Breaking News
light_mode
Beranda » Kabar Kota Pulau » Ini Cara Komikus Muda Kalesang Ternate

Ini Cara Komikus Muda Kalesang Ternate

  • account_circle
  • calendar_month Rab, 2 Jun 2021
  • visibility 664

Kritisi Kesadaran Sampah, Laut Kotor hingga Masalah Sosial

Sabtu (29/5) sekira pukul 16.30 WIT,  14 komikus muda Ternate  duduk  bersila di sebuah ruangan di situs sejarah Benteng Oranye. Mereka yang rata-rata mahasiswa  dan beberapa yang sudah lulus kuliah itu,  mendengar masukan dari salah curator komik yang juga  pelukis  di Ternate Fadriah Suaib. Fadriah  menjelaskan bagaimana memvisualisasikan sebuah isyu dari narasi menjadi gambar yang menarik dalam bentuk kritik. Terutama berhubungan dengan isyu-isyu lingkungan.

Diskusi sore itu  adalah rangkaian dari kegiatan pameran sepekan yang digelar Komunitas Komikus Ternate (KOKONATE).  Komunitas yang beranggotakan 24 anak muda itu menggelar pameran  pada 22 hingga 29 Mei lalu. Pameran  Komik yang  digelar pertama kalinya di Ternate dan Maluku Utara ini, diramaikan 14 komikus  dengan   30 karya komik yang rata- rata berisi kritik dan sentilan pedas  beragam persoalan.

Mengangkat tema besar Kalesang atau peduli dalam Bahasa Ternate, mereka mengkritisi beberapa persoalan kota terutama lingkungan dan masalah social yang mendera. Karya-karya yang ditampilkan sebagian besar menyoal  kritisnya persoalan lingkungan yang dihadapi Ternate dan Maluku Utara umumnya. Dari pengelolaan sampah yang bermasalah, laut yang kotor,  reklamasi, hingga soal anak muda dan infrastruktur yang disalahgunakan.  Khusus masalah lingkungan di Kota Ternate, ada beberapa persoalan besar yang menjadi kritik melalui visual itu. Misalnya  sampah plastik,  dan laut yang kotor serta dampaknya bagi biota laut.Hal ini banyak dikritisi karena sangat dekat dan bisa disaksikan terjadi  setiap saat di berbagai tempat di kota ini.

Foo bersama para komikus di arena pameran

Soal sampah misalnya, kritik visual itu banyak ditunjukan pada kesadaran masyarakat yang masih minim.   Terutama yang terjadi di dalam lingkungan para komikus masing masing.Di sekolah, di rumah bahkan di tempat umum kesadaran warga membuang sampah dengan benar sulit diterapkan. Karya kritis mereka juga menyasar persoalan laut saat ini yang sudah mulai tercemar oleh sampah plastic. Nadya Salsabila salah satu komikus  muda  siswi SMA kelas III  di Kota Ternate misalnya mengangkat tema tentang sampah, membuat kritik visual di sebuah sekolah  berdasarkan pengalaman pribadinya. Di mana di sekolah sebagai pusat pendidikan. Bagi dia kesadaran para siswa terkait sampah juga begitu minim.  

“Di  karya ini  menampilkan seorang siswa yang membuang sampah sembarangan di halaman sekolah.  Ketika ditegur petugas kebersihan di sekolah itu, dengan santai siswa itu mengatakan bahwa kebersihan sekolah itu adalah tugas cleaning service. Kasus seperti ini banyak terjadi di sekolah,” kata Nadya. Kritik ini juga sebenarnya berhubungan dengan kesadaran masyarakat dalam   menangani sampah.

Dalam karya laut telah tercemar sampah plastik, sebuah visual  memperlihatkan   bagaimana sampah plastic telah menjadi ancaman serius bagi kehidupan biota laut dan manusia. Karena itu dibutuhkan kesadaran   penuh untuk menangani masalah  sampah laut  saat ini.Berjudul Sea Plastic Karya Syam salah satu komikus  adalah contoh dari perilaku manusia mengotori laut dengan sampah plastik. Akhirnya hewan laut ikut menjadi korban. Penyu dan ikan mati karena plastic.  

Kritik menarik dari karya visual   dalam pemeran ini juga digambarkan oleh Botania M Ways berjudul Return. Karya Botania  ini mengingatkan kepada publik bahwa sampah plastic yang dibuang secara serampangan bisa saja kembali kepada kita. Pasalnya ketika sampah plastic  dibawa ke laut   akan dimakan oleh  biota laut dan kemudian biota terutama ikan kecil dan plankton   dimakan oleh ikan besar. Ketika  ikan   besar  dipancing nelayan dan dijual di pasar, bisa saja dibeli oleh orang yang membuang sampah plastic tersebut dan mengkonsumsinya. Ikan yang sebenarnya telah mengkonsumsi  mikroplastik itu  sangat berbahaya bagi kesehatan. “Judul komik return sebenarnya ingin mengingatkan  bahwa ternyata sampah plastic yang dibuang sembarangan itu suatu saat bisa kembali mengancam diri sendiri  atau juga keluarga. Pasalnya, sampah   plastic yang kita buang sembarangan jika  dibawa banjir ke laut lama kelamaan  dimakan ikan. Jika ikan dipancing nelayan  kemudian kita beli  dan  konsumsi   menjadi sumber panyakit bagi tubuh,” jelas Botania.   

Komik Berjudul Return karya Botania M Ways

Ketua Kokonate Aswin AIyas mengaku pameran ini pertama kalinya digelar  di Ternate dengan tema besar Kalesang atau peduli. Lebih mengangkat   keresehan yang dialami oleh komikus itu sendiri. Kebetulan katanya para komikus kali ini mengangkat isyu yang   lebih menyentuh persoalan persoalan lingkungan terutama di Ternate.  “Kebanyakan anak- anak KOKONATE lebih  menyuarakan isyu-isyu lingkungan, penyampaiannya juga lebih soft. Jadi ketika orang masuk melihat pameran kami, masih bisa senyum walaupun sebenarnya persoalan yang kami kritisi itu tajam dan menohok,” jelas Aswin.

Komunitas   yang  terbentuk  4 tahun  lalu itu   mengangkat tema Kalesang, sebenarnya sebagai bagian dari kepedulian  pada kota ini, baik  masalah lingkungan atau social yang dihadapi. Harapanya  kritik yang dilontarkan ini semoga bisa mendapat perhatian semua pihak termasuk pemerintah sebagai pengambil kebijakan.  “Intinya kami membaca persoalan kota melalui komik. Mungkin ini cara baru membaca kota. Selama ini orang mengkritisi lewat tulisan dan aksi jalanan. Kami mencoba dengan  cara yang lain yakni lewat komik,”ujarnya. (*)   

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Orang  Sawai Dalam, Penjaga  Bentang Halmahera yang Terusik Tambang

    Orang  Sawai Dalam, Penjaga  Bentang Halmahera yang Terusik Tambang

    • calendar_month Sab, 31 Jan 2026
    • account_circle Redaksi
    • visibility 1.260
    • 0Komentar

    Penulis: Djul Fikram Isra Malayu & Mahmud Ici   Suasana mendung pagi hingga siang. Memasuki pukul 14.13 WIT matahari mulai menampakkan cahaya. Sinarnya  terasa agak terik.  Di akhir  bulan, tepatnya  Senin 29 Oktober 2025, di  Halmahera Tengah  dan sekitarnya sedang musim  hujan. Meski begitu, kadang ada sela cerah  dengan cahaya terik. Hari itu ketika cuaca agak […]

  • Ikan dan Manusia di Teluk  Weda Tercemar Logam  Berbahaya      1:24 Play Button

    Ikan dan Manusia di Teluk Weda Tercemar Logam Berbahaya     

    • calendar_month Sel, 27 Mei 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 3.391
    • 0Komentar

    Ini Hasil Riset Nexus3 Foundation dan Universitas Tadulako       Nexus3 Foundation bersama Universitas Tadulako Palu Sulawesi Tengah merilis laporan penelitian mengenai status lingkungan dan human biomonitoring  di daerah Teluk Weda, Halmahera Tengah, Maluku Utara. Wilayah ini menjadi tempat pengambilan sampel karena   menjadi salah satu sentra industri nikel di Indonesia.    Nexus3  Foundation Nexus for […]

  • JETP Tak Boleh Abaikan Energi Terbarukan Berbasis Komunitas

    • calendar_month Rab, 16 Agu 2023
    • account_circle
    • visibility 788
    • 0Komentar

    Rabu (16/8/2023) pemerintah mengumumkan rencana investasi transisi energi yang dibiayai oleh skema Just Energy Transition Partnership (JETP). Skema ini adalah bentuk Kemitraan Transisi Energi Indonesia yang Adil  melalui kesepakatan senilai 20 miliar dolar untuk mendekarbonisasi ekonomi bertenaga batu bara Indonesia, yang diluncurkan 15 November 2022 di KTT G20.  Seperti diketahui bersama, Indonesia menerima komitmen pendanaan […]

  • Nelayan Tuna Morotai Terpukul Covid- 19

    • calendar_month Sen, 21 Sep 2020
    • account_circle
    • visibility 800
    • 0Komentar

    Penulis: Indah Indriyani Morotai Pandemi covid-19 menghantam hamper semua lini kehidupan. Tidak terkecuali masyarakat bawah seperti nelayan. Pandemic ini juga mengubah banyak hal dalam kehidupan. Termasuk nasib para nelayan. Di Desa Sangowo Kecamatan Morotai Timur, Kabupaten Pulau Morotai,  nelayanikan tuna sangat terpukul akibat jatuhnya harga.  “Dampak pandemic covid-19 yang paling dirasakan nelayan yaitu harga ikan […]

  • Melihat Perempuan- perempuan Tangguh Pulau Kolorai

    • calendar_month Kam, 21 Feb 2019
    • account_circle
    • visibility 2.319
    • 0Komentar

    Bantu Suami Menjaring Ikan dan Menanam Rumput Laut    Fajar baru menyingsing di ufuk Timur Pulau Kolorai. Pulau kecil berpasir putih seluas 8 hektar  dengan laut tosqoea   subuh itu disapu angin  timur  yang dinginya  menusuk   hingga ke tulang- tulang.  Sepagi  itu, dalam suasana gelap dan dingin, ada seorang  perempuan berusia sekitar 38 tahun, tetap bangun pagi  membantu […]

  • Sebuah Catatan Tentang  Laut Maluku Utara

    • calendar_month Kam, 13 Jul 2023
    • account_circle
    • visibility 1.378
    • 1Komentar

    Dari Tambang, Sampah  hingga Matinya Mamalia Laut Studi dari Survei Geologi Amerika Serikat (USGS), menyebutkan bahwa sekitar 72 persen bagian dari bumi tertutup air. 97 persen air yang ada  adalah  lautan.    Indonesia yang merupakan negara kepulauan terbesar di dunia, terbentang dari Sabang sampai Merauke,   dengan 17.499 pulau besar dan kecil  memiliki  luas wilayah  sekitar […]

expand_less