Breaking News
light_mode
Beranda » Kabar Kampung » Buat Minyak Kelapa Kampong, Lawan Ketergantungan

Buat Minyak Kelapa Kampong, Lawan Ketergantungan

  • account_circle
  • calendar_month Sel, 29 Sep 2020
  • visibility 873

Cerita Usaha Ibu- ibu dari  Samo Halmahera Selatan

Pagi  di awal Agutus  lalu itu  masih gelap. Bulu kuduk juga belum kelihatan. Ketika melihat catatan waktu di hand phone  baru menunjukan pukul 5.40 WIT.  Meski masih pagi buta puluhan ibu  asal desa Samo Kecamatan Gane Barat Utara Halmahera Selatan itu sudah rame  di  belakang rumah ibu Jena Abas (65) tahun.

Aksi ibu-ibu ini  dikira ada aktivitas pasar di pagi hari. Ternyata itu adalah sebuah  tradisi  di kampong yang dilestarikan sejak dulu. Yakni baku ambe tangan saling membantu membuat minyak kelapa secara tradisional. Tradisi “baku ambe tangan” atau baku bantu membuat minyak kelapa ini dipupuk sejak dulu. Mereka saling membantu  meremas  kelapa parut  untuk menghasikan  santan kelapa yang kemudian diolah menjadi minyak kelapa.

Pagi itu Ibu Jena memarut 400 buah kelapa atau orang kampong menyebutnya 100 ngele. Istilah ngele sendiri memiliki makan satu gandeng kelapa   di mana setiap gandengnya  ada  4 buah. Artinya jika 100 ngele berarti ada 400 buah kelapa yang diolah pada hari itu. 

Sebagian ibu ibu bekerja memarut kelapa/foto ViraDB

Para ibu ini ada sebagian memarut daging kelapa yang telah dilepas tempurungnya. Ada juga  yang   menyiapkan air lalu dicampur ke dalam daging kelapa yang telah diparut kemudia diremas  menghasilkan  santan.  Santan kelapa ini kemudian didiamkan  dalam wadah drum plastic selama hamper 24 jam. Jika sudah didiamkan  esok paginya mereka tinggal mengambil minyak kelapa yang sudah muncul,  kemudian dimasak lagi  hingga matang. Jika  sudah matang sudah bisa digunakan untuk kebutuhan sehari-hari.  

Di dalam 400 buah kelapa ini  mereka bisa mendapatkan 40 liter minyak kelapa. Sementara hasil minyak sebanyak ini bisa digunakan dalam waktu cukup lama 3 atau 4 bulan.  Tidak hanya untuk konsumsi sehari-hari minyak kelapa ini  juga sering dijadikan  buah tangan atau oleh- oleh  untuk keluarga dan sahabat.

Proses yang dilakukan ibu-ibu ini terbilang sederhana tetapi membutuhkan waktu yang agak lama karena mereka harus  menunggu sehari agar bisa mendapatkan   minyak kelapa. Meski sebenarnya ada cara yang cukup sederhana  dan bisa mendapatkan minyak kelapa dalam waktu cepat. Namun selama ini kebiasaan warga mendapatkan minyak harus didiamkan  cukup lama. Warga desa ini ternyata belum memiliki pengetahuan bagaiamana membuat minyak kelapa yang cepat. “Ini cara tradisional yang torang (kami,red) bikin tidak ada campuran apa pun,” ujar Norma Husen salah satu anggota kelompok pembuat minyak kelapa kampong. Dia mengaku kalau mereka tahu ada cara pembuatan yang lebih cepat maka  akan   dibuat dengan proses yang lebih cepat. ”Kami belum tahu prosesnya jadi kami tetap bertahan dengan apa yang sudah dilakukan oleh orang tua turun temurun,”katanya.

Daging kelapa yang sudah dibersihkan tempurungnya dan siap diparut/foto ViraDB

Gerakan baku ambe  tangan sekarang ini tidak dilakukan  secara sendiri sendiri . Pasalnya mereka telah membentuk kelompok ibu –ibu pengrajin minyak kelapa.  Saat ini telah terbentuk 8 kelompok pembuatan minyak kelapa kampong. Kelompok ini mengolah buah kelapa menjadi minyak dan selanjutnya dijual ke pasar. Kelompok ini terbentuk setelah mendapatkan pendampingan dari Perkumpulan PakaTiva salah satu LSM local di Maluku Utara yang focus pada isu literasi budaya dan ekologi. Lembaga ini membantu mereka membentuk kelompok ibu-ibu dan memasarkan   produksi minyak kelapa yang dihasilkan.” Hampir setiap bulan kami kirimkan produk minyak kelapa ke Ternate. Rata rata  125  liter minyak kelapa murni  setiap bulan. Setiap liternya dijual dengan harga Rp25 ribu. Sementara    penjualannya  menggunakan gallon ukuran lima liter dengan harga Rp125 ribu. Usaha ini sudah berjalan  satu tahun belakangan ini. “Hasil dari kelompok pembuatan minyak kelapa ini selain dikonsumsi juga dijual. Disyukuri karena dari setiap anggota kelompok  bisa mendapatkan uang hasil penjualan minyak kelapa,” jelas Norma. Ada kelompok yang menyimpan  uang dari hasil penjualan minyak tersebut. Uang yang disimpan itu nanti bisa dibagi rata jika sudah memasuki momen puasa Ramadan untuk dibelikan kebutuhan lain  disaat menjalankan ibadah puasa.

ibu ibu desa Gumira juga sudah mulai mengembangkan pembuatan minyak kelapa/foto ViraDb

Tradisi “baku ambe tangan” atau gotong royong  membuat minyak ini dilakukan  hamper setiap saat. Apalagi jelang  puasa dan hari   lebaran  idul fitri. Aktivitas ini berlangsung hamper setiap hari. Kegiatan ini dilakukan untuk menyiapkan minyak kelapa yang digunakan nanti saat puasa dan lebaran.Karena kebiasaan ini maka ketika dibentuk kelompok pembuatan minyak kelapa, mereka   sudah terbiasa.

Hadirnya kelompok  pembuatan minyak kelapa ini sedikit banyak dapat mengurangi ketergantungan mereka pada minyak kelapa curah yang  dihasilkan dari pabrik  minyak kelapa sawit. Di Samo misalnya beberapa tahun sebelumnya para pedagang membeli minyak curah di Ternate dan dijual ke desa Samo tetapi sekarang perlahan lahan  sudah  dikurangi.  

Daeng Mustafa pemilik usaha barang kebutuhan pokok di   Desa Samo mengaku, sebelum ada gerakan ini warga selalu membeli minyak curah. Karena itu setiap bulan dia datangkan 2 gallon minyak sawit berkapasitas 60 liter. Namun sejak adanya gerakan pembuatan minyak kelapa ini konsumsi minyak kelapa curah  menjadi sangat berkurang. “Sekarang saya hentikan jual minyak kelapa  curah karena semakin kurang peminatnya,” ujar Daeng Mustafa.

Dikrektur PakaTiva Faisal Ratuela mengungkapkan dari pendampingan yang dilakukan untuk pembuatan minyak kelapa ini   sebenarnya  ada banyak manfaat yang dapat dipetiik. Tidak hanya  sebagai bentuk memenuhi kebutuhan hidup sehari hari tetapi juga ada nilai social dan tradisi yang terus dilestarikan.  Dari sisi social gerakan ini  membangun  solidaritas social yang  belakangan mulai terkikis oleh budaya  dan tradisi luar. Di tengah serbuan budaya  luar yang menggeser tradisi local sebenarnya ini menjadi wahana untuk menghidupkan tradisi  masyarakat local dengan memanfaatkan potensi yang dimiliki. “Kita punya potensi kelapa yang melimpah. Sementara  jika hanya mengandalkan kopra yang   masih  rendah  saat ini  maka  petani akan terus terpuruk.

Hasil produk minyak kelapa samo yang dimasak ibu ibu di kampung/fotoViraDB

Pembuatan minyak kelapa oleh kelompok ini  hanyalah bagian kecil dari upaya mendorong masyarakat  memanfaatkan kelapa menambah modal kebutuhan belanja mereka. Selain itu yang tidak bisa dilepaspisahkan adalah  adanya   hubungan social dari aktivitas ini,” jelasnya.

Untuk mengembangkan hasil kelapa selain kopra, ada pengembangan dalam pembuatan minyak kelapa. Misalnya pembuatan VCO maupun  pembuatan arang tempurung. “Untuk dua produk turunan ini kami sudah  membuat   pelatihan  untuk warga tidak hanya di desa Samo tetapi juga di dua desa lainnya di Gane Barat Utara yakni Gumira dan Posi-posi. Selain menambah produk kelapa juga menananm tanaman sayur mayor.   Dia juga mengatakan, PakaTiva mengambil produk minyak kelapa warga ini dan dipasarkan kepada jaringan-jaringan yang ada di Ternate dan sekitarnya. Upaya ini dilakukan untuk membantu masyarakat petani kelapa yang kehidupannya terpuruk akibat harga kopra yang anjok. Pengembangan usaha ini sebagai bagian dari mengajak warga untuk  tidak hanya bergantung kepada kopra  tetapi juga melakukan diversifikasi produk terutama  mengolah bahan yang selama ini hanya  jadi sampah kelapa.Usaha yang didorong PakaTiva saat ini tidak hanya di desa Samo tetapi juga ke desa lainnya sepeti Posi-posi dan Gumira. Kegatan ini sudah berlangsung beberapa bulan belakangan ini. “Kami sekarang sudah fokus ke beberapa desa sekitarnya yang melimpah hasil kelapa mereka,” jelas Faisal. (*)

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Potensi Laut Malut Besar Tapi Minim Perhatian

    • calendar_month Sel, 18 Mar 2025
    • account_circle
    • visibility 1.494
    • 0Komentar

    Perairan Maluku Utara terbilang paling potensial.  Wilayah lautnya   bersinggungan langsung dengan empat Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia (WPPNRI). Keempatnya adalah  WPPNRI 714 (meliputi perairan Teluk Tolo dan Laut Banda), 715 (perairan Teluk Tomini, Laut Maluku, Laut Halmahera, Laut Seram, dan Teluk Berau), 716 (Perairan Laut Sulawesi dan sebelah utara Pulau Halmahera), dan 717 (Perairan […]

  • Nestapa Orang Obi di Atas Kekayaan Alam Berlimpah

    • calendar_month Ming, 1 Jun 2025
    • account_circle
    • visibility 5.699
    • 1Komentar

    Hutan dan Bumi Dikuras, Jalan Keliling Pulau pun Tak Punya  Perjalanan menuju Obi awal Mei 2025 lalu lumayan melelahkan. Setelah semalam atau kurang lebih 7 jam   perjalanan dengan kapal laut dari Ternate, sekira pukul 06.30 WIT, kapal  lego sauh di pelabuhan Kupal Pulau Bacan Halmahera Selatan Maluku Utara.  Etape pertama perjalanan telah dilewati, sekaligus menandai  […]

  • Maluku Utara Kaya Rempah, Minim Pangan Fungsional

    • calendar_month Rab, 12 Agu 2020
    • account_circle
    • visibility 3.060
    • 0Komentar

    Maluku Utara yang terhampar pulau-pulaunya,memiliki kekayaan pangan local dan rempah  Terutama  pala dan cengkih. Kekayaan ini bahkan tercatat dalam sejarah sebagai barang buruan bangsa Eropa di masa lalu.  Sejarawan Maluku Utara (alm) M Adnan Amal Tomagola dalam risetnya berjudul Portugis dan Spanyol di Maluku (2009) mengupas tentang kehadiran dua bangsa ini  berebut rempah. Mereka  datang […]

  • Sungai Sagea Nasibmu Kini, Keruh Belum Usai   

    • calendar_month Rab, 6 Sep 2023
    • account_circle
    • visibility 2.653
    • 2Komentar

    6 September 2023 “Emas Coklat” Mengalir Sampai Jauh Kuning kecoklatan air sungai Sagea dan kawasan sungai Boki Moruru di Desa Sagea Weda Halmahera Tengah Maluku Utara, yang ditengarai terjadi sejak April 2023 lalu belum juga usai. Informasi yang dihimpun kabarpulau.co.id/ dari lapangan  Selasa pagi, air sungai Sagea kembali keruh setelah sempat bersih beberapa hari.   […]

  • Masyarakat Sipil Persoalkan Hilirisasi Nikel di Malut

    Masyarakat Sipil Persoalkan Hilirisasi Nikel di Malut

    • calendar_month Sen, 29 Jan 2024
    • account_circle
    • visibility 881
    • 1Komentar

    Berdampak Terhadap Lingkungan Hidup dan Manusia    Program   “hilirisasi” mengemuka dalam debat keempat pemilihan presiden (Pilpres) 2024, untuk calon presiden wakil presiden (Cawapres)  pada  Ahad, 21 Januari 2024 di lalu Jakarta. Cawapres Gibran Rakabuming Raka dari pasangan Calon Presiden (Capres) Prabowo Subianto mengucapkan kata hilirisasi sebanyak 12 kali.    Tidak hanya pasangan   Capres dan Cawapres […]

  • Perkuat Ketahanan Masyarakat Pesisir,  MDPI Gelar Festival Kesehatan dan Pelatihan Keselamatan di Pulau Buru

    Perkuat Ketahanan Masyarakat Pesisir, MDPI Gelar Festival Kesehatan dan Pelatihan Keselamatan di Pulau Buru

    • calendar_month Ming, 12 Apr 2026
    • account_circle Redaksi
    • visibility 374
    • 0Komentar

    Kesehatan dan keselamatan nelayan menjadi semakin penting. Di tengah tingginya risiko kerja yang dihadapi saat melaut. Bagi keluarga nelayan, akses terhadap layanan kesehatan preventif yang rutin dan dekat dengan aktivitas sehari-hari menjadi kebutuhan mendasar dalam menjaga produktivitas dan keselamatan. Masyarakat dan Perikanan Indonesia (MDPI) memandang bahwa kesehatan dan keselamatan nelayan merupakan fondasi penting dalam membangun […]

expand_less