Breaking News
light_mode
Beranda » Kabar Kampung » Suara Lirih Petani Kakao Pulau Bacan

Suara Lirih Petani Kakao Pulau Bacan

  • account_circle
  • calendar_month Kam, 9 Nov 2023
  • visibility 388

Busuk Buah Bertahun-Tahun, Tak Digubris Pemerintah?

Hari sudah agak siang Rabu (31/10/2023). Meski begitu di bawah perkebunan kakao yang ditumpangsarikan kelapa dan pala berjarak kurang lebih satu kilometer dari Panamboang Bacan Selatan Pulau Bacan itu terasa sejuk.    

Jarum jam menujukan sekira pukul 11.20 WIT. Saif Bakar (49) sibuk mengumpulkan satu per satu buah kakao matang yang telah dijolok dari pohonnya selama dua hari berturut turut.

Buah kakao yang berserakan di bawah pohon setelah  pemanen, dikumpulkan satu per satu ke dalam saloi (keranjang yang dianyam dari bamboo dan rotan dan biasa dipakai ibu ibu petani di Malut saat ke kebun,red).

Selanjutnya ditumpuk di satu  tempat. Tujuannya ketika mereka akan  membelah buah dan mengambil biji coklat,  semua  terkumpul di satu tempat.

Teryata kakao yang dikumpulkan hari itu tidak semua bisa diambil. Buah matang berwarna kuning itu ada yang bijinya keras.   “Ada juga buah yang isinya keras sehingga sulit diambil. Dari buah yang telah dipanen ini, sekira 40 persennya alami busuk buah. Meski dari tekstur kulit buahnya terlihat mulus saat dibelah biji biji kakao itu mengeras,” kata Saif.

Panen kali ini memang bukan musim besar seperti setahun lalu. Tetapi buahnya masih lumayan banyak. Hanya saja karena busuk buah, diperkirakan seperempat  dari buah yang dipanen rusak atau tidak bisa diambil hasilnya.

Buah kakao yag dikumpul satu tempat sebelum dibelah diambil bijinya,foto M Ichi

“Yang keras sudah pasti dibuang. Hasil panen  ini kalau  tidak alami penyakit busuk buah, bisa 70 sampai 100 kilogram,” katanya. Namun karena ada busuk buah. Hasilnya hanya sekira 50 sampai 60 kilogram.

Buah kakao yang alami penyakit busuk buah ini dikenal dengan (Phytophthora palmivora). Di mana tanda tandanya diawali dengan munculnya bercak kecil pada buah, sekitar dua hari setelah infeksi. Bercak berwarna cokelat, kemudian berubah menjadi kehitaman dan meluas dengan cepat sampai seluruh buah tertutupi. Penyakit busuk buah ini berlangsung sudah cukup lama  25 tahun ini tetapi belum pernah  dilakukan apa pun dari pemerintah dengan memberi solusi dari masalah ini.

“Memang so (sudah,red) dari dulu tetapi torang (kami,red) tidak pernah dengar ada upaya untuk berantas penyakit ini. Terutama  dari pemerintah kasih obat atau pestisida atau ada penyuluhan begitu,” kata Saif.

Karena itu  dia  berharap jika pemerintah mau membantu petani bisa mengupayakan pemberantasan penyakit ini sehingga kehidupan petani bisa lebih baik. Pasalnya  hasil panen  akan meningkat. “Sekarang ini setiap panen hamper setengeh dari buah kakao dibuang percuma,” keluhnya.    

Sekadar diketahui di era 80-an hingga akhir 1990-an, Halmahera bagian selatan, Bacan, Mandioli dan beberapa pulau sekitarnya (Kabupaten Halmahera Selatan sekarang,red) menjadi sentra produksi kakao atau coklat.

Penyakit busuk buah yang menyerang kakao. Buah yang belum matang sudah mengering, foto M Ichi

Bahkan  sampai saat ini di beberapa daerah seperti di Pulau Bacan masih tetap bertahan memproduksi biji kakao. Para petani terus menanam dan memanen  hasil kakao meski produksinya menurun.

Biji kakao yang diolah sebagai berbagai campuran minuman dan kue itu, kondisinya tidak baik baik saja. Serangan penyakit kakao sudah berlangsung lama tetapi petani tetap bertahan dengan produksi yang makin parah tersebut. Busuk buah  sejak akhir tahun 1990an hingga kini belum juga bisa diatasi.    

Laporan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Maluku Utara Tahun 2017 menunjukan produktivitas perkebunan kakao rakyat Provinsi Maluku Utara mencapai 730 kg/ha/tahun  Produktivitas tersebut masih berada di bawah rata-rata nasional dan potensinya sebesar 1.300-2.000 kg/ha/tahun. Perkebunan kakao di Maluku Utara dengan luas 34.656 ha belum dikelolah secara optimal. Dari jumlah luasan tersebut terdapat 4.065 ha tanaman tua/rusak.

Permasalahan utama budidaya tanaman kakao di   Bacan adalah tingginya intensitas serangan hama dan penyakit terutama busuk buah kakao yang disebabkan jamur Phytopthora palmivora dan Hama penggerek buah kakao/PBK (Conopomorpha cramerella) karena tidak dilakukannya perawatan dan pemeliharaan tanaman.   

Inovasi teknologi perbaikan budidaya tanaman kakao yang diintroduksi (sanitasi, pemangkasan, pengelolaan tanaman peneduh, pemupukan, dan kombinasi pengendalian hama penyakit dengan cara hayati dan kimia) dapat menurunkan intensitas serangan penyakit busuk buah kakao dan hama penggerek buah kakao.

Kondisi buah kakao yang terbilang sehat foto M Ichi

Selain itu pertumbuhan tanaman kakao lebih sehat, dan panen buah kakao berkisar 2,5-2,7 buah per pohon atau rata-rata menghasilkan 24,5 biji per buah. Setahun sesudah pelaksanaan penerapan teknologi budidaya kakao, tanaman menunjukkan pertumbuhan dan perkembangan yang lebih baik.

Kegiatan perbaikan teknologi budidaya dengan komponen utama yang meliputi sanitasi tanaman kakao, pemberian pupuk secara berimbang, dan pengendalian

Hama penyakit, telah mampu membuat tanaman berproduksi lebih baik. Kondisi yang relatif baik tersebut disebabkan terawatnya kebun dan tanaman kakao dari berbagai macam gulma yang berdaun lebar, berdaun sempit, dan merayap/menjalar.(*)

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pulihkan Ekonomi Warga dari Covid-19 dengan Tanam Mangrove

    • calendar_month Sel, 6 Okt 2020
    • account_circle
    • visibility 312
    • 0Komentar

    Pandemic Covid 19 benar-benar berdampak buruk bagi seluruh sendi kehidupan.   Hal ini juga ikut berdampak pada kondisi ekonomi masyarakat terutama masyarakat kecil yang berada di daerah pesisir dan pulau-pulau kecil. Secara nasional kondisi ini ikut  menekan pertumbuhan ekonomi.  Data resmi Badan Statitistik  5 Agustus 2020, pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) 2018-2020 relatif menurun, hingga triwulan […]

  • Nasib Reptil di Hutan dan Pulau di Maluku Utara 

    • calendar_month Jum, 24 Nov 2023
    • account_circle
    • visibility 858
    • 0Komentar

    Terus Diburu, Rawan Diselundupkan   Masa depan berbagai jenis reptile di hutan Halmahera dan pulau pulau lainya di Maluku Utara akan terus terancam. Terutama untuk jenis reptil yang memiliki harga jual tinggi. Sebut saja jenis kadal, biawak ular bahkan kura kura darat. Berulangkali jenis hewan   ini diamankan petugas karena dijual ke luar daerah dan diamankan […]

  • Nelayan Tuna Morotai Terpukul Covid- 19

    • calendar_month Sen, 21 Sep 2020
    • account_circle
    • visibility 335
    • 0Komentar

    Penulis: Indah Indriyani Morotai Pandemi covid-19 menghantam hamper semua lini kehidupan. Tidak terkecuali masyarakat bawah seperti nelayan. Pandemic ini juga mengubah banyak hal dalam kehidupan. Termasuk nasib para nelayan. Di Desa Sangowo Kecamatan Morotai Timur, Kabupaten Pulau Morotai,  nelayanikan tuna sangat terpukul akibat jatuhnya harga.  “Dampak pandemic covid-19 yang paling dirasakan nelayan yaitu harga ikan […]

  • 55 Pulau Kecil Digempur Tambang dan Sawit Tak Dibahas Capres

    • calendar_month Rab, 20 Feb 2019
    • account_circle
    • visibility 261
    • 0Komentar

    Isyu  Keselamatan Rakyat dan Lingkungan  di Pesisir  serta Pulau- Pulau Kecil Terlewatkan Debat calon presiden putaran kedua tentang Energi, Pangan, Infrastruktur, Lingkungan Hidup, dan Sumber Daya Alam pada 17 Februari 2019 lalu disaksikan ratusan juta pasang rakyat Indonesia di layar   layar kaca  stasiun televisi. Dari debat itu ternyata masih menyisahkan sejumlah pertanyaan penting soal kadar […]

  • Indonesia Petakan Kembali Mangrove untuk Karbon Biru

    • calendar_month Sel, 24 Jul 2018
    • account_circle
    • visibility 285
    • 0Komentar

    Pemetaan kondisi terkini kawasan ekosistem mangrove, padang lamun (seagrass), dan kawasan pesisir di Indonesia diharapkan sudah ada pada 2019 mendatang. Proses mengungkap data terbaru itu, akan dilakukan oleh Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dengan menggandeng Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN). (Mongabay.co.id http://www.mongabay.co.id/2018/07/19/indonesia-petakan-kembali-mangrove-untuk-karbon-biru/) Kebutuhan pemetaan data terbaru itu, menurut Deputi IV Bidang SDM, Iptek, dan […]

  • Temuan Ngengat Baru, Matikan Cengkih Petani

    • calendar_month Sen, 26 Feb 2024
    • account_circle
    • visibility 326
    • 1Komentar

    Kabar ini  menjadi warning bagi petani cengkih termasuk  di Maluku Utara.  Pasalnya ada temuan para peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) beserta tim Fakultas Pertanian, Universitas Sam Ratulangi  Manado berhasil mengidentifikasi  tiga jenis ngengat baru. Ketiganya adalah Cryptophasa warouwi, Glyphodes nurfitriae dan Glyphodes ahsanae.  Seperti dikutip dari https://brin.go.id/press-release/117548/peneliti-brin-temukan-tiga-ngengat-jenis-baru-salah-satunya-patut-diwaspadai-petani-cengkeh, BRIN merilis bahwa awal 2024 ini  beberapa […]

expand_less