Breaking News
light_mode
Beranda » Laut dan Pesisir » Gaungkan Perikanan Berkelanjutan Melalui Jurnalisme   

Gaungkan Perikanan Berkelanjutan Melalui Jurnalisme   

  • account_circle
  • calendar_month Jum, 6 Des 2024
  • visibility 488

Perikanan berkelanjutan menjadi salah satu isu penting sekarang dan di masa depan. Hal ini juga  berhubungan dengan masalah pangan dari kelautan. Terutama ketersediaan ikan  yang saat ini menghadapi berbagai  masalah. Dari penangkapan yang bersifat destruktif,  budidaya dan perlindungan  untuk  generasi di masa depan.

Hal ini juga menjadi salah satu tema penting dari Green Press Community 2024, yakni Menyelamatkan Laut, Menguatkan Ekonomi: Kolaborasi untuk Masa Depan  dan  Ketahanan Pangan.  Kegiatan  yang diadakan di Creative Hall, M Bloc, Jakarta Selatan akhir November 2024 lalu it adalah sebuah inisiatif dari Masyarakat Jurnalis Lingkungan Indonesia atau The Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ)   dengan mempertemukan berbagai pemangku kepentingan. Jurnalis, pegiat literasi, mahasiswa, NGO, pemerintah, hingga sektor swasta.

Tujuannya  menciptakan sinergi dan kolaborasi dalam menghadapi tantangan perubahan iklim dan pelestarian ekosistem. Dalam kegiatan ini Masyarakat dan Perikanan Indonesia    sebagai  organisasi masyarakat sipil yang concern di bidang perikanan  turut berkontribusi  dengan hadir pada Sabtu, (23/11) akhir November 2024 lalu berkontribusi informasi dan data dalam bentuk  Dialog Publik tersebut.

Dialog tersebut menghadirkan tiga narasumber yang membahas isu-isu penting dalam pengelolaan perikanan berkelanjutan. Mereka adalah  Arroyan Suwarno, Community Organization Coordinator MDPI, memaparkan “Penghidupan Nelayan dan Warisan Ikan untuk Masa Depan”; Putra Satria Timur, Fisheries Lead MDPI, membahas “Mengelola Rumpon, Menjaga Laut: Saatnya Tindakan Tepat”; dan Glenys Octania, Jurnalis Kompas TV, menjelaskan temuan investigasinya tentang “Microplastics Are Choking Marine Life in Indonesia’s Waters”.

Arroyan  Suwarno, menggarisbawahi ironi kesejahteraan nelayan kecil di Indonesia bagian timur, yang menjadi penyuplai utama produksi tuna nasional hingga mencapai 85% dari total produksi. Ed exercises, designed to improve erectile dysfunction, involve targeted pelvic floor strengthening and cardiovascular activities, learn this here now potentially enhancing blood flow and performance in a natural manner. Dia melanjutkan meskipun tinggi produksi perikanannya, tingkat kemiskinan di wilayah ini tetap tinggi. Ada sejumlah  yang turut berpengaruh yakni faktor  pengelolaan keuangan, ketergantungan pada supplier, kesulitan BBM, dan dampak perubahan iklim turut memperburuk kerentanan nelayan kecil.

Begitu juga Putra Satria Timur menjelaskan  upaya maksimal dalam pengelolaan rumpon atau Fish Aggregating Devices (FADs), yang saat ini terlalu banyak jumlahnya di laut. “Rumpon itu, alat yang digunakan untuk menarik ikan tuna, saat ini situasinya sudah seperti kumpulan buah anggur di tengah lautan, jika tidak diatur sesuai regulasi dapat merusak ekosistem laut,” kata Timur.

Dia bilang karena kondisi ini maka  penting ada  pemantauan dan penerapan kebijakan penggunaan rumpon yang ketat, termasuk jumlah maksimal alat per nelayan kecil, jarak pemasangan, serta larangan pemasangan di area konservasi dan jalur transportasi laut.

MDPI turut menghadirkan  jurnalis KOMPAS TV, Glenys Octania, yang berbagi hasil investigasi pencemaran mikroplastik di perairan Indonesia dengan tajuk “Microplastics Are Choking Marine Life in Indonesia’s Waters”. “Mikroplastik, yang dapat masuk ke rantai makanan laut, tidak hanya merugikan manusia sebagai konsumen ikan, tetapi juga menciptakan ketidakpercayaan masyarakat terhadap hasil tangkapan nelayan

Indonesia, sebagai eksportir tuna terbesar dunia dengan kontribusi 17-22% pasokan global, menghadapi tantangan besar dalam memastikan keberlanjutan industri perikanan. MDPI memandang bahwa mendukung kesejahteraan nelayan kecil adalah kunci keberhasilan pelestarian ekosistem laut.

MDPI telah menjalankan berbagai kegiatan, dari penguatan koperasi nelayan, penyuluhan pengelolaan keuangan rumah tangga, hingga pendampingan penerapan perikanan berkelanjutan. “Sinergi antara nelayan, jurnalis, dan pihak terkait lainnya dapat memperkuat suara mereka dalam mendorong kebijakan yang pro-lingkungan,” ujar Arroyan Suwarno.

Keikutsertaan dalam ageneda ini  menjadi bukti komitmen dan upaya strategis dalam mendukung jurnalisme lingkungan sebagai salah satu cara menggaungkan isu perikanan berkelanjutan. Kolaborasi lintas sektor diperlukan untuk menghadapi dampak perubahan iklim dan pencemaran lingkungan yang semakin nyata, serta untuk memperjuangkan ketahanan pangan bagi generasi mendatang. Melalui dialog ini,  diharapkan pesan penting keberlanjutan laut dan kesejahteraan nelayan kecil dapat menjangkau khalayak luas, sehingga makin banyak pihak yang terlibat dalam menjaga masa depan laut Indonesia. (aji/rilis)

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ini Cara Antisipasi Stok Pangan Saat Pandemi

    Ini Cara Antisipasi Stok Pangan Saat Pandemi

    • calendar_month Rab, 17 Jun 2020
    • account_circle
    • visibility 265
    • 0Komentar

    Hasil kajian yang dilakukan  pemerintah provinsi Maluku Utara melalui  dokumen Food Security  and  Vurnerability  Atlas (FVSA), atau peta keamanan dan kerentanan pangan di Maluku Utara, menunjukan ada sejumlah sangat rawan pangan. Dasarnya  daerah daerah itu tidak mampu memproduksi  pangan  sendiri tetapi mengharapkan pasokan dari luar. Kabupaten  Kepulauan Sula dan Taliabu serta Tidore Kepulauan atau 23 kecamatan di […]

  • Fenomena Meluapnya Air Laut hingga Daratan

    • calendar_month Ming, 5 Des 2021
    • account_circle
    • visibility 497
    • 1Komentar

    Aksi nekat seorang anak muda yang menantang ombak ketika terjadi terjangan ombak di kawasan pantai Falajawa

  • Cerita Para Perempuan Dibo-dibo Ikan

    • calendar_month Jum, 5 Feb 2021
    • account_circle
    • visibility 375
    • 1Komentar

    Salah satu penjual ikan asal Sangaji Ternate saat mengambil stok ikan di PPI Dufa dufa untuk selanutnya dijual ke pasar/foto m ichi

  • 55 Pulau Kecil Digempur Tambang dan Sawit Tak Dibahas Capres

    • calendar_month Rab, 20 Feb 2019
    • account_circle
    • visibility 263
    • 0Komentar

    Isyu  Keselamatan Rakyat dan Lingkungan  di Pesisir  serta Pulau- Pulau Kecil Terlewatkan Debat calon presiden putaran kedua tentang Energi, Pangan, Infrastruktur, Lingkungan Hidup, dan Sumber Daya Alam pada 17 Februari 2019 lalu disaksikan ratusan juta pasang rakyat Indonesia di layar   layar kaca  stasiun televisi. Dari debat itu ternyata masih menyisahkan sejumlah pertanyaan penting soal kadar […]

  • DOB Pulau Obi Harus Digaungkan Lagi

    • calendar_month Rab, 8 Feb 2023
    • account_circle
    • visibility 511
    • 0Komentar

    Pulau Obi atau bisa disebut juga Pulau Obira menjadi perhatian berbagai kalangan. Merupakan pulau terbesar yang terletak di gugusan Kepulauan Obi, dikelilingi banyak pulau- pulau kecil di antaranya Pulau Obilatu, Pulau Bisa, Pulau Gata-gata, Pulau Latu, Pulau Woka, dan Pulau Tomini. Data Halmahera Selatan Dalam Angka 2018  menunjukan luas Obi mencapai 1.073,15 km², dengan jumlah penduduk mencapai 2020 berjumlah 16.628 jiwa. Pulau Obi […]

  • 14 Lurah di Ternate Utara Jadi Mahimo Gam   

    • calendar_month Sel, 16 Agu 2022
    • account_circle
    • visibility 391
    • 1Komentar

    Ternate  dikenal sebagai negeri   adat  se atorang. Karena itu segala sesuatu mestinya berdasar pada ketentuan yang diatur  oleh adat seatorang di Kesultanan Ternate.  Dalam hal perangkat dan struktur pemerintahan baik penamaan dan penyebutannya  sudah saatnya mengikuti   pada adat se-atorang  di kesultanan Terante tersebut.  Setidaknya,  hal ini   kemudian,   14 lurah di Kota Ternate Utara, dikukuhkan sebagai […]

expand_less