Breaking News
light_mode
Beranda » Kabar Kampung » Gane Dihantam Abrasi Parah dan Kesulitan Air Bersih

Gane Dihantam Abrasi Parah dan Kesulitan Air Bersih

  • account_circle
  • calendar_month Sab, 4 Jun 2022
  • visibility 683

Dua desa di Gane Barat Selatan dan Gane Timur Selatan yakni Gane Dalam dan Gane Luar, tidak hanya bermasalah  dalam urusan jalan dan penerangan listrik. Masalah air bersih dan ancaman abrasi parah juga tengah  dialami   warga  dua  desa ini.

Masalah air bersih  muncul   sejak terjadinya gempa besar yang menyebabkan hancurnya rumah dan berbagai fasilitas umum pada 4 Juni  2019 lalu. Fasilitas air bersih yang bermasalah itu hingga kini  belum juga dilakukan perbaikan. Begitu juga talud penahan ombak   yang hancur dilanda gempa, belum dibangun kembali. Akibatnya warga  di tepian pantai  terancam tenggelam saat air pasang. Apalagi saat laut bergelombang,   abrasi parah   terjadi dan tepian pantai terkikis  bahkan terendam air laut.  

Di  Gane Dalam,  sebagian kampung sudah tenggelam. Area pemakaman umum misalnya sebagian sudah tenggelam. Di Gane luar   juga sama.  Di ujung kampung bagian selatan, abrasi pantai sudah mencapai puluhan meter ke darat. Pengakuan warga setempat sudah ada puluhan rumah terpaksa pindah karena dihantam abrasi. Sementara talud penahan ombak yang dibangun menggunakan dana PNPM Mandiri di tahun 2009 lalu   yang hancur   saat gempa  belum mendapat perhatian.

“Talud penahan ombak di desa ini panjangnya mencapai 750 meter. Dibangun sudah puluhan tahun dengan   menggunakan dana PNPM.  Di bagian utara dan selatan desa yang ada taludnya sudah rusak parah karena itu butuh perbaikan,”keluh Saleh Hamid warga Gane Luar  ditemui Senin (Senin (30/5/2022) lalu.

Kondisi ujung Selatan Desa Gane luar yang sudah dihantam abrasi parah,, tanaman kelapa milik warga juga bertumbangan, foto M Ochi

Dia bilang dalam sepuluh tahun terakhir air laut yang mengikis pantai   sudah mencapai 25 meter ke darat. Karena itu sebagian warga yang rumahnya dihantam abrasi, memilih pindah  dari ujung selatan Gane Luar tersebut.

“Dorang so pindah (mereka sudah pindah, red). Ada beberapa kepala keluarga. Bahkan  pohon kelapa    di tepi pantai tersebut juga sudah banyak yang roboh,” jelasnya.

Sementara soal air bersih di dua desa ini, juga bermasalah. Di Gane Luar sebagian warga menggunakan sumur. Namun untuk puluhan rumah di daerah ketinggian terpaksa harus naik turun mengangkut air untuk kebutuhan   sehari- hari.

Talud penahan ombak di bagian utara desa Gane Luar yang kini telah tenggelam, foto M Ichi

Di Gane Dalam air bersih juga bermasalah. Sebagian besar warga masih menggunakan air sumur sementara jaringan pipa untuk air bersih kadang mengalami kemacetan. Dua masalah penting ini disuarakan warga dua desa ini karena  dianggap sangat urgen.

“Air bersih dan talud penahan ombak ini butuh ada perhatian. Baik dari pemerintah kabupaten maupun provinsi. Saat ini kawasan pemakaman umum di Gane Dalam sudah tenggelam jadi butuh perhatian terutama aggota DPRD  membantu menyampaikan ke pemerintah untuk  segera dibangun,” kata Umar Hanafi warga Gane saat kegiatan reses anggota DPRD Malut M Rahmi  Husen Senin (29/5/2022).

 M Rahmi Husen saat reses ke dua desa itu  meminta warga  menyampaikan secara terbuka masalah masalah tersebut kemudian dicatat dan bisa diperjuangkan ke provinsi.

Dia  menyampaian bahwa, selain   akses jalan dan listrik atau penerangan hal paling urgen  adalah tersedianya air bersih bagi warga. Menurutnya, air itu   masalah vital yang  harus diseriusi. Karena itu terkait permintaan warga soal air bersih itu   diberikan perhatian penuh. Pasalnya air dan penerangan adalah kebutuhan mendasar yang sangat perlu segera dipenuhi. “Hal ini akan diperhatikan sungguh sungguh. Sementara soal tanggul penahan ombak   karena banyak  aspirasi yang diterima melalui reses ini akan dibuat laporannya dan disampaikan melalui paripurna di hadapan gubernur. “Hal ini akan disampaikan sehingga segera mendapat perhatian terutama percepatan pembagunannya, karena kondisi sangat parah”katanya.

Dia bilang, pembangunan fisik ini menjadi masalah karena pembiyaan dari pemerintah yang terbatas. Pemerintah kata dia tidak hanya  memikirkan persoalan di Halmahera Selatan tetapi juga 10 kabupaten/kota lainnya. Karena itu  usulan yang masuk akan dilihat  urgensi  dan mendesak tidaknya. “Nanti akan dilihat masalah paling mendesak  di   masyarakat,”tutupnya. M Rahmi menggelar reses ini di 8 desa di Gane Mandioli, Botanglomang dan Bacan. (*)

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ini Masalah Pembangunan di Pulau Makeang dan Kayoa

    • calendar_month Sab, 9 Okt 2021
    • account_circle
    • visibility 585
    • 2Komentar

    Jembatan penghubung di jalan lingkar pulau Makeang yang menghubungkan antardesa rusak parah, foto M Ichi

  • Ekowisata di Punggung Gamalama

    • calendar_month Jum, 28 Agu 2020
    • account_circle
    • visibility 663
    • 0Komentar

    Menikmati  Keindahan  Ternate dari  Puncak Hutan Pala dan Cengkih  Pagi jelang siang di pertengahan Juli lalu, ketika udara hutan pala dan cengkih masih  segar, saya  coba menyusuri  punggung Gunung Gamalama. Lokasi ini berada tepat di kawasan puncak Kelurahan Moya Kota Ternate Tengah Maluku Utara. Lokasi ini dalam beberapa  bulan belakangan  menjadi salah satu spot paling […]

  • Ternate dan Tidore dalam Filosofi Rempah  

    • calendar_month Rab, 22 Jun 2022
    • account_circle
    • visibility 1.090
    • 1Komentar

    “Doka gosora se bualawa. Om doro fo mamote. Foma gogoru, foma dodara” Kalimat di atas merupakan sebuah filosofi hidup yang dianut orang Ternate  dan daerah Moloku Kie Raha umumnya. Kalimat dalam Bahasa Ternate itu menggambarkan , kedekatan  serta jiwa kekeluargaan yang dianut orang orang yang berada di negeri para sultan tersebut.  Ternate dan Tidore menjadi […]

  • Masyarakat Sipil Desak Bank Stop Danai Nikel Bertenaga Batu Bara Milik Grup Harita

    • calendar_month Rab, 8 Okt 2025
    • account_circle
    • visibility 593
    • 0Komentar

    Sejumlah organisasi masyarakat sipil yang terdiri dari Market Forces, Enter Nusantara, JATAM, dan Trend Asia, bersama dua pendeta dari Obi menggelar aksi teatrikal di depan kantor bank-bank yang masih mendanai operasi smelter nikel milik grup Harita di Pulau Obi, Maluku Utara pada 1 Oktober lalu. Dalam aksi ini, para aktivis menampilkan instalasi kuda troya sebagai […]

  • 153 Pulau Kecil Ditambang, 6  Ada di Maluku Utara   

    • calendar_month Rab, 9 Jul 2025
    • account_circle
    • visibility 1.862
    • 0Komentar

    Berapa jumlah pasti pulau kecil dan sangat kecil di Indonesia yang saat ini dieksploitasi terutama kandungan tambangnya?  Jawaban pemerintah,   ternyata mencapai ratusan pulau. Dikutip dari Liputan6.com,   Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengungkapkan ada 370 Izin Usaha Pertambangan (IUP) yang tersebar di 153 pulau-pulau kecil di Indonesia. Dari jumlah izin di pulau kecil itu  ada yang […]

  • Mudik Orang Pulau, Sebuah Coretan yang Tercecer

    Mudik Orang Pulau, Sebuah Coretan yang Tercecer

    • calendar_month Rab, 4 Jul 2018
    • account_circle
    • visibility 581
    • 0Komentar

    Fenomena mudik kaum urban, terkadang memantik perdebatan panjang. Selain mengundang  keprihatinan, di mana mudiknya kaum urban ikut melibatkan negara dengan segala risiko,  mudik itu juga melibatkan jumlah yang demikian massif yang justru memang menimbulkan tantangan tersendiri, di mana emosi dan segala perhatian tertumpah di sana. Tak ada perhatian ekstra keras yang dilakukan pemerintah jelang hari-hari […]

expand_less