Breaking News
light_mode
Beranda » Kabar Kampung » Melihat Festival Kalaodi, dan Pekan Lingkungan Hidup P3K

Melihat Festival Kalaodi, dan Pekan Lingkungan Hidup P3K

  • account_circle
  • calendar_month Sen, 26 Nov 2018
  • visibility 277

Ajakan Kembali ke Alam  hingga Lindungi Pulau dan Laut

Gendang dan tifa mengiringi  soya-soya Kalaodi. Tarian  itu sekaligus menjadi salam pembuka kepada tamu  dan warga  yang datang   menyaksikan    festival  Buku se Dou Kalaodi   Kota Tidore Kepulauan. Selain festival Kaaodi,   dilanjutkan  dengan  Pekan Pelestarian Hutan Mangrove dan Ekowisata Pesisir Laut  di Kayoa Halmahera Selatan. Acara ini   adalah satu rangkaian  dalam rangka ulang tahun ke- 38 WALHI di Maluku Utara  Sabtu (17/11) pekan lalu. 

Di buka dengan Festival Kalaodi di Tidore,  acara itu  begitu meriah.  Para tamu yang hadir  termasuk para pembicara  selain menikmati suguhan tarian bernilai perang  dan  symbol perjuangan, mereka   juga menikmati   tarian   dan nyanyian tentang kearifan dan ajakan  kembali ke alam. Dalam    festival  ini  warga  Kalaodi turut menampilkan  tarian soya-soya kalaodi,  kabata marong nyanyian saat membersihkan kebun, kabata moro- moro  nyanyian sambil menumbuk padi  serta  memamerkan berbagai hasil kerajinan  dari bamboo  dan  batok kelapa hingga   makanan tradisional   dari hasil kebun.

Menurut  Samsudin Ali Sekretaris Kampung Kalaodi.   ada yang kurang dari festival ini,    kegiatan paca goya  atau “nyepi” nya orang Kalaodi   yang dilakuka setiap tahun itu  sudah  lewat  pelaksanaannya  beberapa waktu lalu. Paca goya  adalah     penghargaan terhadap alam  dan Tuhan atas  rezki hasil kebun yang  telah dipanen  setahun lalu,” ujarnya. 

Sementara makna yang dikandung dalam  kata buku se dou atau  Gunung dan Lembah. adalah cerita tentang bagaimana memperlakukan gunung dan lembah  dalam mendukung hidup manusia secara berkelanjutan. Kampong di puncak Tidore  diapit  perbukitan hijau cengkih dan pala  dengan udara  sejuk itu,  dibanjir warga dari berbagai penjuru  Tidore, setidaknya ingin melihat  dari dekat tradisi  yang masih dijaga warga Kalaodi selama ini.  Gemuruh   tifa,  moro-moro, dan kabata  bergema  memecah  pagi di Kampung  yang berada di   atas ± 900 mdpl   itu berbeda dari biasanya.  “Buku se dou merupakan kegiatan adat dan budaya masyarakat Kalaodi yang berkaitan erat dengan ajakan menjaga alam,”kata  Samsudin Ali.

Apa yang disampaikan ini setali tiga uang dengan  kehidupan  masyarakat Kalaodi  yang bermukim di bawah bukit dan lereng hutan Lindung Tagafura. Hingga kini daerah itu  tetap terjaga  dan hutannya tetap lestari.

Semenatara untuk   Pekan Lingkungan  Hidup Pesisir Laut dan Ekowista Pulau-pulau Kecil   itu,  ingin mengirim  pesan  bagi  semua pihak agar  tidak mengabaikan   sinergitas antara tradisi  yang dibangun warga pulau kecil   turun temurun   dengan  harmonisasi   alam yang ditempatinya.    

Kegiatan  ini  dihadiri juga Sultan Tidore H Husain Syah,  Staf Ahli Menteri KKP Bidang Ekologi dan Sumber Daya Laut Dr Aryo Hanggono,  Direktur Eksekutif Walhi  Nur Hidayati bersama Direktur Walhi Daerah seluruh Indonesia bersama Pemkot Tidore itu,  merupakan sebuah  pesta  berbasis  lingkungan yang dimulai dari  seminar lingkungan hidup  dan  pulau- pulau  kecil,  Festival Kalaodi  bahkan  menanam 5 ribu pohon mangrove di   Guruapin Kayoa Halmhera  Selatan. 

Dalam seminar nasional  pengelolaan pesisir dan pulau-pulau  kecil, Sultan Tidore bersama Direktur Walhi dan staf ahli Menteri DKP berbicara banyak hal tentang pengelolaan kelautan pesisir  dan pulau- pulau kecil di Maluku Utara.

Direktur Walhi Maluku Utara, Ismet Soelaiman  menjelaskan, kegiatan  ini dalam `memperingati Hari Ulang Tahun Walhi ke-38    17 hingga 20 November  lalu di Kalaodi – Tidore  dan Kayoa Ini  adalah sebuah rangkaian kegiatan  menjaga dan melindungi laut pesisir dan pulau-pulau kecil  termasuk pelestarian  budayanya. Pilihannya  Kalaodi karena   dijadidkan  kampong ekologi  pelindung kota Tidiore. Kalaodi dipercaya menjadi  penjaga Tidore oleh sebagian masyarakat. Posisi kampung  di pegunungan (± 900 mdpl) menjadikan Kalaodi dan tiga kampung lainnya  sebagai pelindung bagi perkampungan lain dan pusat kota   di pesisir.  Apalagi warga Kalaodi sendiri masih menjalankan tradisi yang berisi ritual-ritual kecintaan terhadap alam. Pala, cengkih, kenari, kayu manis, durian, pinang dan bambu yang menjadi sumber mata pencaharian warga, selain tanaman bulanan seperti tomat, cabe, sayur-mayur, dan rempah-rempah, berdampingan dengan hutan alam yang ada di sekitar perkampungan.

Sementara   Desa Guruapin – Kayoa untuk proses penanaman mangrove karena Kampung yang dikelilingi hutan mangrove  itu saat ini sedang menghadapi ancaman. Sementara  kegiatan  ditutup dengan ekowisata berbasis komunitas di Guraici, Lelei – Kayoa itu karena potensi wisata pulau-pulau yang dijangkau dengan speed boat kurang lebih 3 jam itu  begitu menawan.

“Sesuai tema kegiatan  berkaitan dengan pesisir laut dan pulau-pulau kecil, Kayoa menjadi pilihan untuk  pelestarian mangrove dan ekowisata berbasis komunitas. Kayoa merupakan gugusan  pulau-pulau  di Halmahera Selatan yang memiliki cerita mangrove sebagai pelindung bagi wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil di sekitarnya. Beberapa desa pesisir  di Kayoa merupakan contoh kampung pesisir yang dikelilingi dan dilindungi berbagai jenis mangrove dan ekosisitem laut, sehingga hasil laut seperti ikan karang berlimpah.

“Kearifan lokal masyarakat Kalaodi dan Kayoa dalam menjaga kelestarian dan keberlanjutan ekologi dapat menjadi pembelajaran bagi pengelolaan lingkungan hidup di Maluku Utara sebagai provinsi kepulauan, maupun di berbagai wilayah kepulauan lainnya di Indonesia. Kalaodi adalah laboratorium bagaimana masyarakat lokal secara turun-terumun  karena telah menjadi penjaga wilayah hutan dan pegunungan Tagafura yang melindungi perkampungan wilayah pesisir dari banjir dan bencana ekologi lainnya. Sementara  Kayoa merupakan miniatur kampung pesisir yang melindungi dan dilindungi mangrove. “Pengetahuan lokal ini harusnya dijaga serta ditransformasikan, bukannya direduksi dan diganti dengan kawasan lindung/konservasi yang ditetapkan pemerintah dan pengelolaannya diserahkan kepada investasi,” jelas Ismet.  Peran warga Kalaodi dan Kayoa dalam menjaga dan melindungi lingkungan hidup di sekitar mereka haruslah diapresiasi dan diberikan dukungan penuh oleh negara.(*) 

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Tubagus Soleh Ahmadi Calon Direktur Eksekutif Nasional WALHI

    • calendar_month Sel, 19 Agu 2025
    • account_circle
    • visibility 460
    • 18Komentar

    Keputusan ini Karena Amanah Perjuangan Kolektif Tubagus Soleh Ahmadi atau yang biasa disapa Bagus resmi ditetapkan sebagai salah satu Calon Direktur Eksekutif Nasional WALHI periode 2025–2029. Penetapan ini  melalui Surat Keputusan Panitia Pengarah PNLH XIV WALHI Nomor: 07/PP/PNLH-XIV/VIII/2025 tertanggal 15 Agustus 2025. Setelah lolos seluruh tahapan seleksi, termasuk verifikasi administrasi, uji publik, dan uji kompetensi. […]

  • Belantara Fondation Bahas Nilai Ekonomi dan Pendugaan Karbon Hutan

    • calendar_month Kam, 17 Mar 2022
    • account_circle
    • visibility 307
    • 0Komentar

    Hutan di kawasan Taman Nasional Ake Tajawe Lolobata Halamhaera

  • Ini Masalah Pembangunan di Pulau Makeang dan Kayoa

    • calendar_month Sab, 9 Okt 2021
    • account_circle
    • visibility 267
    • 2Komentar

    Jembatan penghubung di jalan lingkar pulau Makeang yang menghubungkan antardesa rusak parah, foto M Ichi

  • Anak Muda Pulau Bacan Dorong Literasi, Konservasi dan Ekonomi

    • calendar_month Ming, 5 Okt 2025
    • account_circle
    • visibility 253
    • 0Komentar

    Bentuk Komunitas, Kampanye Lindungi  Satwa, Buat Perdes dan  Kelompok Tani Suasana di kawasan zero point pusat Kota Labuha Halmahera Selatan terlihat sibuk. Jumat (11/7/2025) siang  itu  sejumlah anak muda tengah menyiapkan acara pendukung kegiatan Merayakan Hari Keragaman Burung Indonesia  (MKBI) yang dilaksanakan  LSM Burung Indonesia.  Kegiatan ini  adalah bagian dari Festival Konservasi Satwa  Liar Maluku […]

  • MUI: Haram Buang Sampah ke Sungai, Laut dan Danau

    MUI: Haram Buang Sampah ke Sungai, Laut dan Danau

    • calendar_month Sab, 6 Des 2025
    • account_circle Mahmud Ici
    • visibility 167
    • 0Komentar

    Munas Majelis Ulama Indonesia (MUI) XI Tahun 2025 di Jakarta pada 20-23 November lalu ternyata turut membahas salah satu persoalan lingkungan  krusial yakni masalah sampah. Munas  itu kemudian menghasilkan fatwa bagi  warga yang membuang sampah sembarangan di sungai, danau dan laut. “Membuang sampah ke sungai, danau dan laut hukumnya haram karena dapat mencemari sumber air […]

  • Laut Obi Dalam Tekanan Destruktif Fishing dan Tambang?

    • calendar_month Kam, 19 Jun 2025
    • account_circle
    • visibility 481
    • 0Komentar

    Laut Kepualaun Obi Kabupaten Halmahera Selatan Provinsi Maluku Utara kaya sumberdaya perikanan. Dari jenis ikan pelagis maupun demersal, setiap saat ditangkap  untuk menghidupi masyarakat setempat.  Tidak itu saja, ikan–ikan itu juga dijual antarpulau ke Ternate, untuk kebutuhan lokal  maupun  eksport. Seiring waktu, saat ini kondisi sumberdaya laut Obi tidak  baik-baik saja. Ada dua persoalan serious […]

expand_less