Breaking News
light_mode
Beranda » Kabar Kampung » Ini Rencana Pesta Pesisir dan Pulau-pulau Kecil di Malut

Ini Rencana Pesta Pesisir dan Pulau-pulau Kecil di Malut

  • account_circle
  • calendar_month Jum, 16 Nov 2018
  • visibility 804

Digelar di Kalaodi  dan  Kayoa  17  hingga 19 November

Sebuah  pesta  berbasis  lingkungan   segera digelar  Wahana Lingkungan  Hidup (WALHI) Maluku Utara. Pekan lingkungan ini akan  digelar  di  Kalaodi  puncak Kota Tidore Kepualuan  dan Kayoa Halmahera Selatan.  Bertitel Pekan Lingkungan Hidup Pesisir Laut dan Pulau-pulau Kecil  akan   digelar sejumlah  acara.  Mulai dari  seminar lingkungan hidup  dan pulau- pulau  kecil,  Festival Kalaodi  bahkan  menanam 5 ribu pohon mangrove di   Guruapin Kayoa Halmhera  Selatan. 

Direktur Eksekutif Daerah Walhi Maluku Utara, Ismet Soelaiman  menjelaskan, kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka  memperingati Hari Ulang Tahun Walhi ke-38   yang  akan digelar  pada  17 hingga 20 November mendatang di Kalaodi – Tidore  dan Kayoa.  “Rangkaian kegiatannya meliputi Seminar Lingkungan Hidup, Festival Kalaodi, serta Pelestarian Hutan Mangrove dan Ekowisata Pesisir Laut Berbasis Komunitas di Kayoa,” ujar Ismet Selasa (13/11).

Kegiatan ini rencana dihadiri berbagai pihak, yakni Kementerian Kelautan dan Perikanan, Eksekutif Walhi Nasional, dan 17 Eksekutuf Walhi dari beberapa provinsi di Indonesia. Walhi Maluku Utara juga mengundang Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Maluku Utara, akademisi kelautan dan perikanan Universitas Khairun dan Universitas Nuku, serta berbagai lembaga dan organisasi yang concern  dalam isu   lingkungan hidup, terutama persoalan krisis pesisir laut dan pulau- pulau kecil di Maluku Utara.

Seminar  akan menjadi pembuka  rangkaian kegiatan  dengan pembicara dari KKP, Sultan Tidore, dan Direktur Eksekutif Walhi Nasional   Selanjutnya, Festival Kalaodi  menghadirkan keragaman hasil produksi, penampilan musik dan tarian tradisional, serta kegiatan lain   berkaitan dengan kehidupan sosial- ekologis masyarakat Kalaodi.  Selanjutnya   Desa Guruapin – Kayoa untuk proses penanaman mangrove dan ditutup dengan ekowisata berbasis komunitas di Guraici, Lelei – Kayoa.  Pemilihan Kampung Kalaodi di hulu Kota Tidore Kepulauan sebagai salah satu lokasi kegiatan, karena  dipercaya sebagai penjaga Tidore oleh sebagian masyarakat. Posisi kampung  di pegunungan (± 900 mdpl) menjadikan Kalaodi dan tiga kampung lainnya sebagai pelindung bagi perkampungan lain dan pusat kota   di pesisir.  Warga Kalaodi sendiri masih menjalankan tradisi yang berisi ritual-ritual kecintaan terhadap alam. Pala, cengkih, kenari, kayu manis, durian, pinang dan bambu yang menjadi sumber mata pencaharian warga, selain tanaman bulanan seperti tomat, cabe, sayur-mayur, dan rempah-rempah, berdampingan dengan hutan alam yang ada di sekitar perkampungan.

Sesuai tema kegiatan  berkaitan dengan pesisir laut dan pulau-pulau kecil, Kayoa menjadi pilihan selanjutnya untuk  kegiatan pelestarian mangrove dan ekowisata berbasis komunitas. Kayoa merupakan gugusan  pulau-pulau  di Halmahera Selatan yang memiliki cerita mangrove sebagai pelindung bagi wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil di sekitarnya. Beberapa desa pesisir  di Kayoa merupakan contoh kampung pesisir yang dikelilingi dan dilindungi berbagai jenis mangrove dan ekosisitem laut, sehingga hasil laut seperti ikan karang berlimpah.

Kearifan lokal masyarakat Kalaodi dan Kayoa dalam menjaga kelestarian dan keberlanjutan ekologi dapat menjadi pembelajaran bagi pengelolaan lingkungan hidup di Maluku Utara sebagai provinsi kepulauan, maupun di berbagai wilayah kepulauan lainnya di Indonesia. “Kalaodi adalah laboratorium bagaimana masyarakat lokal secara turun-terumun telah menjadi penjaga wilayah hutan dan pegunungan Tagafura yang melindungi perkampungan wilayah pesisir dari banjir dan bencana ekologi lainnya. Sementara  Kayoa merupakan miniatur kampung pesisir yang melindungi dan dilindungi mangrove. Pengetahuan lokal ini harusnya dijaga serta ditransformasikan, bukannya  direduksi dan diganti dengan kawasan lindung/konservasi yang ditetapkan  h pemerintah dan pengelolaannya diserahkan kepada investasi,” jelas Ismet. Peran warga Kalaodi dan Kayoa dalam menjaga dan melindungi lingkungan hidup di sekitar mereka haruslah diapresiasi dan diberikan dukungan penuh oleh negara.

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Wetub: Korporasi dan Negara Bungkam Suara Kritis Warga Adat

    • calendar_month Rab, 8 Okt 2025
    • account_circle
    • visibility 716
    • 0Komentar

    Jaksa Pakai UU Minerba Tuntut 11 Warga Maba Sangaji Jalan panjang 11 warga adat Maba Sangaji Kabupaten Halmahera Timur mencari keadilan  belum juga usai.  Proses  tersebut semakin menunjukan bentuk ketidakadilan Negara terhadap warganya. Di saat  tidak ditemukan bukti- bukti yang kuat dalam keterlibatan warga melakukan  perbuatan pidana,  penegak hukum menggunakan  berbagai regulasi  untuk menjerat warga […]

  • Ekowisata Cengkeh Afo, Padukan Sejarah dan Alam

    • calendar_month Jum, 29 Jan 2021
    • account_circle
    • visibility 1.036
    • 0Komentar

    Memasuki kawasan ekowisata Cengkeh Afo/foto m ichi

  • Selamatkan Air Tanah, Tanam Sagu dan Buat Sumur Resapan

    • calendar_month Rab, 9 Mar 2022
    • account_circle
    • visibility 703
    • 0Komentar

    Anggota Komunitas Save Ake Gaale sedang menyiapkan bibit

  • Patgulipat  Harga Tanah di Lingkar PSN, Banyak Pihak Ikut Bermain (3) Habis

    • calendar_month Sel, 10 Jun 2025
    • account_circle
    • visibility 1.616
    • 0Komentar

    Persoalan  pelik daerah lingkar Proyek Strategis Nasional (PSN), Weda Hamahera Tengah Maluku Utara,  adalah  lahan.  Saat ini lahan produktif untuk pertanian nyaris habis. Warga yang  dulu bertani  tak lagi bertani. Sebagian besar beralih menjadi pekerja tambang, serabutan  hingga juragang rumah sewa/kosan. Lepasnya lahan  karena kebutuhan mendesak, juga kuatnya pengaruh berbagai pihak. Harga  lahan kebun  terbilang […]

  • Atasi Sampah, Malut Butuh PLTSa?

    • calendar_month Sel, 28 Feb 2023
    • account_circle
    • visibility 1.121
    • 1Komentar

    Sampah menjadi masalah paling serius. Tidak hanya di kota tetapi juga di  desa- desa di seluruh Indonesia. Dia menjadi masalah dan  sangat mengancam lingkungan dan manusia  terutama sampah plastic. Sampah  jenis ini   sulit terurai  sehingga dilakukan berbagai riset  untuk mengatasi  makin banyaknya sebaran di lingkungan darat maupun laut.   Ada sejumlah cara  mengatasi sampah ini […]

  • Selamatkan Hutan Tropis Papua, Maluku dan Malut

    • calendar_month Ming, 30 Agu 2020
    • account_circle
    • visibility 886
    • 0Komentar

    Suasana tenang sungai Tayawi yang dikelilingi hutan lebat

expand_less