Breaking News
light_mode
Beranda » Kabar Kampung » Suara Lirih Petani Kakao Pulau Bacan

Suara Lirih Petani Kakao Pulau Bacan

  • account_circle
  • calendar_month Kam, 9 Nov 2023
  • visibility 389

Busuk Buah Bertahun-Tahun, Tak Digubris Pemerintah?

Hari sudah agak siang Rabu (31/10/2023). Meski begitu di bawah perkebunan kakao yang ditumpangsarikan kelapa dan pala berjarak kurang lebih satu kilometer dari Panamboang Bacan Selatan Pulau Bacan itu terasa sejuk.    

Jarum jam menujukan sekira pukul 11.20 WIT. Saif Bakar (49) sibuk mengumpulkan satu per satu buah kakao matang yang telah dijolok dari pohonnya selama dua hari berturut turut.

Buah kakao yang berserakan di bawah pohon setelah  pemanen, dikumpulkan satu per satu ke dalam saloi (keranjang yang dianyam dari bamboo dan rotan dan biasa dipakai ibu ibu petani di Malut saat ke kebun,red).

Selanjutnya ditumpuk di satu  tempat. Tujuannya ketika mereka akan  membelah buah dan mengambil biji coklat,  semua  terkumpul di satu tempat.

Teryata kakao yang dikumpulkan hari itu tidak semua bisa diambil. Buah matang berwarna kuning itu ada yang bijinya keras.   “Ada juga buah yang isinya keras sehingga sulit diambil. Dari buah yang telah dipanen ini, sekira 40 persennya alami busuk buah. Meski dari tekstur kulit buahnya terlihat mulus saat dibelah biji biji kakao itu mengeras,” kata Saif.

Panen kali ini memang bukan musim besar seperti setahun lalu. Tetapi buahnya masih lumayan banyak. Hanya saja karena busuk buah, diperkirakan seperempat  dari buah yang dipanen rusak atau tidak bisa diambil hasilnya.

Buah kakao yag dikumpul satu tempat sebelum dibelah diambil bijinya,foto M Ichi

“Yang keras sudah pasti dibuang. Hasil panen  ini kalau  tidak alami penyakit busuk buah, bisa 70 sampai 100 kilogram,” katanya. Namun karena ada busuk buah. Hasilnya hanya sekira 50 sampai 60 kilogram.

Buah kakao yang alami penyakit busuk buah ini dikenal dengan (Phytophthora palmivora). Di mana tanda tandanya diawali dengan munculnya bercak kecil pada buah, sekitar dua hari setelah infeksi. Bercak berwarna cokelat, kemudian berubah menjadi kehitaman dan meluas dengan cepat sampai seluruh buah tertutupi. Penyakit busuk buah ini berlangsung sudah cukup lama  25 tahun ini tetapi belum pernah  dilakukan apa pun dari pemerintah dengan memberi solusi dari masalah ini.

“Memang so (sudah,red) dari dulu tetapi torang (kami,red) tidak pernah dengar ada upaya untuk berantas penyakit ini. Terutama  dari pemerintah kasih obat atau pestisida atau ada penyuluhan begitu,” kata Saif.

Karena itu  dia  berharap jika pemerintah mau membantu petani bisa mengupayakan pemberantasan penyakit ini sehingga kehidupan petani bisa lebih baik. Pasalnya  hasil panen  akan meningkat. “Sekarang ini setiap panen hamper setengeh dari buah kakao dibuang percuma,” keluhnya.    

Sekadar diketahui di era 80-an hingga akhir 1990-an, Halmahera bagian selatan, Bacan, Mandioli dan beberapa pulau sekitarnya (Kabupaten Halmahera Selatan sekarang,red) menjadi sentra produksi kakao atau coklat.

Penyakit busuk buah yang menyerang kakao. Buah yang belum matang sudah mengering, foto M Ichi

Bahkan  sampai saat ini di beberapa daerah seperti di Pulau Bacan masih tetap bertahan memproduksi biji kakao. Para petani terus menanam dan memanen  hasil kakao meski produksinya menurun.

Biji kakao yang diolah sebagai berbagai campuran minuman dan kue itu, kondisinya tidak baik baik saja. Serangan penyakit kakao sudah berlangsung lama tetapi petani tetap bertahan dengan produksi yang makin parah tersebut. Busuk buah  sejak akhir tahun 1990an hingga kini belum juga bisa diatasi.    

Laporan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Maluku Utara Tahun 2017 menunjukan produktivitas perkebunan kakao rakyat Provinsi Maluku Utara mencapai 730 kg/ha/tahun  Produktivitas tersebut masih berada di bawah rata-rata nasional dan potensinya sebesar 1.300-2.000 kg/ha/tahun. Perkebunan kakao di Maluku Utara dengan luas 34.656 ha belum dikelolah secara optimal. Dari jumlah luasan tersebut terdapat 4.065 ha tanaman tua/rusak.

Permasalahan utama budidaya tanaman kakao di   Bacan adalah tingginya intensitas serangan hama dan penyakit terutama busuk buah kakao yang disebabkan jamur Phytopthora palmivora dan Hama penggerek buah kakao/PBK (Conopomorpha cramerella) karena tidak dilakukannya perawatan dan pemeliharaan tanaman.   

Inovasi teknologi perbaikan budidaya tanaman kakao yang diintroduksi (sanitasi, pemangkasan, pengelolaan tanaman peneduh, pemupukan, dan kombinasi pengendalian hama penyakit dengan cara hayati dan kimia) dapat menurunkan intensitas serangan penyakit busuk buah kakao dan hama penggerek buah kakao.

Kondisi buah kakao yang terbilang sehat foto M Ichi

Selain itu pertumbuhan tanaman kakao lebih sehat, dan panen buah kakao berkisar 2,5-2,7 buah per pohon atau rata-rata menghasilkan 24,5 biji per buah. Setahun sesudah pelaksanaan penerapan teknologi budidaya kakao, tanaman menunjukkan pertumbuhan dan perkembangan yang lebih baik.

Kegiatan perbaikan teknologi budidaya dengan komponen utama yang meliputi sanitasi tanaman kakao, pemberian pupuk secara berimbang, dan pengendalian

Hama penyakit, telah mampu membuat tanaman berproduksi lebih baik. Kondisi yang relatif baik tersebut disebabkan terawatnya kebun dan tanaman kakao dari berbagai macam gulma yang berdaun lebar, berdaun sempit, dan merayap/menjalar.(*)

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pulau Kecil  Masalah Besar, “Dijual hingga Diperebutkan” 

    • calendar_month Jum, 11 Jul 2025
    • account_circle
    • visibility 816
    • 0Komentar

    Sebuah Catatan dari  Kisruh Pulau di  Maluku Utara The Jakarta Post  media berbahasa Inggris terbitan 9 Juli 2025,  menurunkan artikel berjudul Pulau  Kecil, Masalah Besar. Dalam artikel itu diungkap sejumlah persoalan yang dihadapi  pulau-pulau kecil saat ini. Salah satu yang diangkat adalah munculnya penjualan pulau-pulau kecil secara illegal,  di berbagai situs internasional. Bagi The Jakarta […]

  • 11 LSM Gugat Badan Bank Tanah ke MA

    • calendar_month Jum, 17 Feb 2023
    • account_circle
    • visibility 371
    • 1Komentar

    Koalisi Masyarakat Sipil gugat aturan bank tanah. Foto: KPA

  • Menelisik Implementasi Kota Jasa berbasis Agro-marine Kota Tidore Kepulauan

    • calendar_month Sel, 20 Agu 2019
    • account_circle
    • visibility 460
    • 0Komentar

    Penulis M. Faizal Banapon, ST., MT Konsultan Perencanaan, Pengembangan Wilayah dan Kota Jum’at sore (15/02/19,) digelar diskusi publik  yang buat saya sebagai praktisi Perencanaan, dan Pengembangan Wilayah dan Kota cukup menarik perhatian. Diskusi itu memancing saya  memberikan opini ini. Poin dari diskusi tersebut mempertanyakan kinerja pencapaian Visi Pemerintah Kota (Pemkot) Tidore Kepulauan (Tikep) Periode 2016 – […]

  • KLHK dan Warga Tanam Mangrove di Desa Toseho Tidore Kepulauan

    • calendar_month Kam, 8 Feb 2024
    • account_circle
    • visibility 499
    • 2Komentar

    Penanaman pohon secara serentak seluruh Indonesia    dilakukan juga di Maluku Utara pada Rabu 7/2/2024). Kegiatan  Kementerian  Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) itu, dihadiri Staf Khusus Menteri LHK, Kelik Wirawan Wahyu Widodo mewakili Menteri LHK Siti Nurbaya. Hadir juga  pejabat dan pegawai  instansi di bawah KLHK, Dinas Kehutanan provinsi polisi dan TNI serta beberapa instansi pemerintah […]

  • Mangrove Makin Terancam, Butuh Pelibatan Masyarakat

    • calendar_month Jum, 12 Feb 2021
    • account_circle
    • visibility 266
    • 0Komentar

    Kondisi hutan mangrove yang masih llebat di Kao Halmahera Utara, foto M Ichi

  • Ini Masalah Warga Pulau Kecil di Halmahera Selatan  

    • calendar_month Jum, 4 Feb 2022
    • account_circle
    • visibility 417
    • 1Komentar

    Tambyambut atan perahu desa Hatejawa Moari yang tenggelam jika air pasang. Terlihat anak anak desa ini berdiri menyambut speed boat yang akan sandar di tambatan perahu desa ini

expand_less