Breaking News
light_mode
Beranda » Serba-serbi » Pulau Mitita Surganya Hiu Sirip Hitam

Pulau Mitita Surganya Hiu Sirip Hitam

  • account_circle
  • calendar_month Sen, 1 Nov 2021
  • visibility 597

Kabupaten Pulau Morotai memiliki 33 pulau kecil yang mengelilinginya. Pulau yang tidak berpenghuni berjumlah 26  dan yang berpenghuni   7 pulau. Pulau  yang berpenghuni adalah pulau Morotai (main island), pulau Kolorai, pulau Ngele-ngele kecil, pulau Ngele-ngele besar pulau Golo-golo, pulau Rao, dan pulau Saminyamau.

Tahun 2014, Presiden Jokowi menetapkan Pulau Morotai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata lewat Peraturan Pemerintah No. 50 Tahun 2014. Setelah itu, pada 2016 Pulau Morotai ditetapkan sebagai salah satu dari 10 destinasi wisata utama di Indonesia untuk jadi 10 ‘Bali Baru’.  

Penetapan itu bukan tanpa alasan, karena  punya banyak sekali peninggalan sejarah setelah Perang Dunia II. Pulau Morotai tak hanya punya keindahan alam lautnya, tapi juga kekayaan sejarahnya.

Semua pulau di Morotai memiliki potensi sumberdaya alam laut dan darat yang luar  biasa terutama  potensi perikanan dan pariwisata. Dari 27 pulau yang tidak berpenghuni itu salah satunya adalah pulau Mitita   di bagian selatan Pulau Morotai.  Pulau ini memiliki kekayaan wisata laut luar biasa. Dari 28 spot diving di Morotai satu di antaranya ada di Mitita.  Mitita memiliki luas 482,03 hektar. Pulau berpasir putih ini menyimpan  keindahan luar biasa baik pantai maupun bawah lautnya.

Untuk kondisi bawah lautnya, pulau dengan kekayaan sumber daya hayati penting ini masuk dalam sub zona rehabilitasi karang. Mitita  juga  masuk   dalam kawasan konservasi laut Pulau Rao Tanjung Dehegila yang saat ini sedang dilakukan pemulihan terumbu karang.    

Perairan Morotai di Maluku Utara masih memiliki kesehatan ekosistem terumbu karang yang baik. Ini ditunjukkan dengan kehadiran ikan hiu sirip hitam (black tip) dalam penyelaman di beberapa titik selamnya.  Setiap ada penyelam yang masuk ke spot ini dan memberi makan kelompok ikan hiu sirip hitam menyambut penyelam di perairan Pulau Mitita.   

Ikan hiu sirip hitam (black tip) tak canggung berdekatan dengan penyelam, di Pulai Mitita

KKP Pulau Rao yang telah dibentuk sejak 2012.  seluas 330 hektar diperluas menjadi 58.011 ha terdiri ekosistem terumbu karang, mangrove, dan tempat bersarang penyu.

Tidak semua orang mengenal indahnya Pulau Mitita. Pulau ini menawarkan alam indah dengan pantai yang  menawan.  Ada banyak jenis ikan seperti Manta Rays, Hiu, dan masih banyak lagi.  Di Pulau ini juga bisa menyaksikan atau mengamati burung, menyelam, dan snorkeling.  Pengunjung bisa menikmati sinar matahari yang hangat di dermaga kecil atau pantai.   

Mitita juga memiliki pantai yang indah dengan pasir putih. Meski begitu, daya tarik terbaik adalah kehidupan bawah lautnya yang beragam. Ada banyak ikan dan karang. Ikan kecil dan besar tinggal di sini. Penyelam bahkan bisa menemukan Manta Rays yang megah di beberapa tempat menyelam.    

Keindahan Pulau Mitita bisa menggoda semua orang. Lebih baik mengutamakan keamanan. Snorkeling sangat cocok untuk pemula. Bagi yang menyukai tantangan, diving yang dalam patut dicoba. Ada kesempatan melihat lebih banyak makhluk laut.(*)  

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Di Mare akan Dikembangkan Jambu Mente

    • calendar_month Kam, 8 Nov 2018
    • account_circle
    • visibility 474
    • 0Komentar

    Pulau Mare Tidore Kepulauan  yang  menjadi pusat gerabah di Maluku Utara,   segera dikembangkan menjadi pusat produksi jambu mente di  Maluku Utara. Pihak Kantor Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Ternate- Tidore    berencana mengembangkan lahan hutan lindung  di  Pulau Mare ini dengan tanaman jambu mente.  Data  Kesatuan Pengelolaan   Hutan (KPH) Ternate-Tidore  menunjukan dari luas hutan lindung Pulau Mare […]

  • Dari Mana Kenari Makean Berasal ?

    • calendar_month Kam, 3 Des 2020
    • account_circle
    • visibility 909
    • 0Komentar

    Isi kenari yang ditelah dipisahka dari cankangnya/ foto mahmud Ichi

  • Masyarakat Sipil Persoalkan Hilirisasi Nikel di Malut

    Masyarakat Sipil Persoalkan Hilirisasi Nikel di Malut

    • calendar_month Sen, 29 Jan 2024
    • account_circle
    • visibility 491
    • 1Komentar

    Berdampak Terhadap Lingkungan Hidup dan Manusia    Program   “hilirisasi” mengemuka dalam debat keempat pemilihan presiden (Pilpres) 2024, untuk calon presiden wakil presiden (Cawapres)  pada  Ahad, 21 Januari 2024 di lalu Jakarta. Cawapres Gibran Rakabuming Raka dari pasangan Calon Presiden (Capres) Prabowo Subianto mengucapkan kata hilirisasi sebanyak 12 kali.    Tidak hanya pasangan   Capres dan Cawapres […]

  • Kejar Kualitas Riset, LIPI-Unkhair Jalin Kerjasama

    • calendar_month Rab, 9 Jun 2021
    • account_circle
    • visibility 387
    • 1Komentar

    Untuk mendorong adanya riset yang berkualitas, hal yang utama dibutuhkan adalah adanya kerjasama  atau kolaborasi antarlembaga.  Hal inilah yang saat ini dilakukan Lembaga Ilmu Pengetahuan  Indonesia (LIPI)  dengan Universitas Khairun Ternate (Unkhair).  Kedua lembaha ini  menjalin Kerjasama untuk tujuan ke arah tersebut.  Kesepakatan kolaborasi tertuang dalam naskah perjanjian kerja sama antara Deputi Bidang Ilmu Kebumian […]

  • Mengangkat Kearifan Nelayan Ternate  Lewat Festival Nyao Fufu

    Mengangkat Kearifan Nelayan Ternate  Lewat Festival Nyao Fufu

    • calendar_month Rab, 8 Okt 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 395
    • 0Komentar

    Nyao fufu adalah salah satu tradisi memasak atau mengawetkan ikan yang dilakukan  warga Ternate dan Maluku Utara secara turun temurun. Kelurahan Dufa-dufa sebagai salah satu kampong/kelurahan nelayan di Kota Ternate  melestarikan tradisi nyao   fufu atau ikan asap  tidak  hanya untuk  konsumsi tetapi juga  usaha ekonomi produktif. Masyarakat di Pantai Dufa dufa juga turut menjaga dan […]

  • Kisah “Kampung Tua” Tifure di Pulau Batang Dua

    • calendar_month Kam, 17 Jun 2021
    • account_circle
    • visibility 744
    • 1Komentar

    Tifure (Kiri) Pulau Gurida (Kanan) Dulu warga yang berkebun di pulau Gurida dijangkau dengan jalan kaki. Kini seiring waktu karena naiknya permukaan air laut untuk menuju pulau Gurida harus menggunakan perahu. foto koleksi pribadi Asgar Saleh

expand_less