Breaking News
light_mode
Beranda » Kabar Kota Pulau » WALHI Ajak Anak Muda Peduli Lingkungan 

WALHI Ajak Anak Muda Peduli Lingkungan 

  • account_circle
  • calendar_month Jum, 9 Jun 2023
  • visibility 689

Membangun kesadaran anak muda bicara dan peduli  lingkungan  sekitar bisa dilakukan dengan berbagai cara. Salah satunya mereka perlu diberi pengetahuan dan  bekal  informasi yang cukup. Terutama  masalah lingkungan dan dampaknya bagi kehidupan manusia.   Hal itu akan menjadi pengetahuan yang bisa ditularkan kepada masyarakat dan lingkungan sekitar.

Atas  dasar  tersebut  Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) Maluku Utara  mengumpulkan puluhan anak muda  dari sejumlah kampus di Kota Ternate pada Kamis (8/6/2023) sore hingga malam untuk penyadartahuan terkait pentingnya anak muda paham  dampak   kerusakan lingkungan  di Maluku Utara. Kegiatan ini juga merupakan bagian dari memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia 5 Juni lalu. Kegiatan ini digelar dalam bentuk diskusi dengan menghadirkan beberapa pembicara.

Dalam diskusi bertema  Anak Muda Bicara Lingkungan itu  menghadirkan  akademisi Universitas Khairun Ternate  bersama aktivis WALHI Maluku Utara. Keduanya  bicara  kerusakan lingkungan di Maluku Utara dan dampaknya serta,  Maluku Utara sebagai Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil   (WP3K).   

Nursin Gusao mewakili WALHI menyampaikan kepada mahasiswa terkait kondisi kekinian lingkungan Maluku Utara.  Dia paparkan Potret Kerusakan Lingkungan  dan Keberlanjutan Generasi di Masa Depan.   

Dia bilang, membaca kondisi Maluku  Utara hari ini dengan kondisi luasan hutannya yang  sudah dikapling untuk  izin industri ekstraktif  seperti tambang,  HPH dan perkebunan monokultur  mestinya menyadarkan orang muda seperti para mahasiswa ini untuk berpartisipasi aktif melihat  kerusakan lingkungan yang  terjadi dan ikut melakukan kampanye perlindungannya.

Luas hutan Maluku Utara misalnya setiap tahun terus berkurang karena aktivitas industry tambang dan pembukaan lahan untuk kepentingan lain.   Adanya industry ekstraktif dan HPH serta izin perkebunan monokultur sawit  memunculkan konflik di masyarakat sekaligus mengancam ruang hidup masyarakat.    

Kerusakan itu tidak hanya di daratan tetapi juga   berimplikasi pada perairan atau lautnya.

“Jika terjadi kerusakan di hulu  akibat aktivitas  tambang ,  HPH dan perkebunan monokultur  akan ikut menyebabkan terganggunya  perairan,” katanya.    

Yang jelas katanya ketika hulu terganggu maka berimplikasi juga pada lautnya. Aktivitas  tambang, HPH dan perkebunan monokutur  juga  memunculkan  konflik ruang dengan masyarakat. Banyak contoh kasus di Halmahera Tengah, Halmahera Timur, Gane  dan Obi Halmahera Selatan. Hal ini  nyata terjadi.  Tidak hanya   menghancurkan   lingkungan  tapi juga membatasi akses dan ruang hidup warga. Di sini  sebenarnya mula munculnya konflik.   

“Fakta ini  adalah ancaman  serius   manusia tidak hanya saat ini  tetapi  juga  generasi  20 sampai 30 tahun nanti,” jelas  Nursin. Dia lalu tekankan bahwa daya dukung lingkungan untuk keberlanjutan   generasi di masa depan harus dipahami bersama anak  muda  untuk selanjutnya diperjuangkan penyelamatannya. 

“Hutan yang berkurang maupun rusak akan mengurangi relasi manusia dengan alam. Jika hutan  tidak  bisa lagi menyediakan cadangan pangan  sebagai  penyangga kehidupan maka itu ancaman kepada generasi,” tutupnya.

Di tempat sama Dr Adityawan Ahmad  yang juga Dosen Fakultas Perikanan Universitas Khairun menjelaskan beberapa pemahaman dasar kepada  anak muda yang ikut serta  diskusi ini. Misalnya soal pesisir pulau kecil  dan ekosisitemnya. Maluku Utara mayoritas wilayah dan penduduknya   berada di pesisir.  Karena    karakteristik wilayahnya pesisir dan pulau pulau kecil (WP3K) maka ikut menghadapi beragam kerentanan. Tidak hanya karena  dampak  perubahan iklim tetapi juga karena aktivitas manusia.   

Ada tiga ekosistem di kawasan WP3K yakni hutan mangrove, padang lamun dan terumbu karang. Tiga ekosistem ini memiliki keterkaitan. Karena itu saat ekosisitem   hulu rusak  akan berdampak pada   ekosistem  pesisir hingga  dalam laut.  

Di daerah pesisir katanya, ada multi aktivitas  yang berimbas kepada pantai dan laut. Dengan ruang  dan sumberdaya yang terbatas, pulau kecil juga memiliki kerentanan secara ekologi.

 “Ada keterkaitan ekologi.  Mangrove yang rusak  atau ada kerusakan di hulu  akan berdampak sampai ke terumbu karang. Karena itu ekosistem yang ada harus dijaga.” kata Adityawan.

Dia contohkan terumbu karang,  untuk tumbuh satu cm saja butuh setahun.  Terumbu karang yang kita saksikan ada di laut  saat ini  misalnya,  butuh waktu ratusan hingga ribuan tahun.  Karena itu jika rusak karena ada aktivitas manusia atau  dampak industry ekstraktif dipastikan generasi saat ini dan ke depan  tidak akan   melihatnnya lagi.  “Nah kesadaran seperti ini harus dibangun untuk terus menjaga lingkungan yang kita miliki,” ujarnya.

Dia bilang lagi, pulau kecil memiliki sumberdaya yang lebih. Begitu juga manusianya beragam.  Dia juga  gambarkan beberapa karakteristik masyarakat pulau  terutama   kondisi social ekonominya. Di mana sangat dipengaruhi jenis kegiatan mereka sehari hari. Hal ini juga karena ruang hidup yang kecil. Struktur masyarakatnya juga sederhana  dan belum banyak dipengaruhi pihak luar. Pekerjaan orang di pesisir dan pulau kecil juga sebagian besar  adalah nelayan.  “Ada satu ciri umum yag dikenal  dan sering disematkan pada masyarakat di pulau pulau kecil adalah  soal kemiskinan,” ujarnya.

Tidak itu saja,  dia  bilang selain kerentanan masyarakat yang hidup di   pesisir dan pulau  kecil seperti  di Maluku Utara   ada juga   ruang hidup yang sering kali terancam oleh beragam  masalah. Hal ini sudah sangat dirasakan. Misalnya  dampak perubahan iklim, abrasi pantai, penambangan pasir, alih fungsi lahan, alihfungsi hutan mangrove  dan alih fungsi karena pertambangan. Serta ancaman krisis air bersih. “Aktivitas yang menganggu bentangan alam pesisir dan pulau pulau kecil juga  berdampak pada kehidupan masyarakat di pesisir,” katanya.   

Dalam kegiatan ini para peserta diskusi yang rata rata mahasiswa  sangat antusias. Ini terbukti dengan berbagai pertanyaan dan gagasan yang diajukan dalam diskusi tersebut untuk  mendorong  anak muda  selalu peduli pada soal soal lingkungan.

Rahman salah satu peserta dari Universita Khairun misalnya, mengajukan pertanyaan terkait dampak industry tambang yang ikut meningkatkan urbanisasi.   Dampaknya kemudian terjadi perebutan sumberdaya  hingga   masyarakat local  banyak yang   meninggalkan kebun maupun  bekerja sebagai nelayan  yang merupakan basis hidup mereka. “Kita lihat  gelombang urbanisasi hingga warga   setempat ikut meninggalkan kebun dan laut yang turun temurun   jadi  sumber hidup mereka ,” ujarnya. (*)

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Penemuan Ikan Purba Coelacanth Hidup Pertama di Perairan Maluku Utara

    • calendar_month Sel, 27 Mei 2025
    • account_circle
    • visibility 1.926
    • 0Komentar

    Ekspedisi ilmiah yang dilakukan Underwater Scientific Exploration for Education (UNSEEN), Universitas Pattimura, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Universitas Udayana, dan Universitas Khairun berhasil menemukan ikan purba coelacanth (Latimeria menadoensis) di perairan Maluku Utara. Penemuan langka ini merupakan bagian dari kolaborasi internasional yang didukung Blancpain Ocean Commitment, berfokus pada penelitian ekosistem terumbu karang  mesofotik (kedalaman […]

  • “Super Blue Blood Moon” Waspadai Banjir ROB

    “Super Blue Blood Moon” Waspadai Banjir ROB

    • calendar_month Sel, 30 Jan 2018
    • account_circle
    • visibility 632
    • 0Komentar

    Badan Metrologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperkirakan pada  31 Januari 2018, akan terjadi Fenomena Super Blue Blood Moon atau Supermoon yang bertepatan dengan Gerhana Bulan Total. Posisi ini matahari, bumi dan bulan berada pada satu garis lurus. Kejadian Gerhana Bulan Total dapat diamati di sebagian besar wilayah Indonesia. Fenomena ini merupakan fenomena langka karena akan […]

  • Perampasan Ruang Laut Marak, BRIN Ajak Kolaborasi Keilmuan

    • calendar_month Sab, 24 Mei 2025
    • account_circle
    • visibility 1.134
    • 1Komentar

    Beberapa dekade terakhir, pesisir dan laut menjadi arena perebutan kepentingan yang tidak seimbang antara pemegang kuasa ekonomi-politik dan komunitas pesisir yang menggantungkan hidupnya dari laut. Fenomena ini dikenal sebagai coastal and marine grabbing – praktik perampasan ruang laut. Berapa besar dampak bagi komunitas tempatan dan ekosistem pesisir dan laut saat ini? Organisasi Riset Ilmu Pengetahuan […]

  • Ekowisata Cengkeh Afo, Padukan Sejarah dan Alam

    • calendar_month Jum, 29 Jan 2021
    • account_circle
    • visibility 1.023
    • 0Komentar

    Memasuki kawasan ekowisata Cengkeh Afo/foto m ichi

  • Ajak Warga Kao Lindungi Mangrove dan Satwa Endemik

    • calendar_month Sab, 20 Okt 2018
    • account_circle
    • visibility 630
    • 0Komentar

    Komitmen melindungi satwa endemic tidak hanya hadir melalui  forum  seminar atau diskusi   peneliti,  maupun mereka yang concern terhadap isyu lingkungan dan keanekaragaman hayati. Apa yang dilakukan   bersama  Pemerintah Desa Kao  Halmahera Utara  Selasa (02/10) akhir pecan lalu ini juga,  memiliki maksud  yang sama. Membicarakan upaya  perlindungan   m,angrove dan satwa endemik.  Melalui forum ini, mereka  menyatukan presepsi  menjaga […]

  • WALHI Gelar Camping Kaum Muda Kepulauan

    • calendar_month Rab, 8 Nov 2023
    • account_circle
    • visibility 612
    • 0Komentar

    Bangun Kesadaran Sejak Dini untuk Lingkungan Pada Jumat hingga Minggu (03-05/11/ 2023) lalu Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Maluku Utara,  menggelar Camping Kaum Muda Kepulauan. Kegiatan tersebut dipusatkan di kawasan wisata Pantai Kastela Kecamatan Pulau Ternate Maluku Utara.  Kegatan  itu mengusung tema “Selamatkan Ruang Hidup Rakyat Maluku Utara Dari Solusi Palsu Transisi Energi”  Kegiatan outdor […]

expand_less