Breaking News
light_mode
Beranda » Telusur Pulau » Widi, Sepotong Surga di Negeri Giman

Widi, Sepotong Surga di Negeri Giman

  • account_circle
  • calendar_month Ming, 12 Jun 2022
  • visibility 861

Akhir Mei 2022 lalu, saya berkesempatan mengunjungi gugusan pulau Widi di ujung selatan Halmahera Kabupaten Halmahera Selatan. Klaim warga  setempat,  kawasan ini memiliki 99 pulau. Meski demikian berdasarkan data  Dokumen  Rencana Pengelolaan dan Zonasi  Taman Wisata  Perairan  Kepulauan  Widi  dan Perairan  Sekitarnya  Provinsi  Maluku Utara  2020 – 2040 kawasan ini memiliki 83 pulau dan 3 pulau di sekitar pesisir Halmahera. 

Kepulauan Widi membentuk gugusan yang terletak di sebelah tenggara Pulau Halmahera dan sebelah barat Kepulauan Raja Ampat (Papua Barat) memiliki  dua gugusan pulau.Salah satunya adalah gugusan Pulau Widi serta terdiri dari dua atoll (Direktorat P4K Ditjen PRL KKP, 2019).

Kepulauan Widi berada di Desa Gane Luar atau sebagian orang menyebutnya Giman, di Kecamatan Gane Timur Selatan, Kabupaten Halmahera Selatan. Secara bio-ekologis Kepulauan Widi selain memiliki keunikan sumber daya alam baik flora dan fauna, juga terdapat berbagai jenis biota laut.

Sesuai hasil riset Muttaqien dan kawan kawan pada 2017 potensi perairan Kepulauan Widi secara umum memiliki tutupan karang mulai dari cukup hingga baik yakni mulai dari 15% sampai 78%. Sedangkan komposisi genera karang keras didominasi oleh Porites dengan persentase sebesar 16,27%. Selain itu, genera lainnya yang cukup banyak juga ditemukan di perairan Kepulauan Widi adalah Montipora, Acropora, Pocillopora, Dendrophyllia, Coeloseris, Cyphastrea, Pachyseris, dan Pavona. Untuk biomassa ikan karang didominasi oleh famili Acanthuridae, Caesionidae, Carchanidae dan Scarinilabridae. Selain potensi di atas, perairan Kepulauan Widi juga memiliki satwa kharismatik seperti lumba-lumba, hiu, pari manta, dugong, hiu paus dan juga ditemukan paus biru kerdil, paus sperma yang mendiami dan berimigrasi melalui perairan sekitarnya (Leadership Island of Indonesia, 2018 dalam dokumen RPZ Widi).  

Kepulauan Widi merupakan gugusan pulau yang kebanyakan tidak berpenghuni. Sejak dahulu pulau-pulau  di Kepulauan Widi hanya dijadikan sebagai tempat persinggahan nelayan, yaitu saat cuaca buruk dan kondisi laut sedang tidak bagus.Hanya  di Pulau Daga terdapat penduduk yang sudah menetap tinggal sekitar 15 KK.  

Kepulauan Widi memiliki potensi kawasan ekowisata bahari, seperti keindahan alam yang masih asli, alami dan eksotis, serta biota laut dengan keanekaragaman yang tinggi.  

Selain potensi, ancaman terhadap sumber daya yang ada di Kepulauan Widi juga masih tinggi. Salah satu ancaman yang masih marak sampai saat ini adalah kegiatan perikanan yang merusak lingkungan, seperti penggunaan bom, bius, serta penambangan terumbu karang maupun pasir pantai.

Dalam mewujudkan kelestarian wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil serta melindungi dan mengelola sumber daya ikan dan ekosistem khususnya di Pulau Widi, sejak tahun 2015 pemerintah membentuk kawasan konservasi Pulau Widi. Kawasan ini dicadangkan sebagai “Suaka Pulau Kecil” melalui Surat Keputusan Gubernur Maluku Utara Nomor 251/KPTS/MU tahun 2015 . Kawasan Konservasi Perairan, Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (KKP3K) yang dicadangkan ini memiliki luas keseluruhan sebesar 7.690 hektar.  Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP3K) yang kemudian dituangkan dalam Peraturan Daerah Maluku Utara No. 2 Tahun 2018 menetapkan Kepulauan Widi dialokasikan sebagai Kawasan Konservasi Perairan, Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (KKP3K) dengan luas 324.945,36 hektar. Oleh karena itu, pencadangan Kepulauan Widi sebagai Suaka Pulau Kecil ditinjau kembali untuk penyesuaian tipe kawasan serta penyederhanaan bentuk kawasan. Dari hasil peninjauan tersebut Kepulauan Widi ditetapkan menjadi Kawasan Konservasi Perairan (KKP) tipe kawasan Taman Wisata Perairan (TWP) dengan luas 315.117,11 hektar.  

Perjalanan menuju Widi hari itu tanpa hambatan. Body perahu bermesin 15 PK itu meluncur hamper satu jam  dan  gugusan pulau yang jika dipandang dar Pulau   Halmahera seperti terapung apung itu makin jelas.  Hamparan pulau dan  pasir putih dari kejauhan mulai terlihat, laut bersih dengan hutan mangrove rapat menghijau seperti menyambut kedatangan kami ke  kawasan tersebut.

Ketika memasuki kepulauan Widi, disambut  oleh  Pulau  Dodawe Gane  di sebelah kanan dan Dodawe Weda di sebelah kiri. Dua pulau ini cukup besar dibanding pulau pulau lainnya. Memasuki selat di antara dua pulau ini,   motoris lebih mengarahkan  mendekat ke pulau Dodawe Gane. 

Kekaguman akan keindahan laut dan alam pulau-pulau ini  membuncah. Laut bersih dan ikan karang bermain di sela karang terlihat jelas dari atas perahu. Perahu kami masuk ke dalam sebuah “danau laut”  berwarna hijau pirus (tosque)  dikelilingi mangrove yang lebat  di atas pasir putih yang menghampar mengelillingi pulau. Sesekali  hiu bermain beriringan di sela- sela karang dan padang lamun. Sungguh indah pemandangan yang terlihat siang itu.  

Puas berputar di danau laut yang menawan itu, perahu   kemudan keluar melalui selat  kecil yang  sisi kiri kanannya  tumbuh mangrove   berdekatan saling menghimpit. Tidak hanya mangrove, ada pinus dan beragam pepohonan khas pulau karang juga turut menghiasi pulau.  Perjalanan  dianjutkan menuju Pulau Daga Kecil yang ditempuh hampir 20 menit. Pulau ini juga keindahannya menghipnotis siapa saja yang berkunjung  ke sini. Keaslian alam baik laut dan darat  tak terpemanai.

Daga kecil menjadi tempat singgah karena banyak nelayan tinggal sementara di pulau ini mencari ikan. Baik  ikan dasar (ikan karang,red)   yang   dibekukan menggunakan es,  juga  produksi ikan garam maupun ikan asap. Mereka juga membangun rumah rumah panggung di belkakang hutan mangrove di pulau tersebut.

“Kami  masuk  ke sini membangun rumah panggung  dan  mencari ikan di sini sejak 2013 lalu,” jelas  Amin Hairudin salah satu nelayan asal desa Gane Luar Kecamatan Gane Timur Selatan. Amin sendiri mengolah hasil tangkap ikan menggunakan  jarring  untuk ikan garam maupun ikan asap. Karena aktivitas mata pencaharian ini, di atas rumah rumah panggung itu banyak ikan garam dan ikan asap diletakan di dalam rumah mereka.

Untuk akses wisatawan, karena gugusan pulau ini berada jauh di ujung Halmahera, tidak setiap hari mereka yang ingin menikmati indahnya bawah laut  serta hamparan pasir putih pantai datang ke sini. Ada waktu waktu tertentu saja, ramai dikunjungi warga. Mereka dari Bacan Halmahera Selatan maupun dari Weda Halmahera Tengah.Bahkan ada  yang datang langsung dari Ternate.  

Memang tidak banyak orang yang berkunjung ke Widi saat ini. Selain tempatnya terbilang lumayan jauh dari Ternate juga biaya sampai ke sana terbilang mahal. Meski begitu di waktu waktu tertentu banyak pengunjung yang datang ke sini.

“Biasanya di waktu libur terutama selepas hari raya keagamaan. Ada banyak tamu baik dari Perusahaan PT IWIP di Weda Halmahera Tengah maupun masyarakat umum, April lalu saya kurang lebih 10 kali mengantar tamu ke Widi,” jelas Said Kahar. Said adalah nelayan asal Desa Bisui yang setiap   saat menangkap ikan di kawasan Widi. Tak hanya menangkap ikan, alat tangkapnya juga disewa pengunjung yang mau ke Widi. Sekali tarik dari Bisui ke Widi kurang lebih Rp2 juta dengan waktu tempuh 2 jam perjalanan dan menunggu para wisatwan hingga balik ke Biui..

Sekadar informasi untuk sampai ke Widi dari Ternate bisa ke Bacan Halsel selanjutnya ke Desa Gane Dalam. selanjutnya ke Desa Gane Luar dengan mobil pick up. Jarak tempuhnya lebih dekat ke Widi. Perjalanan ke Widi  kurang lebih satu jam. Alat transportasinya menggunakan perahu milik nelayan yang disewakan. Di Pulau ini para pengunjung tidak hanya menikmati keindahan alam laut dan pantai. Untuk penghobi selam bisa juga menyelam atau snorkeling. Bahkan yang paling menarik adalah kegiatan mancing karena kayanya ikan di laut ini. (*)

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • 326 Peserta Ramaikan Mancing Mania Dies Natalis Unkhair

    • calendar_month Jum, 4 Jun 2021
    • account_circle
    • visibility 506
    • 1Komentar

    MaPanitia Mancing Maniia bersiap menuju Modayama Kayoa Halmahera Se;latan

  • Kampung di Tengah Kaldera, Talaga di Tidore dan Aogashima di Jepang  

    • calendar_month Kam, 14 Nov 2024
    • account_circle
    • visibility 1.084
    • 0Komentar

    Mengagumkan jika terdapat kampung atau pemukiman di tengah kaldera gunung berapi.  Baik  yang masih aktif maupun  yang sudah tidak lagi.  Benar saja ternyata kampung di tegah kaldera itu ada. Di Pulau Tidore Maluku Utara ada kampung bernama Talaga,  berada di tengah kaldera gunung api yang tidak aktif lagi. Sementara  di Negeri Sakura Jepang, terdapat  di tengah […]

  • Ekowisata di Punggung Gamalama

    • calendar_month Jum, 28 Agu 2020
    • account_circle
    • visibility 616
    • 0Komentar

    Menikmati  Keindahan  Ternate dari  Puncak Hutan Pala dan Cengkih  Pagi jelang siang di pertengahan Juli lalu, ketika udara hutan pala dan cengkih masih  segar, saya  coba menyusuri  punggung Gunung Gamalama. Lokasi ini berada tepat di kawasan puncak Kelurahan Moya Kota Ternate Tengah Maluku Utara. Lokasi ini dalam beberapa  bulan belakangan  menjadi salah satu spot paling […]

  • Dari Forum Adat Kesangadjian, Selamatkan Alam Halmahera Timur

    • calendar_month Sel, 7 Jan 2025
    • account_circle
    • visibility 1.139
    • 0Komentar

    Forum adat di bawah Kesangadjian  yang berada  di Halmahera Timur  diinisiasi pembentukannya oleh masyarakat. Gerakan  yang dilakukan Kesangadjian   Bicoli dan turut menghadirkan Sangaji  di Maba itu dilaksanakan  pada 27 dan 28 Desember 2024 lalu. Forum Adat Kesangadjian ini merupakan yang  pertama di Halmahera Timur. Kegiatan itu itu dipusatkan di Balai Desa Wayamli, Halmahera Timur Maluku […]

  • Titik Nol Jalur Rempah Dunia (2) 

    • calendar_month Rab, 12 Jul 2023
    • account_circle
    • visibility 1.408
    • 1Komentar

    Rempah adalah Identitas dan Peradaban Sejarawan Universitas Khairun Ternate, Rustam Hasyim (2013), dalam Dari Cengkih ke Kerang Mutiara, Perdagangan di Keresidenan Ternate 1854-1930, menyebutkan Maluku Utara sendiri bukan saja menghasilkan rempah, namun telah memperdagangkan demikian banyak komoditi selain rempah, untuk dijual  ke manca negara. Rustam mencatat sirip hiu, mutiara, sirip penyu, kopra, kakao, tembakau, damar, […]

  • BMKG: Potensi Cuaca Laut  Ekstrem Terjadi  Desember hingga Februari

    BMKG: Potensi Cuaca Laut  Ekstrem Terjadi  Desember hingga Februari

    • calendar_month Jum, 5 Des 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 468
    • 0Komentar

    Terjadi Merata, Termasuk di Laut Halmahera dan Laut Maluku    Laut Halmahera dan laut Maluku yang berada di wilayah laut Maluku Utara masuk dalam potensi cuaca laut ekstrem yang terjadi Desember ini,Januari hingga Februari mendatang. Setidaknya peringatan  kondisi ini disampaikan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kamis (4/11/2025). Dalam rilisnya  BMKG mengeluarkan peringatan cuaca laut […]

expand_less