Breaking News
light_mode
Beranda » Kabar Kampung » Ini Kondisi Jalan Sayoang -Yaba Pulau Bacan

Ini Kondisi Jalan Sayoang -Yaba Pulau Bacan

  • account_circle
  • calendar_month Sel, 19 Jan 2021
  • visibility 404

Rusak Parah, Dihantam Banjir dan Tertutup Longsor  

Ruas jalan Bacan Timur dan Bacan Barat Utara  Kabupaten Halmahera Selatan Maluku Utara, atau lebih dikenal dengan jalan Sayoang-Yaba kondisinya sangat miris. Selain rusak parah dan nyaris putus, juga tertimbun longsor.

Di kilometer 7 ruas jalan milik pemerintah provinsi Maluku Utara tersebut, nyaris putus hingga sekira 20 meter. Jalan yang nyaris putus  di ruas jalan  itu  karena dibangun mengikuti bantaran sungai Ake Rica yang longsor karena  banjir.   

Kondisi jalan sangat parah terlihat  di kilometer 7. Selain  itu di titik lain, akibat banjir yang terjadi, material pasir dan bebatuan naik di atas badan jalan. Kondisi ini   menyebabkan akses masyarakat Kecamatan Bacan Barat Utara,  dari Desa Yaba, Sidopo, Loit dan sekitarnya juga  mengalami kesulitan. Kendaraan sangat kesulitan  ketika melintas. Para sopir  maupun pengendara harus ekstra  hati-hati. Pasalnya kondisi jalan sangat mengancam keselamatan.

Di titik jalan tertentu, kendaraan yg melintas harus keluar dari  badan jalan dan  masuk ke  semak belukar  melewati  badan jalan menghindari jalan  rusak.

Di kawasan  kilometer 7 juga ada 1 titik yang    tertimbun longsoran  tanah dari  tebing  di atasnya,  belum dibersihkan hingga kini. “Longsoran ini baru terjadi di kala hujan baru baru ini,” jelas  Nahrawai Rabbul warga Halsel yangs setiap saat melintasi jalan itu. Meski demikian,  masyarakat  tetap memaksakan melintasi jalan itu karena tak ada alternative atau ada ada akses jalan lain. Padahal titik  jalan yang rusak itu sangat mengancam keselamatan warga.

Nahrawi  yang juga  warga Bacan  Timur itu  menuturkan,   jalan tidak hanya berlubang dan becek serta  tertimbun longsor,  badan jalan yang  longsor akibat banjir beberapa hari  lalu  juga sangat mengancam warga yang melintas. Bahkan ada ancaman terjadi longsoran susulan   jika hujan lebat dan  menimbulkan banjir.

“Yang miris karena sepanjang badan jalan Sayoang – Yaba ini dibangun di bibir  sungai Ake Rica, maka cepat atau lambat, ruas jalan Sayoang-Yaba akan habis  dihantam banjir,”keluh Nahrawi.  

Dia bilang jika jalan Sayoang–Yaba sampai putus,   dipastikan masyarakat Bacan Barat dan sekitarnya akan kembali seperti masa  30 tahun  lalu. Terpaksa harus  lewat jalur laut jika hendak ke ibu Kota Kabupaten atau  sebaliknya. Jika begitu perjalananya  membutuhkan waktu yang cukup lama  dan biaya yang mahal.  

Ruas jalan  Sayoang – Yaba ini juga  masih  ada kurang lebih 13 KM yang belum diasapal   yakni dari  KM 22  sampai ke Desa Yaba ibu Kota Kecamatan Bacan Barat Utara. Jalan yang belum diaspal ini lebih parah kondisinya. Bahkan sudah pernah memakan korban  kecalakaan lalu lintas.

“Kami sangat mengharapkan perhatan serius pemerintah provinsi Maluku Utara  harus memperhatikan ruas jalan Sayoang – Yaba ini. Karena,  jika  ruas jalan ini bagus maka dapat membantu masyarakat Halsel khususnya  di  Bacan Barat Utara dan sekitarnya. Terutama   mempermudah  akses masyarakat mengangkut  hasil pertanian  dan  komiditi  penting lainnya.  

Apalagi di ruas jalan ini ada ribuan hektar perkebunan kelapa, coklat, cemgkih dan pala milik warga Bacan Timur sehingga akses jalan ini sangat berarti dalam  membantu aktivitas warga.

Sekadar diketahui, wilayah Ake Rica adalah kawasan pertanian yang sangat penting bagi masyarakat di Bacan Timur dan Bacan Barat Utara

Kepala  Dinas Pekerjaan Umum  (PU) Provinsi Maluku Utara Santrani Abusama dikonfirmasi  via mesangger facebook  mengaku, baru mendapatkan informasi tersebut. “Atas informasi ini segera ditindaklanjuti katanya. singkat  

Sekadar diketahui proyek jalan Sayoang Yaba ini sempat bermasalah dan  masih berproses di Kejaksaan Tinggi Maluku Utara. (*)  

https://youtu.be/KyZzGuCh1Ps

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Mengangkat Kearifan Nelayan Ternate  Lewat Festival Nyao Fufu

    Mengangkat Kearifan Nelayan Ternate  Lewat Festival Nyao Fufu

    • calendar_month Rab, 8 Okt 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 288
    • 0Komentar

    Nyao fufu adalah salah satu tradisi memasak atau mengawetkan ikan yang dilakukan  warga Ternate dan Maluku Utara secara turun temurun. Kelurahan Dufa-dufa sebagai salah satu kampong/kelurahan nelayan di Kota Ternate  melestarikan tradisi nyao   fufu atau ikan asap  tidak  hanya untuk  konsumsi tetapi juga  usaha ekonomi produktif. Masyarakat di Pantai Dufa dufa juga turut menjaga dan […]

  • Kanari Makeang Sasar Pasar Eropa

    • calendar_month Rab, 16 Jun 2021
    • account_circle
    • visibility 347
    • 0Komentar

    Ibu inu di ksmpung Samsuma Makeang Pulau sedang memecah tempurung kenari untuk diambil kacang kenari, foto M Ichi

  • Kayanya KKP Kepulauan Sula di Maluku Utara

    • calendar_month Ming, 18 Okt 2020
    • account_circle
    • visibility 404
    • 0Komentar

    Pantai dan kawasan laut pulau Pagama Kepulauan Sula yang masuk KKP Kepsul

  • CONSERVE, Kegiatan Pengarusutamaan Kehati Lintas Sektor

    • calendar_month Ming, 26 Feb 2023
    • account_circle
    • visibility 260
    • 0Komentar

    Kakatua Putih salah satu jenis burung yang dilindungi di Maluku Utara foto M Ichi

  • Buku Adalah Subversif ?

    Buku Adalah Subversif ?

    • calendar_month Sen, 30 Nov 2020
    • account_circle
    • visibility 288
    • 0Komentar

    Penulis: Syaiful Bahri Ruray Putra Wayabula A room without books is like body without soul (Cicero). Ditengah hiruk pikuk pandemik yang belum juga selesai, tiba-tiba saja jagad maya kita dikagetkan dengan tarik menarik soal buku. Dan itu berawal ketika ada postingan Anis Baswedan yang berkain sarung, sedang membaca How Democracies Die, buku karya Steven Levitsky […]

  • Cerita Warga Mengolah Aren, Melindungi Hutan Halmahera

    • calendar_month Kam, 27 Agu 2020
    • account_circle
    • visibility 675
    • 0Komentar

    Hari masih gelap di akhir  Februari lalu, ketika Fadli  Hafel (34) sudah harus berjalan sekira tiga kilometer dari rumah di kampung Samo  Gane Barat Utara Halmahera Selatan, menuju hutan desa itu mengambil air nira dari pohon aren.  Sejak pagi sekira pukul 06.00 WIT, dia sudah keluar dari rumah mengambil   air nira yang  ditadah menggunakan ruas […]

expand_less