Breaking News
light_mode
Beranda » Kabar Kampung » Kisah “Kampung Tua” Tifure di Pulau Batang Dua

Kisah “Kampung Tua” Tifure di Pulau Batang Dua

  • account_circle
  • calendar_month Kam, 17 Jun 2021
  • visibility 1.324

Dari Rentan Bencana Geologi  hingga Minim  Infrastruktur

Setiap kampung  punya kisah masa lalu.  Dari orang pertama  membangunnya menjadi kampung yang maju dan berkembang seperti sekarang, kisah pilu,  bahkan heroic mewarnai setiap tuturan para tetua.  Ada  bencana dan kejadian alam, peperangan hingga penaklukan mewarnai perjalanan kampung dalam membangun peradaban.

Seperti halnya Tifura Kecamatan Pulau Batang Dua Kota Ternate. Kampung Pulau di bagian barat Ternate itu posisinya  strategis sebagai pulau terluar berbatasan langsung dengan  Sulawesi Utara  dan memiliki banyak kekayaan alam laut dan darat. Meski kaya  masih “ditinggalkan” dari sisi infrastruktur. Dalam keterbatasan  hidup itu warganya mesti bertarung di bawah ancaman bencana geology dan perubahan iklim yang cukup serius. 

Untuk mengetahui kisah kampung di pulau kecil ini serta apa yang dilakukan warga agar ada reseliensi atau daya lenting terhadap bencana,  Asgar Saleh  aktivis kemanusiaan  yang juga Direktur  LSM Rorano Maluku Utara, mengisahkannya dalam sebuah essay pendek    Tifure  “Kampung Tua”   

Berikut ulasannya.

Tentang Kampung Tua..

Bahagia saya bisa mendatangi dan berbincang dengan beberapa warga di Kampung Tua, sebuah penamaan dari masa lalu yang menunjukan di mana peradaban orang-orang Tifure bermula. Ketika orang Wayoli pertama menjejak kaki, mereka memilih pantai ini sebagai pemukiman. “Dulu orang bisa berjalan kaki menyeberangi hamparan pasir dan karang ke pulau Gurida saat air surut. Itulah mengapa banyak kebun-kebun milik warga yang berada di pulau Gurida,” kisah para tetua kampung Tifure .

Suhu bumi yang makin panas dan reklamasi di mana-mana membuat warga kini tak bisa ke seberang selain berperahu karena permukaan air telah meninggi.

Cerita turun temurun yang berkembang, pada masa lalu ada gempa besar disertai tsunami. Warga kemudian memilih naik ke gunung dan bertahan di sana. Kampung Tua tersapu tsunami. Peradaban gunung ternyata tak lama. Ada wabah yang menyerang sehingga memaksa mereka mencari pemukiman baru dan turun dari gunung. Lokasi baru itulah yang kini berkembang  menjadi Kelurahan Tifure dan Pante Sagu. Jejak gempa dan tsunami masa lalu seperti “membenarkan” apa yang saya lakukan selama tiga hari di Tifure. Bersama Angkatan Muda Gereja Protestan Maluku ranting Makedonia dan Filadelpia, sebuah komunitas anak muda Gereja di Tifure dan Pante Sagu, kami melakukan pelatihan merespons potensi ancaman bencana di pulau ini.

Aktifitas warga Tifure: Selain menjadi nelayan mereka juga punya kebun untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. foto koleksi pribadi Asgar Saleh

Tifure ada di zona pertemuan lempeng Pasifik dan Euroasia. Pulau ini dan pulau Gurida juga dikepung banyak subduksi dari lempeng Filipina, Sangihe dan Halmahera. Karena itu, di hari pertama pelatihan, saya berbagi pengetahuan dasar kebencanaan, Apa itu gempa bumi dan tsunami dan bagaimana menghadapinya, menyampaikan pentingnya aspek Pengurangan Resiko Bencana (PRB), pentingnya assesment, kajian resiko bencana lokal, membentuk tim relawan, menentukan jalur evakuasi dan titik kumpul serta membangun komitmen untuk bekerja sebagai relawan kemanusiaan.

Sungguh bahagia ada 35 teman Angkatan Muda GPM yang bergabung, serius menerima dan mendiskusikan materi, serta berkomitmen memberikan pelayanan sebagai relawan yang akan membantu masyarakat. Sebuah kesadaran bersama yang menurut saya akan jadi modal sosial Tifure ke depan. Para relawan ini juga akan jadi ujung tombak bagi inisiasi pelatihan lainnya di masa depan.

Sebuah catatan inspiratif bagi saya karena di tengah berbagai keterbatasan semisal listrik yang hanya “hidup” di malam hari, tak ada jaringan telepon, tak ada puskesmas, tak ada fasilitas air bersih, tak ada sarana transportasi cepat dan banyak lagi, anak-anak muda ini tak peduli dan mau belajar untuk menjadi yang terbaik bagi tanah kelahiran mereka.

Salam Kemanusiaan

Catatan: Publikasi catatan ini seizin penulisnya.  

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Di Mare akan Dikembangkan Jambu Mente

    • calendar_month Kam, 8 Nov 2018
    • account_circle
    • visibility 826
    • 0Komentar

    Pulau Mare Tidore Kepulauan  yang  menjadi pusat gerabah di Maluku Utara,   segera dikembangkan menjadi pusat produksi jambu mente di  Maluku Utara. Pihak Kantor Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Ternate- Tidore    berencana mengembangkan lahan hutan lindung  di  Pulau Mare ini dengan tanaman jambu mente.  Data  Kesatuan Pengelolaan   Hutan (KPH) Ternate-Tidore  menunjukan dari luas hutan lindung Pulau Mare […]

  • WALHI Ajak Anak Muda Peduli Lingkungan 

    • calendar_month Jum, 9 Jun 2023
    • account_circle
    • visibility 688
    • 0Komentar

    Kegiatan mendorong orang mud bicara ekologi oleh WALHI Maluku Utara foto M Ichi

  • Mempertegas Otonomi Kampong (1)

    • calendar_month Kam, 31 Mar 2022
    • account_circle
    • visibility 690
    • 0Komentar

    Ibu Marta si seorang ibu dari Desa Tosoa Ibu Halmahera Barat membersihkan lahan kebunnya, foto M Ichi Desember 2021

  • Peringati Hari Primata dengan Mengedukasi Siswa

    Peringati Hari Primata dengan Mengedukasi Siswa

    • calendar_month Sen, 29 Jan 2018
    • account_circle
    • visibility 722
    • 0Komentar

    Hari Primata Indonesia (HPI) yang diperingati setiap  30 Januari   dirayakan juga di Maluku Utara dengan beragam  kegiatan. Seperti yang dilaksanakan ProFauna Indonesia yang bekerjasama dengan pemerintah Kota Tidore dan Ternate dalam dua hari ini. Dalam peringatan itu turut dilaksankaan kampanye  sebagai bentuk edukasi kepada masyarakat terutama siswa  agar bisa paham  tentang upaya perlindungan primate di […]

  • Jaring Nusa: Visi Indonesia Emas 2045, Wajib Pastikan Hak Masyarakat Pesisir dan Pulau Kecil  

    • calendar_month Sen, 11 Sep 2023
    • account_circle
    • visibility 771
    • 2Komentar

    Jaring Nusa  sebuah konsorsium   masyarakat sipil yang dideklarasikan pada 19 Agustus 2021 lalu mendesak pemerintah dalam menetapkan visi Indonesia Emas 2045 yang tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional RPJPN 2025 2045 memberi kepastian dan perlindungan  Hak Masyarakat Pesisir dan Pulau Kecil. Peryataan Jaring Nusa  yang di dalamnya  ada 18 lembaga dan 1 komunitas  itu, […]

  • Pulau Kecil, Kaya Biodiversitas Tapi Rentan

    • calendar_month Sen, 10 Jul 2023
    • account_circle
    • visibility 914
    • 0Komentar

    Pembangunan di pulau-pulau kecil tidak cukup sekadar membangun berbagai fasilitas, salah satunya seperti pariwisata. Keberadaan  fasilitas yang menunjang wisatawan  di satu sisi bisa menjadi ancaman kelestarian sumber daya alam. Karena itu  pemerintah perlu menyusun peta jalan pembangunan berkelanjutan untuk pulau-pulau kecil. “Perlu memerhatikan daya dukung lingkungan pulau-pulau kecil,’’kata Guru Besar Kelautan Universitas Mataram Prof Sitti […]

expand_less