Breaking News
light_mode
Beranda » Headline » Mengangkat Kearifan Nelayan Ternate  Lewat Festival Nyao Fufu

Mengangkat Kearifan Nelayan Ternate  Lewat Festival Nyao Fufu

  • account_circle Redaksi
  • calendar_month Rab, 8 Okt 2025
  • visibility 443

Nyao fufu adalah salah satu tradisi memasak atau mengawetkan ikan yang dilakukan  warga Ternate dan Maluku Utara secara turun temurun. Kelurahan Dufa-dufa sebagai salah satu kampong/kelurahan nelayan di Kota Ternate  melestarikan tradisi nyao   fufu atau ikan asap  tidak  hanya untuk  konsumsi tetapi juga  usaha ekonomi produktif. Masyarakat di Pantai Dufa dufa juga turut menjaga dan melestarikan tradisi pesisir itu hingga kini.

126 tungku kayu  sebagai tempat mengasapi  ikan, berjejer di jalan utama hingga ke tepi pantai kelurahan Dufa-dufa Kota Ternate Maluku Utara  Senin (6/10/2025). Kegiatan ini menjadi bukti warga nelayan Dufa-dufa mencoba mengangkat kearifan ini ke pentas  nasional bahkan internasional. Tungku berdiri dengan bahan bakar kayu dan sabut kelapa itu digunakan untuk fufu  ikan cakalang secara massal melalui Festival Nyao Fufu (ikan asap,red).

Dimulai dengan ikan cakalang yang sudah disiapkan, dibelah dan dibersihkan. Kemudian dijepit dengan bambu yang sudah diraut lalu diikat. Jika sudah siap, ikan yang siap diasapi   diletakkan di atas tungku  dengan  bara api dari kayu dan sabut kelapa.  Warga bahu-membahu tua muda turun ke jalan mengasapi ikan yang sudah disediakan.  Kegiatan ini dilakukan secara massal atau sekitar 3.000 warga  dari jalan utama hingga ke ujung jalan tepi pantai  ke Taman Jole Majiko tak jauh dari ujung Selatan Bandara Baabullah Ternate.

Mereka serentak mengasapi ikan yang sudah tersedia. Setiap tungku pemanggangan mengasapi  20 hingga 50 ekor ikan dan dikawal  5 sampai 10  warga. Proses nyao  fufu ini hingga matang berlangsung kurang satu jam tergantung bara api yang disiapkan. Setelah ikan fufu matang  warga menyediakan nampan dan aneka makanan pangan lokal untuk dicicipi bersama.  Tak hanya itu  nyao fufu  juga dibagikan ke pengunjung yang berdatangan  secara gratis  yang  menyaksikan festival.

Kegiatan ini memecahkan rekor Museum Rekor Indonesia (MURI) dengan mengasapi  6,42 ton ikan atau lebih dari 5470  ekor ikan cakalang  sepanjang 1 kilometer jalan . Ikan-ikan  yang diasapi merupakan hasil partisipasi kelompok  nelayan setempat  yang disumbangkan  untuk acara ini.

Ridwan Safar,  warga Dufa- dufa mengatakan, distribusi ikan  untuk festival tahun ini mencapai enam ton. Ini bukan sekadar pesta kuliner, tapi juga upaya memperkenalkan  potensi kampung nelayan Dufa- Dufa kepada  masyarakat yang lebih luas.

“Kami ingin Dufa-dufa dikenal bukan hanya karena ikannya, tapi juga karena semangat warganya  menjaga tradisi.  Karena itu Festival ini  kami  hidupkan dengan budaya bahari yang sudah lama dijalankan,” ujarnya di sela sela  acara. Dalam festival ini seluruh pengunjung dipersilahkan menikmati ikan asap yang telah dibakar secara gratis. “Siapa saja yang mau makan silahkan ambil,”  katanya.

Ketua panitia Festival Sukarjan Hirto mengatakan, tujuan kegiatan ini  adalah mengangkat potensi ekonomi masyarakat,  tradisi  dan budaya   maritime  serta pesisir,   terutama yang ada di Kelurahan Dufa-dufa. Hal ini karena  mata pencarian warga  sebagai nelayan. Semangat festival ini juga katanya, adalah  merayakan dan membudayakan tradisi leluhur  yang menjadi identitas warga   pesisir   Ternate.   “Kita juga, mengangkat potensi masyarkat Dufa-dufa yang berdiri di atas tiga pilar utama  ekonomi perikanan, budaya masyarakat dan kekayaan maritime. Dalam konteks ini  yang disasar  adalah nilai kebahariannya,” ujar Sukarjan.

 

 

Dia bilang, bagi kami masyarakat nelayan Dufa- dufa festival ini tidak sekadar  seremonial, tetapi upaya masyarakat membangun nilai budaya ekonomi yang bersumber dari kearifan local.  Festival selama sepekan  sejak 2  hingga 8 Oktober 2025  itu mengusung tema “Ikan Fufu Lokal, Ekonomi Berkelanjutan” sebagai komitmen  memperkuat ekonomi maritim  masyarakat pesisir.  Festival ini juga mendapatkan dukungan penuh Pemerintah Provinsi Maluku Utara dan diharapkan menjadi event bertaraf nasional bahkan internasional.

“Kami ingin menunjukkan bahwa  ini bukan sekadar pesta kuliner, tetapi  bagian dari warisan budaya dan spiritual masyarakat Dufa-Dufa,” ujar Sukarjan.  Saat pembukaan kegiatan, panitia juga menyiapkan pertunjukan tarian kolosal melibatkan 150 orang. Selain itu    pra iven,  digelar tradisi ziarah ke makam leluhur dan auliyah  serta pelaksanaan ritual Sou Gam (mengobati kampong,red). Kegiatan ini sebagai bentuk melindungi kampong dan wilayah dari  musibah dan bencana.

Dia berharap,  apa yang diinisiasi warga ini menjadi momentum penting  mempromosikan Maluku Utara ke panggung dunia.  Diharapkan  tidak hanya  satu kali penyelenggaraannya, tetapi berlanjut  setiap tahun sebagai kalender tetap pariwisata nasional.

“Melalui festival Nyao Fufu  kami harapkan dapat menjadi identitas Ternate di mata dunia. Dari Dufa-Dufa,ikan fufu bisa mendunia, sekaligus mengangkat ekonomi masyarakat nelayan,” harapnya.

Selain kuliner, festival ini juga dirangkai dengan pameran UMKM, atraksi budaya, hingga forum ekonomi lokal. Dengan sentuhan tradisi dan semangat modernisasi,  diyakini mampu menjadi jembatan antara kearifan lokal dan potensi global.

Asisten Deputi Pengembangan Produk Wisata Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Itok Parikesit,  mewakili Kementerian Pariwisata, mengapresiasi  terselenggaranya kegiatan tersebut.  Festival Nyao Fufu ini merupakan bentuk inovasi daerah  memadukan potensi seni, budaya, dan pariwisata bahari. “Festival ini bisa menjadi daya tarik wisata nasional bahkan internasional, serta berkontribusi pada perputaran ekonomi masyarakat pesisir,” ujar Itok.

Sementara Wakil Gubernur Maluku Utara, Sarbin Sehe, mengatakan bahwa pemerintah provinsi akan terus mendukung kegiatan rakyat berbasis potensi lokal. Festival Nyao Fufu merupakan wujud nyata kolaborasi masyarakat, pemerintah, dan pelaku budaya  untuk memajukan sektor ekonomi kelautan. “Kegiatan ini adalah kerja nyata membuka akses masyarakat nelayan agar laut kembali menjadi sumber pendapatan berkelanjutan,” kata Sarbin.(*)

 

  • Penulis: Redaksi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Mtu Mya Halteng, Destinasi Eksotis yang Terancam Abrasi

    • calendar_month Ming, 17 Jan 2021
    • account_circle
    • visibility 729
    • 0Komentar

    Hamparan pasir putih menghiasi pulau kecil berukuran sekira 70  meter  persegi itu. Di kiri kanannya terlihat  laut biru tosque dan terumbu karang yang sebagian sudah mulai mulai mati. Pulau tersebut tak lagi berpohon. Pohon yang dulu rindang dan tumbuh lebat di ekosistem pantai ini, telah mati. Baru ada beberapa pohon ditanam kembali oleh warga dan […]

  • Pulihkan Ekonomi Warga dari Covid-19 dengan Tanam Mangrove

    • calendar_month Sel, 6 Okt 2020
    • account_circle
    • visibility 460
    • 0Komentar

    Pandemic Covid 19 benar-benar berdampak buruk bagi seluruh sendi kehidupan.   Hal ini juga ikut berdampak pada kondisi ekonomi masyarakat terutama masyarakat kecil yang berada di daerah pesisir dan pulau-pulau kecil. Secara nasional kondisi ini ikut  menekan pertumbuhan ekonomi.  Data resmi Badan Statitistik  5 Agustus 2020, pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) 2018-2020 relatif menurun, hingga triwulan […]

  • Cara Tangkap Tuna Nelayan Maluku Utara Dipresentasikan di World Expo 2025

    • calendar_month Rab, 4 Jun 2025
    • account_circle
    • visibility 1.249
    • 0Komentar

    Indonesia  membawa isu keberlanjutan perikanan tuna dalam  World Expo 2025  di Osaka, Jepang. Isu ini muncul karena tuna adalah komoditas penting bagi Indonesia, terutama para nelayan kecil dan tradisional.  World Expo 2025 Osaka  sendiri adalah pameran dunia  yang diselenggarakan di Osaka, Jepang, dari 13 April hingga 13 Oktober 2025 dengan  tema “Merancang Masyarakat Masa Depan untuk Kehidupan […]

  • Halua Kenari, Sumber Pendapatan Ibu-ibu Suma

    • calendar_month Ming, 29 Nov 2020
    • account_circle
    • visibility 608
    • 0Komentar

    Ibu Ainun (jilbab hijau) melepas tempurung kenari dari isinya dengan cara dipukul dengan batu

  • Kebun Sagu Dijual, Cadangan Pangan Warga Sagea Hilang (1)

    • calendar_month Ming, 7 Jan 2024
    • account_circle
    • visibility 608
    • 0Komentar

    Rintik hujan pada Minggu (26/11/2023) sekira pukul 17.00 WIT itu, tak menyurutkan semangat Abdurahman Jabir (50) dan Anwar Ismail (67). Keduanya bahu membahu dengan kedua tangan, mengangkat tepung sagu yang telah mengendap di dalam perahu–wadah penampung perasan pokok sagu.  Tepung terisi dalam tiga karung besar hasil perasan  empulur setengah batang pohon sagu, yang panjangnya kurang […]

  • Dua Hari yang Sunyi di Bumi Maluku Utara 

    • calendar_month Rab, 22 Mar 2023
    • account_circle
    • visibility 511
    • 3Komentar

    Peringatan Hari Air Sedunia oleh Komunitas Save Ake Gaale

expand_less