Breaking News
light_mode
Beranda » Kabar Malut » Ayo Selamatkan Pulau Ini Sebelum Tenggelam

Ayo Selamatkan Pulau Ini Sebelum Tenggelam

  • account_circle
  • calendar_month Rab, 24 Feb 2021
  • visibility 960

Pulau Pagama di Kepulauan Sula Nyaris Hilang    

Percaya tidak percaya dampak  perubahan iklim memang nyata adanya. Mau bukti, lihatlah kondisi pulau Pagama di Kabupaten Kepulauan Sula Maluku Utara ini. Pulau yang berada tepat di  antara  Pulau Sulabesi dan Mangole Kepulauan Sula  ini nyaris habis disapu air laut.

Pulau ini  jika  dijangkau dari pelabuhan Kota Sanana, terbilang  lumayan jauh. Pulau tak berpenghuni ini dapat ditempuh dalam waktu kurang lebih 1 jam menggunakan speedboat. Namun jika menggunakan katinting atau perahu bermesin jhonson, butuh waktu sekira 2 jam untuk bisa  menikmati keindahan pantai dan bawah lautnya.

Di pulau Pagama, pengunjung  bisa melakukan beragam aktivitas dari berenang, memancing, menyelam, atau sekadar berjemur. Pulau ini juga menjadi tempat persinggahan para nelayan di Kepulauan Sula jika saat melaut dan paceklik.

Pulau  berpasir putih  yang dihiasi beberapa jenis pohon yang biasa tumbuh di  ekosistem pantai  termasuk pohon pinus itu, kini nyaris tak tersisa lagi.  Kenaikan permukaan air laut dan hempasan geombang membuat daratan pulau ini nyaris  hilang.  Dulunya daratan pulau ini cukup luas. Namun seiring waktu dan kondisi dampak alam kini   luasnya sudah tak cukup 10 meter lagi. 

Pulau Pagama beberapa tahun lalu

Lima tahun sebelumnya. luas pulau eksotik tersebut sekira 450 meter dan masih ditumbuhi puluhan pohon pinus. Kini, yang tersisa hanya satu pohon pinus yang juga terancam roboh akibat adanya abrasi.

“Untuk  lahan yg tersisa  kurang lebih 5 meter  dan ini tinggal menunggu waktu saja,” kata Kuswandi Buamona akivis Wahana  Lingkungan Hidup (WALHI) Maluku Utara yang berkunjung ke pulau tersebut pekan lalu.

Wandi  yang sudah beberapa kali mengunjungi pulau ini menyampaikan keperihatinanya dengan kondisi Pulau Pagama. Dia  bilang, kondisi pulau Pagama saat ini sudah jauh berbeda dengan kondisi lima tahun lalu. “Nyaris tidak ditemukan lagi pohon karena  sudah tumbang dihempas gelombang,” ujarnya. Dia lantas memprediksi pulau ini akan hilang dalam waktu yang tidak lama lagi jika taka da upaya penyelamatan.

Kondisi Pulau Pagama tiga tahun lalu, foto Wandi

Pulau ini  menjadi icon Kepulauan Sula, sekaligus tempat wisata. Sayang kurang mendapat perhatian dari pemda Kabupaten  Kepulauan Sula.

Ini terbukti dengan semakain mengecilnya pulau ini  bahkan hampir hilang, tetapi belum ada upaya untuk perlindungan dan perbaikannya. Karena itu dia mengajak seluruh elemen masyarakat  dan pemerintah agar peduli dan mau menyelamatkan pulau ini dengan gerakan yang nyata.

“Ancaman tenggelamnya pulau akibat kenaikan permukaan laut menjadi faktor yang paling dicurigai.Salah  satunya ini akibat adanya aktifitas reklamasi di pesisir pantai Kota Sanana,” jelas Wandi.

Harapannya semoga kondisi Pulau Pagama ini menjadi perhatian pemerintah Kabupaten Kepulauan Sula  yang baru terpilih ini. Ayo mari kita selamatkan Pagama,” harapnya.(*)

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ini Manfaat Zakat dan Sadaqoh Global

    • calendar_month Rab, 8 Mar 2023
    • account_circle
    • visibility 643
    • 2Komentar

    UNHCR: 1,6 juta Pengungsi Terbantu dari Filantropi Islam United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR)  adalah organisasi internasional yang mandat utamanya  memberikan perlindungan serta memberikan bantuan berupa pemenuhan kebutuhan dasar bagi pencari suaka dan pengungsi bekerja sama dengan beberapa mitra. Melalui mitra Zakat dan Sadaqah secara global pada tahun 2022, saat peluncuran Laporan Tahunan Filantropi Islamnya […]

  • Tak Ada Zonasi Wilayah jadi Problem Ekowisata

    • calendar_month Sab, 16 Jan 2021
    • account_circle
    • visibility 686
    • 0Komentar

    Kawasan ekowisata Taman Love di puncak Moya dikuatirkan memunculkan masalah baru soal keterbukaan akses yang bisa memicu ikutya pemukiman ke kawasan ini yang masuk kawasan rawan bencana III.

  • Perampasan Ruang Laut Marak, BRIN Ajak Kolaborasi Keilmuan

    • calendar_month Sab, 24 Mei 2025
    • account_circle
    • visibility 956
    • 1Komentar

    Beberapa dekade terakhir, pesisir dan laut menjadi arena perebutan kepentingan yang tidak seimbang antara pemegang kuasa ekonomi-politik dan komunitas pesisir yang menggantungkan hidupnya dari laut. Fenomena ini dikenal sebagai coastal and marine grabbing – praktik perampasan ruang laut. Berapa besar dampak bagi komunitas tempatan dan ekosistem pesisir dan laut saat ini? Organisasi Riset Ilmu Pengetahuan […]

  • Masyarakat Sipil Ingatkan  Ancaman Serius Militerisme  

    Masyarakat Sipil Ingatkan  Ancaman Serius Militerisme  

    • calendar_month Kam, 23 Apr 2026
    • account_circle Redaksi
    • visibility 187
    • 0Komentar

    Di Hari Bumi 2026, masyarakat sipil memperingatkan ancaman serius gejala menguatnya “militerisme” dan pembangunan ekstraktif. Ketua ICJL Foundation serta Pakar Transisi Energi dan Ekologi Politik TIFA Foundation. Firdaus Cahyadi mengatakan militerisme dan ekonomi ekstraktif tidak memerlukan transparansi serta dialog dalam pengambilan kebijakan. Perpaduan keduanya dinilai akan berdampak fatal bagi keberlanjutan alam dan hak asasi manusia. […]

  • Tegas! Pulau Tak Boleh Diperjualbelikan

    • calendar_month Jum, 27 Jun 2025
    • account_circle
    • visibility 563
    • 0Komentar

    Maraknya  iklan dan pemberitaan penjualan pulau-pulau di Indonesia, membuat Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengeluarkan larangan tegas  adanya penjualan pulau. KKP memastikan tidak ada regulasi yang mengatur penjualan pulau maupun pulau kecil di Indonesia.  Di Maluku Utara beberapa waktu lalu sempat heboh adanya  isu penjualan gugusan kepualaun Widi Halmahera Selatan yang sempat ditawarkan melalui situs […]

  • Tanya Izin Perusahaan, DPRD Haltim Datangi Dishut Malut

    • calendar_month Sel, 26 Jan 2021
    • account_circle
    • visibility 629
    • 0Komentar

    Rapat Komisi III dengan Dinas Kehutnan Provinsi Maluku Utara

expand_less