Breaking News
light_mode
Beranda » Kabar Malut » Mulai Dirintis Pembentukan Jejaring Kawasan Konservasi Perairan

Mulai Dirintis Pembentukan Jejaring Kawasan Konservasi Perairan

  • account_circle
  • calendar_month Sab, 17 Jun 2017
  • visibility 2.236

Hingga Desember 2018  sudah diresmikan 177 Kawasan Konservasi Perairan. Dari jumlah itu , 35 KKP yang menjadi prioritas sudah dimasukkan ke Bappenas. Hal ini terungkap  dalam Lokakarya Petunjuk Teknis Jejaring Kawasan Konservasi Perairan Rabu (13/6) lalu di Jakarta. Lokakarya ini oleh  pemerintah Indonesia (Kementerian Kelautan dan Perikanan), Kementerian Lembaga Terkait, USAID Indonesia dan USAID SEA Project.

Rilis resmi yang disampaikan USAID  SEA kepada kabarpulau.com menyebutkan,  lokakarya ini dihadiri Perwakilan Pemerintah, termasuk Andi Rusandi, Direktur Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut (KKHL), KKP bersama perwakilan USAID Indonesia Mathew Burton, the Environment Office Director, serta perwakilan dari mitra konservasi.  

Melalui  Christiana Yuni, Governance Advisor USAID SEA Project  menjelaskan,  Pemeirntah melalui Kementerian KKP telah membentuk  jejaring kawasan konservasi perairan ini sangat penting. Tujuannya kawasan-kawasan konservasi tersebut dapat bekerjasama, berbagi pengalaman, informasi dan penyelesaian masalah.

Pemerintah melalui KKP  telah berkomitmen untuk menetapkan dan mengelola kawasan konservasi perairan seluas 20 juta hektar pada tahun 2020 nanti untuk memperkuat peran dan manfaat ekologi serta sosial-ekonomi dari Kawasan konservasi perairan yang sudah dikembangkan di Indonesia dalam skala yang lebih luas dan efektif. Pemerintah Indonesia juga berupaya  mendorong pengembangan jejaring kawasan konservasi perairan (MPA network) melalui Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No. PER.13/MEN/2014 tentang Jejaring Kawasan Konservasi Perairan.

Perwakilan Pemerintah Andi Rusandi,   Direktur Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut (KKHL), Kementerian Kelautan dan Perikanan   menjelaskan, jejaring Kawasan Konservasi Perairan ini bertujuan lebih mengoptimalkan pengelolaan Kawasan Konservasi Perairan. Prioritas jejaring KKP   adalah melindungi species laut serta menjaga ekosistem laut sebagai bank ikan.

“Hingga Desember 2018 sudah  ada  177 Kawasan Konservasi Perairan yang diresmikan, 35 KKP  prioritas sudah dimasukkan ke Bappenas. Pembentukan jejaring kawasan konservasi ini perairan sangat penting agar kawasan-kawasan konservasi  dapat bekerjasama, berbagi pengalaman, informasi dan penyelesaian masalah,” jelas Andi Rusandi.

Sementara  Matthew Burton dari USAID Indonesia,  merasa terhormat telah menjadi mitra KKP dalam mewujudkan komitmen dan upaya nyata semua pemangku kepentingan di Indonesia melalui pengembangan dan pengelolaan jejaring Kawasan Konservasi Perairan dengan cara yang lebih luas, lebih efektif dan efisien  Burton juga mengatakan bahwa kapasitas kelembagaan dan sumber daya manusia adalah kunci keberhasilan implementasi kebijakan dan desain teknis Jejaring KKP. 

Untuk merealisasikan semua kerja-kerja  membangun jejaring  KKP ini,  Baru-baru ini, USAID Indonesia memfasilitasi studi banding (Cross-Learning)  ke California, AS, bagi pemangku kebijakan dari KKP dan DKP provinsi. Melalui kegiatan ini mereka dapat berbagi pengalaman dan menerima pembelajaran tentang pengelolaan jejaring kawasan konservasi perairan di California, AS.

Dikatakan  masalah jejaring Kawasan Konservasi Perairan (KKP)masih menjadi tantangan besar bagi banyak Negara. Berbeda dengan mengelola KKP secara individual dimana sudah terdapat banyak modul, pedoman, riset dan cara penilaian.

“USAID Indonesia mendukung KKP  mencapai Tujuan 14 SDGs  khususnya untuk meningkatkan manfaat ekologis, sosial dan ekonomi dari pengelolaan Kawasan konservasi perairan bagi masyarakat untuk masa depan Indonesia. Bantuan teknis ini merupakan implementasi nyata dari Perjanjian Teknis USAID Indonesia dengan KKP tentang Program Keanekaragaman Hayati Laut dan Perikanan Berkelanjutan USAID, yang ditandatangani  Juli 2016,” jelas Burton.

Andi Rusandi mewakili Pemerintah Indonesia menghargai bantuan USAID yang mengalokasikan bantuan untuk meningkatkan kapasitas pengelolaan kawasan konservasi perairan khususnya di Provinsi Maluku, Maluku Utara dan Papua Barat

Jejaring KKP itu sendiri menurut IUCN- WCPA, merupakan upaya pengembangan sekumpulan unit-unit kawasan konservasi perairan yang dikelola secara bersama-sama dan sinergis pada berbagai skala luasan dan dengan berbagai tingkat perlindungan dalam rangka memenuhi tujuan pengelolaan yang lebih efektif, komprehensif dan berkelanjutan dibandingkan dengan pengelolaan kawasan konservasi secara sendiri-sendiri.( mic)

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Di Mare akan Dikembangkan Jambu Mente

    • calendar_month Kam, 8 Nov 2018
    • account_circle
    • visibility 827
    • 0Komentar

    Pulau Mare Tidore Kepulauan  yang  menjadi pusat gerabah di Maluku Utara,   segera dikembangkan menjadi pusat produksi jambu mente di  Maluku Utara. Pihak Kantor Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Ternate- Tidore    berencana mengembangkan lahan hutan lindung  di  Pulau Mare ini dengan tanaman jambu mente.  Data  Kesatuan Pengelolaan   Hutan (KPH) Ternate-Tidore  menunjukan dari luas hutan lindung Pulau Mare […]

  • Ancaman Di Masa Depan Sangat Serius Perlu Kolaborasi Lintas Sektor

    • calendar_month Sab, 14 Mar 2020
    • account_circle
    • visibility 2.337
    • 0Komentar

    Jurnalis dan Aktivis Samakan Persepsi Adaptasi dan Mitigasi Perubahan Iklim   Dampak perubahan iklim, sudah nyata di depan mata. Berbagai bencana telah terjadi. Tidak  hanya menyababkan korban harta tetapi juga nyawa. Karena itu perlu ada gerakan bersama,  diawali  dengan penyamaan persepsi elemen tingkat atas–pengambil kebijakan, kelompok menengah hingga masyarakat  umum.   Perlu dipahami, perubahan iklim terjadi setidaknya diakibatkan berbagai hal. Laju kerusakan lingkungan yang […]

  • Cara Libatkan Warga Pantau dan Kelola Data Kehati Lewat Citizen Science   

    Cara Libatkan Warga Pantau dan Kelola Data Kehati Lewat Citizen Science   

    • calendar_month Sel, 18 Agu 2026
    • account_circle Redaksi
    • visibility 203
    • 0Komentar

    Dalam mendukung pemantauan dan pengelolaan kelestarian biodiversitas dibutuhkan data lapangan yang lebih luas. Menghadapi tantangan  luasnya wilayah dan keterbatasan sumber daya manusia, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Pusat Riset Sains Data dan Informasi menyelenggarakan DESAIN #8 (Dialog Eksplorasi Sains Data dan Informasi yang memberi Peran Citizen Science dalam Transformasi Data Biodiversitas belum lama […]

  • Kemandirian Desa Jangan jadi Nyanyian

    • calendar_month Sen, 23 Nov 2020
    • account_circle
    • visibility 600
    • 0Komentar

    Catatan dari Sekolah Transformasi Sosial  (STS) di Desa Samo Halmahera Selatan Desa harus benar– benar mandiri. Mampu menghidupi warganya. Baik pangan  maupun energi. Desa juga harus menjadi basis berbagai program pembangunan yang dijalankan pemerintah. Bahwa kemandirian desa bukan sebuah nyanyian atau slogan. Bukan  nyanyi kepiluan untuk orang kampong. Dia adalah pengejawantahan kerja kerja riil yang  dilakukan […]

  • Hakordia 2025: Berantas Korupsi di Titik Nadir, Lingkungan dan Warga Jadi Korban

    Hakordia 2025: Berantas Korupsi di Titik Nadir, Lingkungan dan Warga Jadi Korban

    • calendar_month Sel, 9 Des 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 908
    • 0Komentar

    Hanya dalam waktu satu tahun, Prabowo-Gibran telah mengingkari semua janji kampanye pemberantasan korupsi dan bahkan memukul mundur agenda reformasi. Pola-pola yang dulu menyuburkan korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) sekaligus menopang rezim Orde Baru justru semakin dirawat pemerintahan Prabowo-Gibran. Demikian rilis bersama koalisi 22 NGO di Indonesia terkait dengan peringatan Hari Antikorupsi sedunia yang jatuh pada […]

  • Alihfungsi Lahan Penyebab Banjir di Halmahera Utara?

    • calendar_month Kam, 21 Jan 2021
    • account_circle
    • visibility 1.089
    • 0Komentar

    Aktivitas penebangan di kawasan DAS Tiabo, foto Ahsun Inayah

expand_less