Breaking News
light_mode
Beranda » Kabar Kota Pulau » WALHI Ajak Anak Muda Peduli Lingkungan 

WALHI Ajak Anak Muda Peduli Lingkungan 

  • account_circle
  • calendar_month Jum, 9 Jun 2023
  • visibility 616

Membangun kesadaran anak muda bicara dan peduli  lingkungan  sekitar bisa dilakukan dengan berbagai cara. Salah satunya mereka perlu diberi pengetahuan dan  bekal  informasi yang cukup. Terutama  masalah lingkungan dan dampaknya bagi kehidupan manusia.   Hal itu akan menjadi pengetahuan yang bisa ditularkan kepada masyarakat dan lingkungan sekitar.

Atas  dasar  tersebut  Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) Maluku Utara  mengumpulkan puluhan anak muda  dari sejumlah kampus di Kota Ternate pada Kamis (8/6/2023) sore hingga malam untuk penyadartahuan terkait pentingnya anak muda paham  dampak   kerusakan lingkungan  di Maluku Utara. Kegiatan ini juga merupakan bagian dari memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia 5 Juni lalu. Kegiatan ini digelar dalam bentuk diskusi dengan menghadirkan beberapa pembicara.

Dalam diskusi bertema  Anak Muda Bicara Lingkungan itu  menghadirkan  akademisi Universitas Khairun Ternate  bersama aktivis WALHI Maluku Utara. Keduanya  bicara  kerusakan lingkungan di Maluku Utara dan dampaknya serta,  Maluku Utara sebagai Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil   (WP3K).   

Nursin Gusao mewakili WALHI menyampaikan kepada mahasiswa terkait kondisi kekinian lingkungan Maluku Utara.  Dia paparkan Potret Kerusakan Lingkungan  dan Keberlanjutan Generasi di Masa Depan.   

Dia bilang, membaca kondisi Maluku  Utara hari ini dengan kondisi luasan hutannya yang  sudah dikapling untuk  izin industri ekstraktif  seperti tambang,  HPH dan perkebunan monokultur  mestinya menyadarkan orang muda seperti para mahasiswa ini untuk berpartisipasi aktif melihat  kerusakan lingkungan yang  terjadi dan ikut melakukan kampanye perlindungannya.

Luas hutan Maluku Utara misalnya setiap tahun terus berkurang karena aktivitas industry tambang dan pembukaan lahan untuk kepentingan lain.   Adanya industry ekstraktif dan HPH serta izin perkebunan monokultur sawit  memunculkan konflik di masyarakat sekaligus mengancam ruang hidup masyarakat.    

Kerusakan itu tidak hanya di daratan tetapi juga   berimplikasi pada perairan atau lautnya.

“Jika terjadi kerusakan di hulu  akibat aktivitas  tambang ,  HPH dan perkebunan monokultur  akan ikut menyebabkan terganggunya  perairan,” katanya.    

Yang jelas katanya ketika hulu terganggu maka berimplikasi juga pada lautnya. Aktivitas  tambang, HPH dan perkebunan monokutur  juga  memunculkan  konflik ruang dengan masyarakat. Banyak contoh kasus di Halmahera Tengah, Halmahera Timur, Gane  dan Obi Halmahera Selatan. Hal ini  nyata terjadi.  Tidak hanya   menghancurkan   lingkungan  tapi juga membatasi akses dan ruang hidup warga. Di sini  sebenarnya mula munculnya konflik.   

“Fakta ini  adalah ancaman  serius   manusia tidak hanya saat ini  tetapi  juga  generasi  20 sampai 30 tahun nanti,” jelas  Nursin. Dia lalu tekankan bahwa daya dukung lingkungan untuk keberlanjutan   generasi di masa depan harus dipahami bersama anak  muda  untuk selanjutnya diperjuangkan penyelamatannya. 

“Hutan yang berkurang maupun rusak akan mengurangi relasi manusia dengan alam. Jika hutan  tidak  bisa lagi menyediakan cadangan pangan  sebagai  penyangga kehidupan maka itu ancaman kepada generasi,” tutupnya.

Di tempat sama Dr Adityawan Ahmad  yang juga Dosen Fakultas Perikanan Universitas Khairun menjelaskan beberapa pemahaman dasar kepada  anak muda yang ikut serta  diskusi ini. Misalnya soal pesisir pulau kecil  dan ekosisitemnya. Maluku Utara mayoritas wilayah dan penduduknya   berada di pesisir.  Karena    karakteristik wilayahnya pesisir dan pulau pulau kecil (WP3K) maka ikut menghadapi beragam kerentanan. Tidak hanya karena  dampak  perubahan iklim tetapi juga karena aktivitas manusia.   

Ada tiga ekosistem di kawasan WP3K yakni hutan mangrove, padang lamun dan terumbu karang. Tiga ekosistem ini memiliki keterkaitan. Karena itu saat ekosisitem   hulu rusak  akan berdampak pada   ekosistem  pesisir hingga  dalam laut.  

Di daerah pesisir katanya, ada multi aktivitas  yang berimbas kepada pantai dan laut. Dengan ruang  dan sumberdaya yang terbatas, pulau kecil juga memiliki kerentanan secara ekologi.

 “Ada keterkaitan ekologi.  Mangrove yang rusak  atau ada kerusakan di hulu  akan berdampak sampai ke terumbu karang. Karena itu ekosistem yang ada harus dijaga.” kata Adityawan.

Dia contohkan terumbu karang,  untuk tumbuh satu cm saja butuh setahun.  Terumbu karang yang kita saksikan ada di laut  saat ini  misalnya,  butuh waktu ratusan hingga ribuan tahun.  Karena itu jika rusak karena ada aktivitas manusia atau  dampak industry ekstraktif dipastikan generasi saat ini dan ke depan  tidak akan   melihatnnya lagi.  “Nah kesadaran seperti ini harus dibangun untuk terus menjaga lingkungan yang kita miliki,” ujarnya.

Dia bilang lagi, pulau kecil memiliki sumberdaya yang lebih. Begitu juga manusianya beragam.  Dia juga  gambarkan beberapa karakteristik masyarakat pulau  terutama   kondisi social ekonominya. Di mana sangat dipengaruhi jenis kegiatan mereka sehari hari. Hal ini juga karena ruang hidup yang kecil. Struktur masyarakatnya juga sederhana  dan belum banyak dipengaruhi pihak luar. Pekerjaan orang di pesisir dan pulau kecil juga sebagian besar  adalah nelayan.  “Ada satu ciri umum yag dikenal  dan sering disematkan pada masyarakat di pulau pulau kecil adalah  soal kemiskinan,” ujarnya.

Tidak itu saja,  dia  bilang selain kerentanan masyarakat yang hidup di   pesisir dan pulau  kecil seperti  di Maluku Utara   ada juga   ruang hidup yang sering kali terancam oleh beragam  masalah. Hal ini sudah sangat dirasakan. Misalnya  dampak perubahan iklim, abrasi pantai, penambangan pasir, alih fungsi lahan, alihfungsi hutan mangrove  dan alih fungsi karena pertambangan. Serta ancaman krisis air bersih. “Aktivitas yang menganggu bentangan alam pesisir dan pulau pulau kecil juga  berdampak pada kehidupan masyarakat di pesisir,” katanya.   

Dalam kegiatan ini para peserta diskusi yang rata rata mahasiswa  sangat antusias. Ini terbukti dengan berbagai pertanyaan dan gagasan yang diajukan dalam diskusi tersebut untuk  mendorong  anak muda  selalu peduli pada soal soal lingkungan.

Rahman salah satu peserta dari Universita Khairun misalnya, mengajukan pertanyaan terkait dampak industry tambang yang ikut meningkatkan urbanisasi.   Dampaknya kemudian terjadi perebutan sumberdaya  hingga   masyarakat local  banyak yang   meninggalkan kebun maupun  bekerja sebagai nelayan  yang merupakan basis hidup mereka. “Kita lihat  gelombang urbanisasi hingga warga   setempat ikut meninggalkan kebun dan laut yang turun temurun   jadi  sumber hidup mereka ,” ujarnya. (*)

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • BMKG: Waspadai Angin Kencang dan Gelombang

    • calendar_month Rab, 24 Feb 2021
    • account_circle
    • visibility 676
    • 2Komentar

    ilustrasi: kondisi gelombang besar yang menghantam pantai sulamadaha.foto wawan ilyas

  • Melihat Kehati Halmahera Lewat Bird Race Competition   

    Melihat Kehati Halmahera Lewat Bird Race Competition   

    • calendar_month Sel, 28 Jul 2026
    • account_circle Redaksi
    • visibility 188
    • 0Komentar

    Halmaherapedia– International Bird Race Competition 2026 pertama digelar di  Maluku Utara. Acara  ini secara resmi dibuka pada Senin (27/7/2026). Kegiatan yang diinisiasi oleh Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata (BTNAL) ini diikuti  puluhan peserta dari berbagai latar belakang.  Mahasiswa, sektor swasta, fotografer profesional, hingga  dari mancanegara. Acara ini digelar sebagai bentuk memperkenalkan potensi pusat keanekaragaman hayati di […]

  • 7 Tahun Gerakkan Panen Air Hujan, Dapat Kalpataru

    • calendar_month Jum, 10 Feb 2023
    • account_circle
    • visibility 820
    • 1Komentar

    Zulfli-saaar-menerima-penghargaan-Kalpataru-yang-diserahkan-Wakil-Menteri-KLHK-foto-pribadi-Zulkifli

  • Cerita Anak Muda Tomolou Tidore Perangi Sampah

    • calendar_month Kam, 26 Nov 2020
    • account_circle
    • visibility 684
    • 0Komentar

    Buat Kampung  Bersih, Beri PAD Buat Kota Tikep Memasuki  kampong  Tomolou di Kota Tidore Kepulauan   dipastikan tidak akan menemukan sampah tercecer di jalanan. Begitu juga pantainya. Tidak ada lagi warga membuang sampah ke tepi pantai. Kondisi hari ini berbeda dari sebelum-sebelumnya. Di mana kebanyakan buang sampah ke laut dan pantai sebagaimana kebiasaan sebagian warga di Maluku […]

  • Gerakan Tanam Pohon Serentak, 760 Batang Ditanam di Domato Halbar

    • calendar_month Jum, 5 Jan 2024
    • account_circle
    • visibility 730
    • 1Komentar

    Program menanam pohon serentak di Indonesia oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan juga dilaksanakan di Maluku Utara. Kegiatan ini dipusatkan di Desa Domato Kecamatan Jailolo Selatan  Kabupaten Halmahera Barat pada Jumat (30/12/2023). Kegiatan  ini dipimpin oleh Tenaga Ahli Menteri LHK Bidang Subjek Politik Kebangsaan dan Sumber Daya Alam, Bpk. Ariyanto, dihadiri kurang lebih 166 peserta […]

  • Mata Air Ake Gaale Berubah Menjadi Air Mata Warga

    • calendar_month Jum, 19 Agu 2016
    • account_circle
    • visibility 2.092
    • 0Komentar

    Untuk  menemukan  sumber mata air  yang mengalir di pulau kecil seperti Ternate, terutama  di tengah pemukiman warga yang padat ,  hanya ada di dua tempat. Dua sumber mata air itu  adalah,  Ake Santosa, di Kelurahan Salero atau tepatnya berada sebuah bukit kecil di samping Kedaton Kesultanan Ternate.  Sementara yang satunya lagi ada di Bagian Utara […]

expand_less