Breaking News
light_mode
Beranda » Kabar Kota Pulau » Ekowisata di Punggung Gamalama

Ekowisata di Punggung Gamalama

  • account_circle
  • calendar_month Jum, 28 Agu 2020
  • visibility 728

Menikmati  Keindahan  Ternate dari  Puncak Hutan Pala dan Cengkih 

Pagi jelang siang di pertengahan Juli lalu, ketika udara hutan pala dan cengkih masih  segar, saya  coba menyusuri  punggung Gunung Gamalama. Lokasi ini berada tepat di kawasan puncak Kelurahan Moya Kota Ternate Tengah Maluku Utara. Lokasi ini dalam beberapa  bulan belakangan  menjadi salah satu spot paling diburu penggila swafoto di Ternate. Mereka talk sekadar mengabadikan keindahan   dan pemandangan alam Ternate dari ketinggian. Tempat   di titik  750 meter di atas permukaan laut  dengan kemiringan 65 derajat,dengan  luas tak cukup 1 hektar menjadi spot wisata yang banya   diburu. Selidik punya selidik  ternyata dari sini bisa menyaksikan  Ternate dari ketinggian. Jika melepas pandangan  ke selatan cukup indah  gugusan pulau-pulau  seperti Maitara, Tidore Mare dan Moti.   

Kawasan  yang  dinamai  “Taman  Cinta”  ini, menjadi  destinasi wisata bagi warga  Ternate bersama keluarga.  

Untuk mencapai lokasi, memang tidak mudah. Berjalan menanjak, hamper 1,5 kilometer dari ujung  Kelurahan Moya  yang dekat dengan puncak Gamalama.  Satu jam atau bahkan lebih  bisa sampai ke sini. Pengunjung  juga harus berjalan menyusuri jalan tanah  menanjak yang baru dalam bentuk badan jalan hampir 1  kilometer. Dari situ,     perjalanan  sampai ke puncak bukit sekira 500 meter   melewati  jalan kebun.  

Karena jalan yang menanjak, hampir semua pengunjung  susah  payah    bisa sampai spot ini. Meski begitu, ketika mencapai puncak, semua lelah bisa terobati. Udara segar, pegunungan, pemandangan kota Ternate yang menawan bisa dinikmati.  Tidak itu saja,  dalam perjalanan menuju puncak,   menghirup  aroma wangi udara  hutan cengkih dan pala. Bahkan di sepanjang perjalanan menyaksikan perkebunan pala,  cengkih dan durian yang umurnya sudah ratusan tahun. Pengunjung juga bisa menyaksikan warga yang memanen hasil pala  dan cengkih di tepi- tepi jalan.   

Kawasan ini juga terbilang ramai pengunjung karena tidak hanya  pemburu swa foto. Jalan ini juga   menjadi   perlintasan para pendaki  puncak Gunung  Gamalama  yang naik maupun turun setiap waktu.  Tidak itu saja,  belakangan tempat wisata ini menjadi lokasi camping bagi berbagai kalangan yang ingin menikmati  dinginnya  alam pegunungan  sambil melihat  indahnya Kota Ternate di malam hari.  

Tempat wisata ini, memang belum memiliki banyak fasilitas.  Baru ada tiga cottage, taman bunga dan wahana outbond  berupa flyng  fox.  Meski begitu karena memiliki panorama indah dan berada dalam kawasan hutan  sangat memikat  wisatawan lokal. Di sini juga bisa berburu foto kupu-kupu yang beterbangan dari satu bunga ke bunga  lainnya.   

Tempat wisata ini sebenarnya berada dalam kawasan hutan produksi konversi (HPK) atau berbatasan langsung dengan hutan lindung Gamalama.   Hadirnya tempat wisata ini, awalnya  digagas oleh Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Ternate Tidore. Selanjutnya  pengelolaanya diserahkan kepada kelompok Perhutanan Sosial (PS) Kelurahan Moya yang membentuk   Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Ake Balanda.  Kelompok ini diberikan izin untuk mengelola kawasan wisata ini. “Izin konsesi atau kelolanya selama 35 tahun. Modelnya pemberdayaan  masyarakat. Semua  hasil usaha  dikelola  kelompok dan warga kelurahan Moya. Hasil itu   didapatkan  warga  terutama  mereka yang memiliki lahan kebun di tempat wisata ini,” jelas Kepala KPH  Ternate Tidore  Ibrahim Tuhateru    di lokasi  wisata ini Juli lalu.

Ketua Kelompok LPHD Ake Balanda Rajab Hayat yang mengelola kawasan wisata ini menjelaskan, yang  mereka kelola ini adalah kawasan ekowisata  puncak Gamalama. “Ide awalnya dari KPH Ternate Tidore kemudian mereka mencari lokasi yang tepat dan memilih kawasan puncak Moya ini,” katanya.  Beberapa fasilitas  di taman ini  dibangun secara swadaya  oleh kelompok.  Saat ini mereka mendapatkan dukungan berupa fly fox  dari Balai Perhutanan Sosial dan Kementerian Lingkungan Hidup (BPSKL) Maluku Papua untuk menambah  fasilitas  di tempat wisata ini.

Karena masih butuh penambahan fasilitas, Rajab  berharap  ada   dukungan  pemerintah kota Ternate atau instansi terkait lainnya. “Ini demi  pengembangan tempat wisata di punggung gamalama ini.  Kita masih  kekurangan banyak fasilitas  terutama akses dan  penunjang lainnya.  Akses jalan ke lokasi juga butuh diaspal dan dibuat tangga. Ini   kami butuh dukungan pemerintah daerah,”  katanya.

Menurut dia, jika ada penambahan fasilitas, termasuk  akses jalan yang baik,  maka  tempat wisata alam ini makin   ramai  dikunjungi   dan memberikan nilai tambah ekonomi bagi warga Moya.  Warga juga akan berjualan di sepanjang jalan menuju lokasi wisata sehingga   memperoleh  tambahan penghasilan.

Saat ini saja,  di luar hari libur  pengunjung yang datang bisa mencapai 200 orang.  Jika   libur Sabtu dan Minggu  pengunjungnya  bisa 500 bahkan sampai 1000 orang.  Pengunjung yang datang ke lokasi ini ditagih  karcis parkir kendaraan di ujung jalan menuju lokasi sebesar Rp 3000/pengunjung.(*)

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Cerita dari Laigoma Setelah Ada Solar Cell (1)

    • calendar_month Sab, 12 Agu 2023
    • account_circle
    • visibility 875
    • 2Komentar

    Rumah milik Safa Kamari (67 tahun) berada di ujung selatan Dusun I Desa Laigoma Kecamatan Kayoa Kabupaten Halmahera Selatan Maluku Utara.   Berdinding beton beratap seng, di halamannya berdiri satu buah panel surya yang berfungsi mengubah tenaga surya menjadi energi listrik. Dari panel ini tersambung dengan empat bola lampu yang dipasang di teras, ruang tamu, dapur […]

  • Riset SIEJ:Suara Masyarakat Adat Minim Tampil di Media

    Riset SIEJ:Suara Masyarakat Adat Minim Tampil di Media

    • calendar_month Sel, 28 Jul 2026
    • account_circle Redaksi
    • visibility 158
    • 0Komentar

    Didominasi  DPR dan Masyarakat Sipil     The Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ) bersama Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) dan Koalisi Kawal RUU Masyarakat Adat menyelenggarakan Green Editor Forum: Membaca RUU Masyarakat Adat dalam Pemberitaan Media Massa. Forum ini mempertemukan editor media, organisasi masyarakat sipil, anggota DPR RI, akademisi, dan perwakilan masyarakat adat untuk memperkuat […]

  • Nasib Reptil di Hutan dan Pulau di Maluku Utara 

    • calendar_month Jum, 24 Nov 2023
    • account_circle
    • visibility 1.562
    • 0Komentar

    Terus Diburu, Rawan Diselundupkan   Masa depan berbagai jenis reptile di hutan Halmahera dan pulau pulau lainya di Maluku Utara akan terus terancam. Terutama untuk jenis reptil yang memiliki harga jual tinggi. Sebut saja jenis kadal, biawak ular bahkan kura kura darat. Berulangkali jenis hewan   ini diamankan petugas karena dijual ke luar daerah dan diamankan […]

  • Orang Tobaru dan Tradisi Menanam

    • calendar_month Jum, 5 Nov 2021
    • account_circle
    • visibility 1.155
    • 2Komentar

    Hari masih pagi. Jarum jam baru menunjukan pukul 07.25 WIT. Jumat (19/2) pagi  itu,  Rin Bodi (49) dan   suaminya    Lius Popo (57) sudah meninggalkan rumah menuju kebun dan dusun kelapa  yang berada kurang lebih 3 kilometer dari desa Podol Kecamatan Tabaru Kabupaten Halmahera Barat. Podol sendiri adalah satu dari 16 desa  di kecamatan Tabaru  yang […]

  • YLBHI:  Bermotif Kepentingan Tambang, Hakim Vonis 11 Warga Adat Maba Sangaji Bersalah

    • calendar_month Kam, 16 Okt 2025
    • account_circle
    • visibility 570
    • 0Komentar

    Suasana  haru penuh  amarah menyelimuti ruang persidangan, kala hakim pengadilan Negeri Soasio Tidore Kepulauan memvonis   11 warga  adat Maba Sangaji Halmahera Timur (Haltim) bersalah, pada Kamis (16/10) siang. Hakim mengetuk palu dan menyatakan 11 pejuang lingkungan iti bersalah lantaran menghalangi aktivitas pertambangan PT Position. Para terdakwa  disebutkan hakim telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah […]

  • Kemenag Keluarkan SE  Jaga Lingkungan Satuan Pendidikan

    • calendar_month Sen, 27 Jan 2025
    • account_circle
    • visibility 857
    • 0Komentar

    Kementerian Agama membuat imbauan dalam bentuk surat edaran (SE) yang meminta satuan pendidikan proaktif dan peduli menjaga dan memelihara lingkungan. Imbauan ini tertuang dalam Surat Edaran (SE) Direktur Jenderal Pendidkan Islam (Dirjen Pendis) Nomor 1 tahun 2025 tentang Pemeliharaan Lingkungan Satuan Pendidikan. SE yang diterbitkan 14 Januari 2025 ini merupakan tindak lanjut arahan Menteri Agama […]

expand_less