Breaking News
light_mode
Beranda » Kabar Kota Pulau » Keren,,,Ini Cara Bangun Kesadaran Lingkungan Kaum Muda

Keren,,,Ini Cara Bangun Kesadaran Lingkungan Kaum Muda

  • account_circle
  • calendar_month Jum, 24 Sep 2021
  • visibility 716

Perkumpulan PakaTiva Buka Kelas Belajar Kaum Muda Estuaria

Untuk membangun kesadaran kaum muda terhadap lingkungan dan dampak perubahan iklim yang makin mengancam saat ini, perlu dilakukan berbagai cara. Seperti dirintis Perkumpulan PakaTiva Maluku Utara      lembaga yang dua tahun terakhir ini melakukan kampanye  penyalamatan lingkungan dan  penguatan budaya local.  Lembaga yang telah tiga tahun berdri ini mengagas sebuah upaya cerdas  dengan membuka  Kelas Kaum Muda Estuaria.  Sesuai judulnya kelas ini akan memberikan pemahaman terkait laut dan kepulauan serta ekosistemnya.  

Koordinator Divisi Kampanye Perubahan Iklim dan Kaum Muda Perkumpulan PakaTiva,  Zafira Daeng Barang bilang,  kelas  Estuaria merupakan  sebuah upaya yang dilakukan untuk  meningkatkan kapasitas dan keterampilan kaum muda kepulauan. Terutama menyangkut  pemahaman ekosistem kepulauan sebagai sebuah  upaya minimalisir dampak perubahan iklim.

Kelas belajar in door dan out door ini   menyasar kaum muda terutama mahasiswa bukan tanpa alasan. Menurutnya, saran dominan yang didapati  terkait isu perubahan iklim dalam kegiatan hamper dua tahun ini adalah pentingnya memfokuskan aktivitas  serta peran kaum muda yang berbasis budaya, serta menggeliatkan kampanye media dengan sasaran kebijakan pemerintah, sekaligus membangun kesadaran masyarakat.

Harapannya  kelas kaum muda Estuaria ini dapat melahirkan kader, yang peduli lingkungan, beradat, juga dapat membantu penyelamatan ekosistem, dan kampanye di sector kota.

Menanam mangrove adalah bagian dari kerja kerja kaum muda ini setelah mengikuti kelas Estuaria, foto M Ichi

“ Ini adalah cara kita membangun kesadaran kaum muda. Kelas kaum muda estuaria ini akan dilaksanakan selama empat kali selama periode kerja 2021, dengan peserta sasar adalah kaum muda kampus dan perkotaan berjumlah 10 orang untuk sekali pelatihan, dengan pembagian lima perempuan serta 5 laki laki. Metode kelas akan dilaksanakan di luar ruangan, tepatnya di wilayah sasaran konservasi alam, dengan sistim 4 hari materi kelas, tiga hari praktek lapangan,” jelasnya.

Pemilihan metode luar ruangan, berdasar pada masukan kaum muda pecinta alam yang telah mengikuti proses rangkaian serial diskusi pecinta alam Paka Tiva pada tahun 2020  lalu, yang telah dilaksanakan sebanyak 15 kali putaran.

Dijelaskan, setelah mengikuti kelas estuaria, mereka akan disatukan dalam wadah kelompok kerja, dengan agenda seperti aksi bersih pantai, penanaman mangrove, serta pengkampanye milenial untuk perubahan iklim wilayah kepulauan.

Baginya  realita kondisi Maluku Utara hari ini  membutuhkan langkah taktis strategis yang terencana, dengan berlandas pijak yang kuat,untuk menggeliatkan kembali kepedulian terhadap kekayaan hayati dan keragaman budaya serta situs sejarah yang dimiliki daerah ini.  

“Kita menghadirkan juga akademisi serta instansi pemerintah BMKG, Dosen Kehutanan Universitas Khairun Ternate, sebagai narasumber. Sementara untuk menjaga dinamisasi,akan ada satu kepala kelas yang berasal dari akademisi Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan.  Ada juga  instuktur dari Basarnas dan Dodoku Dive Center Ternatem,” katanya. (*) 

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Warga Adat Sawai Halteng, Perda MA vs Omnibuslaw

    • calendar_month Kam, 28 Jan 2021
    • account_circle
    • visibility 1.387
    • 0Komentar

    Hernemus Takuling saat ditemui di rumahnya di Lelilef Sawai

  • Menikmati Ekowisata Bukit Lona Pulau Tidore

    • calendar_month Rab, 25 Nov 2020
    • account_circle
    • visibility 1.051
    • 0Komentar

    Pemandangan yang menawan dari kawasan ekowisata Bukit Lona/foto Andy Taufik

  • Makna Lelayan Bagi Orang Patani, Maba dan Weda

    • calendar_month Sel, 2 Feb 2021
    • account_circle
    • visibility 1.262
    • 0Komentar

    Leleyan dalam pengertain umum  orang Maluku Utara adalah sebuah gerakan gotong royong yang terus dilestarikan hingga kini.   Tidak sekadar gotong royong,  tradisi ini  adalah  sebuah kecerdasan lokal (local genious) atas pandangan hidup masyarakat. Terutama untuk masyarakat  Patani, Maba dan Weda untuk saling membantu, mengasihi, memberi dukungan, baik materi maupun non materi terhadap dua peristiwa […]

  • Cara Menyiapkan Warga Adaptif Ketika Bencana (2 habis)

    • calendar_month Sab, 15 Agu 2020
    • account_circle
    • visibility 2.324
    • 0Komentar

    Bagaimana Melakukannya di Komunitas? Bencana baik alam maupun non alam berdampak cukup serius bagi warga.  Pandemi Covid-19 misalnya, membuat hampir semua orang menjadi kurang produktif.  Pemenuhan kebutuhan hidup di masa pandemi pun  jadi tantangan.   Warga menjadi sangat rentan terutama  dalam memenuhi kebutuhan pangan. Karena itu perlu membangun  ketangguhan. Menata kembali kehidupan sosial dan lingkungan, yang […]

  • Ini Kajian AEER Soal Rencana HPAL Obi dan Morowali

    • calendar_month Kam, 4 Feb 2021
    • account_circle
    • visibility 935
    • 0Komentar

    Suasana laut dan pantai desa Kawasi Obi Halmahera Selatan/foto Ata Fatah

  • Ada Apa, Kemarau tapi Hujan hingga Banjir?

    • calendar_month Sab, 15 Jul 2023
    • account_circle
    • visibility 864
    • 1Komentar

    Sepekan Tiga Wilayah di Malut Dihantam Banjir Meski saat ini masih dalam periode musim kemarau, kenyataanya hamper semua wilayah di Maluku Utara dilanda hujan lebat. Bahkan dampak hujan tersebut, dalam sepekan ini sejumlah daerah dilanda banjir besar hingga menimbulkan korban harta dan rusaknya fasilitas umum. Hingga Sabtu (15/7/2023), Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun […]

expand_less