Breaking News
light_mode
Beranda » Kabar Kota Pulau » Fenomena Meluapnya Air Laut hingga Daratan

Fenomena Meluapnya Air Laut hingga Daratan

  • account_circle
  • calendar_month Ming, 5 Des 2021
  • visibility 648

Kenaikan  air laut yang terjadi di beberapa wilayah pantai Kota Ternate  sejak   Sabtu 4 Desember 2021 sore hingga malam tadi, tidak hanya menjangkau bibir pantai, tetapi meluap hingga ke daratan.  Kejadian ini juga menyebabkan sejumlah sarana umum dan pemukiman warga dekat  pantai rusak parah. Lalu fenomena apa yang menyebabkan terjadinya luapan air hingga mencapai daratan tersebut?

Berikut penjelasan Dr, Najamuddin Ahli Oceanografi dan Staf Pengajar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Khairun Ternate.    

Faktor pertama adalah  kejadian pasang air laut. Puncak kenaikan air laut melalui kejadian air pasang terjadi dua kali dalam sebulan yaitu setiap bulan mati/bulan baru dan bulan purnama dalam penanggalan Hijriah. Tepat hari ini  1 Jumadil Awwal yang merupakan bulan baru sehingga terjadi kenaikan air pasang maksimal. Ini adalah fenomena umum yang terjadi setiap bulannya sehingga masyarakat tidak perlu panik namun tetap waspada.

Faktor kedua  adalah kemunculan siklon tropis yang merupakan fenomena hidrometeorologi. Di tahun 2021 ini muncul beberapa kejadian siklon tropis seperti Siklon Tropis Odette di Samudera Hindia bagian Selatan Jawa Barat, Siklon Tropis Surigae di Samudera Pasifik di bagian Utara Papua, dan Siklon Tropis Seroja di Nusa Tenggara Timur yang merupakan bibit dari siklon tropis 99S. Siklon Tropis Seroja terpantau melalui Tropical Cyclone Warning Center (TCWC) berada di Laut Sawu sebelah barat daya Pulau Timor, 10.0 LS – 122.7 BT dan Samudera Hindia sebelah barat daya Pulau Timor, di titik koordinat 11.3 LS – 120.4 BT.

Pada bulan Desember muncul siklon tropis Teratai di dekat perairan wilayah Indonesia. Siklon tropis Teratai merupakan siklon yang berkembang dari bibit siklon 92S. Siklon tropis Teratai mulai terbentuk di sekitar Samudera Hindia sebelah barat daya Lampung, tepatnya di posisi 9,5 LS 101,9 (sekitar 600 Km sebelah barat daya Tanjung Karang) BT pada tanggal 1 Desember 2021 pukul 19.00 WIB.


Dampak kemunculan siklon tropis akan mempengaruhi pertumbuhan awan hujan dan peningkatan kecepatan angin yang berdampak pada ketinggian gelombang air laut sehingga wilayah Indonesia secara umum akan mengalami hujan lebat hingga ekstrim dan pada saat yang bersamaan disertai angin kencang yang menimbulkan gelombang tinggi hingga mencapai 6 meter sehingga ketika mencapai wilayah pantai meluap hingga ke daratan.

Seperti namanya, siklon tropis tumbuh di perairan sekitar wilayah tropis yang memiliki suhu permukaan laut hangat lebih dari 26,5oC. Biasanya terjadi di wilayah perairan Atlantik Barat, Pasifik Timur dan Selatan, Samudra Hindia, serta Australia. Pada awal tahap pembentukannya, suhu permukaan laut yang hangat akan menyebabkan sistem tekanan rendah di wilayah tersebut. Akibatnya, terbentuklah kumpulan awan-awan konvektif (awan Cumulonimbus).  Awan-awan tersebut kemudian membentuk sabuk melingkar. Tekanan udara permukaan akan menurun mencapai kurang dari 1000 milibar (mb). Sementara itu, kecepatan angin maksimum akan meningkat hingga mencapai lebih dari 60 km/jam.

Pada tahap selanjutnya, bentuk siklon tropis cenderung lebih stabil. Di pusat siklon, terbentuk suatu wilayah dengan kecepatan angin yang relatif rendah dan tanpa awan. Wilayah ini disebut mata siklon. Mata siklon dikelilingi dengan dinding berbentuk cincin yang dapat mencapai ketebalan hingga 16 km. Di wilayah ini juga terdapat kecepatan angin tertinggi dan curah hujan terbesar.

Siklon tropis berbentuk seperti spiral yang di dalamnya terdapat aktivitas awan, angin, dan badai petir. Angin kencang yang berputar di dekat pusatnya mempunyai kecepatan lebih dari 63 km/jam. Masa hidup siklon tropis berkisar antara 3 sampai 18 hari dan akan melemah dan hilang saat bergerak memasuki wilayah perairan yang dingin atau daratan.

Faktor ketiga adalah fenomena perubahan iklim global dalam hal ini terjadinya pemanasan global yang berdampak pada kenaikan muka air laut secara global akibat pencairan es di kutub. Pemanasan global dipicu oleh peningkatan gas-gas rumah kaca di atmosfer terutama gas karbon dioksida yang dihasilkan dari hasil pembakaran bahan bakar fosil untuk keperluan industri dan akibat deforstasi.

Faktor keempat adalah fenomena La Nina yang menyebabkan tingginya curah hujan. Fenomena La Nina muncul karena kolam air hangat di Samudera Pasifik bergeser ke arah barat Samudera Pasifik dekat dengan perairan Indonesia yang mendorong tingginya penguapan sehingga menimbulkan potensi hujan lebat.

Kondisi curah hujan menjadi ekstrim karena di waktu yang bersamaan terjadi fenomena La Nina juga disertai kemunculan siklon tropis. Wilayah perairan pantai di Maluku Utara, termasuk Kota Ternate menerima dampak yang cukup signifikan karena berada di bibir perairan Samudera Pasifik.  

Faktor kelima adalah aktivitas  monsoon. Di mana posisi matahari saat ini berada di belahan bumi selatan  menyebabkan  terjadinya tekanan udara rendah  di Australia dan tekanan udara tinggi di Asia. Hal ini ini juga membuat angin  bertiup  dari Benua Asia ke Benua Australia,  melewati wilayah Indonesia  mengandung banyak uap air menimbulkan peningkatan curah hujan, umumnya pada  Desember hingga Februari.

Aiir laut yang naik dan merusak fasilitas umum di Pantai Kota Baru Ternate Slatan (foto capture video yang beredar di medsos)

Akumulasi dari beberapa faktor tersebut di atas yang secara bersamaan terjadi, menyebabkan air laut meluap sampai ke daratan. Lalu sampai kapan fenomena ini akan berakhir? Prediksi air meluap ke daratan akan berlangsung sampai satu minggu ke depan. Adapun cuaca ekstrim  berupa hujan lebat,  angin kencang dan gelombang  tinggi bisa sampai Januari mendatang.

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kanari Makeang Sasar Pasar Eropa

    • calendar_month Rab, 16 Jun 2021
    • account_circle
    • visibility 458
    • 0Komentar

    Ibu inu di ksmpung Samsuma Makeang Pulau sedang memecah tempurung kenari untuk diambil kacang kenari, foto M Ichi

  • Tubagus Soleh Ahmadi Calon Direktur Eksekutif Nasional WALHI

    • calendar_month Sel, 19 Agu 2025
    • account_circle
    • visibility 619
    • 18Komentar

    Keputusan ini Karena Amanah Perjuangan Kolektif Tubagus Soleh Ahmadi atau yang biasa disapa Bagus resmi ditetapkan sebagai salah satu Calon Direktur Eksekutif Nasional WALHI periode 2025–2029. Penetapan ini  melalui Surat Keputusan Panitia Pengarah PNLH XIV WALHI Nomor: 07/PP/PNLH-XIV/VIII/2025 tertanggal 15 Agustus 2025. Setelah lolos seluruh tahapan seleksi, termasuk verifikasi administrasi, uji publik, dan uji kompetensi. […]

  • Warga Adat Sawai Halteng, Perda MA vs Omnibuslaw

    • calendar_month Kam, 28 Jan 2021
    • account_circle
    • visibility 819
    • 0Komentar

    Hernemus Takuling saat ditemui di rumahnya di Lelilef Sawai

  • Dampak Perubahan Iklim di Ternate, Kota Pesisir dan Pulau Kecil (1)

    Dampak Perubahan Iklim di Ternate, Kota Pesisir dan Pulau Kecil (1)

    • calendar_month Sab, 6 Des 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 350
    • 0Komentar

    Banjir dan Longsor  Berulang  hingga Nelayan Terus  jadi Korban di Laut Hari jelang sore di Rabu (17/9/2025) itu, Salma M Arif dan suaminya Ongen Ramli warga Kelurahan Rua Kecamatan Pulau Ternate, berada di dalam rumah. Mereka  baru saja pulang ke rumah setelah  aktivitas di luar. Sore itu, berawan mesti seharian  tidak terjadi hujan. Tiba-tiba mereka […]

  • Ini Rencana Pesta Pesisir dan Pulau-pulau Kecil di Malut

    • calendar_month Jum, 16 Nov 2018
    • account_circle
    • visibility 415
    • 0Komentar

    Digelar di Kalaodi  dan  Kayoa  17  hingga 19 November Sebuah  pesta  berbasis  lingkungan   segera digelar  Wahana Lingkungan  Hidup (WALHI) Maluku Utara. Pekan lingkungan ini akan  digelar  di  Kalaodi  puncak Kota Tidore Kepualuan  dan Kayoa Halmahera Selatan.  Bertitel Pekan Lingkungan Hidup Pesisir Laut dan Pulau-pulau Kecil  akan   digelar sejumlah  acara.  Mulai dari  seminar lingkungan hidup  dan […]

  • Kala Pantai Kota Ternate Nyaris Habis karena Reklamasi

    • calendar_month Rab, 20 Feb 2019
    • account_circle
    • visibility 507
    • 0Komentar

    Beberapa  kawasan di Kota Ternate yang dulunya masih memiliki pantai  dengan pasir pantainya yang menawan kini nyaris habis  karena adanya reklamasi.  Tengoklah ke kawasan selatan kota Ternate  di wilayah  Kayu Merah dan Kalumata.  Proyek reklamasi yang dikerjakan sepanjang  2017 lalu itu mulai merambah  pantai kawasan itu.  Bahkan proyek rekmalasi   untuk tahap berikutnya  dalam program multi year segera […]

expand_less