Breaking News
light_mode
Beranda » Kabar Kota Pulau » Fragmentasi Habitat, Burung di Pulau Ternate Terancam

Fragmentasi Habitat, Burung di Pulau Ternate Terancam

  • account_circle
  • calendar_month Ming, 13 Jun 2021
  • visibility 826

Ternate  Pulau kecil  dengan luas  11.180.00 hektar (data BPS, red) ternyata, menyimpan kekayaan  luar biasa. Tidak hanya tinggalan sejarah dengan benteng-benteng  di berbagai tempat.  Kekayaan  hutan, perkebunan  pala dan cengkih milik warga  juga menyimpan potensi sumberdaya hayati  terutama  burung yang luar biasa banyak. Sayang dari waktu ke waktu kehidupan berbagai satwa ini semakin menurun populasinya.   

Riset berjudul Keanekaragaman Jenis  Burung  di Beberapa  Objek Wisata  di Kota  Ternate  2018  oleh jurusan Biologi Universitas Khairun Ternate ini menunjukan adanya keragaman biodiversitas jenis burung yang mendiami hutan beberapa lokasi wisata di Ternate dan adanya ancaman semakin berkurang dari waktu ke waktu.

Tim Peneliti  yang terdiri dari Zulkifli Ahmad, Yumima Sinyo, Hasna Ahmad, M. Nasir Tamalene, Nurmaya Papuangan, Abubakar Abdullah, Bahtiar Bahtiar,Said Hasanini  membuat  kolaborasi riset,  di empat lokasi berbeda, yakni Desa Sulamadaha, Desa Ngade, Desa Tolire, dan Desa Tobololo.  Dengan menggunakan metode Variable Circular Plot (VCP),  riset ini menghitung jumlah jenis burung dengan  metode Timed Series Counts (TSCs). Data yang dianalisis meliputi kelimpahan dan keanekaragaman jenis burung,

Hasil analisis data lapangan menunjukan bahwa di pulau Ternate hidup beragam jenis burung yang sebenarnya menjadi potensi bagi pengembangan wisata minat khusus.   

“Tujuan  penelitian ini   mengidentifikasi dan mempelajari kelimpahan dan keanekaragaman jenis-jenis burung   di kawasan objek wisata  di Pulau Ternate. Hasil riset ini bisa menjadi data base bagi pemerintah daerah untuk pengembangan kawasan objek wisata agar lebih bernilai ekonomis. Misalnya pengembangan kawasan ke arah ekowisata atau kegiatan birdwatching,” tulis riset    tersebut.  Hasil riset yang telah dipublikasikan dalam beberapa jurnal itu menunjukan bahwa Ternate memiliki tingkat keanekaragaman jenis flora dan fauna tinggi.  

Sayangnya, kondisi kawasan objek wisata di pulau Ternate telah banyak mengalami deforestasi, degradasi serta fragmentasi habitat.  Ini juga akibat tingginya frekuensi kunjungan dan pengelolaan kawasan yang belum optimal.

Publikasi penelitian itu menunjukkan bahwa keanekaragaman dan kelimpahan burung terendah terdapat pada kawasan wisata pantai Tobololo dan Sulamadaha. Sementara keanekaragaman dan kelimpahan jenis burung tertinggi terdapat pada kawasan wisata Danau Tolire  dan Danau Ngade.

Kawasan ekowisata Puncak Moya

Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan di tiga lokasi pengamatan di kawasan wisata kota Ternate selama kurang lebih 14 hari (140 jam pengamatan), ditemukan 21 jenis burung seperti Dicrurus bracteatus atrocaeruleus atau  Srigunting lencana,  Rhyticeros plicatus atau Julang Irian, Ptilinopus hyogaster Walik kepala kelabu,  Ducula basilica-basilica Pergam boke,  Alcedo pusilla Raja udang kecil,  Cacatua alba Kakatua putih,  Haliastur indus Elang bondol,  Oriolus phaechromus Kepudang Halmahera  (M, Halmahera),  Piezorhynchus alecto-alecto  Sikatan kilap,  Eos squamata Nuri kalung ungu,  Megapodius freycinet Gosong kelam,  Rhipidura leucophrys Kipasan kebun, Corvus validus Gagak Halmahera,   Hemiprocne mystacea Tepekong kumis, Halcyon chloris Cekakak sungai.

Untuk Kawasan yang banyak burung seperti Kawasan danau Tolire   karena di kawasan  ini ke arah barat masih dijumpai hutan primer dan sekunder. Begitupun di sebelah utara dari kawasan danau Ngade. Di kawasan tersebut, masih terdapat pepohonan besar seperti Canarium sp., Ficus sp., Shorea sp., dan lain-lain. Sementara lokasi di kawasan wisata Sulamadaha dan Tobololo sebagian besar telah diubah menjadi hutan sekunder, dan aktifitas masyarakat di sekitar lokasi sangat tinggi sehingga spesies burung yang ditemukan juga minim.  

Nuri Ternate yang sudah jarang terdengar kicaunya di pulau Ternate

Pendapat  beberapa ahli  seperti  Alikodra (1990) menyatakan bahwa keragaman kehidupan satwa liar di dalam hutan primer adalah tinggi. Jika hutan tersebut ditebangi dan menjadi hutan sekunder, biasanya akan terjadi penurunan keragaman jenis secara drastis. Begitu juga Sujatnika dkk (1995) sebagaimana dikutip dalam riset ini menyatakan  bahwa, semakin banyak jumlah jenis burung yang membentuk suatu komunitas, semakin tinggi keanekaragamannya.  Pendapat Hernowo (1989)  juga sama bahwa keragaman jenis tinggi bila banyak jenis berada di suatu komunitas tersebut, dan keragaman jenis rendah jika hanya satu atau beberapa jenis saja yang mendominasi komunitas tersebut.

Beberapa hasil penelitian sebelumnya disimpulkan bahwa populasi burung di pulau Ternate cenderung menurun dari tahun ke tahun. Sesuai hasil observasi, penurunan tersebut dimungkinkan karena beberapa jenis burung mengalami kematian karena faktor alam (gunung meletus, banjir lahar penyempitan wilayah pantai berlumpur karena reklamasi pantai sehingga area burung-burung migran mencari makan menjadi berkurang.   Widodo  yang melakukan riset di  Ternate pada 2011 menyimpulkan  penurunan tersebut disebabkan karena  dominasi tanaman cengkeh dan pala, aktivitas manusia cukup tinggi dalam perawatan maupun pemanenan sehingga kondisi tersebut tidak aman bagi burung. Struktur percabangan cengkeh dan pala bersifat homogen sehingga burung-burung yang memanfaatkannya sebagai habitat relatif terbatas; Di daerah tertentu gunung Gamalama kondisinya minus air sehingga membatasi kedatangan burung-burung air. Beberapa jenis burung juga bermigrasi ke daerah lain yang diversifikasi tumbuhan hutannya lebih besar sehingga lebih mendukung sebagai tempat bersarang ataupun mencari makan.

Hasil riset Soleman, sejak 2012 lalu menemukan penurunan keanekaragaman burung juga disebabkan karena penangkapan oleh masyarakat untuk dipelihara. Sebanyak 60,2% jenis burung ditemukan dipelihara masyarakat.  Sebanyak 2.792 ekor burung dari 32 spesies ditemukan dipelihara masyarakat dan diantaranya 927 ekor adalah Kasturi Ternate (Lorius garrulus). (*)  

Catatan:Publikasi hasil riset ini sudah melalui  izin  tim riset

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Menikmati Ekowisata Bukit Lona Pulau Tidore

    • calendar_month Rab, 25 Nov 2020
    • account_circle
    • visibility 908
    • 0Komentar

    Pemandangan yang menawan dari kawasan ekowisata Bukit Lona/foto Andy Taufik

  • Gurango Haga Pilihan Wisata Bawah Laut di Sail Tidore 2022 

    • calendar_month Sen, 14 Nov 2022
    • account_circle
    • visibility 809
    • 0Komentar

    H halmahera yang Ditemui di Perairan Pelabuhan Trikora Goto
    foto Tim Survey DKP Tikep

  • BMKG: Awas Banjir dan Angin Kencang Mengintai

    • calendar_month Ming, 29 Nov 2020
    • account_circle
    • visibility 539
    • 0Komentar

    Badan Meteorlogi Klimatologi dan Geofisika Stasiun Meteorologi (Stamet) Ternate mengingatkan warga di Provinsi Maluku Utara untuk mewaspadai perkembangan La Nina dengan   terjadinya hujan deras dan angin kencang beberapa hari ini. Kepala Seksi Data dan Informasi (Kasdatin) Stamet Ternate Setyawan  menjelaskan,  sejak Kamis (26/11) lalu Stamet Ternate telah mengingatkan adanya perkembangan cuaca yang terjadi akibat dampak […]

  • Penemuan Lebah pluto di Halmahera Jadi Perbincangan Ilmuan Dunia

    Penemuan Lebah pluto di Halmahera Jadi Perbincangan Ilmuan Dunia

    • calendar_month Jum, 1 Mar 2019
    • account_circle
    • visibility 1.344
    • 0Komentar

    Penemuan kembali lebah raksasa Wallace atau lebah pluto (Megachile pluto Smith 1861) di Maluku Utara menjadi perbincangan hangat di kalangan ilmuwan, terutama bidang zoologi. Rilis resmi yang dikeluarkan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melalui Biro Kerja Sama, Hukum, dan Humas LIPI  (Vhttp://lipi.go.id/siaranpress/penemuan-kembali-lebah-megachile-pluto-di-maluku-utara/21545), menyebutkan,   bahwa  lebah dengan rahang bawah (mandibula) yang sangat besar ini dikoleksi oleh Alfred Russel Wallace pada  1859 dan […]

  • Ternate, Tidore  dalam Muhibah Budaya Jalur Rempah  

    • calendar_month Rab, 15 Jun 2022
    • account_circle
    • visibility 826
    • 0Komentar

    Rombongan Muhibah Budaya Jalur Rempah saat mengunjungi Benteng Oranye Ternate

  • Saatnya Pariwisata Malut Genjot Wisatawan Domestik

    • calendar_month Sel, 19 Jan 2021
    • account_circle
    • visibility 586
    • 0Komentar

    Talaga Rano Halbar salah satu destinasi wisata alam di Maluku Utara

expand_less