Breaking News
light_mode
Beranda » Kabar Kampung » Tanam Mangrove agar “Merdeka” dari Abrasi

Tanam Mangrove agar “Merdeka” dari Abrasi

  • account_circle
  • calendar_month Jum, 4 Sep 2020
  • visibility 253

Cerita Aksi Komunitas Pencinta Mangrove Khatulistiwa

Kawasan taman pemakaman umum (TPU) Desa Guruapin Kecamatan Kayoa Halmahera Selatan saat ini berada dalam  kondisi terancam. TPU yang berada di pantai  bagian barat desa itu, terancam abrasi cukup serius yang membuat pemakaman itu habis tersapu air. Melihat kondisi yang semakin memprihatinkan itu, Komunitas Pecinta Mangrove Khatulistiwa  (KPMK) yang  dinisiasi anak anak muda mengambil langkah, agar bisa bebas dari ancaman abrasi. Caranya dengan menanam mangrove. Komunitas yang memiliki anggota 45 orang itu, sudah dua kali menggelar aksi menanam untuk melindungi desanya, dari dampak perubahan iklim

Ketua KPMK Surahmat Kamis (4/9) menjelaskan, upaya ini telah dilakukan sejak 2018. Sudirahmat sendiri yang mengawali gerakan ini. Dia mengumpulkan bibit kemudian membuat bedeng dan menyemai. Setelah gerakan mandiri yang dilakukan Sudirahmat, dia lalu menghimpun kawan kawannya.dengan  membentuk komunitas   menanam dan merawat mangrove. Surahmat sebelum menghimpun teman-temannya dia mencoba menaman mangrove secara mandiri di beberapa kawasan hutan mangrove yang dibabat warga.

Setelah itu dia menghimpun beberapa kawan dengan modal seadanya. Mereka mengumpulkan bibit dan menyemainya hingga ribuan pohon.  Dari sini kemudian komunitas yang menamakan dirinya Komunitas Pencinta Mangrove Khatulistiwa (KPMK) mulai menanam. Pilihan kata Khatulistiwa ada dalam nama komunitas karena desa ini adalah satu-satunya desa di Maluku Utara yang berada tepat di garis khatulistiwa.

Hingga kini menurut Surahmat mereka telah melakukan dua kali penanaman. Pertama  pada 2018 lalu. Kala itu mereka menanam sebanyak 1000 pohon lebih. Penanaman kedua  pada 18 Agustus 2020 baru baru ini   yakni sebanyak 1300 pohon mangrove.

“Penanaman bertepatan dengan peringatan 17 Agustus itu turut melibatkan berbagai pihak termasuk pemerintah desa dan kecamatan,” ujarnya.

Kawasan pantai Guruapin yang mengalami abrasi serius

Pohon mangrove yang ditanam pada tahap pertama lalu bertepatan dengan kegiatan pekan lingkungan hidup yang digelar  WALHI  di Maluku Utara dan dipusatkan di Kayoa Halmahera Selatan. Mangrove ini     telah bertumbuh dan berkembang cukup baik.  Sementara  penanaman  tahap kedua sementara dalam pemeliharaan.  “Penenaman mangrove ini harus kami  lakukansebagai bagian dari kepedualian anak muda   di sini dengan lingkungan pantai yang semakin terancam oleh abrasi. Ini  juga  sebuah upaya untuk menahan laju abrasi parah,”  jelas Surahmat.

Dia bilang,  memulai  gerakan  ini tidak mudah. Banyak tantangan  dihadapi. Dari tanpa modal mereka harus bergerak mengumpulkan benih menyemai dan memeliharanya. Awalnya, masyarakat   juga tidak memberi dukungan. Gerakan semacam ini belum pernah dilakukan. Warga selalu berpikir itu adalah proyek yang dibiayai pemerintah.   

Surahmat bercerita, mengawali gerakan ini  dianggap gila karena selama ini orang tidak pernah  menanam mangrove. “Yang biasanya orang lakukan  itu menanam cengkih  atau pala bukan menanam mangrove. Tidak ada orang menanam atau melindungi mangrove. Orang kampong ini menanam pala atau cengkih.yang suatu saat berbuah dan bisa ada hasilnya,” katanya mengutip sentilan warga. Sementara yang mereka tanam hanya mangrove. Di sisi lain warga   dalam aktivitasnya selalu memanfaatkan  kayu dari mangrove untuk berbagai kebutuhan. Misalnya untk kayu bakar  maupun bahan bangunan. 

Meski demikian Surahmat bersama rekan-rekannya tak patah arang mereka terus bergerak mengumpulkan bibit mangrove dan menyemainya. Akhirnya ada ribuan bibit mangrove yang ditanam di kawasan pantai desa. “Ketika memulai gerakan ini  banyak orang meragukan apa yang kami lakukan.Tetapi tetap jalan. Kami yakin suatu saat orang akan sadar sendiri dengan upaya yang kami lakukan,” imbuhnya.

Rapat bersama membahas persiapan penyusuna Perdes Perlindungan Mangrove

Tidak itu saja komunitas ini awalnya agak kesulitan bergerak karena pemahaman masyarakat yang selama ini menganggap pekerjaan seperti ini lebih bernilai proyek.  Padahal, yang dilakukan ini adalah sebuah kesadaran  sendiri.  Jika tidak segera dilakukan penanaman maka setiap tahun kawasan pantai ini akan hilang disapu air laut.

Memang katanya, dalam gerakan menanam mangrove dan melindungi kawasan pantai Kayoa ini, banyak kendala dihadapi.  Dari ketiadaan fasilitas dan modal hingga keraguan dari warga. Tetapi seiring waktu apa yang dilakukan mulai menunjukan hasil “Pohon mangrove mulai  bertumbuh baik dan warga juga diberi pehamaman soal mangrove. Tidak hanya menjadi pelindung kawasan pantai tetapi juga berguna bagi tempat tambat perahu nelayan dan kembalinya ikan. Ini jika mangrove ini sudah besar,” ujar Fadli anggota komunitas ini.

Apa yang dilakukan oleh komunitas ini ternyata tidak hanya menanam mangrove. Mereka juga sudah menggagas upaya perlindungannya dengan membuat Peraturan Desa (Perdes). Perdes itu menyangkut Lingkungan Hidup, Perlindungan Laut dan Mangrove. Langkah ini harus dilakukan demi melindungi hutan mangrove di Kayoa khususnya di Desa Guruapin. “Tidak hanya Perdes, diusahakan untuk segera dilakukan pemetaan  luasan dan kondisi hutan mangrove yang ada di desa ini,” jelas Fadli.(*)

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Bank Indonesia umumkan uang beredar di masyarakat

    • calendar_month Sab, 4 Okt 2025
    • account_circle
    • visibility 208
    • 0Komentar

    Petugas menghitung uang pecahan milik nasabah di salah satu agen BRILink di Ternate, Maluku Utara, Jumat (3/10/2025).Bank Indonesia (BI) mengumumkan uang beredar di masyarakat M2 pada Agustus 2025 sebesar Rp 9.657,1 triliun atau tumbuh 7,6 persen tumbuh lebih tinggi dibanding bulan sebelumnya sebesar 6,6 persen yang didorong uang beredar sempit (M1) sebesar 10,5 persen dan […]

  • Ini Cara Menyiapkan Warga Adaptif Ketika Bencana (1)

    • calendar_month Jum, 14 Agu 2020
    • account_circle
    • visibility 278
    • 0Komentar

    Penyiapan Pangan Warga Sangatlah Penting Bencana baik alam maupun non alam berdampak cukup serius bagi warga.  Pandemi Covid-19 misalnya, membuat hampir semua orang menjadi kurang produktif.  Pemenuhan kebutuhan hidup di masa pandemi pun  jadi tantangan.   Warga menjadi sangat rentan terutama  dalam memenuhi kebutuhan pangan. Karena itu perlu membangun  ketangguhan. Menata kembali kehidupan sosial dan lingkungan, […]

  • Sopik, Cara Orang Makean Tahane Jadikan Laut Sumber Keadilan

    • calendar_month Sel, 15 Des 2020
    • account_circle
    • visibility 458
    • 0Komentar

    Laut tidak hanya menyediakan sumber protein dan kekayaan lainnya bagi manusia. Dia juga menjadi pengadilan bagi sebagian orang di Tahane Pulau Makean/

  • Maluku Utara Kaya Rempah, Minim Pangan Fungsional

    • calendar_month Rab, 12 Agu 2020
    • account_circle
    • visibility 666
    • 0Komentar

    Maluku Utara yang terhampar pulau-pulaunya,memiliki kekayaan pangan local dan rempah  Terutama  pala dan cengkih. Kekayaan ini bahkan tercatat dalam sejarah sebagai barang buruan bangsa Eropa di masa lalu.  Sejarawan Maluku Utara (alm) M Adnan Amal Tomagola dalam risetnya berjudul Portugis dan Spanyol di Maluku (2009) mengupas tentang kehadiran dua bangsa ini  berebut rempah. Mereka  datang […]

  • Birokrasi Tahan Dana Iklim, Masyarakat Adat dan Kampong Hanya Terima Sekira 10 Persen

    Birokrasi Tahan Dana Iklim, Masyarakat Adat dan Kampong Hanya Terima Sekira 10 Persen

    • calendar_month Sen, 1 Des 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 207
    • 0Komentar

    Ironi pendanaan iklim kembali mengemuka bersamaan dengan Konferensi Iklim COP 30 di Brasil. Penelitian International Institute for Environment and Development (IIED) menemukan hanya kurang dari 10 persen dana iklim global yang benar-benar sampai ke kampung-kampung dan Masyarakat Adat. Dikutip dari   Berita | SIEJ – COP30 – BELEM, BRAZIL dari total US$17,4 miliar yang disetujui untuk proyek […]

  • Sampah Plastik di Laut Malut Menghawatirkan

    • calendar_month Sen, 16 Nov 2020
    • account_circle
    • visibility 298
    • 0Komentar

    sampah plastik yang mengapung di laut antara Halmahera dan Tidore,foto/michi

expand_less