Breaking News
light_mode
Beranda » Serba-serbi » Cerita Anak Muda Tomolou Tidore Perangi Sampah

Cerita Anak Muda Tomolou Tidore Perangi Sampah

  • account_circle
  • calendar_month Kam, 26 Nov 2020
  • visibility 689

Buat Kampung  Bersih, Beri PAD Buat Kota Tikep

Memasuki  kampong  Tomolou di Kota Tidore Kepulauan   dipastikan tidak akan menemukan sampah tercecer di jalanan. Begitu juga pantainya. Tidak ada lagi warga membuang sampah ke tepi pantai. Kondisi hari ini berbeda dari sebelum-sebelumnya. Di mana kebanyakan buang sampah ke laut dan pantai sebagaimana kebiasaan sebagian warga di Maluku Utara.

Lalu siapa yang membuat gerakan ini?      

Ternyata sadar sampah dan upaya bersih kampong ini digerakkan  anak- anak muda setempat. Berawal dari gerakan anak muda  menghimpun dirinya dalam sebuah lembaga  bernama Gerbong Desa. Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dengan 15 orang pengurus  semua dikendalikan  anak muda Tomolou.

Mereka   sadar bahwa sebagai kampong nelayan,  jika membiarkan laut kotor,  maka ikan  habis dan mereka akan susah. Karena itu gerakan pertama dilakukan dengan  membersihkan pantai dan laut.

“Kami awali dengan membersihkan sampah yang menumpuk di pantai dan laut di kampong Tomolou. Ada 7 ton  sampah  terkumpul  hari itu di akhir 2018,” jelas  Abdul Gani Fardanan Direktur LMS Gerbong Desa.

Sampah yang ditampung ke TPS sebelum diangkut ke TPA oleh dinas kebersihan Kota Tikep/foto Aisyah

Dia bilang, upaya mereka ini dimulai sejak 2016. Tetapi devisi yang mengurusi khusus sampah pada 2018 lalu.  

Dia bilang lagi, mengangkut sampah dari pantai dan yang tertimbun di laut itu menjadi pintu masuk memberi penyadaran kepada warga.  Selanjutnya dari pintu –ke pintu. Bahkan sekolah  dan masjid.   

Memang tidak mudah memberi penyadaran dan mengorganisir warga  agar sadar  bahwa sampah adalah masalah besar yang berhubungan langsung dengan kehidupan nelayan.  “Kami butuh waktu 6 bulan   dari rumah ke rumah menemui warga kampong dan menjelaskan,” tambah Gani  diwawancari usai mengikuti diskusi Air Hutan dan Manusia di Ternate Sabtu (22/11/2020) lalu.   

Selama 6 bulan itu terus menerus memberikan pemahaman bagaimana mengatasi sampah dan bicara  dampaknya bagi warga sendiri. Gerakan ini tidak dilakukan sendiri, tetapi melibatkan semua elemen dan organisasi di kampong. Mulai dari pemerintah kelurahan, tokoh masyarakat, tokoh agama, hingga pengurus masjid dan organisasi pemuda. Karena ada kesadaran bersama, akhirnya bisa jalan dan sampai saat ini  kampung Tomolou  menjadi  bersih.  

“Sebenarnya yang menjadi sentral penyadaran datang dari lembaga keagamaan di kampong sementara organisasi pemerintahan di kelurahan fungsi administrasi saja.  Keikutsertaan dan keterlibatan lembaga agama dan tokoh agama cukup kuat akhirnya bisa berhasil gerakan ini.   Intinya perlu ada sinergi sehigga bisa berjalan sama sama,” ujarnya.

Anak anak muda dari LSM gerbong Desa mengangkut sampah dari rumah warga menggunakan kendaraan roda tiga/foto Aisyah

Gerakan moral dengan imbauan dan penyadaran juga tidak akan berjalan kalau tanpa aksi. Karena itu anak anak muda Tomolou setiap saat harus turun ikut mengangkut sampah  dan menjemput dari rumah ke rumah. “Kami  sadari  kondisi masyarakat itu melihat action atau kerja baru mereka ikut,” tambahnya.

Jumlah kk di kelurahan Tomalou Per Oktober 2020  ada  875 KK  semuanya terdata dan setiap hari sampahnya terkontrol. Jika ada warga tidak menyerahkan sampahnya  selama 3 hari  maka  dikroscek langsung  ke mana sampah mereka buang. “Saya pastikan mereka tidak buang sampah ke sembarangan tempat karena terkontrol.    

Gerakan ini juga sekaligus menjadi pembelajaran bagi   anak sekolah  SD maupun PAUD. Gerbong desa tak hanya menyasar orang dewasa. Mereka juga berkampanye soal sampah masuk ke PAUD dan SD. “Ada devisi sampah yang mengurusi khusus soal ini,” jelasnya lagi.

Yang menarik juga  dari gerakan mengatasi sampah,  anak-anak muda yang dilibatkan bekerja  adalah mereka yang dulunya sering mengkonsumsi miras dan  zat zat aditif termasuk narkoba. Setelah didekati dan diajak bersama mereka sadar dan mau bekerja   bersama.    

Ketua Devisi Sampah LSM Gerbong Desa Aisyah Abdulrajak mengaku, memang tidak mudah menggerakan  kegiatan ini, jika tanpa fasilitas seperti kendaraan angkut sampah dan biaya operasional tenaga pengangkut. Menyiasatinya dengan retribusi dari rumah yang diangkut sampahnya sebesar Rp2000/hari.  “Yang bukan pelanggan tetap, ada yang diangkut gerbong desa dan juga mereka angkut sendiri ke tempat pembuangan sementara (TPS) ”jelasnya.

Anak anak juga ikut terlibat mengangkut sampah dan bakti massal pembersihan lingkungan/foto Aisyah

Saat ini yang menjadi pelanggan tetap ada 200 dari 628 rumah. Artinya setiap bulan mereka mengumpulkan biaya operasional sekira Rp12 juta. Dari jumlah itu, digunakan untuk biaya operasional pengangkut sampah dan membeli fasilitas  berupa  dua buah motor  roda tiga jenis kaisar.

Warga juga ada yang angkut sendiri ke tempat pembuangan sementara. Selanjutnya diangkut mobil dinas kebersihan ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Diakui, memang alat angkut terbatas. Sementara medan  yang berbukit menyusahkan alat angkut roda 3  yang mereka gunakan.  Satu  hal lagi pelayanan Pemkot belum maksimal menyebabkan penumpukan sampah di rumah maupun di lokasi pembuangan sementara.  Jika terjadi penumpukan LSM Gerbong menyewa excavator desa mengeruknya serta kerja bakti massal setiap minggu. Dari retribusi yang terkumpul juga mereka sudah  berikan pemasukan bagi Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Tidore Kepulauan. “Setiap bulan Rp500 ribu atau total setahun  Rp6 juta,” jelas Abdul Gani. (*)       

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Di Hari Bhakti Rimbawan, Diingatkan Jaga Hutan dan Perubahan Iklim

    • calendar_month Kam, 17 Mar 2022
    • account_circle
    • visibility 650
    • 0Komentar

    Kepala Dinas Kehutanan M Syukur Lila saat melakukan penanman pohon di pantai Doe doe Guraping sebagai bagian dari rangkaian Hari Bhakti Rimbawan ke 39 16 Maret 2022

  • Mangrove Mangga Dua Ternate Nasibmu Kini

    • calendar_month Sen, 15 Nov 2021
    • account_circle
    • visibility 753
    • 0Komentar

    Kondisi terakhir mangrove di Mangga Dua yang digusur dan direklamasi untuk kepentingan bisnis

  • Sekolah Penggerak PAUD Akegaale Lepas Siswa  

    • calendar_month Sel, 21 Jun 2022
    • account_circle
    • visibility 645
    • 1Komentar

    Pendidikan anak usia dini sangat menentukan nasib generasi di masa depan. Penanaman nilai Pancasila berbudaya, beriman dan berakhlak menjadi salah satu syarat penting diajarkan kepada anak anak. Syarat merdeka belajar ini juga   diterapkan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Ake Gaale Malaha di Kelurahan Sangaji Ternate Utara Kota Ternate yang Senin (20/6),  berhasil melepas 15 siswa […]

  • Nelayan Tidore Bakar Sate Tuna Terbanyak di Dunia  

    • calendar_month Sen, 11 Des 2023
    • account_circle
    • visibility 659
    • 3Komentar

    Peringatan Hari Nusantara (Harnus) yang jatuh pada  13 Desember 2023 ini dipusatkan di Kota Tidore Provinsi Maluku Utara. Acara ini diisi berbagai kegiatan.  Salah satunya  Bakar Sate Ikan Tuna terbanyak.Kegiatan ini termasuk salah satu agenda yang masuk  catatan rekor Museum Rekor Indonesia (MURI). Bakar sate ikan tuna yang dilaksanakan Senin (11/12/2023) itu dipusatkan di  Kelurahan […]

  • Tradisi Gotong-Royong Tangkap Ikan di Mayau

    • calendar_month Sel, 26 Sep 2023
    • account_circle
    • visibility 870
    • 3Komentar

    Dikelola Bersama  Hasilnya Dibagi Merata Jumat (25/8/2023) pagi sekira pukul 08.00 WIT di kawasan Pantai Kelurahan Bido Pulau Mayau Kecamatan Batang Dua Kota Ternate Maluku Utara, terdengar riuh.   30 an orang nelayan beres-beres jaring/pukat   persiapan menangkap ikan cakalang. Terdengar teriakan-teriakan saling menyahuti meminta agar  percepat serta  rapikan pukat atau jaring yang ada. Kebetulan juga pagi […]

  • Sisir Pulau dan Kampung Layani Warga

    • calendar_month Kam, 29 Okt 2020
    • account_circle
    • visibility 619
    • 0Komentar

    Lakukan Penyadartahuan Covid-19 dan  Periksa Kesehatan Warga Sejak 22 Oktober 2020 lalu tim EcoNusa Indonesia menggelar ekspedisi Maluku  menggunakan kapal phinisi wisata bernama Kurabesi Explorer. EcoNusa sendiri adalah sebuah lembaga nirlaba berbasis di Papua dan saat ini banyak mendorong berbagai inisiatif lokal untuk perlindungan alam dan konservasi di wilayah timur Indonesia. Mereka  mengawali perjalanan   dari […]

expand_less