Breaking News
light_mode
Beranda » Laut dan Pesisir » Literasi Keuangan Nelayan, Seperti Apa?

Literasi Keuangan Nelayan, Seperti Apa?

  • account_circle
  • calendar_month Rab, 15 Feb 2023
  • visibility 380

Ini Upaya MDPI Perkuat Ekonomi Masyarakat Pesisir

Rumah tangga nelayan adalah salah satu aktor dalam mempertahankan keberlanjutan ekonomi pesisir. Para istri nelayan dan suami mereka memainkan peran penting mengelola keuangan rumah tangga. Kadangkalai mereka mengabaikan pencatatan sederhana merekam aktivitas pemasukan dan pengeluaran sehari-hari. Terutama , menentukan prioritas kebutuhan, hingga menjalankan pos-pos keuangan rumah tangga.

Kesenjangan literasi keuangan yang dialami masyarakat pesisir ini menarik perhatian Lembaga Masyarakat dan Perikanan Indonesia (MDPI) mengambil langkah meningkatkan kesadaran literasi keuangan rumah tangga nelayan. Kegiatan ini telah dilakukan di berbagai tempat termasuk di Obi dan sejumlah wilayah lainnya di Indonesia.

Direktur MDPI  Yasmine Simbolon pada kabarpulau.co.id/ saat kegiatan pelepasan rumpon berizin  di Pulau Bisa Madapolo  Halmahera Selatan  akhir Januari 2023 lalu, bercerita bahwa program yang diusung lembaganya adalah melalui pelatihan literasi keuangan. Fokusnya adalah usaha  meningkatkan pemahaman rumah tangga nelayan. Terutama di dalam   mengelola keuangan sehingga mampu bertahan dan melewati kejadian tak terduga. Dia contohkan   ketika terjadi bencana alam, wabah, tidak ada musim ikan, sakit, dan kecelakaan di laut. Jika kejadian seperti ini dialami nelayan tidak bisa melaut dan otomatis tidak punya pendapatan.  Dalam kondisi seperti ini keuangan nelayan akan bermasalah karena itu butuh literasi keuangan yang mumpuni sehingga mereka bisa mengatur pendapatannya sendiri.

“Lebih dari itu, fokus lain kami adalah menciptakan hubungan literasi keuangan dengan perikanan berkelanjutan,”  jelas Yasimine.

Dia  bilang  ada sebuah permainan Simulasi   Kelola Oeang Nelayan yang disingkat dengan (Si Keong Nelayan). Model permainan ini telah dikembangkan  sejak  Desember 2021 dengan  melibatkan pendamping secara langsung untuk merancang sebuah permainan mulai dari jenis, bahan, teknik, hingga ritme permainan yang  dapat diaplikasikan ke komunitas sebagai media pembelajaran yang menyenangkan.

Suasana pelatihan literasi keuangan yang digelar MDPI beberapa waktu lalu, foto MDPI

“Dalam Sikeong ini kami menanamkan aspek lokal kehidupan pesisir dan kebiasaan yang sering dilakukan oleh komunitas ke dalam alat permainan menjadi elemen penting memperkuat dalam penyampaian informasi kepada komunitas,” jelasnya.  

Sebelum finalisasi permainan ini diuji cobakan kepada komunitas dampingan MDPI di Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, NTB untuk mendapatkan masukan terkait teknis, ritme, dan tambahan lainnya guna menyempurnakan permainan.

Setelah melewati proses uji coba dan finalisasi, tim trainer MDPI, kemudian dilanjutkan dengan aksi memberi pelatihan secara langsung di komunitas dampingan.

Untuk ibu-ibu rumah tangga nelayan di Pulau Bisa Madapolo sendiri telah dilakukan pelatihan  dan untuk selanjutnya  dilakukan lagi evaluasi oleh pendamping untuk mengetahui seperti apa  yang telah diperoleh apakah mereka aplikasikan. Termasuk apakah  manfaatnya bagi ibu ibu nelayan setempat.

Dikutip dari  situs MDPI (https://mdpi.or.id/id/tentang-kami/#1620358427118-6fdab962-7525) disebutkan bahwa Si Keong Nelayan hingga saat ini telah dimainkan di 37 kelompok  nelayan yang tersebar di Maluku Utara, Maluku   Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, dan NTB. Sudah   lebih dari 450 rumah tangga nelayan dan 774 peserta telah terlibat dan mendapatkan edukasi literasi keuangan dengan model yang lebih interaktif. Sebanyak 329 peserta adalah perempuan/ibu rumah tangga.

Selain literasi keuangan, terdapat satu sesi mengenai inklusi gender dasar yang disampaikan sebelum memulai permainan. MDPI melihat bahwa di sepanjang permainan, istri nelayan dan para suami saling bertukar peran dan tanggung jawab. Mereka saling bertukar peran dalam mencatat hingga membagi pos keuangan. Kesempatan ini sekaligus digunakan MDPI untuk memperkenalkan bahwa  perempuan juga mampu membawa perubahan melalui partisipasi di sektor perikanan dan pengembangan ekonomi pesisir yang lebih luas.

Beragam informasi dan pengalaman yang didapatkan saat pelatihan memberikan manfaat yang tak terlupakan bagi peserta. Tidak sedikit dari mereka mengakui bahwa setelah pelatihan, pengelolaan keuangan keluarga mereka menjadi lebih teratur.  

Para nelayan juga merasakan bahwa konsep perikanan berkelanjutan yang disisipkan saat pelatihan mendorong mereka terus melaksanakan praktik perikanan berkelanjutan.  

“Keberhasilan konsep yang dikembangkan oleh MDPI melalui permainan Si Keong Nelayan menjadi langkah awal untuk mengembangkan konsep dan kurikulum pelatihan literasi keuangan fase dua. Saat ini MDPI sedang membangun kerangka konsep literasi keuangan fase dua yang bertujuan untuk meningkatkan pemahaman rumah tangga nelayan dalam perencanaan keuangan, menentukan skala prioritas, instrumen dalam mencapai target dan mimpi keluarga nelayan baik melalui pengembangan usaha ataupun dengan berinvestasi,” tulis MDPI dalam situsnya.

Permainan kedua ini diberi nama Si Kompas Nelayan yang merupakan akronim dari Simulasi Kelola Mimpi dan Asa Nelayan. “Saat ini penyusunannya telah sampai pada tahap uji coba untuk mengumpulkan umpan balik penting dari penerima manfaat,” jelasnya.

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Melihat Perempuan- perempuan Tangguh Pulau Kolorai

    • calendar_month Kam, 21 Feb 2019
    • account_circle
    • visibility 270
    • 0Komentar

    Bantu Suami Menjaring Ikan dan Menanam Rumput Laut    Fajar baru menyingsing di ufuk Timur Pulau Kolorai. Pulau kecil berpasir putih seluas 8 hektar  dengan laut tosqoea   subuh itu disapu angin  timur  yang dinginya  menusuk   hingga ke tulang- tulang.  Sepagi  itu, dalam suasana gelap dan dingin, ada seorang  perempuan berusia sekitar 38 tahun, tetap bangun pagi  membantu […]

  • Nasib Reptil di Hutan dan Pulau di Maluku Utara 

    • calendar_month Jum, 24 Nov 2023
    • account_circle
    • visibility 860
    • 0Komentar

    Terus Diburu, Rawan Diselundupkan   Masa depan berbagai jenis reptile di hutan Halmahera dan pulau pulau lainya di Maluku Utara akan terus terancam. Terutama untuk jenis reptil yang memiliki harga jual tinggi. Sebut saja jenis kadal, biawak ular bahkan kura kura darat. Berulangkali jenis hewan   ini diamankan petugas karena dijual ke luar daerah dan diamankan […]

  • Kala Rusa Pulau Mare Tinggal Cerita

    • calendar_month Jum, 14 Sep 2018
    • account_circle
    • visibility 305
    • 0Komentar

    Hamparan ilalang  mencapai 10 hektar di bagian Timur Gunung Mare itu merupakan hutan lindung. Ada juga pohon jambulang tumbuh liar bersama tanaman perdu lain. Tempat ini oleh warga dikenal dengan Bilarung Makota, bahasa Tidore, berarti tempat bermain rusa. Warga menyebut, tempat bermain rusa, karena di sinilah sekitar 15 tahun lalu bisa menyaksikan rusa-rusa di Puncak […]

  • Ayo Selamatkan Pulau Ini Sebelum Tenggelam

    • calendar_month Rab, 24 Feb 2021
    • account_circle
    • visibility 560
    • 2Komentar

    Kondisi PUlau Pagama saat ini. foto Wandi

  • Bina Desa di Pulau Laigoma, FPK Unkhair Turut Lepas Tukik

    • calendar_month Rab, 13 Sep 2023
    • account_circle
    • visibility 291
    • 1Komentar

    Sebagai bagian dari pengabdian kepada masyarakat,  Program Studi Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK) Universitas Khairun Ternate menggelar kegiatan  Bina Desa. Kegiatan ini dilaksanakan di Desa Laigoma Kecamatan Kayoa Halmahera Selatan Provinsi Maluku Utara 9 dan 10 September 2023 lalu. Tujuan kegiatan ini adalah, memberikan pengetahuan bagi masyarakat nelayan, khususnya di Pulau Laigoma, […]

  • KLHK Sosialisasikan FOLU Net Sink 2030 di Maluku Utara

    • calendar_month Rab, 22 Feb 2023
    • account_circle
    • visibility 277
    • 0Komentar

    Indonesia Forestry and Other Land Uses (FOLU) Net-Sink 2030 merupakan suatu kondisi dimana tingkat serapan karbon sektor kehutanan dan penggunaan lahan lainnya sudah berimbang atau bahkan lebih tinggi dari tingkat emisi yang dihasilkan sektor tersebut pada tahun 2030 merupakan   Komitmen Indonesia  untuk mendorong tercapainya tingkat emisi GRK sebesar -140 juta ton CO2e pada tahun 2030 […]

expand_less