Breaking News
light_mode
Beranda » Kabar Kampung » Bahan dan Para Pembuat Tikar Pandan yang Makin Langka

Bahan dan Para Pembuat Tikar Pandan yang Makin Langka

  • account_circle
  • calendar_month Sen, 1 Feb 2021
  • visibility 1.261

Sisi Lain  Kehidupan Warga Sawai di Halmahera Tengah   

Daun pandan jenis buro-buro (Pandanus tectorius) menumpuk di teras depan, rumah keluarga Elisa Nusu (65 tahun). Sore di awal Januari 2021 itu, Elisa bersama istrinya Angga Nice Loha (60), menggulung daun buro-buro yang diambil tak jauh dari kawasan pantai Desa Gemaf Weda Utara Halmahera Tengah itu, telah dibersihkan duri di tepi daunya. Daun pandan itu   juga sudah kering setelah dijemur beberapa hari.

Elisa sudah menggulung empat gulungan  daun pandan yang  disimpan sebagai bahan baku tikar pandan.  ”Nanti mau bikin kokoya orang sini bilang,” kata  Elisa warga suku Sawai Gemaf Weda Utara Halmahera Tengah belum lama ini.  

Tujuan digulungnya daun pandan itu agar ketika menganyam kokoya   tidak terlalu sulit  karena  daunnya sudah tertata rapi.  

Ibu Angga memperlihatkan tikar yang sudah selesai dianyam

Sekadar diketahui, Kokoya adalah jenis tikar yang dianyam menggunakan daun pandan  yang tak disayat kecil- kecil.  Sementara tikar, dianyam menggunakan daun pandan yang telah diraut dengan diberi ragam bahan pewarna. Tikar jenis ini lebih halus dan menarik  serta pengerjaannya membutuhkan waktu agak lama.

Elisa dan istrinya mengambil daun pandan tak jauh dari Desa Gemaf  tepatnya di bagian  utara desa ini karena   belum dieksploitasi perusahaan tambang walau telah masuk dalam wilayah konsesi PT Weda Bay Nikel.  “Karena dorang (mereka,red) perusahaan tambang belum gusur jadi masih bisa dapat daun buro buro (pandan, red) di daerah tak jauh dari pesisir pantai,” katanya.

Dia bilang  kokoya ini   akan dipakai sehari-hari di rumah. Bisa juga dibawa ketika melakukan perjalanan menggunakan kapal. Sementara untuk jenis tikar,   kadang   menjadi buah tangan untuk keluarga dan handai taulan.   Bahkan tikar dalam beberapa hajatan, misalnya kawinan menjadi barang seserahan dari mempelai pria untuk wanita.  “Kalau tikar itu dia pe bikin  (cara buat,red) agak susah dan lama.   Kadang tiga  minggu baru bisa  anyam satu tikar,”cerita  Angga.

Di Gemaf, warga terutama ibu-ibu biasanya membuat kokaya, tikar dan kalasa. Kokoaya menggunakan daun pandan yang agak lebar,   sementara tikar menggunakan daun pandan yang telah disayat halus dan  diberi warna. Untuk kalasa dibuat dari kulit pelepah sagu.

Di Gemaf kata Angga, masih ada yang bikin jenis jenis tikar ini,  meski  tinggal sedikit orang.   

Ibu Angga memperlihatka daun pandan yang telah disayat halus dan telah diberi prwana sebagai bahan pembuat tikar

Di kampungnya, perajin tikar dan kokoya ini sudah jarang ditemukan sekarang ini orang kampong lebih senang menggunakan tikar plastic karena  dengan uang Rp100 ribu sudah bisa membeli tikar plastic. Padahal katanya  untuk kenyamanan tidur kokoya, tikar  dan kalasa memiliki nilai lebih dibanding tikar plastik. 

Dia lantas bilang, saat ini sudah jarang dan hamper tidak ada anak muda mau belajar bikin tikar  dari daun pandan. Biasanya yang  menganyam dan  menghasilkan tikar ini ibu-ibu yang usianya sudah ujur.

Padahal katanya di kalangan orang Halmahera terutama di Tengah dan Halmahera Utara  tikar jenis ini menjadi bagian dari barang seserahan yang  dibawa serta dalam acara perkawinan. .”Yang kami tahu di bagian utara Halmahera tikar ini  jadi bagian  penting kalau ada anak laki-laki yang menikah,” ujar Angga.

Meski begitu dia akui  saat ini  yang sulit itu bahan baku dan orang yang menganyam  tikar ini. “So jarang (sudah  jarang) anak muda perempuan   belajar membuat tikar.  Kalau orang tua tua  sudah tidak ada (meninggal, red) dipastikan budaya bikin tikar dari daun buro-buro ini juga akan hilang,” imbuhnya.

Karena itu bagi dia tradisi ini  terutama di Weda atau di kelompok masyarakat Sawai, anak mudanya juga sudah harus belajar  menganyam tikar. Apalagi katanya di kelompok masyarakat suku Tobelo, Galela, atau Sawai tikar ini, adalah bagian dari tradisi yang seharusnya  tetap dipertahankan dan lestarikan. Sayang katanya, anak muda  sekarang lebih senang tikar plastic yang dibeli di toko.    

Ibu ibu Suku Sawai desa Wale mengambil kulit pelepah sagu yang nanti dibuat kalasa

Salah satu daerah yang  terbilang banyak memproduksi tikar anyam ini adalah warga di Morotai. Namun demikian  dalam 20 tahun terakhir tikar anyam dari daun pandan ini sudah semakin langka. Bahkan untuk mendapatkan orang yang  menganyam tikar pandan juga sudah sulit.

Indah Indriyani  warga  Sangowo Morotai Timur mengaku di kampungnya dulu banyak  ibu-ibu    membuat anyaman tikar dari daun pandan. Namun  dalam 15  tahun terakhir  sudah sangat jarang ditemukan  ditemui lagi. Indah bahkan berusaha mencari para perajin di kampungnya untuk memastikan produksi tikar ini, tetapi  sudah  tak lagi menemukan.  “Kampung saya di Sangowo. Dulu ibu- ibu yang bikin tikar pandan ini ada. Tapi sekarang sudah sangat sulit  ditemukan,” katanya saat dihubungi dari Ternate. 

Dia  bilang, saat ini yang sulit itu bahan baku  pandan dan mereka yang membuat atau menganyam tikar.  Kalaupun ada  di kampungnya  tersisa orang tua tua yang biasa  membuatnya.      

“Saya sudah coba keliling kampung untuk cari tahu  orang tua-tua yang masih konsisten menganyam tikar. Sayang  sudah tidak ada lagi,” katanya. (*)

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Cerita Warga Mengolah Aren, Melindungi Hutan Halmahera

    • calendar_month Kam, 27 Agu 2020
    • account_circle
    • visibility 1.248
    • 0Komentar

    Hari masih gelap di akhir  Februari lalu, ketika Fadli  Hafel (34) sudah harus berjalan sekira tiga kilometer dari rumah di kampung Samo  Gane Barat Utara Halmahera Selatan, menuju hutan desa itu mengambil air nira dari pohon aren.  Sejak pagi sekira pukul 06.00 WIT, dia sudah keluar dari rumah mengambil   air nira yang  ditadah menggunakan ruas […]

  • Kiprah Jamal Adam Jaga dan Rawat Paruh Bengkok    

    • calendar_month Ming, 4 Feb 2024
    • account_circle
    • visibility 812
    • 2Komentar

    Sabtu (17/12/2023) siang sekira pukul 12.30 WIT itu terasa menyengat.  Suasana Suaka Paruh Bengkok (SPB) di kawasan Taman Nasional Ake Tajawe Lolobata (TNAL) Desa Koli Oba Kota Tidore Kepulauan Maluku Utara itu juga, terlihat hanya ada 3 pengunjung. Mereka adalah karyawan sebuah perusahaan tambang yang datang selain berwisata juga menyerahkan seekor kakatua jambul kuning (cacatua […]

  • KLHK Sosialisasikan FOLU Net Sink 2030 di Maluku Utara

    • calendar_month Rab, 22 Feb 2023
    • account_circle
    • visibility 603
    • 0Komentar

    Indonesia Forestry and Other Land Uses (FOLU) Net-Sink 2030 merupakan suatu kondisi dimana tingkat serapan karbon sektor kehutanan dan penggunaan lahan lainnya sudah berimbang atau bahkan lebih tinggi dari tingkat emisi yang dihasilkan sektor tersebut pada tahun 2030 merupakan   Komitmen Indonesia  untuk mendorong tercapainya tingkat emisi GRK sebesar -140 juta ton CO2e pada tahun 2030 […]

  • Laut Malut, Kuburan Bagi Mamalia Laut?

    • calendar_month Rab, 8 Mar 2023
    • account_circle
    • visibility 772
    • 0Komentar

    Bangkai-Paus-yang-mulai-hancur-dan-menmbulkan-bau-menyengat-di-Morotai-beberapa-waktu-lalu-foto-Hamsor-Yusuf

  • Greenpeace: Wajib Lindungi Laut 30×30 2030

    • calendar_month Jum, 24 Feb 2023
    • account_circle
    • visibility 711
    • 0Komentar

    Para aktivis Greenpeace Indonesia membentangkan spanduk bertuliskan pesan “LINDUNGI LAUT SELAMANYA” di kawasan Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta Pusat,  Kamis, 23 Februari 2023. Aksi  ini sebagai bentik desakan kepada pemerintah Indonesia untuk meningkatkan komitmen melindungi lautan. Aksi ini berlangsung bersamaan dengan diselenggarakannya  perundingan untuk Perjanjian Laut Internasional atau Global Ocean Treaty di kantor Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB), […]

  • Harusnya Maluku Utara Miliki Balai KSDA

    • calendar_month Jum, 20 Nov 2020
    • account_circle
    • visibility 693
    • 0Komentar

    Persoalan konservasi sumberdaya alam di Maluku Utara sangatlah besar. Dengan 805 pulau  dan luas hutannya mencapai 2,25 juta hektar, memiliki persoalan pengawasan yang  rumit.   Sementara lembaga dan personil atau sumberdaya manusia yang menjalankan tugas tidak maksimal.  Seksi Konservasi SDA alam di Maluku Utara saat ini, tidak sanggup lagi memikul beban kerja  besar dengan wilayah […]

expand_less