Breaking News
light_mode
Beranda » Lingkungan Hidup » Air Laut Coklat Kemerahan, Ikan Mati dan Warga Was-was

Air Laut Coklat Kemerahan, Ikan Mati dan Warga Was-was

  • account_circle
  • calendar_month Kam, 27 Feb 2020
  • visibility 2.562

Warga Desa Sangapati  dinstruksikan  menghindari mengomsumsi ikan  mati massal karena dicurigai beracun. Sementara anak- anak  dan  orang dewasa, diminta  menghindari sementara waktu mandi di laut.   Warna air laut yang biasanya  bening menjadi coklat pekat kemerah- merahan  itu  ikut menyebabkan matinya berbagai jenis biota   di kawasan laut pulau Makeang  Halmahera Selatan  Maluku Utara. Peristiwa ini membuat warga  seminggu belakangan ini  menjadi was-was.

Berbagai jenis ikan yang mati itu membuat  mereka  enggan mengkonsumsi ikan.  “Kita imbau  untuk menghindari mengkonsumsi ikan yang ditemukan mati. Kalau boleh anak anak dan orang dewasa juga jangan dulu mandi di laut.  Kita tidak tahu kandungan  air laut itu apa  tercemar  atau tidak,” kata  Kepala Desa Sangapati Makeang   Muhammad Musatafa.

Dihubungi Kabarpulau.co.idc dari Ternate,  dia menceritakan, awalnya warga tak  tak tahu ada peristiwa ini. Ketika ada warga yang  ke pantai dan menemukan  air yang pekat dan ikan mati yang terdampar    baru warga menjadi heboh dan ramai –ramai ke pantai menyaksikan fenomena atau kejadian  tidak seperti biasanya itu. “Belum pernah ada kejadian seperti ini. Ini baru pertama kali,”ujar Muhammad.

Diceritakan juga, air laut yang coklat kemerahan ini  menurut penjelasan bebeberapa nelayan yang telah melaut sebelumnya, sebenarnya mereka telah  lihat di tengah laut. Hanya saja mereka tak curiga  hal ini menyebabkan matinya  ikan di tepi pantai, ketika  ketika mencapai daerah  pantai.   “Beberapa nelayan di sini cerita begitu, jadi kayaknya air tercemar ini sudah terjadi beberapa hari sebelumnya,” imbuhnya.

Sementara peristiwa ini tidak hanya terjadi di Pulau Makeang. Ternyata warna air laut   yang coklat pekat dan ikan yang mati ini sampai ke Halmahera bagian selatan. Bahkan pada Selasa hingga Rabu (26/2) sore,  matinya ikan dan  air laut yang keruh itu sudah sampai ke perairan Ternate.

Beberapa diver yang mencoba melakukan penyelaman di kawasan pantai Falajawa Kota Ternate menemukan ikan dan berbagai biota  mati mengenaskan.

“Dua hari berturut- turut kami turun  menyelam  di kedalaman 5 sampai 10 meter di kawasan pantai Falajawa menemukan  keruhanya air laut dan banyak ikan karang yang mati,” ujar Willy salah satu penyelam. Selain ikan karang, biota lainnya  ikut mati.  Seperti octopus  atau gurita bahkan  hiu berjalan juga mati. 

Diver lainnya, Adita Agoes  diantayai soal ini mengaku  ditemukan banyaknya  biota yang mati. Meski begitu belum bisa dipastikan sumbernya.  Pihaknya sudah mengambil sampel. Bahkan  beberapa pihak ikut mengambil sampel untuk diuji laboratorium. “Badan Lingkungan Hidup Kota Ternate  sudah minta kita ambil sampel di kawasan laut Taman Nukila Ternate. Terutama   di daerah permukaan laut,  kedalaman 12 meter dan 24 meter,” jelas Adita.  

Meski  begitu Adita bilang, semua  kepastiannya nanti menunggu hasil uji laboratorium.  Dia menambahkan dari hasil temuan di lapangan, ikan –ikan yang mati hampir semua ikan karang (daging putih,red). Misalnya baronang, biji nangka, kulit pasir,  kakatua.   Sementara ada jenis tertentu   tidak mati, misalnya gete gete,  lion fish dan  clown fish. “Ada juga ikan yang tidak mati,” katanya.  

Matinya berbagai jenis ikan ini membuat warga was-was. Karena itu  mereka meminta perlu ada penjelasan resmi dari pemerintah. Warga meminta hal ini diseriusi karena hal  sangat mengkhwatirkan warga  misalnya  di Makeang  dan daerah lainnya, yang terdampak peristiwa ini. “Pemerintah perlu segera melakukan uji dan menyampaikan secara resmi kepada masyarakat  apa masalahnya. Dan apakah ikan-ikan yang nanti dikonsumsi warga  setelah peristiwa ini berbahaya atau tidak. Ini  penting agar warga bisa tenang,” pinta Muhammad.

Peristiwa menghebohkan ini sudah banyak analisis dan dugaan- dugaan disampaikan  pihak terkait. Misalnya akademisi, Dinas Perikanan maupun Dinas Lingkungan Hidup. Meski begitu   semua baru  dugaan belum ada uji laboratorium resmi.

Kepala  Dinas  Perikanan  Provinsi Maluku Utara Buyung Radjiloen  coba dikonfirmasi via hand phone  Selasa (25/2) mengaku,    sudah mengumpulkan sampel  dan akan dilakukan uji laboratorium. Memang ada dugaan-dugaan misalnya kemungkinan blooming algae maupun fenomena upwelling. Dua peristiwa alam ini katanya belum    bisa menjadi pegangan karena butuh   analisis laboratorium untuk memastikannya. “Di Makeang misalnya diduga    peristiwa Blooming algae. Begitu juga bisa saja karena upwelling. Ini sifatnya dugaan perlu pembuktian secara pasti melalui uji  sampel di laboratorium,” katanya.

Sementara hingga kemarin  belum ada hasil uji laboratorium yang  yang dipublikasikan terkait  masalah ini.(*)

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • WALHI: Jangan “Jual” Halmahera dan Pulau Lainnya

    • calendar_month Kam, 17 Nov 2022
    • account_circle
    • visibility 759
    • 0Komentar

    AKSI kampanye yang digelar WALHI Malut dan Koalisi Barisan rakyat (KOBAR ) pada Senin 14 November 2022 foto WALHI

  • Transportasi Sumbang 5 Persen Emisi Karbon

    • calendar_month Jum, 15 Mar 2024
    • account_circle
    • visibility 1.077
    • 0Komentar

    Ternate Punya 157873 Unit Kendaraan  Penulis Mahmud Ichi/Mubarak Falahi Penggunaan transportasi sulit dipisahkan dari aktivitas sehari-hari, terutama masyarakat yang berada di perkotaan. Ketergantungan akan transportasi ketika berpindah dari satu tempat ke tempat lain, membuat transportasi menjadi faktor signifikan pada besarnya jejak karbon yang dikeluarkan setiap individu.   Jejak karbon adalah jumlah karbon atau gas emisi […]

  • Akademisi: Ancaman Ekosistem Halmahera Serius

    • calendar_month Sel, 9 Feb 2021
    • account_circle
    • visibility 1.012
    • 0Komentar

    Maluku Utara sebagai daerah kaya bahan mineral,   menjadi incaran investor asing. Baru baru ini pemerintah Provinsi Maluku Utara melalui Sekretaris Daerah Provinsi (Sekprov) Samsudin Abd Kadir menyampaikan bahwa investasi asing masuk ke Maluku Utara yang mengelola tambang, sudah menginvestasikan modalnya di atas 100 triliun. Angka ini dianggap sebagai sebuah keberhasilan menggenjot perekonomian Maluku Utara. Termasuk […]

  • Arah  Baru  Tata Kelola  Kota  Tidore  Kepulauan 

    • calendar_month Ming, 12 Jun 2022
    • account_circle
    • visibility 771
    • 0Komentar

    Bawah Laut Tidore Kekayaan yang dieksplore untuk pembangunan daerah, foto Abdul Khalis Tidore

  • Berapa Banyak Ikan yang Dicuri dari Laut Kita?

    • calendar_month Sel, 6 Jun 2023
    • account_circle
    • visibility 1.171
    • 0Komentar

    Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia yang didominasi oleh lautan, potensi kelautan dan perikanan di Indonesia sudah tidak perlu diragukan lagi. Dilansir dari Kementerian Kelautan dan Perikanan Indonesia (KKP), pada tahun 2019, nilai hasil ekspor perikanan Indonesia mencapai Rp73.631.883.000 dan termasuk salah satu sektor yang sangat diandalkan untuk pembangunan nasional.   Namun,  kita sering mendengar […]

  • Cadangan Nikel Habis 6 Tahun Lagi  

    • calendar_month Rab, 8 Nov 2023
    • account_circle
    • visibility 870
    • 0Komentar

    Asosiasi Penambang Nikel Indonesia menuturkan bahwa cadangan bijih nikel bermutu tinggi di Indonesia, selaku negara produsen utama, mungkin akan habis dalam waktu sekitar 6 tahun.  Bijih Nikel Indonesia yang memiliki kadar tinggi sebesar 1,7% terutama digunakan untuk produksi nickel pig iron (NPI), yakni bahan baku baja tahan karat berisiko mengalami kekurangan bahan.  Adapun, bijih nikel […]

expand_less