Breaking News
light_mode
Beranda » Kabar Kampung » Melihat Festival Kalaodi, dan Pekan Lingkungan Hidup P3K

Melihat Festival Kalaodi, dan Pekan Lingkungan Hidup P3K

  • account_circle
  • calendar_month Sen, 26 Nov 2018
  • visibility 592

Ajakan Kembali ke Alam  hingga Lindungi Pulau dan Laut

Gendang dan tifa mengiringi  soya-soya Kalaodi. Tarian  itu sekaligus menjadi salam pembuka kepada tamu  dan warga  yang datang   menyaksikan    festival  Buku se Dou Kalaodi   Kota Tidore Kepulauan. Selain festival Kaaodi,   dilanjutkan  dengan  Pekan Pelestarian Hutan Mangrove dan Ekowisata Pesisir Laut  di Kayoa Halmahera Selatan. Acara ini   adalah satu rangkaian  dalam rangka ulang tahun ke- 38 WALHI di Maluku Utara  Sabtu (17/11) pekan lalu. 

Di buka dengan Festival Kalaodi di Tidore,  acara itu  begitu meriah.  Para tamu yang hadir  termasuk para pembicara  selain menikmati suguhan tarian bernilai perang  dan  symbol perjuangan, mereka   juga menikmati   tarian   dan nyanyian tentang kearifan dan ajakan  kembali ke alam. Dalam    festival  ini  warga  Kalaodi turut menampilkan  tarian soya-soya kalaodi,  kabata marong nyanyian saat membersihkan kebun, kabata moro- moro  nyanyian sambil menumbuk padi  serta  memamerkan berbagai hasil kerajinan  dari bamboo  dan  batok kelapa hingga   makanan tradisional   dari hasil kebun.

Menurut  Samsudin Ali Sekretaris Kampung Kalaodi.   ada yang kurang dari festival ini,    kegiatan paca goya  atau “nyepi” nya orang Kalaodi   yang dilakuka setiap tahun itu  sudah  lewat  pelaksanaannya  beberapa waktu lalu. Paca goya  adalah     penghargaan terhadap alam  dan Tuhan atas  rezki hasil kebun yang  telah dipanen  setahun lalu,” ujarnya. 

Sementara makna yang dikandung dalam  kata buku se dou atau  Gunung dan Lembah. adalah cerita tentang bagaimana memperlakukan gunung dan lembah  dalam mendukung hidup manusia secara berkelanjutan. Kampong di puncak Tidore  diapit  perbukitan hijau cengkih dan pala  dengan udara  sejuk itu,  dibanjir warga dari berbagai penjuru  Tidore, setidaknya ingin melihat  dari dekat tradisi  yang masih dijaga warga Kalaodi selama ini.  Gemuruh   tifa,  moro-moro, dan kabata  bergema  memecah  pagi di Kampung  yang berada di   atas ± 900 mdpl   itu berbeda dari biasanya.  “Buku se dou merupakan kegiatan adat dan budaya masyarakat Kalaodi yang berkaitan erat dengan ajakan menjaga alam,”kata  Samsudin Ali.

Apa yang disampaikan ini setali tiga uang dengan  kehidupan  masyarakat Kalaodi  yang bermukim di bawah bukit dan lereng hutan Lindung Tagafura. Hingga kini daerah itu  tetap terjaga  dan hutannya tetap lestari.

Semenatara untuk   Pekan Lingkungan  Hidup Pesisir Laut dan Ekowista Pulau-pulau Kecil   itu,  ingin mengirim  pesan  bagi  semua pihak agar  tidak mengabaikan   sinergitas antara tradisi  yang dibangun warga pulau kecil   turun temurun   dengan  harmonisasi   alam yang ditempatinya.    

Kegiatan  ini  dihadiri juga Sultan Tidore H Husain Syah,  Staf Ahli Menteri KKP Bidang Ekologi dan Sumber Daya Laut Dr Aryo Hanggono,  Direktur Eksekutif Walhi  Nur Hidayati bersama Direktur Walhi Daerah seluruh Indonesia bersama Pemkot Tidore itu,  merupakan sebuah  pesta  berbasis  lingkungan yang dimulai dari  seminar lingkungan hidup  dan  pulau- pulau  kecil,  Festival Kalaodi  bahkan  menanam 5 ribu pohon mangrove di   Guruapin Kayoa Halmhera  Selatan. 

Dalam seminar nasional  pengelolaan pesisir dan pulau-pulau  kecil, Sultan Tidore bersama Direktur Walhi dan staf ahli Menteri DKP berbicara banyak hal tentang pengelolaan kelautan pesisir  dan pulau- pulau kecil di Maluku Utara.

Direktur Walhi Maluku Utara, Ismet Soelaiman  menjelaskan, kegiatan  ini dalam `memperingati Hari Ulang Tahun Walhi ke-38    17 hingga 20 November  lalu di Kalaodi – Tidore  dan Kayoa Ini  adalah sebuah rangkaian kegiatan  menjaga dan melindungi laut pesisir dan pulau-pulau kecil  termasuk pelestarian  budayanya. Pilihannya  Kalaodi karena   dijadidkan  kampong ekologi  pelindung kota Tidiore. Kalaodi dipercaya menjadi  penjaga Tidore oleh sebagian masyarakat. Posisi kampung  di pegunungan (± 900 mdpl) menjadikan Kalaodi dan tiga kampung lainnya  sebagai pelindung bagi perkampungan lain dan pusat kota   di pesisir.  Apalagi warga Kalaodi sendiri masih menjalankan tradisi yang berisi ritual-ritual kecintaan terhadap alam. Pala, cengkih, kenari, kayu manis, durian, pinang dan bambu yang menjadi sumber mata pencaharian warga, selain tanaman bulanan seperti tomat, cabe, sayur-mayur, dan rempah-rempah, berdampingan dengan hutan alam yang ada di sekitar perkampungan.

Sementara   Desa Guruapin – Kayoa untuk proses penanaman mangrove karena Kampung yang dikelilingi hutan mangrove  itu saat ini sedang menghadapi ancaman. Sementara  kegiatan  ditutup dengan ekowisata berbasis komunitas di Guraici, Lelei – Kayoa itu karena potensi wisata pulau-pulau yang dijangkau dengan speed boat kurang lebih 3 jam itu  begitu menawan.

“Sesuai tema kegiatan  berkaitan dengan pesisir laut dan pulau-pulau kecil, Kayoa menjadi pilihan untuk  pelestarian mangrove dan ekowisata berbasis komunitas. Kayoa merupakan gugusan  pulau-pulau  di Halmahera Selatan yang memiliki cerita mangrove sebagai pelindung bagi wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil di sekitarnya. Beberapa desa pesisir  di Kayoa merupakan contoh kampung pesisir yang dikelilingi dan dilindungi berbagai jenis mangrove dan ekosisitem laut, sehingga hasil laut seperti ikan karang berlimpah.

“Kearifan lokal masyarakat Kalaodi dan Kayoa dalam menjaga kelestarian dan keberlanjutan ekologi dapat menjadi pembelajaran bagi pengelolaan lingkungan hidup di Maluku Utara sebagai provinsi kepulauan, maupun di berbagai wilayah kepulauan lainnya di Indonesia. Kalaodi adalah laboratorium bagaimana masyarakat lokal secara turun-terumun  karena telah menjadi penjaga wilayah hutan dan pegunungan Tagafura yang melindungi perkampungan wilayah pesisir dari banjir dan bencana ekologi lainnya. Sementara  Kayoa merupakan miniatur kampung pesisir yang melindungi dan dilindungi mangrove. “Pengetahuan lokal ini harusnya dijaga serta ditransformasikan, bukannya direduksi dan diganti dengan kawasan lindung/konservasi yang ditetapkan pemerintah dan pengelolaannya diserahkan kepada investasi,” jelas Ismet.  Peran warga Kalaodi dan Kayoa dalam menjaga dan melindungi lingkungan hidup di sekitar mereka haruslah diapresiasi dan diberikan dukungan penuh oleh negara.(*) 

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Orang  Sawai Dalam, Penjaga  Bentang Halmahera yang Terusik Tambang

    Orang  Sawai Dalam, Penjaga  Bentang Halmahera yang Terusik Tambang

    • calendar_month Sab, 31 Jan 2026
    • account_circle Redaksi
    • visibility 851
    • 0Komentar

    Penulis: Djul Fikram Isra Malayu & Mahmud Ici   Suasana mendung pagi hingga siang. Memasuki pukul 14.13 WIT matahari mulai menampakkan cahaya. Sinarnya  terasa agak terik.  Di akhir  bulan, tepatnya  Senin 29 Oktober 2025, di  Halmahera Tengah  dan sekitarnya sedang musim  hujan. Meski begitu, kadang ada sela cerah  dengan cahaya terik. Hari itu ketika cuaca agak […]

  • Kapan Malut Miliki Kedokteran Kelautan untuk Lindungi Laut Kita?

    • calendar_month Sel, 25 Sep 2018
    • account_circle
    • visibility 480
    • 0Komentar

    Pemerintah Indonesia mengakui sektor kemaritiman, khususnya di bidang keselamatan kerja maritim dan pariwisata masih belum berkembang dengan baik. Salah satunya, adalah kedokteran kelautan yang potensinya sangat besar untuk dikembangkan di seluruh Negeri. Kehadiran profesi tersebut, hingga saat ini masih sangat minim walaupun berbagai kejadian banyak bermunculan di wilayah kelautan. Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman Agus […]

  • DOB Pulau Obi Harus Digaungkan Lagi

    • calendar_month Rab, 8 Feb 2023
    • account_circle
    • visibility 782
    • 0Komentar

    Pulau Obi atau bisa disebut juga Pulau Obira menjadi perhatian berbagai kalangan. Merupakan pulau terbesar yang terletak di gugusan Kepulauan Obi, dikelilingi banyak pulau- pulau kecil di antaranya Pulau Obilatu, Pulau Bisa, Pulau Gata-gata, Pulau Latu, Pulau Woka, dan Pulau Tomini. Data Halmahera Selatan Dalam Angka 2018  menunjukan luas Obi mencapai 1.073,15 km², dengan jumlah penduduk mencapai 2020 berjumlah 16.628 jiwa. Pulau Obi […]

  • Indonesia’s FOLU Net Sink 2030, Apa itu?

    • calendar_month Rab, 15 Feb 2023
    • account_circle
    • visibility 556
    • 0Komentar

    Aksi tentang Perubahan Iklim yang Digelar WALHI Maluku Utara, foto Mahmud Ichi

  • Ocean Eye akan Diuji Coba di Morotai

    • calendar_month Ming, 11 Okt 2020
    • account_circle
    • visibility 621
    • 0Komentar

    Kawasan Konservasi Perairan (KKP) Morotai foto/Mahmud Ichi/kabarpulau

  • Raja Ampat dan Halmahera, Surga yang Terluka di Timur Indonesia

    • calendar_month Sen, 9 Jun 2025
    • account_circle
    • visibility 746
    • 0Komentar

      Penulis Badrun Ahmad Dosen Universitas Khairun Di ujung  timur Indonesia, terbentang  gugusan pulau karang nan memesona: Raja Ampat. Hamparan atol dan atolnya yang berkilau di atas lautan biru jernih menjadikannya salah satu kawasan dengan keanekaragaman hayati laut tertinggi di dunia. Lebih dari 500 spesies karang dan ribuan spesies ikan menjadikan Raja Ampat sebagai laboratorium […]

expand_less