Breaking News
light_mode
Beranda » Kabar Malut » Ini Penjelasan Masyarakat Speleologi Indonesia Soal Bokimoruru

Ini Penjelasan Masyarakat Speleologi Indonesia Soal Bokimoruru

  • account_circle
  • calendar_month Kam, 7 Sep 2023
  • visibility 492

Masyarakat Speleologi Indonesia (MSI) yang memiliki spesifikasi keilmuan mempelajari gua termasuk  proses pembuatan dan lingkungannya   melihat kasus di Sungai Sagea dan Goa Bokimoruru  penting diberitanggapan. Melalui rilis MSI yang diterima kabarpulau.co.id/ Kamis (7/9/2023) menyampaikan  bahwa Gua Bokimoruru adalah Salah Satu Sistem Gua Sungai Bawah Tanah Terpanjang  di Indonesia. Gua  di Pulau Halmahera itu  saat ini tercemar  diduga akibat sedimentasi pembukaan lahan pertambangan.

Mirza Ahmad Heviko yang juga  Ketua Bidang Konservasi, Kampanye dan Advokasi, Masyarakat Speleologi Indonesia menjelasakan bahwa,  Kawasan Karst Sagea di Desa Sagea dan Kiya Weda Utara, Kabupaten Halmahera Tengah, Maluku Utara, menyimpan potensi keunikan kawasan karst yang memiliki Gua Bokimoruru.  Disebutkan, dalam laporan yang diterbitkan pada 1988   berjudul “Batukarst 88”, panjang gua yang berhasil dipetakan tim Ekspedisi Speleologi dari Prancis adalah sepanjang 7.467 km. Ini menjadikan Gua Batu Lubang atau Gua Bokimoruru sebagai gua terpanjang yang saat ini ditemukan di Pulau Halmahera. “Gua Bokimoruru merupakan gua dengan karateristik lorong horizontal bertingkat yang memiliki ruangan yang besar dan secara geologi disusun oleh batugamping massif,” jelasnya.   

Gua Bokimoruru, memiliki aliran sungai bawah tanah yang besar dan mengalir keluar gua membentuk aliran sungai permukaan yang disebut Sungai Sagea/Sageyen.  Dia bilang  lagi, bentukan lorong horizontal Gua Bokimaruru dengan ruang yang besar disusun oleh batugamping massif.

Sementara Sungai Sagea merupakan sistem sungai yang hilang dan muncul kembali sekitar 7 km  dimanfaatkan masyarakat setempat sebagai sumber kehidupan untuk penyediaan air bersih  dan wisata alam sungai dan Gua Bokimaruru.

Bentukan lorong horizontal Gua Bokimaruru dengan ruang yang besar disusun oleh batugamping masif foto MSI

“Akibat adanya pembukaan lahan yang dilakukan untuk   akses jalan dan pertambangan pada 28 Juli 2023 air berubah  jadi cokelat dan keruh dari hulu sampai ke hilir,” tulisnya dalam rilis itu.

Dia menyanggah, kesimpulan sementara Tim Investigasi yang menyatakan penyebab  perubahan pada warna air di Sungai Sagea dan Gua Bokimoruru bukan karena dampak aktivitas pertambangan. “Hal ini sangat tidak tepat,” jelasnya.

Karena berdasarkan hasil analisis di lapangan dan analisis citra yang dilakukan Koalisi Save Sagea menunjukkan pembukaan jalan menuju area pertambangan mengakibatkan kondisi tidak stabil pada lapisan tanah. Akibatnya bila terjadi hujan maka run off akibat pembukaan lahan akan membawa sedimen masuk ke alur sungai terdekat dengan jumlah yang besar.

Peningkatan sedimentasi yang cukup tinggi menjadi penyebab utama pencemaran dan selama bulan Agustus di wilayah hulu kawasan ini terjadi hujan secara terus menerus. “Akibat  pembukaan lahan untuk akses jalan pertambangan, air yang tidak bisa terserap menjadi aliran run off atau aliran permukaan mengalami proses pelumpuran yang membawa material sedimentasi berupa tanah dan lumpur dalam jumlah  besar masuk ke dalam sistem Sungai Sagea. Ini yang menjadikan air di sepanjang Sungai Sagea dan Gua Bokimaruru menjadi tercemar. Air yang semula bersih dan jernih menjadi coklat pekat,”katanya.    

Dia bilang lagi,  sedimentasi akan terjadi secara terus-menerus selama proses pembukaan lahan untuk pertambangan dilakukan. Butuh proses sangat lama untuk mengembalikan fungsi Sungai Sagea seperti semula.

“Ini harga yang dibayar ketika kita tidak berpihak pada keselamatan ekosistem Sungai Sagea,” cecarnya.

Dalam kegiatan pembukaan lahan untuk akses jalan dengan kondisi curah hujan yang tinggi sudah dapat menimbulkan pencemaran pada air, apabila pengupasan lahan secara besar-besaran di wilayah hulu terus terjadi. Terutama di wilayah-wilayah konsesi pertambangan Nikel maka peningkatan sedimentasi akan terjadi dan ekosistem Sungai Sagea tidak akan bisa dipulihkan.   

“Speleologi adalah ilmu tentang gua dan lingkungan sekitarnya dapat membantu menganalisis peristiwa pencemaran yang terjadi,” jelasnya.

Berdasarkan karateristik Gua Bokimoruru potensi  Longsor di dalam Gua Bokimoruru sangat tidak mungkin apabila tidak dipicu   gempa bumi, collaps, rock fall yang dapat memicu adanya longsoran di dalam gua. Apabila terjadi longsoran di dalam gua maka longsoran ini hanya bersifat lokal dan tidak akan berpengaruh pada skala yang sangat luas. Apalagi sampai membawa material sedimen berupa tanah dan lumpur mengingat kondisi Gua Bokimoruru disusun  batugamping masif.  

Dalam beberapa bulan terakhir tidak ada catatan gempabumi dangkal dengan skala yang besar terjadi di Halmahera. Hal ini tidak perlu  pembuktian geologi,  secara geologis kondisi kawasan karst memiliki keunikan tersendiri yang hanya bisa diungkap oleh penelitian Speleologi. Begitu juga Ekosistem Kawasan Karst Sagea tidak berdiri sendiri dan sangat terhubung sistem di sekitarnya.

Pembukaan Jalan untuk Tambang Material sedimen yang terbawa air masuk ke dalam Sungai Sagea foto MSI

Lingkungan gua sangat sensitif terhadap perubahan yang terjadi di lingkungan sekitar. Izin pertambangan di bagian hulu akan berpotensi hilangnya fungsi Sungai Sagea yang selama ini  jadi pusat kehidupan  masyarakat di wilayah Sagea dan sekitarnya. Mereka akan terdampak secara terus menerus selama penambangan terus dilakukan.  Selanjutnya akan sangat berdampak pada ekosistem kawasan karst yang akan berisiko terjadi bencana di masa yang akan datang.  

Terutama terhadap masyarakat di kawasan Sungai Sagea. Karena itu Masyarakat Speleologi Indonesia mengajak semua pihak menjaga keberlanjutan dan fungsi kawasan karst sebagai cadangan air di masa akan datang. “Proses karstifikasi/pelarutan batuan pada kawasan karst dapat memberikan manfaat untuk penyerapan karbon (CO2 ) yang dapat menjadi bagian dalam upaya pengurangan emisi dan dampak dari perubahan iklim,”tutupnya. (*)

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Wacana Konsesi Tambang untuk Kampus Harus Ditolak

    • calendar_month Rab, 12 Feb 2025
    • account_circle
    • visibility 655
    • 0Komentar

    Wacana konsesi tambang untuk kampus melalui revisi UU 3/2020 tentang Pertambangan Mineral dan Batu Bara (Minerba) mesti ditolak. Lewat wacana itu, pemegang otoritas berupaya menggerus independensi kampus sebagai institusi pendidikan yang berorientasi pada tridarma. Kampus seyogianya menjadi kompas moral dan intelektualitas, bukan jadi alat negara untuk mencuci  Praktik-praktik buruk industri ekstraktif. Ilham Majid, dosen Universitas […]

  • Dampak Perubahan Iklim di Ternate, Kota Pesisir dan Pulau Kecil (2)

    Dampak Perubahan Iklim di Ternate, Kota Pesisir dan Pulau Kecil (2)

    • calendar_month Sab, 6 Des 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 414
    • 0Komentar

    Nelayan Terancam di Laut,  Hasil Tangkapan Makin Menurun Gafur Kaboli (59) tahun sudah dua hari tidak melaut. Ditemui Selasa (25/11/2025) sekira pukul 12.20 WIT di rumahnya di Kelurahan Jambula Kota Ternate Selatan, dia mengaku  istrahat mengingat cuaca tidak menentu. Dia bercerita jika aktivitas melaut para nelayan Kota Ternate saat ini sangat beresiko karena cuaca yang […]

  • Abrasi, Jalan Raya di Laiwui Obi Nyaris Putus  

    • calendar_month Sen, 20 Feb 2023
    • account_circle
    • visibility 498
    • 1Komentar

    Desa pesisir di sejumlah pulau di Maluku Utara menghadapi masalah serius. Masalah diakibatkan oleh  adanya kenaikan permulaan air laut. Penulusuran kabarpulau.co.id/ di sejumlah pulau di Maluku Utara, menemukan  berbagai fasilitas rusak akibat adanya abrasi pantai.  Di Pulau Obi misalnya,  fasilitas seperti  tanggul penahan ombak  patah. Bahkan jalan raya yang berada di tepi pantai juga  hancur […]

  • Bencana Perubahan Iklim Terus Meningkat    

    • calendar_month Sen, 25 Nov 2024
    • account_circle
    • visibility 560
    • 0Komentar

    Sepanjang 2023 -2024 Ada 5000 Lebih Kejadian Ada kurang lebih 5000 kejadian  bencana   tercatat disebabkan oleh  perubahan iklim dalam satu tahun ini.  Bencana alam yang diakibatkan oleh perubahan cuaca dan iklim (hidrometereologis) terus meningkat tajam. Sementara isu perubahan iklim saat ini menghadapi tantangan serius   baik dari masyarakat dan pemerintah dalam negeri, maupun dari masyarakat global. […]

  • Ekspedisi Talaga Rano Halmahera Dimulai

    • calendar_month Ming, 22 Nov 2020
    • account_circle
    • visibility 523
    • 0Komentar

    Pesan Jaga Alam, Tanam Pohon dan Peduli  Sampah     Sebuah upaya menjaga dan memperkenalkan alam untuk kaum muda dilakukan  Duta  Kreator Pecinta Alam Maluku Utara (Dekapala). Bertitel Ekspedisi Cinta Talaga Rano dan Gerakan Cinta DAS Maluku Utara, ekspedisi ini dihelat dengan beberapa agenda dan  dikerjasamakan dengan  Forum Daerah Aliran Sungai (FORDAS), Balai Pengelolaan Daerah Aliran […]

  • Pulau Kecil, Kaya Biodiversitas Tapi Rentan

    • calendar_month Sen, 10 Jul 2023
    • account_circle
    • visibility 466
    • 0Komentar

    Pembangunan di pulau-pulau kecil tidak cukup sekadar membangun berbagai fasilitas, salah satunya seperti pariwisata. Keberadaan  fasilitas yang menunjang wisatawan  di satu sisi bisa menjadi ancaman kelestarian sumber daya alam. Karena itu  pemerintah perlu menyusun peta jalan pembangunan berkelanjutan untuk pulau-pulau kecil. “Perlu memerhatikan daya dukung lingkungan pulau-pulau kecil,’’kata Guru Besar Kelautan Universitas Mataram Prof Sitti […]

expand_less