Breaking News
light_mode
Beranda » Laut dan Pesisir » Merintis Ekonomi Nelayan Kecil dengan Koperasi

Merintis Ekonomi Nelayan Kecil dengan Koperasi

  • account_circle
  • calendar_month Jum, 10 Mar 2023
  • visibility 820

Ini Kiprah Koperasi Nelayan Bubula Ma Cahaya Jambula Kota Ternate  

Puluhan anggota koperasi Bubula Ma Cahaya Kelurahan  Jambula Kecamatan Pulau Ternate Kota Ternate Maluku Utara terlihat serius. Mereka duduk menyimak penyampaian laporan  Rapat Anggota Tahunan (RAT) yang dipusatkan  di halaman Sekretariat Pemuda Jambula di Jalan  Pertamina Ternate  Kamis (9/3) tersebut.

Mereka mendengarkan laporan perjalanan usaha koperasi perikanan untuk nelayan kecil yang  dijalankan para pengurus   setahun ini.  Termasuk apa benefit yang telah didapatkan setelah beberapa usaha dijalankan.  Tidak itu saja,  mereka turut mendengarkan penyampaian dan arahan dari Dinas Koperasi Kota Ternate serta  dari  Dinas Perikanan dan Kelautan Kota Ternate. Mereka  yang turut diundang hadir dalam RAT dan pembagian Sisa Hasil Usaha (SHU) koperasi   yakni Dekopinda Kota Ternate, Dinas Koperasi dan UMKM Kota DKP Kota Ternate, Camat Lurah Kelurahan Jambula, Babinsa, Babinkamtibmas.

Sekadar diketahui, koperasi perikanan ini memang terbilang baru seumur jagung. Namun kiprahnya sudah mulai memberikan harapan bagi peningkatan ekonomi nelayan kecil di Kelurahan Jambula Kecamatan Ternate  Selatan dan Ternate umumnya. Pasalnya,  meski baru terbentuk pada 10 Maret 2021 lalu,  sebagai koperasi   yang beranggotakan para nelayan dan istri  mereka,  sudah bergerak mengurusi usaha dan  bisnis yang berhubungan   dengan kepentingan para nelayan. Para ibu yang masuk  jadi anggota misalnya, adalah mereka yang sehari-hari berjibaku menjual hasil tangkapan para nelayan setempat atau juga membeli hasil tangkapan nelayan dari kelurahan lainnya. Koperasi ini bahkan merintis sejumlah usaha terutama olahan hasil perikanan dari ikan tuna. Usaha ini sangat membantu kehidupan para nelayan terutama anggotanya.

Abon Tuna salah satu hasil produk turunan perikanan dari tangkapan nelayan dirintis koperasi Bubula ma Cahaya foto Marwan

Gafur  Kaboli  Pengawas Koperasi Bubula Ma Cahaya pada kabarpulau.co.id/ menceritakan,  memang koperasi ini baru setahun menjalankan usahanya. Tetapi sesungguhnya pengalaman merintis koperasi ini sudah   agak lama, hanya saja  tidak berjalan sesuai rencana usaha yang diinginkan.   

“Beberapa tahun sebelumnya kita sudah buat  koperasi dengan nama Marimoi Jaya. Sayangnya tidak berjalan baik.   Setelah masuknya LSM Masyarakat dan Perikanan Indonesia (MDPI) dengan program nelayan fair trade,  kita lihat ada peluang  dan pendampingan. Akhirnya kita maju  membentuk  koperasi baru dengan nama Bubula Ma Cahaya ini,” cerita Gafur.  Awalnya ada 25 anggota yang  semuanya adalah nelayan tuna. Belum berjalan usaha yang akan dirintis,  15 orang mundur sehingga terjadi pengurangan anggota. Sementara syarat anggota koperasi minimal berjumlah 25 orang.   Akhirnya   dengan  inisatif yang ada  ada  ibu-ibu  nelayan yang setiap hari bekerja menjual hasil tangkap nelayan ikut bergabung. Sehingga kanggotaannya menjadi 23  orang. Sampai saat  ketika koperasi mulai jalan dan merintis usaha, tertinggal 19 anggota. Mereka ini yang  bertahan dan mendapatkan hasil dari  Sisa Hasil Usaha (SHU) koperasi  saat RAT digelar Kamis (9/3/2023) untuk yang pertama kalinya.  

Armada tangkap nelayan Jambula

Lantas usaha apa yang mereka rintis saat ini? Usaha yang sudah aktif saat ini yaitu jual beli ikan tuna, penjualan bbm serta oli. Adanya koperasi sebenarnya telah banyak memberikan manfaat bagi anggota.   Di mana peran istri nelayan sebagai pengelola usaha  akan mendapatkan fee setiap bulannya. Memudahkan anggota dalam mendapatkan BBM dan oli sebagai salah satu kebutuhan pokok untuk melaut sehingga mengurangi biaya operasional.  Selain itu juga koperasi Bubula Ma cahaya menerima ikan dari luar anggota.

Di dalam koperasi ini sudah diatur beberapa jenis bisnis termasuk jenis sembako  dan alat tangkap. Saat ini  baru dijalankan  sebagian. Koperasi ini  melihat  peluang jual beli ikan,  oli bbm untuk nelayan.  Untuk jangka panjang tentu ada strategi menghimpun nelayan dari luar untuk   pengembangan usahanya. Tentu dengan tujuan meningkatkan  kesejahteraan  nelayan.

Harapan ke depan koperasi mampu mengembangkan usaha yang saat ini dijalankan serta memberdayakan istri- nelayan dengan membuat produk turunan ikan seperti abon ikan, sambal ikan. Setelah ada RAT dan pembagian SHU ini, berupaya melakukan promosi  produk turunan ikan mereka seperti abon  bisa dikenal.

Pengukuran ikan tuna milik nelayan jambula oleh enumerator MDPI, foto MDPI (1)

“Tujuan terbentuknya koperasi ini yaitu meningkatkan kesejahteraan anggota, memudahkan akses penjualan ikan khususnya sehingga mampu mengurangi biaya operasional bagi anggota koperasi,” jelasnya. Koperasi yang saat ini beranggotakan  19  orang   diketaui oleh Rahman Rasid, Rahmat Samad selaku Sekretaris, Lili Bendahara dan Gafur Kaboli selaku koordinator pengawas dan beberapa pengawasnya itu, diharapkan  juga menjaga kekompakan dan keterbukaan jangan sampai  tersendat.   

“Kita berharap semua anggota dan pengurus merasa memiliki kepedulian kejujuran dan bekerja sama. Sebab jika tidak bekerjasama  maka percuma  saja.   Kalau  ada rasa  memiliki   berarti  koperasi ini akan berkembang,” ujar Gafur. 

Harapan juga ke pemerintah Kota Ternate ikut membantu pengembangan koperasi ini demi nelayan yang sejahtera. “Mungkin karena koperasi kita ini baru yang belum dikenal sehingga itu  ke depan  diharapkan  juga ada perhatian dari pemerintah kota Ternate.  Kita sudah masukan proposal dan dijanjikan akan dibantu.  Kita juga sudah dibantu satu timbangan  ikan  dari Dinas Koperasi. Semoga ke depan ada perhatian lagi untuk koperasi ini,” jelasnya. Apalagi pihak Dinas Koperasi sudah menyampaikan koperasi ini akan jadi percontohan koperasi nelayan di   Kota Ternate Selatan. Kehadiran koperasi ini turut memberi rasa bangga kepada DKP Kota Ternate  karena  sudah merintis usaha dalam bentuk koperasi yang memokuskan pada usaha nelayan kecil. Seperti   disampaikan Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Ternate Faisal H Dano Husein yang hadir dalam RAT tersebut.

#Makin Tahu Indonesia

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kebijakan Donald Trump Berdampak ke Maluku Utara

    • calendar_month Jum, 7 Feb 2025
    • account_circle
    • visibility 917
    • 0Komentar

    Program USAID BerIKAN Terancam Ditutup Terpilihnya Presiden Amerika Serikat yang baru  Donald Trump  memberi dampak bagi  pemberian donor bagi sejumlah Negara di dunia termasuk Indonesia. Bahkan dampaknya sampai ke Maluku Utara.  Salah satu yang  ikut berdampak dari kebijakan Donald Trump itu adalah  closing program  Badan Pembangunan Internasional Amerika Serikat atau  yang dikenal dengan USAID.  Lembaga […]

  • Indonesia Petakan Kembali Mangrove untuk Karbon Biru

    • calendar_month Sel, 24 Jul 2018
    • account_circle
    • visibility 675
    • 0Komentar

    Pemetaan kondisi terkini kawasan ekosistem mangrove, padang lamun (seagrass), dan kawasan pesisir di Indonesia diharapkan sudah ada pada 2019 mendatang. Proses mengungkap data terbaru itu, akan dilakukan oleh Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dengan menggandeng Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN). (Mongabay.co.id http://www.mongabay.co.id/2018/07/19/indonesia-petakan-kembali-mangrove-untuk-karbon-biru/) Kebutuhan pemetaan data terbaru itu, menurut Deputi IV Bidang SDM, Iptek, dan […]

  • Birokrasi Tahan Dana Iklim, Masyarakat Adat dan Kampong Hanya Terima Sekira 10 Persen

    Birokrasi Tahan Dana Iklim, Masyarakat Adat dan Kampong Hanya Terima Sekira 10 Persen

    • calendar_month Sen, 1 Des 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 657
    • 0Komentar

    Ironi pendanaan iklim kembali mengemuka bersamaan dengan Konferensi Iklim COP 30 di Brasil. Penelitian International Institute for Environment and Development (IIED) menemukan hanya kurang dari 10 persen dana iklim global yang benar-benar sampai ke kampung-kampung dan Masyarakat Adat. Dikutip dari   Berita | SIEJ – COP30 – BELEM, BRAZIL dari total US$17,4 miliar yang disetujui untuk proyek […]

  • Koalisi CSO dan Masyarakat Sipil Kawal RUU Masyarakat Adat

    • calendar_month Kam, 10 Sep 2020
    • account_circle
    • visibility 718
    • 0Komentar

    Masyarakat Adat Tobelo Dalam di Hutan Halmahera Benteng Terakhir Hutan Halmahera foto Opan Jacky Polhut TNAL

  • Wetub: Korporasi dan Negara Bungkam Suara Kritis Warga Adat

    • calendar_month Rab, 8 Okt 2025
    • account_circle
    • visibility 709
    • 0Komentar

    Jaksa Pakai UU Minerba Tuntut 11 Warga Maba Sangaji Jalan panjang 11 warga adat Maba Sangaji Kabupaten Halmahera Timur mencari keadilan  belum juga usai.  Proses  tersebut semakin menunjukan bentuk ketidakadilan Negara terhadap warganya. Di saat  tidak ditemukan bukti- bukti yang kuat dalam keterlibatan warga melakukan  perbuatan pidana,  penegak hukum menggunakan  berbagai regulasi  untuk menjerat warga […]

  • Ada 3 Spesies Baru Ditemukan Pada 2023

    • calendar_month Rab, 6 Sep 2023
    • account_circle
    • visibility 892
    • 1Komentar

    Sejak 2021 -2023 Ada 90 Spesies TSL Baru Berdasarkan hasil eksplorasi BRIN dan KLHK, lebih dari 90  jenis spesies baru telah ditemukan dalam kurun waktu tahun 2021-2023. Berbagai spesies baru tumbuhan dan satwa liar (TSL) telah banyak ditemukan, baik di dalam kawasan konservasi maupun di luar kawasan hutan. Rilis yang dikeluarkan oleh Kementeruan Lingkungan Hidup […]

expand_less