Breaking News
light_mode
Beranda » Headline » Mengangkat Kearifan Nelayan Ternate  Lewat Festival Nyao Fufu

Mengangkat Kearifan Nelayan Ternate  Lewat Festival Nyao Fufu

  • account_circle Redaksi
  • calendar_month Rab, 8 Okt 2025
  • visibility 287

Nyao fufu adalah salah satu tradisi memasak atau mengawetkan ikan yang dilakukan  warga Ternate dan Maluku Utara secara turun temurun. Kelurahan Dufa-dufa sebagai salah satu kampong/kelurahan nelayan di Kota Ternate  melestarikan tradisi nyao   fufu atau ikan asap  tidak  hanya untuk  konsumsi tetapi juga  usaha ekonomi produktif. Masyarakat di Pantai Dufa dufa juga turut menjaga dan melestarikan tradisi pesisir itu hingga kini.

126 tungku kayu  sebagai tempat mengasapi  ikan, berjejer di jalan utama hingga ke tepi pantai kelurahan Dufa-dufa Kota Ternate Maluku Utara  Senin (6/10/2025). Kegiatan ini menjadi bukti warga nelayan Dufa-dufa mencoba mengangkat kearifan ini ke pentas  nasional bahkan internasional. Tungku berdiri dengan bahan bakar kayu dan sabut kelapa itu digunakan untuk fufu  ikan cakalang secara massal melalui Festival Nyao Fufu (ikan asap,red).

Dimulai dengan ikan cakalang yang sudah disiapkan, dibelah dan dibersihkan. Kemudian dijepit dengan bambu yang sudah diraut lalu diikat. Jika sudah siap, ikan yang siap diasapi   diletakkan di atas tungku  dengan  bara api dari kayu dan sabut kelapa.  Warga bahu-membahu tua muda turun ke jalan mengasapi ikan yang sudah disediakan.  Kegiatan ini dilakukan secara massal atau sekitar 3.000 warga  dari jalan utama hingga ke ujung jalan tepi pantai  ke Taman Jole Majiko tak jauh dari ujung Selatan Bandara Baabullah Ternate.

Mereka serentak mengasapi ikan yang sudah tersedia. Setiap tungku pemanggangan mengasapi  20 hingga 50 ekor ikan dan dikawal  5 sampai 10  warga. Proses nyao  fufu ini hingga matang berlangsung kurang satu jam tergantung bara api yang disiapkan. Setelah ikan fufu matang  warga menyediakan nampan dan aneka makanan pangan lokal untuk dicicipi bersama.  Tak hanya itu  nyao fufu  juga dibagikan ke pengunjung yang berdatangan  secara gratis  yang  menyaksikan festival.

Kegiatan ini memecahkan rekor Museum Rekor Indonesia (MURI) dengan mengasapi  6,42 ton ikan atau lebih dari 5470  ekor ikan cakalang  sepanjang 1 kilometer jalan . Ikan-ikan  yang diasapi merupakan hasil partisipasi kelompok  nelayan setempat  yang disumbangkan  untuk acara ini.

Ridwan Safar,  warga Dufa- dufa mengatakan, distribusi ikan  untuk festival tahun ini mencapai enam ton. Ini bukan sekadar pesta kuliner, tapi juga upaya memperkenalkan  potensi kampung nelayan Dufa- Dufa kepada  masyarakat yang lebih luas.

“Kami ingin Dufa-dufa dikenal bukan hanya karena ikannya, tapi juga karena semangat warganya  menjaga tradisi.  Karena itu Festival ini  kami  hidupkan dengan budaya bahari yang sudah lama dijalankan,” ujarnya di sela sela  acara. Dalam festival ini seluruh pengunjung dipersilahkan menikmati ikan asap yang telah dibakar secara gratis. “Siapa saja yang mau makan silahkan ambil,”  katanya.

Ketua panitia Festival Sukarjan Hirto mengatakan, tujuan kegiatan ini  adalah mengangkat potensi ekonomi masyarakat,  tradisi  dan budaya   maritime  serta pesisir,   terutama yang ada di Kelurahan Dufa-dufa. Hal ini karena  mata pencarian warga  sebagai nelayan. Semangat festival ini juga katanya, adalah  merayakan dan membudayakan tradisi leluhur  yang menjadi identitas warga   pesisir   Ternate.   “Kita juga, mengangkat potensi masyarkat Dufa-dufa yang berdiri di atas tiga pilar utama  ekonomi perikanan, budaya masyarakat dan kekayaan maritime. Dalam konteks ini  yang disasar  adalah nilai kebahariannya,” ujar Sukarjan.

 

 

Dia bilang, bagi kami masyarakat nelayan Dufa- dufa festival ini tidak sekadar  seremonial, tetapi upaya masyarakat membangun nilai budaya ekonomi yang bersumber dari kearifan local.  Festival selama sepekan  sejak 2  hingga 8 Oktober 2025  itu mengusung tema “Ikan Fufu Lokal, Ekonomi Berkelanjutan” sebagai komitmen  memperkuat ekonomi maritim  masyarakat pesisir.  Festival ini juga mendapatkan dukungan penuh Pemerintah Provinsi Maluku Utara dan diharapkan menjadi event bertaraf nasional bahkan internasional.

“Kami ingin menunjukkan bahwa  ini bukan sekadar pesta kuliner, tetapi  bagian dari warisan budaya dan spiritual masyarakat Dufa-Dufa,” ujar Sukarjan.  Saat pembukaan kegiatan, panitia juga menyiapkan pertunjukan tarian kolosal melibatkan 150 orang. Selain itu    pra iven,  digelar tradisi ziarah ke makam leluhur dan auliyah  serta pelaksanaan ritual Sou Gam (mengobati kampong,red). Kegiatan ini sebagai bentuk melindungi kampong dan wilayah dari  musibah dan bencana.

Dia berharap,  apa yang diinisiasi warga ini menjadi momentum penting  mempromosikan Maluku Utara ke panggung dunia.  Diharapkan  tidak hanya  satu kali penyelenggaraannya, tetapi berlanjut  setiap tahun sebagai kalender tetap pariwisata nasional.

“Melalui festival Nyao Fufu  kami harapkan dapat menjadi identitas Ternate di mata dunia. Dari Dufa-Dufa,ikan fufu bisa mendunia, sekaligus mengangkat ekonomi masyarakat nelayan,” harapnya.

Selain kuliner, festival ini juga dirangkai dengan pameran UMKM, atraksi budaya, hingga forum ekonomi lokal. Dengan sentuhan tradisi dan semangat modernisasi,  diyakini mampu menjadi jembatan antara kearifan lokal dan potensi global.

Asisten Deputi Pengembangan Produk Wisata Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Itok Parikesit,  mewakili Kementerian Pariwisata, mengapresiasi  terselenggaranya kegiatan tersebut.  Festival Nyao Fufu ini merupakan bentuk inovasi daerah  memadukan potensi seni, budaya, dan pariwisata bahari. “Festival ini bisa menjadi daya tarik wisata nasional bahkan internasional, serta berkontribusi pada perputaran ekonomi masyarakat pesisir,” ujar Itok.

Sementara Wakil Gubernur Maluku Utara, Sarbin Sehe, mengatakan bahwa pemerintah provinsi akan terus mendukung kegiatan rakyat berbasis potensi lokal. Festival Nyao Fufu merupakan wujud nyata kolaborasi masyarakat, pemerintah, dan pelaku budaya  untuk memajukan sektor ekonomi kelautan. “Kegiatan ini adalah kerja nyata membuka akses masyarakat nelayan agar laut kembali menjadi sumber pendapatan berkelanjutan,” kata Sarbin.(*)

 

  • Penulis: Redaksi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Begini  Kondisi Kepiting Kenari di Malut Saat Ini

    • calendar_month Sab, 2 Mar 2024
    • account_circle
    • visibility 433
    • 0Komentar

    Salah satu hewan dilindungi yang hingga kini masih ditangkap diperjual belikan dan dikonsumsi dengan harga mahal adalah kepitng kenari atau nama latinnya  Birgus Latro. Hewan ini di Maluku Utara   bisa dijumpai di hampir seluruh pulau kecil  di sekitar kawasan ini. Meskpiun tersebar hampir di seluruh pulau kecil di Maluku Utara, namun  i sudah dianggap langka […]

  • Sampahmu adalah Hartaku

    • calendar_month Rab, 5 Jan 2022
    • account_circle
    • visibility 279
    • 1Komentar

    Ulfa Zainal di antara hasil hasil kreasinya. foto M Ichi

  • Kampanye Hari  Air Sedunia Lewat Konten Digital

    • calendar_month Rab, 15 Mar 2023
    • account_circle
    • visibility 271
    • 1Komentar

    Warga Lingkungan Ake Gaale Kelurahan Sangaji Kota Ternate Utara  akan merayakan Hari Air Sedunia 23 Maret nanti dengan beragam kegiatan. Diawali dengan kegiatan Workshop Makin Cakap Digital pada Selasa (14/3/2023) malam. Kegiatan ini dilaksanakan dengan tujuan memberikan pemahaman kepada masyarakat pentingnya memiliki pemahaman dan pengetahuan soal pemanfaatan dan penggunaan  media social dan alat digital. Tidak […]

  • Setahun Ribuan Kali Gempa Terjadi di Malut

    • calendar_month Jum, 4 Jun 2021
    • account_circle
    • visibility 391
    • 1Komentar

    Ada 11 Ancaman  Serius Bencana Bagi   Masyarakat Gempa bumi tektonik bermagnitudo M 6,1 mengguncang wilayah Maluku Utara terjadi   pukul 17.09 WIB, Kamis (3/6/2021). Gempa itu  tidak berpotensi tsunami. Berdasarkan hasil analisis Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), episenter gempa bumi ini terletak pada koordinat 0.41 LU dan 126.23 BT. Lokasi tepatnya berada di laut […]

  • Buat Minyak Kelapa Kampong, Lawan Ketergantungan

    • calendar_month Sel, 29 Sep 2020
    • account_circle
    • visibility 384
    • 0Komentar

    Cerita Usaha Ibu- ibu dari  Samo Halmahera Selatan Pagi  di awal Agutus  lalu itu  masih gelap. Bulu kuduk juga belum kelihatan. Ketika melihat catatan waktu di hand phone  baru menunjukan pukul 5.40 WIT.  Meski masih pagi buta puluhan ibu  asal desa Samo Kecamatan Gane Barat Utara Halmahera Selatan itu sudah rame  di  belakang rumah ibu Jena […]

  • Bahasa Kayoa Terancam Punah

    • calendar_month Sel, 28 Mar 2023
    • account_circle
    • visibility 382
    • 0Komentar

    Suasana Sosialisadi 4 Pilar Kebangsaan di Kayoa Halmahera Selatan

expand_less