Breaking News
light_mode
Beranda » Kabar Malut » Ini Penjelasan Masyarakat Speleologi Indonesia Soal Bokimoruru

Ini Penjelasan Masyarakat Speleologi Indonesia Soal Bokimoruru

  • account_circle
  • calendar_month Kam, 7 Sep 2023
  • visibility 595

Masyarakat Speleologi Indonesia (MSI) yang memiliki spesifikasi keilmuan mempelajari gua termasuk  proses pembuatan dan lingkungannya   melihat kasus di Sungai Sagea dan Goa Bokimoruru  penting diberitanggapan. Melalui rilis MSI yang diterima kabarpulau.co.id/ Kamis (7/9/2023) menyampaikan  bahwa Gua Bokimoruru adalah Salah Satu Sistem Gua Sungai Bawah Tanah Terpanjang  di Indonesia. Gua  di Pulau Halmahera itu  saat ini tercemar  diduga akibat sedimentasi pembukaan lahan pertambangan.

Mirza Ahmad Heviko yang juga  Ketua Bidang Konservasi, Kampanye dan Advokasi, Masyarakat Speleologi Indonesia menjelasakan bahwa,  Kawasan Karst Sagea di Desa Sagea dan Kiya Weda Utara, Kabupaten Halmahera Tengah, Maluku Utara, menyimpan potensi keunikan kawasan karst yang memiliki Gua Bokimoruru.  Disebutkan, dalam laporan yang diterbitkan pada 1988   berjudul “Batukarst 88”, panjang gua yang berhasil dipetakan tim Ekspedisi Speleologi dari Prancis adalah sepanjang 7.467 km. Ini menjadikan Gua Batu Lubang atau Gua Bokimoruru sebagai gua terpanjang yang saat ini ditemukan di Pulau Halmahera. “Gua Bokimoruru merupakan gua dengan karateristik lorong horizontal bertingkat yang memiliki ruangan yang besar dan secara geologi disusun oleh batugamping massif,” jelasnya.   

Gua Bokimoruru, memiliki aliran sungai bawah tanah yang besar dan mengalir keluar gua membentuk aliran sungai permukaan yang disebut Sungai Sagea/Sageyen.  Dia bilang  lagi, bentukan lorong horizontal Gua Bokimaruru dengan ruang yang besar disusun oleh batugamping massif.

Sementara Sungai Sagea merupakan sistem sungai yang hilang dan muncul kembali sekitar 7 km  dimanfaatkan masyarakat setempat sebagai sumber kehidupan untuk penyediaan air bersih  dan wisata alam sungai dan Gua Bokimaruru.

Bentukan lorong horizontal Gua Bokimaruru dengan ruang yang besar disusun oleh batugamping masif foto MSI

“Akibat adanya pembukaan lahan yang dilakukan untuk   akses jalan dan pertambangan pada 28 Juli 2023 air berubah  jadi cokelat dan keruh dari hulu sampai ke hilir,” tulisnya dalam rilis itu.

Dia menyanggah, kesimpulan sementara Tim Investigasi yang menyatakan penyebab  perubahan pada warna air di Sungai Sagea dan Gua Bokimoruru bukan karena dampak aktivitas pertambangan. “Hal ini sangat tidak tepat,” jelasnya.

Karena berdasarkan hasil analisis di lapangan dan analisis citra yang dilakukan Koalisi Save Sagea menunjukkan pembukaan jalan menuju area pertambangan mengakibatkan kondisi tidak stabil pada lapisan tanah. Akibatnya bila terjadi hujan maka run off akibat pembukaan lahan akan membawa sedimen masuk ke alur sungai terdekat dengan jumlah yang besar.

Peningkatan sedimentasi yang cukup tinggi menjadi penyebab utama pencemaran dan selama bulan Agustus di wilayah hulu kawasan ini terjadi hujan secara terus menerus. “Akibat  pembukaan lahan untuk akses jalan pertambangan, air yang tidak bisa terserap menjadi aliran run off atau aliran permukaan mengalami proses pelumpuran yang membawa material sedimentasi berupa tanah dan lumpur dalam jumlah  besar masuk ke dalam sistem Sungai Sagea. Ini yang menjadikan air di sepanjang Sungai Sagea dan Gua Bokimaruru menjadi tercemar. Air yang semula bersih dan jernih menjadi coklat pekat,”katanya.    

Dia bilang lagi,  sedimentasi akan terjadi secara terus-menerus selama proses pembukaan lahan untuk pertambangan dilakukan. Butuh proses sangat lama untuk mengembalikan fungsi Sungai Sagea seperti semula.

“Ini harga yang dibayar ketika kita tidak berpihak pada keselamatan ekosistem Sungai Sagea,” cecarnya.

Dalam kegiatan pembukaan lahan untuk akses jalan dengan kondisi curah hujan yang tinggi sudah dapat menimbulkan pencemaran pada air, apabila pengupasan lahan secara besar-besaran di wilayah hulu terus terjadi. Terutama di wilayah-wilayah konsesi pertambangan Nikel maka peningkatan sedimentasi akan terjadi dan ekosistem Sungai Sagea tidak akan bisa dipulihkan.   

“Speleologi adalah ilmu tentang gua dan lingkungan sekitarnya dapat membantu menganalisis peristiwa pencemaran yang terjadi,” jelasnya.

Berdasarkan karateristik Gua Bokimoruru potensi  Longsor di dalam Gua Bokimoruru sangat tidak mungkin apabila tidak dipicu   gempa bumi, collaps, rock fall yang dapat memicu adanya longsoran di dalam gua. Apabila terjadi longsoran di dalam gua maka longsoran ini hanya bersifat lokal dan tidak akan berpengaruh pada skala yang sangat luas. Apalagi sampai membawa material sedimen berupa tanah dan lumpur mengingat kondisi Gua Bokimoruru disusun  batugamping masif.  

Dalam beberapa bulan terakhir tidak ada catatan gempabumi dangkal dengan skala yang besar terjadi di Halmahera. Hal ini tidak perlu  pembuktian geologi,  secara geologis kondisi kawasan karst memiliki keunikan tersendiri yang hanya bisa diungkap oleh penelitian Speleologi. Begitu juga Ekosistem Kawasan Karst Sagea tidak berdiri sendiri dan sangat terhubung sistem di sekitarnya.

Pembukaan Jalan untuk Tambang Material sedimen yang terbawa air masuk ke dalam Sungai Sagea foto MSI

Lingkungan gua sangat sensitif terhadap perubahan yang terjadi di lingkungan sekitar. Izin pertambangan di bagian hulu akan berpotensi hilangnya fungsi Sungai Sagea yang selama ini  jadi pusat kehidupan  masyarakat di wilayah Sagea dan sekitarnya. Mereka akan terdampak secara terus menerus selama penambangan terus dilakukan.  Selanjutnya akan sangat berdampak pada ekosistem kawasan karst yang akan berisiko terjadi bencana di masa yang akan datang.  

Terutama terhadap masyarakat di kawasan Sungai Sagea. Karena itu Masyarakat Speleologi Indonesia mengajak semua pihak menjaga keberlanjutan dan fungsi kawasan karst sebagai cadangan air di masa akan datang. “Proses karstifikasi/pelarutan batuan pada kawasan karst dapat memberikan manfaat untuk penyerapan karbon (CO2 ) yang dapat menjadi bagian dalam upaya pengurangan emisi dan dampak dari perubahan iklim,”tutupnya. (*)

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Dari Forum Adat Kesangadjian, Selamatkan Alam Halmahera Timur

    • calendar_month Sel, 7 Jan 2025
    • account_circle
    • visibility 1.046
    • 0Komentar

    Forum adat di bawah Kesangadjian  yang berada  di Halmahera Timur  diinisiasi pembentukannya oleh masyarakat. Gerakan  yang dilakukan Kesangadjian   Bicoli dan turut menghadirkan Sangaji  di Maba itu dilaksanakan  pada 27 dan 28 Desember 2024 lalu. Forum Adat Kesangadjian ini merupakan yang  pertama di Halmahera Timur. Kegiatan itu itu dipusatkan di Balai Desa Wayamli, Halmahera Timur Maluku […]

  • Cerita dari Laigoma Setelah Ada Solar Cell (1)

    • calendar_month Sab, 12 Agu 2023
    • account_circle
    • visibility 664
    • 2Komentar

    Rumah milik Safa Kamari (67 tahun) berada di ujung selatan Dusun I Desa Laigoma Kecamatan Kayoa Kabupaten Halmahera Selatan Maluku Utara.   Berdinding beton beratap seng, di halamannya berdiri satu buah panel surya yang berfungsi mengubah tenaga surya menjadi energi listrik. Dari panel ini tersambung dengan empat bola lampu yang dipasang di teras, ruang tamu, dapur […]

  • Bina Desa di Pulau Laigoma, FPK Unkhair Turut Lepas Tukik

    • calendar_month Rab, 13 Sep 2023
    • account_circle
    • visibility 454
    • 1Komentar

    Sebagai bagian dari pengabdian kepada masyarakat,  Program Studi Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK) Universitas Khairun Ternate menggelar kegiatan  Bina Desa. Kegiatan ini dilaksanakan di Desa Laigoma Kecamatan Kayoa Halmahera Selatan Provinsi Maluku Utara 9 dan 10 September 2023 lalu. Tujuan kegiatan ini adalah, memberikan pengetahuan bagi masyarakat nelayan, khususnya di Pulau Laigoma, […]

  • Kala Pantai Kota Ternate Nyaris Habis karena Reklamasi

    • calendar_month Rab, 20 Feb 2019
    • account_circle
    • visibility 601
    • 0Komentar

    Beberapa  kawasan di Kota Ternate yang dulunya masih memiliki pantai  dengan pasir pantainya yang menawan kini nyaris habis  karena adanya reklamasi.  Tengoklah ke kawasan selatan kota Ternate  di wilayah  Kayu Merah dan Kalumata.  Proyek reklamasi yang dikerjakan sepanjang  2017 lalu itu mulai merambah  pantai kawasan itu.  Bahkan proyek rekmalasi   untuk tahap berikutnya  dalam program multi year segera […]

  • Ternate, Tidore  dalam Muhibah Budaya Jalur Rempah  

    • calendar_month Rab, 15 Jun 2022
    • account_circle
    • visibility 670
    • 0Komentar

    Rombongan Muhibah Budaya Jalur Rempah saat mengunjungi Benteng Oranye Ternate

  • Pemda Kalah Hadapi Korporasi Tambang?

    • calendar_month Jum, 10 Feb 2023
    • account_circle
    • visibility 581
    • 0Komentar

    Kawasan Pertambangan PT IWIP di Weda Halmahera Tengah foto M Ichi

expand_less