Breaking News
light_mode
Beranda » Headline » Dampak Perubahan Iklim di Ternate, Kota Pesisir dan Pulau Kecil (Habis)

Dampak Perubahan Iklim di Ternate, Kota Pesisir dan Pulau Kecil (Habis)

  • account_circle Redaksi
  • calendar_month Sab, 6 Des 2025
  • visibility 670

Dampak  Langsung Perubahan Iklim  di Kota  Ternate  

Dampak perubahan iklim yang mengancam kehidupan manusia saat ini nyata adanya.  Kondisi itu dirasakan  tidak hanya  oleh mereka  di pulau besar. Di pulau kecil  seperti Ternate juga sama. Pulau kecil memiliki tingkat kerentanan cukup tinggi  dan dampaknya pun berlapis. Ancaman perubahan iklim dalam 10 tahun terakhir tidak hanya berdampak  pada  kerugian material tetapi juga  adanya  korban yang  tidak sedikit.

Jika di Kelurahan Rua, dampak perubahan iklim berupa hujan dengan  intensitas hujan tinggi setiap saat menyebabkan banjir bandang berulang, kurang lebih 2 kilometer dari situ yakni di Kelurahan Jambula Kota Ternate Selatan juga menerima dampak  yang sama. Dua kelurahan yang  sebagian warganya   nelayan itu ketika terjadi hujan angin dan  gelombang sangat merasakan dampaknya.

Data yang dirilis dalam dokumen Laporan Rencana Aksi dan Mitigasi Perubahan Iklim Kota Ternate tahun 2025 yang dikutip dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Ternate, menyebutkan ada 9 jenis bencana yang berpotensi terjadi di Kota Ternate. Yakni gempa bumi, tsunami, letusan gunung berapi, banjir, cuaca ekstrem, kebakaran hutan dan lahan, tanah longsor, gelombang ekstrem dan abrasi, serta konflik sosial. Namun   ada  tiga jenis bencana  selama tahun 2020 – 2023 yang paling menonjol.  Terbanyak  adalah banjir dan tanah longsor. Bencana akibat perubahan iklim itu, dialami berulangkali oleh warga di Kota Ternate bahkan sudah menyebabkan puluhan jiwa menjadi korban.

Kondisi rumah di bantaran sungai di Rua yang diterjang banjir bandang Agustus 2024 dan mengalami rusak berat.-foto-Andi-

Mei 2012 banjir lahar dingin karena hujan dengan intensitas tinggi melanda Kota Ternate. Dalam kejadian  banjir  tersebut mengakibatkan 5 orang warga tewas dan 4 orang hilang. Selain itu banjir lahar dingin itu juga menyebabkan  rumah warga rusak berat. Warga yang tewas akibat banjir lahar dingin  itu ada di  Kelurahan Maliaro, Dufa Dufa, dan Kelurahan Tubo.  Agustus 2024 peristiwa banjir  terjadi di Kelurahan Rua Kota Ternate  menyebabkan 19  warga tewas tertimbun material tanah, pasir dan batu yang terbawa dalam banjir  itu. Banjir bandang juga berulang terjadi di Pulau Moti dan Pulau Hiri yang masuk wilayah Kota Ternate.

Selain banjir,  warga  masih menghadapi banjir rob dan  gelombang pasang   menghantam kawasan pantai. Warga kota Ternate yang tempat tinggalnya dekat  kawasan pantai merasakan dampak serius  gelombang pasang dan abrasi pantai.   Desember 2021 gelombang pasang melanda Ternate membuat, 46 rumah warga di Kelurahan Sangaji  hancur disapu ombak. Tidak itu saja akibat adanya gelombang pasang menyebaban abrasi  pantai di Pulau Ternate  yang mengurangi bibir pantai  hingga puluhan meter.

Pantai di Kelurahan Sulamadaha Kota Ternate mengalami abrasi dan pengurangan bibir pantai hingga puluhan meter. Di Pantai Masirete di wilayah Kelurahan Sulamadaha alami pengurangan bibir pantai hingga 25 meter.

Dampak bencana iklim yang lain kenaikan air laut hingga terjadi  intrusi air laut di beberapa tempat  hingga mencemari sumber air warga.  Peristiwa ini terjadi di Ternate pada 2015 di Kelurahan Sangaji Kota Ternate Utara. Akibat  kenaikan permukaan air laut dan  abrasi parah, sumur yang selama ini digunakan  untuk  kebutuhan air  menjadi tercemar. Bahkan dampaknya, air yang disuplai Perusahaan Daerah (PDAM) Kota Ternate juga tercemar hingga 2020 lalu.

Kerusakan rumah akibat-banjir-rob di Ternate awal 2022 -foto warga Sangaji

Di dalam RPJMD Kota Ternate 2021- 2026 mengidentifikasi kawasan rawan bencana berdasarkan jenis bencana  terkait  bencana hidrometeorologi yakni kawasan rawan tanah longsor terdapat di hampir seluruh wilayah Kota Ternate, terutama di kawasan dengan tingkat kemiringan lereng di atas 40%. Sedangkan kawasan rawan banjir terdapat di Kota Ternate terdiri dari banjir genangan, banjir rob dan banjir bandang/kiriman.

Untuk banjir genangan terjadi di beberapa kelurahan, antara lain, Kelurahan Mangga Dua, Kelurahan Mangga Dua Utara, Kelurahan Bastiong Talangame, Kelurahan Bastiong Karance, Kelurahan Gamalama, Kelurahan Jati, Kelurahan Santiong, Kelurahan Salero dan Kelurahan Akehuda. Untuk banjir rob terjadi di beberapa kelurahan   di wilayah pesisir pantai. Sedangkan  banjir bandang terjadi akibat meluapnya air dari beberapa sungai/kalimati/barangka  di Kota Ternate, antara lain : Kelurahan Tubo, Kelurahan Dufa- Dufa, Kelurahan Rua, Togafo, Kelurahan Loto, Kelurahan Marikurubu, Kelurahan Kampung Pisang, Kelurahan Takoma, Kelurahan Tanah Tinggi.

Data BPBD Kota Ternate tahun 2020- 2023 menunjukan  kejadian bencana hidrometeorologi sebanyak 40 kejadian  dengan uraian  banjir  9 kali, tanah longsor  7 kali, abrasi 8 kali dan puting beliung 6 kali.

Sebagai kota pulau Ternate turut terdampak  bencana Banjir Rob. Ketika   gelombang pasang  ditambah  curah hujan  tinggi mengakibatkan banjir rob di kelurahan  di pesisir. Analisis tingkat urgensi banjir rob didapatkan terjadi di 54 kelurahan dari 78  kelurahan di Kota Ternate.

12 kelurahan  memiliki tingkat urgensi banjir rob  sangat tinggi yakni  Kota Baru, Gamalama, Makassar Timur, Sasa, Fitu, Kalumata, Kayu Merah, Bastiong Talangame, Bastiong Karance, Sangaji, Dufa-Dufa, dan Jambula. Terdapat 6 kelurahan yang masuk  ketegori  tinggi  yakni Kelurahan Gambesi, Toboko, Ngade, Kasturia, Kulaba dan Rua.   13 Kelurahan  masuk kategori cukup tinggi  yakni Kelurahan Muhajirin, Mangga Dua, Salero, Tafure, Bula, Tobololo, Sulamadaha, Takome, Kastela, Mayau, Takofi, Kota Moti, dan Tafamutu.

“Dari identifikasi dokumen RPJMD dan data kejadian bencana, Ternate merupakan Kota rentan bencana  hidrometeorologi. Karena itu diperlukan tindakan kesiapsiagaan bencana baik kesiapan pemerintah kota, masyarakat, maupun sistem peringatan dini,” demikian isi  salah sau poin dalam dokumen  laporan rencana aksi mitigasi dan adaptasi perubahan iklim kota Ternate tahun 2025.

Hasil riset  Abdul Muthalin Angkotasan dan kawan kawan dari Universitas Khairun Ternate pada 2016 menunjukan pengikisan akibat abrasi cukup serius. Dalam 30 tahun terakhir kawasan pantai di Ternate mengalami pengikisan hingga 15 meter.  Melalui riset berjudul Analisis Perubaha Garis Pantai di Pantai Barat Daya Pulau Ternate provinsi Maluku Utara. Dalam riset ini mereka  menganalisis  laju perubahan garis pantai akibat adanya  abrasi dan sedimentasi yang terjadi  di kawasan tersebut.

Pohon ketapang di tepi parntai Masirete Kelurahan Sulamadaha Ternte tumbang disapu gelombang foto-m-ichi.jpeg

Menurut Angkotasan  fenomena abrasi pantai biasa dipicu  berbagai faktor. Pertama, energi gelombang besar dengan intensitas tinggi menghantam pesisir pantai setiap tahun. Kedua, kenaikan muka air laut akibat perubahan iklim, volume air laut bertambah turut berpengaruh tak langsung dalam proses abrasi pantai. Ketiga, ada penambangan pasir pantai oleh masyarakat yang menyebabkan fungsi alami pantai menurun dalam menghadapi hantaman enegi gelombang.

Keempat, eksploitasi vegetasi pelindung pantai seperti mangrove dan vegetasi Pescaprea (kayu baru, ketapang dan lain-lain). Kelima, kerusakan ekosistem terumbu karang dan lamun yang menyebabkan fungsi peredam energi gelombang dari kedua ekosistem itu.(*)

Penulis:Mahmud Ici

Tulisan ini didukung oleh Masyarakat Jurnalis Lingkungan (SIEJ) dalam  fellowship Road to COP 30 2025 di Belem Brazil.  Liputan ini fokus menulis tentang dampak-dampak perubahan iklim yang dirasakan public di tingkat tapak

 

  • Penulis: Redaksi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Sebuah Catatan Tentang  Laut Maluku Utara

    • calendar_month Kam, 13 Jul 2023
    • account_circle
    • visibility 909
    • 1Komentar

    Dari Tambang, Sampah  hingga Matinya Mamalia Laut Studi dari Survei Geologi Amerika Serikat (USGS), menyebutkan bahwa sekitar 72 persen bagian dari bumi tertutup air. 97 persen air yang ada  adalah  lautan.    Indonesia yang merupakan negara kepulauan terbesar di dunia, terbentang dari Sabang sampai Merauke,   dengan 17.499 pulau besar dan kecil  memiliki  luas wilayah  sekitar […]

  • Tiga Isu Fokus ICMI untuk Masa Depan Malut

    • calendar_month Sel, 24 Okt 2023
    • account_circle
    • visibility 461
    • 0Komentar

    Ada banyak persoalan di bidang lingkungan yang menghantui dunia saat ini. Beberapa di antaranya  adalah dampak perubahan iklim (climate change) dan problem pangan. Sementara kepedulian public terhadap dua persoalan ini masih masih terbilang minim. Karena itulah  Organisasi Wilayah (ORWIL) Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Maluku Utara menjadikan dua isyu ini    didorong  ke tengah masyarakat dan […]

  • Ini Potret Desa Sumber Pangan di Pulau Morotai

    • calendar_month Rab, 28 Feb 2018
    • account_circle
    • visibility 422
    • 0Komentar

    Gugusan pulau-pulau kecil di bawah langit terlihat biru kala mendekati Kepulauan Morotai, Maluku Utara, menumpangi kapal ferry, pada awal 2018. Ada  Pulau Dodola, Zum-zum, dan Pulau Kolorai, tempat produksi rumput laut. Pulau-pulau kecil pun menyimpan sejarah panjang Perang Dunia ke II. Pulau Zum-zum, merupakan saksi bisu pertempuran Jepang dan sekutu Tentara Amerika yang dipimpin Jenderal […]

  • Isu Kelautan dan Perikanan Tak Disentuh Saat Debat Cawapres

    Isu Kelautan dan Perikanan Tak Disentuh Saat Debat Cawapres

    • calendar_month Rab, 31 Jan 2024
    • account_circle
    • visibility 474
    • 0Komentar

    WALHI: Regulasi Abaikan Wilayah Tangkap Nelayan Tradisional   Putaran empat debat Calon Wakil Presiden Republik Indonesia periode 2024-2029  telah berakhir Minggu (21/1/2024) lalu. Banyak persoalan lingkungan diungkap ketiga Cawapres  dalam debat. Sayang, tidak ada satu pun  menyinggung langsung masyarakat pesisir dan pulau-pulau kecil. Padahal  tempat tinggalnya rentan tenggelam karena kenaikan muka air laut. Perspektif para […]

  • Multiusaha Kehutanan, Konsep Berbasis Lanskap

    • calendar_month Jum, 17 Feb 2023
    • account_circle
    • visibility 450
    • 0Komentar

    Sungai dan hutan di Bokimoruru ii tidak bisa menjadi sarana wisata masyarakat Halmahera Tengah foto M Ichi

  • Petaka Perubahan Iklim Global Ancam Bumi

    • calendar_month Rab, 12 Jul 2023
    • account_circle
    • visibility 399
    • 1Komentar

    Kenaikan Permukaan air laut menyebabkan abrasi dan pengikisan daratn foto Asrul Lamunu

expand_less