Breaking News
light_mode
Beranda » Kabar Kota Pulau » Cerita Warga Ibukota Malut Berjuang Dapatkan Air Bersih

Cerita Warga Ibukota Malut Berjuang Dapatkan Air Bersih

  • account_circle
  • calendar_month Sel, 4 Jan 2022
  • visibility 571

Dulu Jalan Kaki Berkilometer, Sekarang Air Masuk Dapur

Oleh: Abdul Gafur Suneth

Faskel Sosial Program KOTAKU Kota Tidore Kepulauan

Air menjadi sumber kehidupan manusia. Keberadaanya tidak bisa dipisahkan dari  aktivitas keseharian.  Hamper seluruh aspek kehidupan  selalu  berhubungan dengan air.  Air memang  begitu urgen bagi kehidupan. Sayang  tidak semua warga bisa mendapatkan air itu dengan mudah. Ada warga di sebagian wilayah atau tempat memperolehnya dengan susah payah. Mereka harus menempuh jarak berkilometer dengan medan sulit untuk mendapati satu atau dua gallon air.  

Acap kali  air yang layak menjadi topic pembicaraan berbagai kalangan. Pasalnya akibat kesulitan mendapatkan air bersih hidup juga menjadi  terganggu bahkan mempengaruhi aktivitas manusia.   

Saat ini banyak mucul persoalan   air bersih di  masyarakat. Selain sumber air yang sulit, ancaman tercemar juga banyak. Hal ini bisa saja disebabkan ulah manusia atau pun bencana alam. Dampaknya kemudian memunculkan krisis air di masyarakat.  

Hal yang sama juga  terjadi di Desa Gosale  Kecamatan Oba Utara Kota Tidore Kepulauan Provinsi Maluku Utara.  Desa   di bawah bukit Gosale tak jauh dari kawasan pusat pemerintahan Ibukota Sofifi Provinsi Maluku Utara di Pulau Halmahera itu, mengalami persoalan dengan  penyediaan air bersih bagi warganya. Desa ini menghadapi persoalan  ketersediaan air bersih selama ini hanya diharapkan dari sumur warga. Bahkan sebagian   menggunakan air sungai  yang dipikul  menggunakan gallon dengan jarak  tempuh lumayan jauh.  Masalah ini nampaknya  ada sejak mereka dipindahkan dari puncak Gosele  awal 2000 an lalu.

Beruntung desa  ini mendapatkan Program Kota Tanpa Kumuh ( KOTAKU). Dari program ini Desa Gosale mendapatkan  bantuan dana   bagi masyarakat  yang dikenal dengan  Bantuan Pendanaan untuk Masyarakat  (BPM).   Dari anggaran yang ada masyarakat lalu bersepakat menyelesaikan permaslahan yang ada. Selanjutnya dilakukan perencanaan partisipatif terutama Rencana Penataan Lingkungan Permukiman. 

Melalui musyawarah, akhirnya ditetapkan skala prioritas kegiatan melalui  Lembaga Keswadayaan Masyarakat (LKM) yang dibentuk di desa. Melalui lembaga ini bersama masyarakat bersepakat membangun sarana air bersih. Sarana itu  berupa Pengelolaan Air Sederhana (IPAS) melalui bak pembagi beserta pipanisasi sampai ke rumah warga. Memang awalnya untuk menghadirkan Pengeloaan Air Sederhana (PAS) ini menghadapi masalah. Sumber airnya berada jauh kurang lebih 2 kilometer dari desa  dan berada  di atas  gunung  serta di tengah hutan. Meski  kesulitan  akses dan jauhnya  sumber air,  demi menjawab kebutuhan air yang menjadi  salah satu sumber  kumuh   maka  tetap diusahakan hingga sumber air itu bisa dijangkau dan dialirkan.

Melalui usaha dan sumber pendanaan yang ada   dibangunlah  dua  bak penampung yang sangat besar hingga mampu menampung  dan mencukupi kebutuhan air warga. Anggaran yang di manfaatkan  untuk pembangunan tersebut sebesar  Rp 250,460  juta dan swadaya dari warga senilai Rp18,587 juta. Dari  penggunaan anggaran tersebut dibangunlah bangunan pendukung, pengelolaan air berbasis penyehatan sehingga   masyarakat  sudah  bisa menikmati air bersih hingga hari ini. Padahal sebelum adanya progam ini, warga setiap saat berbondong-bondong ke kali mengambil air. Kini kondisinya berubah air sudah bisa masuk sampai ke dapur warga.

Dikki Bedu salah satu warga yang juga rumahnya sudah teraliri air bersih  berujar,    program Kota Tanpa Kumuh di Desa Gosale setidaknya  telah membantu  6775 jiwa atau 165 KK warga Gosale  memenuhi kebutuhan akan air  bersih  sebagai  kebutuhan pokok. Dikki yang rumhanya berada tak jauh dari bak penampung air bersih itu mengatakan,  prasarana pengelolaan air bersih berbasis masyarakat ini, setidaknya sudah bisa dimanfaatkan  warga. Kebutuhan air sudah terpenuhi dan mereka bisa menikmati  air bersih.  Ini bagian dari  upaya  menuntaskan  persoalan kekemuhan desa  dari  aspek air bersih.  “Saat ini masyarakat bisa mengkonsumsi air kurang lebih  60 liter per hari untuk satu kepala keluaraga/kk.”jelasnya. 

Keberhasilan ini juga katanya, bukan  usaha satu pihak. Apa yang ada saat ini adalah upaya dan dukungan bersama serta adanya kolaborasi.  Pembangunan sarana air bersih   dalam   program KOTAKU  ini juga karena ada kerjasama dengan pemerintah  sehingga bisa menambah  sarana  maupun akses pipanisasi dengan sumber air yang  berada  jauh  dengan debit air  yang lebih besar. Hal ini memberikan kepuasan yang cukup.  “Ini semua karena ada kolaborasi antara program KOTAKU  dan Pemerintah Desa, serta Pemerintah Kota Tidore Kepulauan,” katanya di Desa Gosale (18/9/2021) lalu. (*) 

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Jaring Nusa: Visi Indonesia Emas 2045, Wajib Pastikan Hak Masyarakat Pesisir dan Pulau Kecil  

    • calendar_month Sen, 11 Sep 2023
    • account_circle
    • visibility 632
    • 2Komentar

    Jaring Nusa  sebuah konsorsium   masyarakat sipil yang dideklarasikan pada 19 Agustus 2021 lalu mendesak pemerintah dalam menetapkan visi Indonesia Emas 2045 yang tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional RPJPN 2025 2045 memberi kepastian dan perlindungan  Hak Masyarakat Pesisir dan Pulau Kecil. Peryataan Jaring Nusa  yang di dalamnya  ada 18 lembaga dan 1 komunitas  itu, […]

  • Ketika Orang Hiri Menuntut Merdeka

    • calendar_month Kam, 17 Agu 2023
    • account_circle
    • visibility 604
    • 1Komentar

    Ingatkan  Pemerintah, Kibarkan Bendera Setengah Tiang   Hari masih pagi, sekira pukul 07.50 WIT sebuah speedboat mengangkut pegawai yang bekerja di Kecamatan Pulau Hiri Kota Ternate Maluku Utara. Mereka adalah pegawai yang akan gelar upacara Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia ke-78, Kamis (17/08/2023). Pegawai lelaki dan perempuan berbaju Korpri  itu  rata rata […]

  • 14 Lurah di Ternate Utara Jadi Mahimo Gam   

    • calendar_month Sel, 16 Agu 2022
    • account_circle
    • visibility 805
    • 1Komentar

    Ternate  dikenal sebagai negeri   adat  se atorang. Karena itu segala sesuatu mestinya berdasar pada ketentuan yang diatur  oleh adat seatorang di Kesultanan Ternate.  Dalam hal perangkat dan struktur pemerintahan baik penamaan dan penyebutannya  sudah saatnya mengikuti   pada adat se-atorang  di kesultanan Terante tersebut.  Setidaknya,  hal ini   kemudian,   14 lurah di Kota Ternate Utara, dikukuhkan sebagai […]

  • Perusahaan Tambang Wajib Punya PKKPRL

    • calendar_month Sab, 4 Mar 2023
    • account_circle
    • visibility 653
    • 0Komentar

    Kawasan-laut-di-depan-pulau-gebe-dan-fofao-kini-menjadi-tempat-parkir-kapal-dan-tongkang-yang-mengangkut-ore-tambang foto M ICI

  • Fragmentasi Habitat, Burung di Pulau Ternate Terancam

    • calendar_month Ming, 13 Jun 2021
    • account_circle
    • visibility 826
    • 2Komentar

    Burung Srigunting lencana

  • Ini Model Mitigasi Gempabumi Siswa SD

    • calendar_month Kam, 7 Okt 2021
    • account_circle
    • visibility 742
    • 2Komentar

    Siswa SD 4 Ternate saat diberi pengetahuan mitigasi bencana

expand_less