.  Saat ini mereka mendapatkan dukungan berupa fly fox  dari Balai Perhutanan Sosial dan Kementerian Lingkungan Hidup (BPSKL) Maluku Papua untuk menambah  fasilitas  di tempat wisata ini.

Karena masih butuh penambahan fasilitas, Rajab  berharap  ada   dukungan  pemerintah kota Ternate atau instansi terkait lainnya. “Ini demi  pengembangan tempat wisata di punggung gamalama ini.  Kita masih  kekurangan banyak fasilitas  terutama akses dan  penunjang lainnya.  Akses jalan ke lokasi juga butuh diaspal dan dibuat tangga. Ini   kami butuh dukungan pemerintah daerah,”  katanya.

Menurut dia, jika ada penambahan fasilitas, termasuk  akses jalan yang baik,  maka  tempat wisata alam ini makin   ramai  dikunjungi   dan memberikan nilai tambah ekonomi bagi warga Moya.  Warga juga akan berjualan di sepanjang jalan menuju lokasi wisata sehingga   memperoleh  tambahan penghasilan.

Saat ini saja,  di luar hari libur  pengunjung yang datang bisa mencapai 200 orang.  Jika   libur Sabtu dan Minggu  pengunjungnya  bisa 500 bahkan sampai 1000 orang.  Pengunjung yang datang ke lokasi ini ditagih  karcis parkir kendaraan di ujung jalan menuju lokasi sebesar Rp 3000/pengunjung.(*)

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ada Wisata Mangrove di Jantung Kota Sofifi

    • calendar_month Rab, 20 Okt 2021
    • account_circle
    • visibility 1.059
    • 0Komentar

    Kawasan Hutan Mangrove Guruaping dilihat dari Udara, foto Opan Jacky

  • Warga Haltim Protes Masalah Tambang di Depan Istana

    • calendar_month Jum, 8 Des 2023
    • account_circle
    • visibility 942
    • 3Komentar

    Desak Bebaskan Halmahera  dari Kehancuran Ekologi Dampak lingkungan dan social yang ditimbulkan akibat industri tambang di Pulau Halmahera Provinsi Maluku Utara, mendapat protes warga. Mereka  protes karena merasakan  dampak industry tersebut secara langsung. Jumat (7/12/20223)  masyarakat Halmahera Timur (Haltim) Maluku Utara terdiri dari Aliansi Masyarakat Buli Peduli Watowato, Pengurus Besar Forum Mahasiswa Maluku Utara dan […]

  • Cerita Warga Mengolah Aren, Melindungi Hutan Halmahera

    • calendar_month Kam, 27 Agu 2020
    • account_circle
    • visibility 1.336
    • 0Komentar

    Hari masih gelap di akhir  Februari lalu, ketika Fadli  Hafel (34) sudah harus berjalan sekira tiga kilometer dari rumah di kampung Samo  Gane Barat Utara Halmahera Selatan, menuju hutan desa itu mengambil air nira dari pohon aren.  Sejak pagi sekira pukul 06.00 WIT, dia sudah keluar dari rumah mengambil   air nira yang  ditadah menggunakan ruas […]

  • Suara Lirih Petani Kakao Pulau Bacan

    • calendar_month Kam, 9 Nov 2023
    • account_circle
    • visibility 922
    • 0Komentar

    Busuk Buah Bertahun-Tahun, Tak Digubris Pemerintah? Hari sudah agak siang Rabu (31/10/2023). Meski begitu di bawah perkebunan kakao yang ditumpangsarikan kelapa dan pala berjarak kurang lebih satu kilometer dari Panamboang Bacan Selatan Pulau Bacan itu terasa sejuk.     Jarum jam menujukan sekira pukul 11.20 WIT. Saif Bakar (49) sibuk mengumpulkan satu per satu buah kakao […]

  • Ketika Orang Hiri Menuntut Merdeka

    • calendar_month Kam, 17 Agu 2023
    • account_circle
    • visibility 721
    • 1Komentar

    Ingatkan  Pemerintah, Kibarkan Bendera Setengah Tiang   Hari masih pagi, sekira pukul 07.50 WIT sebuah speedboat mengangkut pegawai yang bekerja di Kecamatan Pulau Hiri Kota Ternate Maluku Utara. Mereka adalah pegawai yang akan gelar upacara Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia ke-78, Kamis (17/08/2023). Pegawai lelaki dan perempuan berbaju Korpri  itu  rata rata […]

  • Untuk Ikan Lestari, AS Dukung Hentikan Illegal Fishing

    • calendar_month Jum, 19 Jan 2018
    • account_circle
    • visibility 583
    • 0Komentar

    Upaya  menjaga kelestarian sumberdaya alam laut Indonesia terutama bidang perikanan, menjadi sebuah keharusan. Dalam upaya itu membutuhkan dukungan berbagai pihak. Salah satunya dilakukan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP)yang  bekerjasama dengan Badan Pembangunan Internasional AS (USAID), dan the U.S. National Oceanographic and Atmospheric Administration (NOAA) bermitra menerapkan Perjanjian tentang Ketentuan Negara Pelabuhan (PSMA). Seperti rilis yang dikirimkan USAID […]

expand_less