Breaking News
light_mode
Beranda » Kabar Kampung » Produksi Sagu Melimpah, Butuh Bantuan Pemasaran

Produksi Sagu Melimpah, Butuh Bantuan Pemasaran

  • account_circle
  • calendar_month Sab, 13 Feb 2021
  • visibility 492

Banyak sumberdaya hutan bisa dimanfaatkan. Terutama dalam memenuhi kebutuhan pangan. Salah satunya  pohon sagu yang tumbuh di sekitar kawasan hutan. Ternyata,  jika diolah dan diproduksi besar besaran tidak hanya dikonsumsi di tingkat rumah tangga, tetapi menjadi sumber  pendapatan petani.   

Seperti dilakukan Kelompok Tani Hutan (KTH) Mandiri Sejati Kelurahan Aketobato Loleo Kota Tidore Kepulauan ini. Mereka mengelola hutan sagu  di belakang kampong   menjadi sumber makanan sekaligus menambah penghasilan  anggota  kelompok tani.  

Anggota Kelompok KTH sedang meremas pokok sagu, foto Rusdiyanti KPH

Pasalnya dari  produksi sagu yang mereka hasilkan tidak hanya dijual dalam bentuk tepung mentah, tetapi diolah menjadi lempengan sagu yang siap disantap, ke masyarakat  desa hingga tetangga kampong.  Bahkan sampai ke  Pulau  Tidore.  

“Mereka saat ini menghasilkan 50 tumang (tempat tepung sagu dari daun rumbia,red)  dalam sekali produksi,” jelas Penyuluh Kehutanan Pendamping Rusmiyanti Dano Yamin kepada kabar pulau.co,id. Kelompok tani hutan yang beranggotakan 15 orang itu semua mengolah sagu.  

Dari hasil sagu yang ada kemudian istri-istri  mereka mengolah  menjadi sagu lempeng meskipun  tidak semua diolah  jadi lempengan sagu.   

Kelompok tani ini, mengelola hutan sagu di areal tak jauh dari kampong. Saat ini potensi pohon sagunya masih   banyak tetapi  butuh peremajaan  untuk menjaga  kelestarian pohon sagu yang diproduksi setiap saat tersebut.

Pokok sagu yang selesai digiling dan siap diremas. foto Rusdiyanti/KPH Tikep

Rusmiyanti bilang, dari hasil produksi sagu itu kebanyakan masih dijual di tingkat lokal. Meski demikian sudah mulai ada pedagang pengumpul yang masuk membeli dan menjualnya  lagi ke Kota Tidore Kepulauan, terutama tepung sagu.  Untuk satu tumang sagu biasanya dijual Rp100 ribu hingga Rp120 ribu.

Untuk penjualannya  mereka sangat butuh sentuhan dari pemerintah terutama dalam hal pemasaranya. Pasalnya saat ini masyarakat  terutama kelompok tani sangat butuh  sagu yang dihasilkan bisa dipasarkan sampai ke luar daerah.  Di kampong tersebut belum ada  koperasi atau instansi pemerintah  yang ikut memfasilitasi dan bantu memasarkan hasil produksi mereka.

Proses bakar sagu menggunakan forno, foto Rusdiyanti, KPH Tikep

Meski demikian menurut Rusmiyanti, ada rencana dari KPH membantu mengambil produk  KTH  untuk dibantu dipasarkan.  

Dalam hal produksi  para petani sebenarnya membutuhkan perhatian pemerintah daerah kota  Tidore Kepulauan.  Terutama kebutuhan  alat angkut hasil. Pasalnya    ketika proses tepung sudah diisi ke dalam  tumang saat diangkut ke kampong butuh alat  alat angkut memadai. 

“Mereka sangat butuh kendaraan roda tiga semacam motor merek Kaisar yang bisa  angkut hasil sagu ke kampong.  Anggota KPH sangat  butuh   alat angkut.  ,” jelas Rusmiyanti .

Selain itu, hasil produksi mereka terutama untuk tepung sagu olahan dalam bentuk sagu lempeng baru dipasarkan di tingkat rumah tangga belum bisa masuk sampai ke toko dan supermarket. Hal ini katanya butuh pendampingan juga dari pemerintah daerah agar hasil produk olahan tepung sagu yang telah dikelola  tidak hanya dipasarkan di  sekitar desa tetapi bisa  masuk sampai Ternate dan Tidore terutama toko maupun  pasar.

Lempengan Sagu yang telah dibakar

“Mereka juga butuh semacam pelatihan dari Perindag Provinsi membantu melatih pembuatan sagu lempeng  yang bisa  dijual ke pasar  yang lebih luas,” ujarnya.

KPH sendiri berencana mendamping mereka membantu  melatih kelompok tani membuat kemasan produk.   

Irisan lempengan sagu yang telah ditaruh dalam kemasan plastik, foto Rusdiyanti/KPH Tikep

Sekadar diketahui, KTH Mandiri Sejati Kelurahan Aketobato Loleo Kota Tidore Kepulauan  yang dipimpin  Sinen Esa ini merupakan   binaan KPH Tidore Kepulauan   yang pernah mendapatkan bantuan Alat Ekonomi Produktif dari Dinas Kehutanan Provinsi Maluku Utara 2018 lalu. Mereka mendapatkan mesin genzet dan  mesin parut sagu. (*)  

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Awas Bahaya Limbah Tailing Nikel di Balik Transisi Energi

    • calendar_month Sab, 16 Agu 2025
    • account_circle
    • visibility 487
    • 34Komentar

    Cerita  Film Dokumenter Ungkap Korban Nyawa dan Lingkungan Indonesia, merupakan negara produsen nikel terbesar dunia dengan kontribusi 54%–61% pasokan global (diproyeksikan meningkat hingga 74% pada 2028). Sering disebut sebagai kunci transisi energi global,namun, di balik narasi optimisme hilirisasi tambang, mengintai ancaman yang jarang disorot: limbah beracun industri nikel yang mengancam lingkungan dan kesehatan manusia. Di […]

  • Indonesia Perkuat Diplomasi Iklim Menuju COP 30:

    • calendar_month Ming, 3 Agu 2025
    • account_circle
    • visibility 431
    • 9Komentar

    Dorongan Kolaboratif, Inklusif, dan Berbasis Sains untuk Hadapi Krisis Global Menyambut Konferensi Perubahan Iklim PBB ke-30 (COP 30) yang akan digelar di Belem, Brasil pada 10-21 November 2025, Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ) menyelenggarakan Workshop Jurnalis bertajuk “Amplifying COP 30 to Indonesia: Memperkuat Dampak Peliputan COP 30”. Agenda ini menjadi forum penting untuk menguatkan […]

  • 7.280 Pulau di BANUSRAMAPA Terancam

    • calendar_month Rab, 22 Feb 2023
    • account_circle
    • visibility 316
    • 0Komentar

    Ancaman Perubahan Iklim sangat nyata fot M Ichi

  • Suara Kaum Disabilitas dari Ternate untuk Keadilan Iklim Dunia

    • calendar_month Ming, 31 Agu 2025
    • account_circle
    • visibility 668
    • 0Komentar

    Dampak perubahan iklim  bisa menghantam berbagai kelompok. Tidak hanya petani, nelayan, kaum buruh, perempuan dan anak-anak. Salah satu yang turut merasakan  hasil dari proses industrialisasi itu adalah kaum difabel/disabilitas. Sebagai kelompok yang memiliki kebutuhan khusus mereka sangat terdampak dengan  perubahan iklim yang terjadi saat ini. Apalagi untuk mereka yang berada di pesisir dan pulau-pulau seperti […]

  • Pulau Kecil  Masalah Besar, “Dijual hingga Diperebutkan” 

    • calendar_month Jum, 11 Jul 2025
    • account_circle
    • visibility 817
    • 0Komentar

    Sebuah Catatan dari  Kisruh Pulau di  Maluku Utara The Jakarta Post  media berbahasa Inggris terbitan 9 Juli 2025,  menurunkan artikel berjudul Pulau  Kecil, Masalah Besar. Dalam artikel itu diungkap sejumlah persoalan yang dihadapi  pulau-pulau kecil saat ini. Salah satu yang diangkat adalah munculnya penjualan pulau-pulau kecil secara illegal,  di berbagai situs internasional. Bagi The Jakarta […]

  • Kanari Makeang Sasar Pasar Eropa

    • calendar_month Rab, 16 Jun 2021
    • account_circle
    • visibility 349
    • 0Komentar

    Ibu inu di ksmpung Samsuma Makeang Pulau sedang memecah tempurung kenari untuk diambil kacang kenari, foto M Ichi

expand_less