Breaking News
light_mode
Beranda » Serba-serbi » Cerita Anak Muda Tomolou Tidore Perangi Sampah

Cerita Anak Muda Tomolou Tidore Perangi Sampah

  • account_circle
  • calendar_month Kam, 26 Nov 2020
  • visibility 591

Buat Kampung  Bersih, Beri PAD Buat Kota Tikep

Memasuki  kampong  Tomolou di Kota Tidore Kepulauan   dipastikan tidak akan menemukan sampah tercecer di jalanan. Begitu juga pantainya. Tidak ada lagi warga membuang sampah ke tepi pantai. Kondisi hari ini berbeda dari sebelum-sebelumnya. Di mana kebanyakan buang sampah ke laut dan pantai sebagaimana kebiasaan sebagian warga di Maluku Utara.

Lalu siapa yang membuat gerakan ini?      

Ternyata sadar sampah dan upaya bersih kampong ini digerakkan  anak- anak muda setempat. Berawal dari gerakan anak muda  menghimpun dirinya dalam sebuah lembaga  bernama Gerbong Desa. Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dengan 15 orang pengurus  semua dikendalikan  anak muda Tomolou.

Mereka   sadar bahwa sebagai kampong nelayan,  jika membiarkan laut kotor,  maka ikan  habis dan mereka akan susah. Karena itu gerakan pertama dilakukan dengan  membersihkan pantai dan laut.

“Kami awali dengan membersihkan sampah yang menumpuk di pantai dan laut di kampong Tomolou. Ada 7 ton  sampah  terkumpul  hari itu di akhir 2018,” jelas  Abdul Gani Fardanan Direktur LMS Gerbong Desa.

Sampah yang ditampung ke TPS sebelum diangkut ke TPA oleh dinas kebersihan Kota Tikep/foto Aisyah

Dia bilang, upaya mereka ini dimulai sejak 2016. Tetapi devisi yang mengurusi khusus sampah pada 2018 lalu.  

Dia bilang lagi, mengangkut sampah dari pantai dan yang tertimbun di laut itu menjadi pintu masuk memberi penyadaran kepada warga.  Selanjutnya dari pintu –ke pintu. Bahkan sekolah  dan masjid.   

Memang tidak mudah memberi penyadaran dan mengorganisir warga  agar sadar  bahwa sampah adalah masalah besar yang berhubungan langsung dengan kehidupan nelayan.  “Kami butuh waktu 6 bulan   dari rumah ke rumah menemui warga kampong dan menjelaskan,” tambah Gani  diwawancari usai mengikuti diskusi Air Hutan dan Manusia di Ternate Sabtu (22/11/2020) lalu.   

Selama 6 bulan itu terus menerus memberikan pemahaman bagaimana mengatasi sampah dan bicara  dampaknya bagi warga sendiri. Gerakan ini tidak dilakukan sendiri, tetapi melibatkan semua elemen dan organisasi di kampong. Mulai dari pemerintah kelurahan, tokoh masyarakat, tokoh agama, hingga pengurus masjid dan organisasi pemuda. Karena ada kesadaran bersama, akhirnya bisa jalan dan sampai saat ini  kampung Tomolou  menjadi  bersih.  

“Sebenarnya yang menjadi sentral penyadaran datang dari lembaga keagamaan di kampong sementara organisasi pemerintahan di kelurahan fungsi administrasi saja.  Keikutsertaan dan keterlibatan lembaga agama dan tokoh agama cukup kuat akhirnya bisa berhasil gerakan ini.   Intinya perlu ada sinergi sehigga bisa berjalan sama sama,” ujarnya.

Anak anak muda dari LSM gerbong Desa mengangkut sampah dari rumah warga menggunakan kendaraan roda tiga/foto Aisyah

Gerakan moral dengan imbauan dan penyadaran juga tidak akan berjalan kalau tanpa aksi. Karena itu anak anak muda Tomolou setiap saat harus turun ikut mengangkut sampah  dan menjemput dari rumah ke rumah. “Kami  sadari  kondisi masyarakat itu melihat action atau kerja baru mereka ikut,” tambahnya.

Jumlah kk di kelurahan Tomalou Per Oktober 2020  ada  875 KK  semuanya terdata dan setiap hari sampahnya terkontrol. Jika ada warga tidak menyerahkan sampahnya  selama 3 hari  maka  dikroscek langsung  ke mana sampah mereka buang. “Saya pastikan mereka tidak buang sampah ke sembarangan tempat karena terkontrol.    

Gerakan ini juga sekaligus menjadi pembelajaran bagi   anak sekolah  SD maupun PAUD. Gerbong desa tak hanya menyasar orang dewasa. Mereka juga berkampanye soal sampah masuk ke PAUD dan SD. “Ada devisi sampah yang mengurusi khusus soal ini,” jelasnya lagi.

Yang menarik juga  dari gerakan mengatasi sampah,  anak-anak muda yang dilibatkan bekerja  adalah mereka yang dulunya sering mengkonsumsi miras dan  zat zat aditif termasuk narkoba. Setelah didekati dan diajak bersama mereka sadar dan mau bekerja   bersama.    

Ketua Devisi Sampah LSM Gerbong Desa Aisyah Abdulrajak mengaku, memang tidak mudah menggerakan  kegiatan ini, jika tanpa fasilitas seperti kendaraan angkut sampah dan biaya operasional tenaga pengangkut. Menyiasatinya dengan retribusi dari rumah yang diangkut sampahnya sebesar Rp2000/hari.  “Yang bukan pelanggan tetap, ada yang diangkut gerbong desa dan juga mereka angkut sendiri ke tempat pembuangan sementara (TPS) ”jelasnya.

Anak anak juga ikut terlibat mengangkut sampah dan bakti massal pembersihan lingkungan/foto Aisyah

Saat ini yang menjadi pelanggan tetap ada 200 dari 628 rumah. Artinya setiap bulan mereka mengumpulkan biaya operasional sekira Rp12 juta. Dari jumlah itu, digunakan untuk biaya operasional pengangkut sampah dan membeli fasilitas  berupa  dua buah motor  roda tiga jenis kaisar.

Warga juga ada yang angkut sendiri ke tempat pembuangan sementara. Selanjutnya diangkut mobil dinas kebersihan ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Diakui, memang alat angkut terbatas. Sementara medan  yang berbukit menyusahkan alat angkut roda 3  yang mereka gunakan.  Satu  hal lagi pelayanan Pemkot belum maksimal menyebabkan penumpukan sampah di rumah maupun di lokasi pembuangan sementara.  Jika terjadi penumpukan LSM Gerbong menyewa excavator desa mengeruknya serta kerja bakti massal setiap minggu. Dari retribusi yang terkumpul juga mereka sudah  berikan pemasukan bagi Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Tidore Kepulauan. “Setiap bulan Rp500 ribu atau total setahun  Rp6 juta,” jelas Abdul Gani. (*)       

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Toyom, Pohon Penyembuh Luka dari Halmahera

    • calendar_month Sab, 23 Jan 2021
    • account_circle
    • visibility 876
    • 0Komentar

    Sterculia oblongifolia atau yang dikenal dengan sebutan toyom merupakan tumbuhan yang sangat bermakna bagi masyarakat sekitar Taman Nasional Aketajawe Lolobata, Halmahera Timur, Maluku Utara. Tumbuhan ini berperan penting dalam kehidupan komunitas suku Togutil di sana yang masih nomaden foto KLHK

  • Ada 3 Spesies Baru Ditemukan Pada 2023

    • calendar_month Rab, 6 Sep 2023
    • account_circle
    • visibility 686
    • 1Komentar

    Sejak 2021 -2023 Ada 90 Spesies TSL Baru Berdasarkan hasil eksplorasi BRIN dan KLHK, lebih dari 90  jenis spesies baru telah ditemukan dalam kurun waktu tahun 2021-2023. Berbagai spesies baru tumbuhan dan satwa liar (TSL) telah banyak ditemukan, baik di dalam kawasan konservasi maupun di luar kawasan hutan. Rilis yang dikeluarkan oleh Kementeruan Lingkungan Hidup […]

  • Mengenal Pulau SIBU,Kecil nan Indah dan Dikeramatkan

    • calendar_month Ming, 2 Jan 2022
    • account_circle
    • visibility 792
    • 1Komentar

    Pulau Sibu dilihat dari udara, foto opan Jacky

  • Kala Rusa Pulau Mare Tinggal Cerita

    • calendar_month Jum, 14 Sep 2018
    • account_circle
    • visibility 548
    • 0Komentar

    Hamparan ilalang  mencapai 10 hektar di bagian Timur Gunung Mare itu merupakan hutan lindung. Ada juga pohon jambulang tumbuh liar bersama tanaman perdu lain. Tempat ini oleh warga dikenal dengan Bilarung Makota, bahasa Tidore, berarti tempat bermain rusa. Warga menyebut, tempat bermain rusa, karena di sinilah sekitar 15 tahun lalu bisa menyaksikan rusa-rusa di Puncak […]

  • Suarakan Regulasi PRL di Forum Internasional Lewat Zonasi

    • calendar_month Ming, 25 Mei 2025
    • account_circle
    • visibility 837
    • 0Komentar

    Penataan ruang laut  (PRL) adalah dasar dari seluruh pemanfaatan ruang yang ada di wilayah pesisir dan laut, agar tercipta keselarasan antara pengembangan ekonomi dan pelestarian ekosistem pesisir dan laut. Ini adalah salah satu  komitmen  Pemerintah Pusat melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Hal ini  disampaikan pihak Kementerian Kelautan dan Perikanan mewakili Indonesia  dalam  forum internasional […]

  • Nelayan Tuna Morotai Terpukul Covid- 19

    • calendar_month Sen, 21 Sep 2020
    • account_circle
    • visibility 604
    • 0Komentar

    Penulis: Indah Indriyani Morotai Pandemi covid-19 menghantam hamper semua lini kehidupan. Tidak terkecuali masyarakat bawah seperti nelayan. Pandemic ini juga mengubah banyak hal dalam kehidupan. Termasuk nasib para nelayan. Di Desa Sangowo Kecamatan Morotai Timur, Kabupaten Pulau Morotai,  nelayanikan tuna sangat terpukul akibat jatuhnya harga.  “Dampak pandemic covid-19 yang paling dirasakan nelayan yaitu harga ikan […]

expand_less