Breaking News
light_mode
Beranda » Kabar Kampung » Bangun Desa Harus Dimulai dari Tata Ruang

Bangun Desa Harus Dimulai dari Tata Ruang

  • account_circle
  • calendar_month Rab, 2 Des 2020
  • visibility 738

Perlu Paham Kerentanan dan Ketangguhan   

Sebuah desa yang  maju dan mandiri  tentu saja  harus memiliki perencanaan pembangunan yang baik. Sementara membuat perencanaan pembangunan desa yang baik, salah satu dokumen yang paling menentukan  adalah tata ruang desa yang lengkap. Tidak hanya dokumen tata ruang, tidak kalah pentingnya harus disiapkan desa  Sisitim Informasi Desa (SID)

Hal ini  mengemuka saat dua workshop  para kepala desa  dan staf  dalam Sekolah Transformasi Sosial (STS)  di Desa Samo 7 hingga 22 November lalu. Pemateri STS dari Insist Jogjakarta Ahmad Mahmudi, mengatakan  terkait pembuatan sistim informasi desa (SID)  merupakan sebuah kebutuhan mendesak. Pasalnya  desa akan berkembang jika terbuka dari sisi informasinya. Begitu juga rakyatnya tidak dintimidasi. “Keterbukaan informasi dan partisipasi warga sangat penting.  Desa tak akan maju  jika tanpa ada partisipasi,” jelasnya.

Gotong royong sebuah modal sosial desa yang perlahan mulai terkikis

Ada juga perlindungan bagi akses layanan dengan  memberikan layanan semudah mungkin bagi warga. Di sinilah  hak warga. Dalam menyusun perencanaan juga jangan hanya ceremony tetapi harus digali betul apa kebutuhan desa. Bicara soal perencanaan dan tata ruang desa, hampir semua desa belum punya tata ruang.

Lalu apa tujuan  pembuatan tata ruang desa itu?  Adanya tata ruang itu untuk mengetahui  zona rakyat berkumpul, zona pangan dan lain sebagainya. Jika ada tata ruang desa, akan menjaga desa dalam hal pembangunanya tertata dengan baik. Jika tidak ada tata desa,  pembangunan menjadi semrawut dan nanti akan mngancam desa.

Ada beberapa jangkar agar desa menjadi tangguh. Pertama  adalah ketersediaan  sumberdaya manusianya,  asset desanya,  sumberdaya social dan infrastruktur fisik.  Dari  semua hal ini   ada hal  yang  saat ini sudah  ada yang  mulai  hancur   dan yang tersisa   hanya ceremony. “Salah sayu contoh  sebagai modal social gotong royong  hanya ada dalam pidato,” jelas Mahmudi .

Padahal mengurus aset itu waktunya berkepanjangan. Contoh lainnya adalah asset desa. Desa desa di Jawa juga tidak ada lagi bank benih  atau bank pangan. Padahal  asset ini  atau fasilitas ini menjadi cadangan pangan.  Jika pernah diurus sayangnya,  yang mengurus hal seperti ini  hanya sesaat.  

Mengurus sumberdaya untuk kelangsungan hidup  juga tidak ada. Sebuah desa dikatakan  tangguh jika jangkar sosialnya kuat. Di mana  ada hal  diurus  bersama. Misalnya ada gudang pangan dan energi. Dulu  orang hamil  di suatu desa  jadi urusan masyarakat. Sekarang sudah hilang. Yang hilang adalah aset sosial bagaimana masyarakat saling mendidik. Berikutnya infrastruktur fisik misalnya  jalan, sarana pendidikan maupun infrastruktur komunikasi.   
Di desa saat ini  kapasitas sumberdaya ekonomi lebih pada uang. Karena memang  masyaralat desa hidup saat ini  di zaman pasar. Saat ini semua dikuasai oleh pasar. Karena itu desa juga harus hati-hati remiten masuk ke desa  karena  banyak  membawa  uang keluar. Padahal harusnya  uang banyak  yang banyak  uang itu mengalir ke desa  lalu  ditahan dan dibelikan alat produksi untuk agar menyedot lagi uang dari luar. Saat ini  yang terjadi uang hanya mampir saja di desa kemudian dia keluar lagi.  Hal itulah  maka pupuk  misalnya harus bikin sendiri  benih bikin sendiri.   Jika tidak, maka yang terjadi   petani bersedekah  kepada perusahaan.  Hal ini  terjadi di depan mata.

Hal- hal seperti ini tidak ada yang mengarahkan. Sekarang ini jika masyaralat semakin membeli   dianggap sebagai semakin baik. “Intinya jika rakyat tidak memproduksi maka rentan yang didapat,” jelasnya lagi.  Mestinya  alokasi dana desa harus ada pengembangan sumberdaya. Kalau tidak sumberdaya desa akan  lemah.

Untuk meningkatkan kuasa kelola  di desa  butuh   orang orang ahli  berada di desa.  Desa harus memiliki  lima jangkar desa tangguh yakni,  kapasitas asset, sumberaya alam, modal social, infrastruktur ekonomi dan manusianya. Indikator penilaian kuantitas dan kualitas keragaman hubungan antar SD (bauran) akses.  

Perkebunan sawit di Gane Halmahera Selatan salah satu ancaman ketangguhan desa /foto M Ichi

Ancaman terhadap ketangguhan masyarakat  adalah pada sumber sumber penghidupan.  Misalnya ancaman  bencana  alam berupa  bencana kekeringan  dan banjir.  Ini adalah  dampak perubahan iklim.  Menghadapi kondisi ini  hanya desa tangguh akan lebih  siap.

Ada juga tekanan penduduk yang luar biasa. Berikutnya kebijakan dan program dari bawah sampai pusat atau badan dunia. Kadang kebijakan yang diturunkan dari pusat juga menjadi ancaman. Maka pemerintah desa harus menganalisa kebijakan itu mengancam atau tidak. Tidak semua kebijakan itu mengancam atau tidak. Desa harus  kritis untuk  menelaah dampaknya bagi masyarakat.

Berikut konflik  sosial dan politik memberi dampak luar biasa. Karena itu semua berhubungan dengan konflik harus dikelola sebaik mungkin. “Yang perlu dipertanyakan  seberapa tangguh desa kita, lalu apa kerentanan  yang ada dalam desa kita,”kata Mahmudi.(*)  

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Sopik, Cara Orang Makean Tahane Jadikan Laut Sumber Keadilan

    • calendar_month Sel, 15 Des 2020
    • account_circle
    • visibility 1.094
    • 0Komentar

    Laut tidak hanya menyediakan sumber protein dan kekayaan lainnya bagi manusia. Dia juga menjadi pengadilan bagi sebagian orang di Tahane Pulau Makean/

  • Akademisi: Ancaman Ekosistem Halmahera Serius

    • calendar_month Sel, 9 Feb 2021
    • account_circle
    • visibility 1.007
    • 0Komentar

    Maluku Utara sebagai daerah kaya bahan mineral,   menjadi incaran investor asing. Baru baru ini pemerintah Provinsi Maluku Utara melalui Sekretaris Daerah Provinsi (Sekprov) Samsudin Abd Kadir menyampaikan bahwa investasi asing masuk ke Maluku Utara yang mengelola tambang, sudah menginvestasikan modalnya di atas 100 triliun. Angka ini dianggap sebagai sebuah keberhasilan menggenjot perekonomian Maluku Utara. Termasuk […]

  • Ikan Ngafi dan Udang yang Terus Menyusut di Kao Halmahera

    • calendar_month Rab, 2 Sep 2020
    • account_circle
    • visibility 774
    • 0Komentar

    Selasa (18/8) Sore itu, Meisar Hi Ngole ngole (60) sedang memishkan ikan ngafi (teri,red)  dengan jenis  lain yang  sudah kering dari tempat penjemuran.  Ikan ini adalah hasil tangkapan suaminya yang turun melaut pagi  akhir Agustus lalu. Hasil tangkapan hari itu  tidak cukup tiga kilogram. Ini setelah dibagi dengan 8 nelayan lainnya yang ikut  bersama  suaminya. […]

  • Produksi Sagu Melimpah, Butuh Bantuan Pemasaran

    • calendar_month Sab, 13 Feb 2021
    • account_circle
    • visibility 1.029
    • 2Komentar

    Tepung sagu yang telah diisi kedalam tumang atau wadah tepung sagu foto Rusdiyanti/KPH Tidore

  • Makna Lelayan Bagi Orang Patani, Maba dan Weda

    • calendar_month Sel, 2 Feb 2021
    • account_circle
    • visibility 1.262
    • 0Komentar

    Leleyan dalam pengertain umum  orang Maluku Utara adalah sebuah gerakan gotong royong yang terus dilestarikan hingga kini.   Tidak sekadar gotong royong,  tradisi ini  adalah  sebuah kecerdasan lokal (local genious) atas pandangan hidup masyarakat. Terutama untuk masyarakat  Patani, Maba dan Weda untuk saling membantu, mengasihi, memberi dukungan, baik materi maupun non materi terhadap dua peristiwa […]

  • Literasi Keuangan Nelayan, Seperti Apa?

    • calendar_month Rab, 15 Feb 2023
    • account_circle
    • visibility 746
    • 1Komentar

    Kegiatan Literasi Keuangan Nelayan yang dilakukan MDPI di Seram Maluku foto MDPI

expand_less