Breaking News
light_mode
Beranda » Laut dan Pesisir » Bina Desa di Pulau Laigoma, FPK Unkhair Turut Lepas Tukik

Bina Desa di Pulau Laigoma, FPK Unkhair Turut Lepas Tukik

  • account_circle
  • calendar_month Rab, 13 Sep 2023
  • visibility 726

Sebagai bagian dari pengabdian kepada masyarakat,  Program Studi Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK) Universitas Khairun Ternate menggelar kegiatan  Bina Desa. Kegiatan ini dilaksanakan di Desa Laigoma Kecamatan Kayoa Halmahera Selatan Provinsi Maluku Utara 9 dan 10 September 2023 lalu. Tujuan kegiatan ini adalah, memberikan pengetahuan bagi masyarakat nelayan, khususnya di Pulau Laigoma, Kecamatan Kayoa. Ketua Tim  Kegiatan Bina Desa Irwan Abdul Kadir usai kegiatan bilang, ada 15 peserta terdiri dari mahasiswa dan dosen turut serta dalam kegiatan tersebut.  

Dalam kegiatan selama dua hari tersebut,  ada beberapa agenda turut dilaksanakan.  Salah satu yang dianggap penting untuk masyarakat nelayan setempat adalah, memberikan pelatihan pembuatan alat bantu penangkapan ikan bagi nelayan skala kecil. “Materi dalam pelatihan yang dilaksanakan yaitu mengajarkan pemilihan material, desain teknis dan pembuatan alat bantu penangkapan ikan,” jelas Irwan. Dia bilang lagi kegiatan ini semata mata untuk  membantu nelayan membuat alat bantu penangkapan ikan untuk pengembangan kegiatan perikanan tangkap di  desa tersebut. Dia menambahkan, kegiatan ini sebenarnya adalah upaya mendorong peningkatan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat nelayan terutama yang ada  di desa setempat. 

Selain pelatihan, kegiatan dosen dan mahasiswa ini  juga dirangkai dengan pelepasan tukik atau anak penyu  yang selama ini telah dilakukan penangkarannya oleh kelompok penangkaran penyu di Desa Laigoma. Kelompok ini juga merupakan   binaan dari Program Studi Pemanfaatan Sumberdaya  Perikanan FPK Unkhair.    

Dia bilang  lagi,  tukik yang dilepas  tersebut  ada 86 ekor.  pelepasan i dilakukan setelah dianggap sudah bisa hidup   mencari makan  sendiri karena usianya juga sudah layak  untuk dilepas. 

“Dari jumlah tukik yang ada,  di lepas 86 ekor dan  tersisa 20 ekor. Tukik ini belum bisa dilepas karena masih berukuran kecil dan dikuatirkan jadi korban dimangsa,” jelas Irwan.

Sementara  menurut Ketua kelompok penangkaran penyu desa Laigoma  Amir Ibrahim, selain tukik yang belum bisa dilepas, juga ada  telur penyu yang sementara dieramkan di pantai dekat kawasan penangkaran. Saat ini telur- telur tersebut menunggu waktu untuk menetas. Masih ada telur penyu yang belum menetas berjumlah 70 butir   Telur telur itu berasal dari  jenis penyu sisik.

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Tak Ada Zonasi Wilayah jadi Problem Ekowisata

    • calendar_month Sab, 16 Jan 2021
    • account_circle
    • visibility 823
    • 0Komentar

    Kawasan ekowisata Taman Love di puncak Moya dikuatirkan memunculkan masalah baru soal keterbukaan akses yang bisa memicu ikutya pemukiman ke kawasan ini yang masuk kawasan rawan bencana III.

  • Kala Pantai Kota Ternate Nyaris Habis karena Reklamasi

    • calendar_month Rab, 20 Feb 2019
    • account_circle
    • visibility 2.478
    • 0Komentar

    Beberapa  kawasan di Kota Ternate yang dulunya masih memiliki pantai  dengan pasir pantainya yang menawan kini nyaris habis  karena adanya reklamasi.  Tengoklah ke kawasan selatan kota Ternate  di wilayah  Kayu Merah dan Kalumata.  Proyek reklamasi yang dikerjakan sepanjang  2017 lalu itu mulai merambah  pantai kawasan itu.  Bahkan proyek rekmalasi   untuk tahap berikutnya  dalam program multi year segera […]

  • Ikan Ngafi dan Udang yang Terus Menyusut di Kao Halmahera

    • calendar_month Rab, 2 Sep 2020
    • account_circle
    • visibility 774
    • 0Komentar

    Selasa (18/8) Sore itu, Meisar Hi Ngole ngole (60) sedang memishkan ikan ngafi (teri,red)  dengan jenis  lain yang  sudah kering dari tempat penjemuran.  Ikan ini adalah hasil tangkapan suaminya yang turun melaut pagi  akhir Agustus lalu. Hasil tangkapan hari itu  tidak cukup tiga kilogram. Ini setelah dibagi dengan 8 nelayan lainnya yang ikut  bersama  suaminya. […]

  • Percepat Pengakuan Hutan Adat, Pemerintah Daerah Harus Proaktif

    • calendar_month Sel, 13 Feb 2018
    • account_circle
    • visibility 688
    • 0Komentar

    Pengakuan  dan perlindungan hak-hak masyarakat adat masih minim di negeri ini. Dalam dua tahun terakhir, kurang dari 50.000 hektar hutan adat mendapatkan penetapan dari 9,3 juta hektar pemetaan partisiatif yang diserahkan Badan Registrasi Wilayah Adat. Untuk itu, pemerintah provinsi dan kabupaten/kota diminta lebih aktif demi percepatan ini.  Di Provinsi Maluku Utara sendiri saat ini diusulkan […]

  • Kerusakan Hutan di Obi Cukup Serius

    • calendar_month Sen, 2 Jul 2018
    • account_circle
    • visibility 1.284
    • 0Komentar

    Temuan FWI 90 Persen Lahan Dikuasai Perusahaan Suara Muhammad  Risman terdengar lantang di pagi  menjelang siang pada Kamis (20/4) lalu. Dia bersuara  memprotes penderitaan  warga Pulau Obi yang hingga kini tak mendapatkan perhatian. Protes  ini cukup  beralasan karena  di Obi  saat ini  sedang terjadi eksploitasi  besaran- besaran oleh perusahaan tambang dan HPH. Sementara kondisi warganya […]

  • BMKG: Waspadai Angin Kencang dan Gelombang

    • calendar_month Rab, 24 Feb 2021
    • account_circle
    • visibility 750
    • 2Komentar

    ilustrasi: kondisi gelombang besar yang menghantam pantai sulamadaha.foto wawan ilyas

expand_less