Breaking News
light_mode
Beranda » Serba-serbi » Maluku Utara Alami Kemarau yang Tetap Basah

Maluku Utara Alami Kemarau yang Tetap Basah

  • account_circle
  • calendar_month Sel, 11 Jul 2023
  • visibility 948

Menurut Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika  (BMKG) Republik Indonesia,  pada  April  hingga September biasanya terjadi musim kemarau. Meskipun  saat ini Indonesia  memasuki musim kemarau, namun hamper setiap hari diwarnai oleh hujan  ringan sampai lebat.

BMKG Stasiun Meteorologi  Ternate misalnya,   bahkan memberi warning  kepada masyarakat di sejumlah wilayah di Maluku Utara untuk tetap waspada dengan adanya hujan ringan hingga lebat diseratai petir dan angin kencang. “BMKG mengingatkan masyarakat mewaspadai  adanya potensi hujan sedang  hingga lebat disertai petir dan angin kencang  di wilayah Pulau Kasiruta, Labuha Pulau Bacan, Pulau Obi dan sekitarnya di Halmahera Selatan,” demikia peringatan BMKG melalui webisitenya Selasa 11/7/2023).

Lalu apa sebenarnya yang menyebabkan hingga saat musim kemarau terjadi, tetapi  hujan masih tetap terjadi?

Peneliti klimatologi di Pusat Iklim dan Atmosfer Badan Riset dan Inovasi Nasional atau BRIN di Bandung, Erma Yulihastin mengatakan, Indonesia saat ini tengah mengalami musim kemarau basah. Kejadian itu bersamaan dengan menguatnya fase El Nino atau kondisi yang bisa menyebabkan kemarau semakin panjang dan kering.  “Inilah yang terjadi di Indonesia saat ini,” ujarnya Jumat, 7 Juli 2023 seperti dirilis hamper semua media di Indonesia.

Menurutnya, unsur ketidakpastian dan iregularitas yang semakin tinggi membuat dinamika atmosfer semakin acak mempengaruhi cuaca dan membuat  musim tidak menentu. Di musim yang biasanya kemarau saat ini,  namun faktanya masih sering terjadi hujan di berbagai wilayah di Indonesia.   “Bahkan berdampak pada kejadian banjir di berbagai wilayah di Sumatra beberapa hari ini,” kata dia.

Erma mengatakan kemarau basah yang terjadi pada 2023 dipicu oleh beberapa faktor, seperti dinamika vorteks atau pusaran angin secara luas di Samudra Hindia sekitar ekuator dekat Sumatra. Kondisi itu membuat anomali angin barat sehingga kelembaban dikirim dari Samudra Hindia menuju wilayah Indonesia.

Suhu permukaan laut yang menghangat di Samudra Hindia dan Laut Jawa, memusatkan awan-awan konvektif sehingga pergerakan hujan dari Sumatra juga dapat menuju ke wilayah Jawa dan Kalimantan.

Kemudian, ada interaksi atmosfer dengan laut yang kuat sehingga sistem konveksi yang terbentuk di atas Laut Jawa dan selat Karimata dekat Bangka Belitung mengalami multiplikasi. “Kondisi itu membuat hujan dari laut menjalar ke darat,” katanya.

Selama ini indeks untuk El Nino menurut Erma, hanya dibuat dengan mempertimbangkan kondisi di wilayah Samudra Pasifik ekuator. “Tanpa memasukkan wilayah di dekat Papua sebagai indikator yang lebih mewakili efektivitas dampak El Nino,” ujarnya. Suhu muka laut dekat Papua seperti juga di Samudra Pasifik kondisinya kini masih tergolong hangat. Akibatnya awan dan hujan masih banyak terbentuk di timur Indonesia.

Erma mengatakan, variasi suhu muka laut di perairan Indonesia semakin tinggi secara spasial sehingga sudah saatnya diciptakan indeks baru yang lebih representatif dan menjadi acuan untuk memahami kondisi cuaca dan iklim di Indonesia. Tim Variabilitas, Perubahan Iklim dan Awal Musim BRIN, telah membuat indeks baru untuk suhu muka laut di Samudra Hindia sektor Sumatra-Jawa dan perairan Banda.

Kondisi di wilayah itu dinilai sebagai indikator yang dapat menunjukkan peluang pembentukan awan dan hujan di Indonesia. Riset sebelumnya kata Erma, membuktikan kemarau basah lebih dipengaruhi oleh suhu muka laut di dua sektor tersebut. “Kemarau basah saat El Nino kuat tercatat baru pertama kalinya terjadi sejak 2001 di Indonesia berdasarkan dokumentasi riset kami di BRIN.”

Diolah dari berbagai sumber.   

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Gaungkan Perikanan Berkelanjutan Melalui Jurnalisme   

    • calendar_month Jum, 6 Des 2024
    • account_circle
    • visibility 968
    • 0Komentar

    Perikanan berkelanjutan menjadi salah satu isu penting sekarang dan di masa depan. Hal ini juga  berhubungan dengan masalah pangan dari kelautan. Terutama ketersediaan ikan  yang saat ini menghadapi berbagai  masalah. Dari penangkapan yang bersifat destruktif,  budidaya dan perlindungan  untuk  generasi di masa depan. Hal ini juga menjadi salah satu tema penting dari Green Press Community […]

  • Akibat Tambang Nikel, Pesisir dan Sawah di Halmahera Timur Tercemar

    Akibat Tambang Nikel, Pesisir dan Sawah di Halmahera Timur Tercemar

    • calendar_month Sel, 2 Des 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 818
    • 0Komentar
  • Ingatkan Warga Kota Ternate Hemat, Jaga dan Rawat Air

    • calendar_month Sab, 18 Mar 2023
    • account_circle
    • visibility 640
    • 0Komentar

    Kampanye Jalanan Komuntas Save Ake Gaale Ternate Hari Air Sedunia atau World Water Day yang diperingati warga dunia pada 23 Maret setiap tahun, selalu diperingati juga kelompok masyarakat di Kelurahan Sangaji Kota Ternate Utara, terutama mereka yang berada di kawasan sumber mata air Ake Gaale.   Ada beragam cara dilakukan. Salah satunya sebelum masuk puncak […]

  • Pemkot Ternate akan Bangun Pusat Studi dan Riset Rempah

    • calendar_month Rab, 15 Jun 2022
    • account_circle
    • visibility 869
    • 1Komentar

    Bentang Artefak sejarah tentang kejayaan rempah di masanya/ foto istimewa

  • Hidup Rakyat Makin Sesak, Greenpeace Desak Pemerintah Serius Tangani Krisis Iklim

    Hidup Rakyat Makin Sesak, Greenpeace Desak Pemerintah Serius Tangani Krisis Iklim

    • calendar_month Sel, 20 Okt 2026
    • account_circle Redaksi
    • visibility 91
    • 0Komentar

    Berbagai bencana yang dipicu krisis iklim mewarnai dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran. Mulai dari banjir bandang yang melanda Sumatera, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang memicu kabut asap berkepanjangan, hingga cuaca ekstrem yang mengancam kehidupan masyarakat. Jutaan warga harus berjuang menghadapi dampak krisis iklim yang kian nyata, sementara biaya hidup terus meningkat. Riset teranyar Greenpeace Indonesia, […]

  • Kebijakan Donald Trump Berdampak ke Maluku Utara

    • calendar_month Jum, 7 Feb 2025
    • account_circle
    • visibility 917
    • 0Komentar

    Program USAID BerIKAN Terancam Ditutup Terpilihnya Presiden Amerika Serikat yang baru  Donald Trump  memberi dampak bagi  pemberian donor bagi sejumlah Negara di dunia termasuk Indonesia. Bahkan dampaknya sampai ke Maluku Utara.  Salah satu yang  ikut berdampak dari kebijakan Donald Trump itu adalah  closing program  Badan Pembangunan Internasional Amerika Serikat atau  yang dikenal dengan USAID.  Lembaga […]

expand_less