Breaking News
light_mode
Beranda » Kabar Kampung » Kebun Sagu Dijual, Cadangan Pangan Warga Sagea Hilang (1)

Kebun Sagu Dijual, Cadangan Pangan Warga Sagea Hilang (1)

  • account_circle
  • calendar_month Ming, 7 Jan 2024
  • visibility 900

Rintik hujan pada Minggu (26/11/2023) sekira pukul 17.00 WIT itu, tak menyurutkan semangat Abdurahman Jabir (50) dan Anwar Ismail (67). Keduanya bahu membahu dengan kedua tangan, mengangkat tepung sagu yang telah mengendap di dalam perahu–wadah penampung perasan pokok sagu. 

Tepung terisi dalam tiga karung besar hasil perasan  empulur setengah batang pohon sagu, yang panjangnya kurang lebih 15 meter. Diambil dari bagian pangkal dan ujung pohon. Dipotong pendek  ukuran sehasta kurang lebih 20 potong setelah itu dibelah dan dibersihkan, lalu digiling menggunakan mesin parut. Mereka memerasnya menggunakan sumber air dari Sungai Sagea tak jauh dari kampung.

Batang pohon sagunyasendiriberada agak jauh dari tempat mesin parut dan perasan sagu. Untuk mencapainya menggunakan perahu menyusuri kali Sagea dan melawan arus sekira 500 meter. Begitu tiba,  lalu jalan kaki 30 menit.  

Pohon sagu yang diolah ini ada di lahan milik keluarga Abdurahman berbatasan langsung dengan dua kawasan konsesi tambang di wilayah itu. “Pohon sagu yang diolah ini ditanam orang tua kami. Lahan kebun sagu ini  tidak jual karena ini sumber makanan kami,” jelas Mano begitu Abdurahman biasa disapa.

Mano adalah salah satu warga Sagea tersisa yang masih konsisten mengolah sagu, memenuhi pangan keluarganya. Sagu yang dia olah juga menjadi  sumber uang pendidikan anak anak, biaya kesehatan dan simpanan.Tak itu saja dia ikut membantu mempertahakan sagu tetap bisa dikonsumsi warganya.

“Hasil olahan ini langsung habis diborong warga karena mereka sudah pesan duluan,” kata Abdurahman Jabir. 

Dia cerita, setiap hari warga cari sagu untuk dimakan. Sayangnya di Desa Sagea  dan Kiya  dua desa berdekatan, nyaris sudah tidak ada lagi orang mengolah pohon sagu. Karena itu juga, tepung sagu mentah maupun yang telah dibakar dalam bentuk lempengan mesti didatangkan dari Kecamatan Patani di Halmahera Tengah maupun dari Maba Kabupaten Halmahera Timur. 

Kebun sagu di desa Sagea yang kini telah dijual ke perusahaan tambang nikel PT Song Hai telah dibangun mess karyawan-perusahaan tersebut. foto-M-Ichi

Kurangnya stok sagu, membuat hasil olahannya laris manis. Ukuran satu karung yang beratnya 40 kilogram bisa dihargai Rp300 ribu. “Mengolah pohon sagu ini tidak lama. Satu hari kerja sudah bisa dapatkan dua karung sagu. Jika jadi tepung sagu dan sudah dikarungkan, pembeli langsung datang dan bayar,” katanya.

Apalagi jika diolah atau dimasak dalam bentuk lempeng atau dikenal dengan sagu lempeng, keuntungannya berlipat. Satu karung tepung sagu yang dibeli dengan harga Rp300 ribu menghasilkan Rp700 ribu sampai Rp750 ribu.

Minimnya hasil olahan sagu, untuk memenuhi kebutuhan dia sendiri  tidak mampu melayani kebutuhan masyarakat. Karena olah sagu punya prospek menjanjikan dia mengaku tidak tertarik lagi bekerja di tambang. Apalagi sampai  menjual lahan sagu memenuhi kebutuhan. Tidak akan dilakukan.

“Kebun masyarakat hampir semua sudah dijual.  Tetapi punya orang tua kami tidak dijual sehingga saya bisa olah sagu seperti sekarang. Kalau kita jual nanti tidak bisa olah sagu lagi.  Ini sumber hidup kami. Dari dulu orang Sagea ini olah  dan makan sagu.,” katanya.     

Dia bilang, lahan sagu ini menjadi harapan hidup mereka di tengah maraknya penjualan lahan sejak 2017 hingga kini.

Penjualan lahan itu termasuk kebun sagu di kampung Sagea yang dikenal dengan sebutan aha sagu. Aha sagu adalah satu hamparan lahan kebun sagu yang sangat luas dan dimiliki  secara komunal. Atau juga milik keluarga tertentu di Sagea.  

“Aha sagu itu semua sudah dijual,” kata Ibrahim Sigoro tokoh masyarakat Sagea. Ibrahim yang juga mantan camat Weda Utara 6 tahun lalu itu bercerita, penjualan  tanah termasuk lahan sagu, dimulai sejak 2017 lalu.  Kala itu  dia masih menjabat sebagai camat. Waktu itu perusahaan tambang akan membeli lahan maka warga ramai ramai menjual lahan. Alasan mereka karena desakan kebutuhan. Selain itu jika tidak dijual akan kesulitan akses dan mengambil hasilnya jika perusahaan sudah beroperasi.   

Lahan sagu  yang telah dijual salah satunya ke perusahaan tambang bernama PT Song Hai yang berada tidak jauh dari desa Sagea. Luas lahan aha di desa ini mencapai 50  hektar. 

Akibat kebun sagu telah dijual ketika ada warga mau  mengolah sagu, harus meminta kembali kepada pihak perusahaan. Saat ini kebun sagu yang sudah dibeli itu  karena belum digusur perusahaan, maka masih bisa dimanfaatkan.

“Pihak perusahaan juga persilakan jika mau ambil hasilnya,” kata Abdurahman.

Dia bilang pihak perusahaan mempersilakan warga diolah dan ambil hasilnya. Jika sudah digusur lalu dijadikan wilayah konsesi tambang,  sumber pangan itu akan lenyap. Jika sudah begitu warga akan semakin kesulitan mendapatkan sagu.

Pohon sagu tersisa tak jauh dari Kampung Sagea yang siap dipanen. Foto M Ichi

“Saat ini saja sudah sangat sulit apalagi kebun kebun sagu yang  ada ini digusur,” katanya. 

Dia bilang, di daerah lingkar tambang ini tidak hanya kebun sagu yang dijual, hutan mangrove, kebun kelapa pala dan cengkih serta lahan lahan kosong hampir semua dilego ke perusahaan.     

Kepala Desa Sagea Arif Thaib tidak menampik masifnya penjualan lahan termasuk kebun sagu di kampungnya. Sagu menjadi salah satu sumber pangan lokal penting, namun  kebun sagu  dijual ke perusahaan  sehingga terancam habis. 

Pihaknya mengaku tidak bisa membatasi masyarakat menjual lahan terutama kebun sagu karena itu milik masyarakat dan menjadi kemauan secara sadar. Pihaknya hanya mampu memberikan pertimbangan. Selanjutnya menjadi hak warga mau jual atau tidak.

Terkait kebun yang dijual ke perusahaan termasuk kebun sagu  dia terkesan menyalahkan warga yang makin malas  mengolah sagu. “Lahan sagu nyaris habis karena warga sudah tidak mau lagi mengolah sagu. Di Desa Sagea ini  tersisa dua orang aktif mengolah sagu. 

“Warga sebenarnya merindukan makan sagu tiap saat. Tetapi semakin jarang orang mengolah sagu. Akhirnya harus beli dari daerah lain,” katanya.

Warga di Sagea dan desa di daerah lingkar tambang Halmahera Tengah kebanyakan mendapat pasokan sagu  dari Kecamatan Patani Halmahera Tengah dan Maba di Halmahera Timur.Dia bilang lagi, ini ancaman serius karena sumber pangan ini tidak bisa diharapkan lagi diolah warganya.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Halmahera Tengah Yusmar Ohorela dikonfirmasi menjelaskan wilayah Kecamatan Weda Utara, masuk delineasi kawasan lahan pertanian pangan berkelanjutan. Meski kawasan lahan bekelanjutan namun penjualan lahan sulit terbendung.    Pihaknya tidak bisa berbuat apa-apa. Apalagi membatasi warga. Hal ini karena ada kebutuhan masyarakat yang juga mendesak.

“Saya sudah coba lakukan pendekatan dengan memberikan penjelasan terkait lahan. Misalnya lahan pertanian selain untuk kegiatan pertanian tanaman pangan, tanaman perkebunan dan tanaman sayuran, juga bisa dimanfaatkan untuk kepentingan tempat tinggal bagi anak cucu. Tapi karena alasan kebutuhan mendesak sehingga kebun juga dijual,” jelasnya.

Dia contohkan, temuannya di lapangan, ada sepuluh petani punya lahan berdekatan. Lahan milik tujuh petani telah dijual kepada perusahan tambang. Sementara tigaorang tidak menjualnya. Nanti lahan yang sudah terjual akan digunakan perusahaan, karena dikhawatirkan berdampak terhadap lahan mereka, akhirnya tiga orang ini berpikir dari pada terkena dampak, mereka jual lagi. (bersambung)

Tulisan ini merupakan liputan fellowship kerja sama AJI Indonesia Kurawal Foundation dan Independen.id

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Maluku Utara Masuk Wilayah Ancaman La Nina

    • calendar_month Rab, 14 Okt 2020
    • account_circle
    • visibility 738
    • 0Komentar

    Desember- Januari  Curah Hujan Tinggi, Perlu Antisipasi Pemda Hingga akhir September 2020, pemantauan terhadap anomali iklim global di Samudera Pasifik Ekuator menunjukkan bahwa anomali iklim La-Nina sedang berkembang. Indeks ENSO (El Nino-Southern Oscillation) menunjukkan suhu permukaan laut di wilayah Pasifik tengah dan timur dalam kondisi dingin selama enam dasarian terakhir dengan nilai anomali telah melewati […]

  • Anak Muda Bicara Problem Pembangunan Halmahera Selatan

    • calendar_month Ming, 5 Jun 2022
    • account_circle
    • visibility 739
    • 0Komentar

    Warga di Gane hanya bisa memanfaatkan jalan perusahaan sawit untuk akses mereka. Hingga kini jalan belum dibangun pemerintah di ujung selatan Halmahera tersebut, foto M Ichi

  • Belantara Fondation Bahas Nilai Ekonomi dan Pendugaan Karbon Hutan

    • calendar_month Kam, 17 Mar 2022
    • account_circle
    • visibility 721
    • 0Komentar

    Hutan di kawasan Taman Nasional Ake Tajawe Lolobata Halamhaera

  • Kebijakan Donald Trump Berdampak ke Maluku Utara

    • calendar_month Jum, 7 Feb 2025
    • account_circle
    • visibility 836
    • 0Komentar

    Program USAID BerIKAN Terancam Ditutup Terpilihnya Presiden Amerika Serikat yang baru  Donald Trump  memberi dampak bagi  pemberian donor bagi sejumlah Negara di dunia termasuk Indonesia. Bahkan dampaknya sampai ke Maluku Utara.  Salah satu yang  ikut berdampak dari kebijakan Donald Trump itu adalah  closing program  Badan Pembangunan Internasional Amerika Serikat atau  yang dikenal dengan USAID.  Lembaga […]

  • Ingatkan Warga Kota Ternate Hemat, Jaga dan Rawat Air

    • calendar_month Sab, 18 Mar 2023
    • account_circle
    • visibility 588
    • 0Komentar

    Kampanye Jalanan Komuntas Save Ake Gaale Ternate Hari Air Sedunia atau World Water Day yang diperingati warga dunia pada 23 Maret setiap tahun, selalu diperingati juga kelompok masyarakat di Kelurahan Sangaji Kota Ternate Utara, terutama mereka yang berada di kawasan sumber mata air Ake Gaale.   Ada beragam cara dilakukan. Salah satunya sebelum masuk puncak […]

  • Peneliti BRIN Temukan 1.583 Spesies  Baru Indonesia    

    Peneliti BRIN Temukan 1.583 Spesies  Baru Indonesia   

    • calendar_month Sab, 6 Jun 2026
    • account_circle Redaksi
    • visibility 431
    • 0Komentar

    Indonesia sebagai salah satu negara megabiodiversitas dunia memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga dan mengelola kekayaan hayatinya secara berkelanjutan. Penemuan spesies baru bukan sekadar capaian akademik, tetapi bagian penting dari upaya perlindungan lingkungan dan pembangunan berbasis ilmu pengetahuan. Setidaknya ini menjadi komitmen Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dalam upaya mengungkap kekayaan hayati Indonesia. Saat […]

expand_less