Breaking News
light_mode
Beranda » Lingkungan Hidup » Air Laut Coklat Kemerahan, Ikan Mati dan Warga Was-was

Air Laut Coklat Kemerahan, Ikan Mati dan Warga Was-was

  • account_circle
  • calendar_month Kam, 27 Feb 2020
  • visibility 2.078

Warga Desa Sangapati  dinstruksikan  menghindari mengomsumsi ikan  mati massal karena dicurigai beracun. Sementara anak- anak  dan  orang dewasa, diminta  menghindari sementara waktu mandi di laut.   Warna air laut yang biasanya  bening menjadi coklat pekat kemerah- merahan  itu  ikut menyebabkan matinya berbagai jenis biota   di kawasan laut pulau Makeang  Halmahera Selatan  Maluku Utara. Peristiwa ini membuat warga  seminggu belakangan ini  menjadi was-was.

Berbagai jenis ikan yang mati itu membuat  mereka  enggan mengkonsumsi ikan.  “Kita imbau  untuk menghindari mengkonsumsi ikan yang ditemukan mati. Kalau boleh anak anak dan orang dewasa juga jangan dulu mandi di laut.  Kita tidak tahu kandungan  air laut itu apa  tercemar  atau tidak,” kata  Kepala Desa Sangapati Makeang   Muhammad Musatafa.

Dihubungi Kabarpulau.co.idc dari Ternate,  dia menceritakan, awalnya warga tak  tak tahu ada peristiwa ini. Ketika ada warga yang  ke pantai dan menemukan  air yang pekat dan ikan mati yang terdampar    baru warga menjadi heboh dan ramai –ramai ke pantai menyaksikan fenomena atau kejadian  tidak seperti biasanya itu. “Belum pernah ada kejadian seperti ini. Ini baru pertama kali,”ujar Muhammad.

Diceritakan juga, air laut yang coklat kemerahan ini  menurut penjelasan bebeberapa nelayan yang telah melaut sebelumnya, sebenarnya mereka telah  lihat di tengah laut. Hanya saja mereka tak curiga  hal ini menyebabkan matinya  ikan di tepi pantai, ketika  ketika mencapai daerah  pantai.   “Beberapa nelayan di sini cerita begitu, jadi kayaknya air tercemar ini sudah terjadi beberapa hari sebelumnya,” imbuhnya.

Sementara peristiwa ini tidak hanya terjadi di Pulau Makeang. Ternyata warna air laut   yang coklat pekat dan ikan yang mati ini sampai ke Halmahera bagian selatan. Bahkan pada Selasa hingga Rabu (26/2) sore,  matinya ikan dan  air laut yang keruh itu sudah sampai ke perairan Ternate.

Beberapa diver yang mencoba melakukan penyelaman di kawasan pantai Falajawa Kota Ternate menemukan ikan dan berbagai biota  mati mengenaskan.

“Dua hari berturut- turut kami turun  menyelam  di kedalaman 5 sampai 10 meter di kawasan pantai Falajawa menemukan  keruhanya air laut dan banyak ikan karang yang mati,” ujar Willy salah satu penyelam. Selain ikan karang, biota lainnya  ikut mati.  Seperti octopus  atau gurita bahkan  hiu berjalan juga mati. 

Diver lainnya, Adita Agoes  diantayai soal ini mengaku  ditemukan banyaknya  biota yang mati. Meski begitu belum bisa dipastikan sumbernya.  Pihaknya sudah mengambil sampel. Bahkan  beberapa pihak ikut mengambil sampel untuk diuji laboratorium. “Badan Lingkungan Hidup Kota Ternate  sudah minta kita ambil sampel di kawasan laut Taman Nukila Ternate. Terutama   di daerah permukaan laut,  kedalaman 12 meter dan 24 meter,” jelas Adita.  

Meski  begitu Adita bilang, semua  kepastiannya nanti menunggu hasil uji laboratorium.  Dia menambahkan dari hasil temuan di lapangan, ikan –ikan yang mati hampir semua ikan karang (daging putih,red). Misalnya baronang, biji nangka, kulit pasir,  kakatua.   Sementara ada jenis tertentu   tidak mati, misalnya gete gete,  lion fish dan  clown fish. “Ada juga ikan yang tidak mati,” katanya.  

Matinya berbagai jenis ikan ini membuat warga was-was. Karena itu  mereka meminta perlu ada penjelasan resmi dari pemerintah. Warga meminta hal ini diseriusi karena hal  sangat mengkhwatirkan warga  misalnya  di Makeang  dan daerah lainnya, yang terdampak peristiwa ini. “Pemerintah perlu segera melakukan uji dan menyampaikan secara resmi kepada masyarakat  apa masalahnya. Dan apakah ikan-ikan yang nanti dikonsumsi warga  setelah peristiwa ini berbahaya atau tidak. Ini  penting agar warga bisa tenang,” pinta Muhammad.

Peristiwa menghebohkan ini sudah banyak analisis dan dugaan- dugaan disampaikan  pihak terkait. Misalnya akademisi, Dinas Perikanan maupun Dinas Lingkungan Hidup. Meski begitu   semua baru  dugaan belum ada uji laboratorium resmi.

Kepala  Dinas  Perikanan  Provinsi Maluku Utara Buyung Radjiloen  coba dikonfirmasi via hand phone  Selasa (25/2) mengaku,    sudah mengumpulkan sampel  dan akan dilakukan uji laboratorium. Memang ada dugaan-dugaan misalnya kemungkinan blooming algae maupun fenomena upwelling. Dua peristiwa alam ini katanya belum    bisa menjadi pegangan karena butuh   analisis laboratorium untuk memastikannya. “Di Makeang misalnya diduga    peristiwa Blooming algae. Begitu juga bisa saja karena upwelling. Ini sifatnya dugaan perlu pembuktian secara pasti melalui uji  sampel di laboratorium,” katanya.

Sementara hingga kemarin  belum ada hasil uji laboratorium yang  yang dipublikasikan terkait  masalah ini.(*)

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Penjahat Lingkungan Bakal Kena Sanksi Lebih Berat

    Penjahat Lingkungan Bakal Kena Sanksi Lebih Berat

    • calendar_month Rab, 31 Jan 2018
    • account_circle
    • visibility 554
    • 0Komentar

    Para penjahat lingkungan yang selama ini melakukan banyak kejahatan terutama merusak hutan  bersiap-spa mendapatkan sanksi berat. Direktorat Jenderal  Penegakan Hukum Lingkungan Hidup dan Kehutanan (PHLHK) bekerjasama dengan United Nations Development Programme (UNDP) saat ini  bekerjasana  memerangi para pelaku tindak pidana kejahatan bidang lingkungan hidup dan kehutanan. Bentuk kerjasama ini telah ditandatangani di  Gedung   Manggala Wanabakti Jakarta , […]

  • Begini  Kondisi Kepiting Kenari di Malut Saat Ini

    • calendar_month Sab, 2 Mar 2024
    • account_circle
    • visibility 794
    • 0Komentar

    Salah satu hewan dilindungi yang hingga kini masih ditangkap diperjual belikan dan dikonsumsi dengan harga mahal adalah kepitng kenari atau nama latinnya  Birgus Latro. Hewan ini di Maluku Utara   bisa dijumpai di hampir seluruh pulau kecil  di sekitar kawasan ini. Meskpiun tersebar hampir di seluruh pulau kecil di Maluku Utara, namun  i sudah dianggap langka […]

  • Suara Kaum Disabilitas dari Ternate untuk Keadilan Iklim Dunia

    • calendar_month Ming, 31 Agu 2025
    • account_circle
    • visibility 1.002
    • 0Komentar

    Dampak perubahan iklim  bisa menghantam berbagai kelompok. Tidak hanya petani, nelayan, kaum buruh, perempuan dan anak-anak. Salah satu yang turut merasakan  hasil dari proses industrialisasi itu adalah kaum difabel/disabilitas. Sebagai kelompok yang memiliki kebutuhan khusus mereka sangat terdampak dengan  perubahan iklim yang terjadi saat ini. Apalagi untuk mereka yang berada di pesisir dan pulau-pulau seperti […]

  • Nelayan Malut Protes Permen 59/2020

    • calendar_month Sen, 25 Jan 2021
    • account_circle
    • visibility 601
    • 0Komentar

    Motor ikan/pole and line yang sandar di PPI Dufa dufa Ternate

  • Ekspedisi Talaga Rano Halmahera Dimulai

    • calendar_month Ming, 22 Nov 2020
    • account_circle
    • visibility 837
    • 0Komentar

    Pesan Jaga Alam, Tanam Pohon dan Peduli  Sampah     Sebuah upaya menjaga dan memperkenalkan alam untuk kaum muda dilakukan  Duta  Kreator Pecinta Alam Maluku Utara (Dekapala). Bertitel Ekspedisi Cinta Talaga Rano dan Gerakan Cinta DAS Maluku Utara, ekspedisi ini dihelat dengan beberapa agenda dan  dikerjasamakan dengan  Forum Daerah Aliran Sungai (FORDAS), Balai Pengelolaan Daerah Aliran […]

  • Masyarakat Sipil Persoalkan Hilirisasi Nikel di Malut

    Masyarakat Sipil Persoalkan Hilirisasi Nikel di Malut

    • calendar_month Sen, 29 Jan 2024
    • account_circle
    • visibility 800
    • 1Komentar

    Berdampak Terhadap Lingkungan Hidup dan Manusia    Program   “hilirisasi” mengemuka dalam debat keempat pemilihan presiden (Pilpres) 2024, untuk calon presiden wakil presiden (Cawapres)  pada  Ahad, 21 Januari 2024 di lalu Jakarta. Cawapres Gibran Rakabuming Raka dari pasangan Calon Presiden (Capres) Prabowo Subianto mengucapkan kata hilirisasi sebanyak 12 kali.    Tidak hanya pasangan   Capres dan Cawapres […]

expand_less