Breaking News
light_mode
Beranda » Kabar Kampung » Gane Dihantam Abrasi Parah dan Kesulitan Air Bersih

Gane Dihantam Abrasi Parah dan Kesulitan Air Bersih

  • account_circle
  • calendar_month Sab, 4 Jun 2022
  • visibility 706

Dua desa di Gane Barat Selatan dan Gane Timur Selatan yakni Gane Dalam dan Gane Luar, tidak hanya bermasalah  dalam urusan jalan dan penerangan listrik. Masalah air bersih dan ancaman abrasi parah juga tengah  dialami   warga  dua  desa ini.

Masalah air bersih  muncul   sejak terjadinya gempa besar yang menyebabkan hancurnya rumah dan berbagai fasilitas umum pada 4 Juni  2019 lalu. Fasilitas air bersih yang bermasalah itu hingga kini  belum juga dilakukan perbaikan. Begitu juga talud penahan ombak   yang hancur dilanda gempa, belum dibangun kembali. Akibatnya warga  di tepian pantai  terancam tenggelam saat air pasang. Apalagi saat laut bergelombang,   abrasi parah   terjadi dan tepian pantai terkikis  bahkan terendam air laut.  

Di  Gane Dalam,  sebagian kampung sudah tenggelam. Area pemakaman umum misalnya sebagian sudah tenggelam. Di Gane luar   juga sama.  Di ujung kampung bagian selatan, abrasi pantai sudah mencapai puluhan meter ke darat. Pengakuan warga setempat sudah ada puluhan rumah terpaksa pindah karena dihantam abrasi. Sementara talud penahan ombak yang dibangun menggunakan dana PNPM Mandiri di tahun 2009 lalu   yang hancur   saat gempa  belum mendapat perhatian.

“Talud penahan ombak di desa ini panjangnya mencapai 750 meter. Dibangun sudah puluhan tahun dengan   menggunakan dana PNPM.  Di bagian utara dan selatan desa yang ada taludnya sudah rusak parah karena itu butuh perbaikan,”keluh Saleh Hamid warga Gane Luar  ditemui Senin (Senin (30/5/2022) lalu.

Kondisi ujung Selatan Desa Gane luar yang sudah dihantam abrasi parah,, tanaman kelapa milik warga juga bertumbangan, foto M Ochi

Dia bilang dalam sepuluh tahun terakhir air laut yang mengikis pantai   sudah mencapai 25 meter ke darat. Karena itu sebagian warga yang rumahnya dihantam abrasi, memilih pindah  dari ujung selatan Gane Luar tersebut.

“Dorang so pindah (mereka sudah pindah, red). Ada beberapa kepala keluarga. Bahkan  pohon kelapa    di tepi pantai tersebut juga sudah banyak yang roboh,” jelasnya.

Sementara soal air bersih di dua desa ini, juga bermasalah. Di Gane Luar sebagian warga menggunakan sumur. Namun untuk puluhan rumah di daerah ketinggian terpaksa harus naik turun mengangkut air untuk kebutuhan   sehari- hari.

Talud penahan ombak di bagian utara desa Gane Luar yang kini telah tenggelam, foto M Ichi

Di Gane Dalam air bersih juga bermasalah. Sebagian besar warga masih menggunakan air sumur sementara jaringan pipa untuk air bersih kadang mengalami kemacetan. Dua masalah penting ini disuarakan warga dua desa ini karena  dianggap sangat urgen.

“Air bersih dan talud penahan ombak ini butuh ada perhatian. Baik dari pemerintah kabupaten maupun provinsi. Saat ini kawasan pemakaman umum di Gane Dalam sudah tenggelam jadi butuh perhatian terutama aggota DPRD  membantu menyampaikan ke pemerintah untuk  segera dibangun,” kata Umar Hanafi warga Gane saat kegiatan reses anggota DPRD Malut M Rahmi  Husen Senin (29/5/2022).

 M Rahmi Husen saat reses ke dua desa itu  meminta warga  menyampaikan secara terbuka masalah masalah tersebut kemudian dicatat dan bisa diperjuangkan ke provinsi.

Dia  menyampaian bahwa, selain   akses jalan dan listrik atau penerangan hal paling urgen  adalah tersedianya air bersih bagi warga. Menurutnya, air itu   masalah vital yang  harus diseriusi. Karena itu terkait permintaan warga soal air bersih itu   diberikan perhatian penuh. Pasalnya air dan penerangan adalah kebutuhan mendasar yang sangat perlu segera dipenuhi. “Hal ini akan diperhatikan sungguh sungguh. Sementara soal tanggul penahan ombak   karena banyak  aspirasi yang diterima melalui reses ini akan dibuat laporannya dan disampaikan melalui paripurna di hadapan gubernur. “Hal ini akan disampaikan sehingga segera mendapat perhatian terutama percepatan pembagunannya, karena kondisi sangat parah”katanya.

Dia bilang, pembangunan fisik ini menjadi masalah karena pembiyaan dari pemerintah yang terbatas. Pemerintah kata dia tidak hanya  memikirkan persoalan di Halmahera Selatan tetapi juga 10 kabupaten/kota lainnya. Karena itu  usulan yang masuk akan dilihat  urgensi  dan mendesak tidaknya. “Nanti akan dilihat masalah paling mendesak  di   masyarakat,”tutupnya. M Rahmi menggelar reses ini di 8 desa di Gane Mandioli, Botanglomang dan Bacan. (*)

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Sungai Sagea Nasibmu Kini, Keruh Belum Usai   

    • calendar_month Rab, 6 Sep 2023
    • account_circle
    • visibility 2.438
    • 2Komentar

    6 September 2023 “Emas Coklat” Mengalir Sampai Jauh Kuning kecoklatan air sungai Sagea dan kawasan sungai Boki Moruru di Desa Sagea Weda Halmahera Tengah Maluku Utara, yang ditengarai terjadi sejak April 2023 lalu belum juga usai. Informasi yang dihimpun kabarpulau.co.id/ dari lapangan  Selasa pagi, air sungai Sagea kembali keruh setelah sempat bersih beberapa hari.   […]

  • Malut United Imbang di Kandang photo_camera 4

    Malut United Imbang di Kandang

    • calendar_month Sab, 29 Nov 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 1.293
    • 0Komentar
  •  Ini Urgensinya Energi Bersih dan Terbarukan  

    • calendar_month Rab, 8 Nov 2023
    • account_circle
    • visibility 506
    • 0Komentar

    Salah satu penyumbang emisi terbesar yang berdampak pada Krisis iklim adalah sektor energi, sementara komitmen untuk transisi energi menuju energi bersih dan terbarukan seolah berjalan lambat. Di sisi lain masih banyak wilayah di Indonesia yang belum menikmati listrik seperti yang dinikmati di daerah perkotaan. Untuk membedah masalah ini, Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) bersama BBC […]

  • Daya Dukung Halmahera Tengah Terlampaui,  Tambang Perlu Dibatasi

    • calendar_month Kam, 29 Agu 2024
    • account_circle
    • visibility 939
    • 0Komentar

    Komunitas Fakawele: Warga Sagea Butuh Sungai dan Laut  Bersih Bukan Nikel Akhir Juli 2024, Kabupaten Halmahera Tengah mengalami banjir terparah dalam beberapa tahun terakhir. Kejadian ini  menyebabkan kerugian besar bagi warga karena akses jalan terputus, rumah terendam air, 1.726 orang mengungsi, dan menghilangkan satu nyawa. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Maluku Utara mencatat tujuh […]

  • PakaTiva Kumpul Kaum Muda Belajar Climate Change  

    • calendar_month Ming, 5 Mar 2023
    • account_circle
    • visibility 636
    • 0Komentar

    Puluhan anak muda yang tergabung dalam komunitas  aktivis lingkungan Maluku Utara akan dikumpulkan untuk diberi pemahaman menyangkut dampak perubahan iklim  (climate change,red)  yang saat ini melanda dunia. Pertemuan dalam bentuk  Kelas Camp Kaum Muda Estuaria   ini  akan dilaksanakan selama 3 hari. Mereka   akan diberi penyadaran dan pengetahuan  terkait penyelamatan  hutan tersisa di Maluku Utara.Sebagai bagian […]

  • Arah  Baru  Tata Kelola  Kota  Tidore  Kepulauan 

    • calendar_month Ming, 12 Jun 2022
    • account_circle
    • visibility 653
    • 0Komentar

    Bawah Laut Tidore Kekayaan yang dieksplore untuk pembangunan daerah, foto Abdul Khalis Tidore

expand_less