Breaking News
light_mode
Beranda » Kabar Kampung » Suara Lirih Petani Kakao Pulau Bacan

Suara Lirih Petani Kakao Pulau Bacan

  • account_circle
  • calendar_month Kam, 9 Nov 2023
  • visibility 519

Busuk Buah Bertahun-Tahun, Tak Digubris Pemerintah?

Hari sudah agak siang Rabu (31/10/2023). Meski begitu di bawah perkebunan kakao yang ditumpangsarikan kelapa dan pala berjarak kurang lebih satu kilometer dari Panamboang Bacan Selatan Pulau Bacan itu terasa sejuk.    

Jarum jam menujukan sekira pukul 11.20 WIT. Saif Bakar (49) sibuk mengumpulkan satu per satu buah kakao matang yang telah dijolok dari pohonnya selama dua hari berturut turut.

Buah kakao yang berserakan di bawah pohon setelah  pemanen, dikumpulkan satu per satu ke dalam saloi (keranjang yang dianyam dari bamboo dan rotan dan biasa dipakai ibu ibu petani di Malut saat ke kebun,red).

Selanjutnya ditumpuk di satu  tempat. Tujuannya ketika mereka akan  membelah buah dan mengambil biji coklat,  semua  terkumpul di satu tempat.

Teryata kakao yang dikumpulkan hari itu tidak semua bisa diambil. Buah matang berwarna kuning itu ada yang bijinya keras.   “Ada juga buah yang isinya keras sehingga sulit diambil. Dari buah yang telah dipanen ini, sekira 40 persennya alami busuk buah. Meski dari tekstur kulit buahnya terlihat mulus saat dibelah biji biji kakao itu mengeras,” kata Saif.

Panen kali ini memang bukan musim besar seperti setahun lalu. Tetapi buahnya masih lumayan banyak. Hanya saja karena busuk buah, diperkirakan seperempat  dari buah yang dipanen rusak atau tidak bisa diambil hasilnya.

Buah kakao yag dikumpul satu tempat sebelum dibelah diambil bijinya,foto M Ichi

“Yang keras sudah pasti dibuang. Hasil panen  ini kalau  tidak alami penyakit busuk buah, bisa 70 sampai 100 kilogram,” katanya. Namun karena ada busuk buah. Hasilnya hanya sekira 50 sampai 60 kilogram.

Buah kakao yang alami penyakit busuk buah ini dikenal dengan (Phytophthora palmivora). Di mana tanda tandanya diawali dengan munculnya bercak kecil pada buah, sekitar dua hari setelah infeksi. Bercak berwarna cokelat, kemudian berubah menjadi kehitaman dan meluas dengan cepat sampai seluruh buah tertutupi. Penyakit busuk buah ini berlangsung sudah cukup lama  25 tahun ini tetapi belum pernah  dilakukan apa pun dari pemerintah dengan memberi solusi dari masalah ini.

“Memang so (sudah,red) dari dulu tetapi torang (kami,red) tidak pernah dengar ada upaya untuk berantas penyakit ini. Terutama  dari pemerintah kasih obat atau pestisida atau ada penyuluhan begitu,” kata Saif.

Karena itu  dia  berharap jika pemerintah mau membantu petani bisa mengupayakan pemberantasan penyakit ini sehingga kehidupan petani bisa lebih baik. Pasalnya  hasil panen  akan meningkat. “Sekarang ini setiap panen hamper setengeh dari buah kakao dibuang percuma,” keluhnya.    

Sekadar diketahui di era 80-an hingga akhir 1990-an, Halmahera bagian selatan, Bacan, Mandioli dan beberapa pulau sekitarnya (Kabupaten Halmahera Selatan sekarang,red) menjadi sentra produksi kakao atau coklat.

Penyakit busuk buah yang menyerang kakao. Buah yang belum matang sudah mengering, foto M Ichi

Bahkan  sampai saat ini di beberapa daerah seperti di Pulau Bacan masih tetap bertahan memproduksi biji kakao. Para petani terus menanam dan memanen  hasil kakao meski produksinya menurun.

Biji kakao yang diolah sebagai berbagai campuran minuman dan kue itu, kondisinya tidak baik baik saja. Serangan penyakit kakao sudah berlangsung lama tetapi petani tetap bertahan dengan produksi yang makin parah tersebut. Busuk buah  sejak akhir tahun 1990an hingga kini belum juga bisa diatasi.    

Laporan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Maluku Utara Tahun 2017 menunjukan produktivitas perkebunan kakao rakyat Provinsi Maluku Utara mencapai 730 kg/ha/tahun  Produktivitas tersebut masih berada di bawah rata-rata nasional dan potensinya sebesar 1.300-2.000 kg/ha/tahun. Perkebunan kakao di Maluku Utara dengan luas 34.656 ha belum dikelolah secara optimal. Dari jumlah luasan tersebut terdapat 4.065 ha tanaman tua/rusak.

Permasalahan utama budidaya tanaman kakao di   Bacan adalah tingginya intensitas serangan hama dan penyakit terutama busuk buah kakao yang disebabkan jamur Phytopthora palmivora dan Hama penggerek buah kakao/PBK (Conopomorpha cramerella) karena tidak dilakukannya perawatan dan pemeliharaan tanaman.   

Inovasi teknologi perbaikan budidaya tanaman kakao yang diintroduksi (sanitasi, pemangkasan, pengelolaan tanaman peneduh, pemupukan, dan kombinasi pengendalian hama penyakit dengan cara hayati dan kimia) dapat menurunkan intensitas serangan penyakit busuk buah kakao dan hama penggerek buah kakao.

Kondisi buah kakao yang terbilang sehat foto M Ichi

Selain itu pertumbuhan tanaman kakao lebih sehat, dan panen buah kakao berkisar 2,5-2,7 buah per pohon atau rata-rata menghasilkan 24,5 biji per buah. Setahun sesudah pelaksanaan penerapan teknologi budidaya kakao, tanaman menunjukkan pertumbuhan dan perkembangan yang lebih baik.

Kegiatan perbaikan teknologi budidaya dengan komponen utama yang meliputi sanitasi tanaman kakao, pemberian pupuk secara berimbang, dan pengendalian

Hama penyakit, telah mampu membuat tanaman berproduksi lebih baik. Kondisi yang relatif baik tersebut disebabkan terawatnya kebun dan tanaman kakao dari berbagai macam gulma yang berdaun lebar, berdaun sempit, dan merayap/menjalar.(*)

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Dari Forum Adat Kesangadjian, Selamatkan Alam Halmahera Timur

    • calendar_month Sel, 7 Jan 2025
    • account_circle
    • visibility 948
    • 0Komentar

    Forum adat di bawah Kesangadjian  yang berada  di Halmahera Timur  diinisiasi pembentukannya oleh masyarakat. Gerakan  yang dilakukan Kesangadjian   Bicoli dan turut menghadirkan Sangaji  di Maba itu dilaksanakan  pada 27 dan 28 Desember 2024 lalu. Forum Adat Kesangadjian ini merupakan yang  pertama di Halmahera Timur. Kegiatan itu itu dipusatkan di Balai Desa Wayamli, Halmahera Timur Maluku […]

  • Abrasi, Jalan Raya di Laiwui Obi Nyaris Putus  

    • calendar_month Sen, 20 Feb 2023
    • account_circle
    • visibility 498
    • 1Komentar

    Desa pesisir di sejumlah pulau di Maluku Utara menghadapi masalah serius. Masalah diakibatkan oleh  adanya kenaikan permulaan air laut. Penulusuran kabarpulau.co.id/ di sejumlah pulau di Maluku Utara, menemukan  berbagai fasilitas rusak akibat adanya abrasi pantai.  Di Pulau Obi misalnya,  fasilitas seperti  tanggul penahan ombak  patah. Bahkan jalan raya yang berada di tepi pantai juga  hancur […]

  • Ancaman Plastik Makin Mengerikan, Chair’s Draft Text Gagal Lindungi Planet

    • calendar_month Jum, 15 Agu 2025
    • account_circle
    • visibility 514
    • 3Komentar

      Aliansi Zero Waste Indonesia (AZWI) mengecam keras teks baru yang dirilis oleh Chair Intergovernmental Negotiating Committee (INC) untuk Perjanjian Global Plastik pada 13 Agustus 2025. Dokumen ini merupakan kemunduran besar yang mengkhianati tiga tahun proses negosiasi yang menunjukkan dukungan luas terhadap perjanjian ambisius yang mengatur seluruh siklus hidup plastik, termasuk pembatasan produksi. Alih-alih menjadi […]

  • Pulau Mitita Surganya Hiu Sirip Hitam

    • calendar_month Sen, 1 Nov 2021
    • account_circle
    • visibility 599
    • 1Komentar

    Kabupaten Pulau Morotai memiliki 33 pulau kecil yang mengelilinginya. Pulau yang tidak berpenghuni berjumlah 26  dan yang berpenghuni   7 pulau. Pulau  yang berpenghuni adalah pulau Morotai (main island), pulau Kolorai, pulau Ngele-ngele kecil, pulau Ngele-ngele besar pulau Golo-golo, pulau Rao, dan pulau Saminyamau. Tahun 2014, Presiden Jokowi menetapkan Pulau Morotai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata […]

  • UGM Riset Kosmopolis Rempah di Malut

    • calendar_month Kam, 10 Agu 2023
    • account_circle
    • visibility 416
    • 1Komentar

    Sudah Jalin Kerjasama dengan Pemkab Halut Wilayah Provinsi Maluku Utara dikenal sebagai penghasil  rempah pala dan cengkeh.  Tak salah di Kota Ternate misalnya saat ini membangun icon kotanya dengan sebutan   Kota Rempah. Karena itu juga  Maluku Utara patut menyandang The Spicy Island  karena menjadi penghasil rempah yang merupakan sebuah warisan masa lalu Upaya mengembalikan kejayaan […]

  • Nasib Miris PLTS di Halmahera Selatan (2) Habis

    • calendar_month Sen, 14 Agu 2023
    • account_circle
    • visibility 504
    • 0Komentar

    Tak Cuma Bangun, Butuh Perawatan untuk Keberlanjutan Provinsi Maluku Utara dengan 805 pulau memiliki banyak desa di pulau kecil. Dari total desa, 898 ada di tepi laut  sementara bukan di tepi laut  ada 305  desa. Mayoritas desa di pesisir dan pulau, memikul beban  ketersediaan energi listriknya. Di pulau kecil yang memiliki penghuni belum semua tersedia […]

expand_less