Breaking News
light_mode
Beranda » Kabar Kota Pulau » Cerita Warga Ibukota Malut Berjuang Dapatkan Air Bersih

Cerita Warga Ibukota Malut Berjuang Dapatkan Air Bersih

  • account_circle
  • calendar_month Sel, 4 Jan 2022
  • visibility 273

Dulu Jalan Kaki Berkilometer, Sekarang Air Masuk Dapur

Oleh: Abdul Gafur Suneth

Faskel Sosial Program KOTAKU Kota Tidore Kepulauan

Air menjadi sumber kehidupan manusia. Keberadaanya tidak bisa dipisahkan dari  aktivitas keseharian.  Hamper seluruh aspek kehidupan  selalu  berhubungan dengan air.  Air memang  begitu urgen bagi kehidupan. Sayang  tidak semua warga bisa mendapatkan air itu dengan mudah. Ada warga di sebagian wilayah atau tempat memperolehnya dengan susah payah. Mereka harus menempuh jarak berkilometer dengan medan sulit untuk mendapati satu atau dua gallon air.  

Acap kali  air yang layak menjadi topic pembicaraan berbagai kalangan. Pasalnya akibat kesulitan mendapatkan air bersih hidup juga menjadi  terganggu bahkan mempengaruhi aktivitas manusia.   

Saat ini banyak mucul persoalan   air bersih di  masyarakat. Selain sumber air yang sulit, ancaman tercemar juga banyak. Hal ini bisa saja disebabkan ulah manusia atau pun bencana alam. Dampaknya kemudian memunculkan krisis air di masyarakat.  

Hal yang sama juga  terjadi di Desa Gosale  Kecamatan Oba Utara Kota Tidore Kepulauan Provinsi Maluku Utara.  Desa   di bawah bukit Gosale tak jauh dari kawasan pusat pemerintahan Ibukota Sofifi Provinsi Maluku Utara di Pulau Halmahera itu, mengalami persoalan dengan  penyediaan air bersih bagi warganya. Desa ini menghadapi persoalan  ketersediaan air bersih selama ini hanya diharapkan dari sumur warga. Bahkan sebagian   menggunakan air sungai  yang dipikul  menggunakan gallon dengan jarak  tempuh lumayan jauh.  Masalah ini nampaknya  ada sejak mereka dipindahkan dari puncak Gosele  awal 2000 an lalu.

Beruntung desa  ini mendapatkan Program Kota Tanpa Kumuh ( KOTAKU). Dari program ini Desa Gosale mendapatkan  bantuan dana   bagi masyarakat  yang dikenal dengan  Bantuan Pendanaan untuk Masyarakat  (BPM).   Dari anggaran yang ada masyarakat lalu bersepakat menyelesaikan permaslahan yang ada. Selanjutnya dilakukan perencanaan partisipatif terutama Rencana Penataan Lingkungan Permukiman. 

Melalui musyawarah, akhirnya ditetapkan skala prioritas kegiatan melalui  Lembaga Keswadayaan Masyarakat (LKM) yang dibentuk di desa. Melalui lembaga ini bersama masyarakat bersepakat membangun sarana air bersih. Sarana itu  berupa Pengelolaan Air Sederhana (IPAS) melalui bak pembagi beserta pipanisasi sampai ke rumah warga. Memang awalnya untuk menghadirkan Pengeloaan Air Sederhana (PAS) ini menghadapi masalah. Sumber airnya berada jauh kurang lebih 2 kilometer dari desa  dan berada  di atas  gunung  serta di tengah hutan. Meski  kesulitan  akses dan jauhnya  sumber air,  demi menjawab kebutuhan air yang menjadi  salah satu sumber  kumuh   maka  tetap diusahakan hingga sumber air itu bisa dijangkau dan dialirkan.

Melalui usaha dan sumber pendanaan yang ada   dibangunlah  dua  bak penampung yang sangat besar hingga mampu menampung  dan mencukupi kebutuhan air warga. Anggaran yang di manfaatkan  untuk pembangunan tersebut sebesar  Rp 250,460  juta dan swadaya dari warga senilai Rp18,587 juta. Dari  penggunaan anggaran tersebut dibangunlah bangunan pendukung, pengelolaan air berbasis penyehatan sehingga   masyarakat  sudah  bisa menikmati air bersih hingga hari ini. Padahal sebelum adanya progam ini, warga setiap saat berbondong-bondong ke kali mengambil air. Kini kondisinya berubah air sudah bisa masuk sampai ke dapur warga.

Dikki Bedu salah satu warga yang juga rumahnya sudah teraliri air bersih  berujar,    program Kota Tanpa Kumuh di Desa Gosale setidaknya  telah membantu  6775 jiwa atau 165 KK warga Gosale  memenuhi kebutuhan akan air  bersih  sebagai  kebutuhan pokok. Dikki yang rumhanya berada tak jauh dari bak penampung air bersih itu mengatakan,  prasarana pengelolaan air bersih berbasis masyarakat ini, setidaknya sudah bisa dimanfaatkan  warga. Kebutuhan air sudah terpenuhi dan mereka bisa menikmati  air bersih.  Ini bagian dari  upaya  menuntaskan  persoalan kekemuhan desa  dari  aspek air bersih.  “Saat ini masyarakat bisa mengkonsumsi air kurang lebih  60 liter per hari untuk satu kepala keluaraga/kk.”jelasnya. 

Keberhasilan ini juga katanya, bukan  usaha satu pihak. Apa yang ada saat ini adalah upaya dan dukungan bersama serta adanya kolaborasi.  Pembangunan sarana air bersih   dalam   program KOTAKU  ini juga karena ada kerjasama dengan pemerintah  sehingga bisa menambah  sarana  maupun akses pipanisasi dengan sumber air yang  berada  jauh  dengan debit air  yang lebih besar. Hal ini memberikan kepuasan yang cukup.  “Ini semua karena ada kolaborasi antara program KOTAKU  dan Pemerintah Desa, serta Pemerintah Kota Tidore Kepulauan,” katanya di Desa Gosale (18/9/2021) lalu. (*) 

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • KKP akan Evaluasi Izin Pemanfaatan Ruang Laut

    • calendar_month Rab, 13 Mar 2024
    • account_circle
    • visibility 345
    • 1Komentar

    Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) memastikan akan terus melaksanakan mekanisme pengendalian pemanfaatan ruang laut sebagai bagian dari evaluasi terhadap semua perizinan pemanfaatan ruang laut yang sudah diterbitkan. Hal ini dilaksanakan guna mendorong terwujudnya tata ruang sesuai rencana tata ruang dan/atau rencana zonasi sebagai tindak lanjut dari diterbitkannya Keputusan Direktur Jenderal Pengelolaan Kelautan dan Ruang Laut […]

  • Kawal Demokrasi dan Konstitusi, KEPAL: Batalkan Omnibus Law

    • calendar_month Jum, 11 Jun 2021
    • account_circle
    • visibility 263
    • 1Komentar

    Aksi protes pengesahan Omnibus Lawa beberapa waktu lalu, foto Antara

  • Inggris Dukung Pendanaan Pengelolaan Kawasan Konservasi Perairan

    • calendar_month Ming, 2 Feb 2025
    • account_circle
    • visibility 367
    • 0Komentar

    Pengelolaan Kawasan Konservasi Perairan (KKP) mendapat dukungan penuh proses Pemerintah Negara Inggris. Dukungan itu diberikan melalui program Blue Planet Fund Country Plan yang merupakan dukungan pendanaan oleh Pemerintah Inggris untuk pengelolaan kawasan konservasi dan sumber daya alam perikanan secara berkelanjutan di Indonesia. Terkait KKP di Maluku Utara saat ini telah ditetapkan 6 kawasan konservasi yakni […]

  • Anak Muda Pulau Bacan Dorong Literasi, Konservasi dan Ekonomi

    • calendar_month Ming, 5 Okt 2025
    • account_circle
    • visibility 299
    • 0Komentar

    Bentuk Komunitas, Kampanye Lindungi  Satwa, Buat Perdes dan  Kelompok Tani Suasana di kawasan zero point pusat Kota Labuha Halmahera Selatan terlihat sibuk. Jumat (11/7/2025) siang  itu  sejumlah anak muda tengah menyiapkan acara pendukung kegiatan Merayakan Hari Keragaman Burung Indonesia  (MKBI) yang dilaksanakan  LSM Burung Indonesia.  Kegiatan ini  adalah bagian dari Festival Konservasi Satwa  Liar Maluku […]

  • Kawasan Segitiga Terumbu Karang  Didorong  Dapat  Pendanaan Berkelanjutan  

    • calendar_month Ming, 14 Sep 2025
    • account_circle
    • visibility 370
    • 0Komentar

    Sejumlah Negara termasuk Indonesia yang masuk kawasan segitiga terumbu karang dunia mendapat perhatian khusus. Perhatian itu salah satunya adalah dalam bentuk pendanaan berkelanjutan. Saat ini Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mendorong penguatan skema pendanaan berkelanjutan sebagai langkah strategis mencapai tujuan Regional Plan of Action (RPOA) 2.0 Coral  Triangle Initiative on Coral Reefs, […]

  • Nikmati Tiga Mata Air di Hutan Mangrove Gamtala

    • calendar_month Jum, 4 Jun 2021
    • account_circle
    • visibility 353
    • 1Komentar

    Para pengunjung menikmati kawasan wisata hutan mangrove Gamtala

expand_less