Breaking News
light_mode
Beranda » Kabar Kampung » Toyom, Pohon Penyembuh Luka dari Halmahera

Toyom, Pohon Penyembuh Luka dari Halmahera

  • account_circle
  • calendar_month Sab, 23 Jan 2021
  • visibility 1.105

“Sterculia oblongifolia atau yang dikenal dengan sebutan toyom  atau sebagian warga Halmahera menyebutnya dengan Tapaya, merupakan tumbuhan yang sangat bermakna bagi masyarakat sekitar Taman Nasional Aketajawe Lolobata, Halmahera Timur, Maluku Utara. Tumbuhan ini berperan penting dalam kehidupan komunitas suku Ohongana Manyawa atau  orang Tobelo Dalam. Warga yang  sebagian masih hidup nomaden di Hutan Halmahera menjadikan pohon ini multi fungsi.Selain untuk kebutuhan hidup juga menjadi herbal yang bermakna penting.

Hasil riset yang dilakukan Lis Nurrani , S.Hut, M.Sc yang juga Peneliti Ilmu Kayu dan Teknologi Hasil Hutan – Balai Litbang LHK Manado menjelaskan, Kayu Toyom dimanfaatkan suku Togutil sebagai bahan baku pembuatan pondok/rumah tradisional. Selain itu juga sebagai kayu bakar untuk memasak dan membuat perapian di dalam hutan.

Ternyata pohon ini tidak hanya menjadi sumber bahan bangunan  dan kayu bakar tetapi   memiliki khasiat tertentu.  Pasalnya dari hasil riset yang dilakukannya menemukan  kulit toyom juga dimanfaatkan masyarakat sekitar hutan lainnya untuk pengobatan.

“Tumbuhan obat ini digunakan masyarakat Desa Akejawi, salah satu desa penyangga Taman Nasional Aketajawe Lolobata untuk mengatasi infeksi luka bakar,” katanya sebagaimana dikutip dari  https://www.forda-mof.org/berita/post/7673-obat-luka-dari-alam-aketajawe-lolobata)

  Dia jelaskan, berdasarkan pengalaman masyarakat di sana, kulit toyom dapat mengobati luka infeksi berat misalnya akibat terkena tembakan, yang telah divonis amputasi oleh dokter.

Cara membuat ramuannya sangat sederhana. Dimulai dari pengambilan kulit batang di alam dengan ukuran selebar tangan orang dewasa sebanyak tiga hingga lima lembar, kemudian dibakar hingga gosong atau menjadi arang. Atau orang local menyebutnya dengan biu.  Setelah itu ditumbuk hingga halus lalu campurkan dengan minyak kelapa (Cocos nucifera). Ramuan dalam bentuk pasta inilah yang dioleskan pada bagian tubuh yang terluka infeksi disertai dengan pijatan ringan.

Dia bilang lagi selain itu kearifan lokal lainnya yang perlu diperhatikan agar ramuan ini terjaga khasiatnya adalah minyak kelapa yang digunakan sebagai campurannya. Minyak kelapa haruslah merupakan hasil olahan dan buatan tangan manusia, bukan minyak pabrikan yang umum diperdagangkan.

Dia bilang  lagi, menurut pengalaman masyarakat, ramuan dioleskan pada luka sebanyak tiga kali dalam sehari selama dua minggu. Dalam kurun waktu tersebut luka berangsur membaik dan penderita pulih serta mulai bisa berjalan kembali setelah sebelumnya kaki yang terluka sulit untuk digerakkan.

Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa S. oblongifolia atau toyom mengandung senyawa steroid, flavonoid, tanin dan saponin. Kombinasi senyawa tersebut memiliki peran penting dalam mengobati luka.

Mengutip Saifudin et al., 2011 menyebut tanin berfungsi menghentikan pendarahan dan menyembuhkan infeksi luka bakar, mampu membuat lapisan pelindung pada luka dan ginjal. Sementara steroid dengan konsentrasi tinggi berpotensi sebagai bahan pengobatan untuk menghilangkan keletihan kronis (Kissinger et al., 2013).

Tanin dan steroid diketahui memiliki persamaan fungsi sebagai penyembuh luka yang mengakibatkan keletihan kronis. Saponin dapat digunakan sebagai antiseptik dan antibiotik alami. Seperti halnya pada tanaman lidah buaya (Aloe vera), kandungan saponin mempunyai kemampuan membunuh kuman, menghilangkan rasa sakit dan berperan sebagai antibiotic (Koswara, 2012).

Karenanya, saponin sangat baik dimanfaatkan sebagai obat luka terbakar. Sebagaimana diketahui luka sangat rentan terjangkit kuman dan mikro organisme melalui udara yang dapat berdampak infeksi. Selain itu, zat ini juga mampu merangsang terbentuknya sel-sel baru pada kulit bekas terbakar.

Sumber: Dikutip langsung dari https://www.forda-mof.org/berita/post/7673-obat-luka-dari-alam-aketajawe-lolobata).

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Perkumpulan Pakatifa Ikut Kampanyekan Perlindungan Satwa Laut

    • calendar_month Sab, 14 Mar 2020
    • account_circle
    • visibility 2.134
    • 0Komentar

    Pagi pukul 04.30 WIT Sahman Hasyim (40) warga Desa Samo Kecamatan Gane Barat Kabupaten Halmahera Selatan Maluku Utara turun ke pantai hendak menyiapkan jaringnya   dipasang di kawasan laut kampung itu. Saat menuju ke perahu yang berisi jaring, di sampingnya  ada seekor penyu jenis lekang sedang bertelur. Karena kebiasaan sebagian warga desa ini mengkonsumsi daging penyu, […]

  • Perkici dada-merah Sangat Terancam

    • calendar_month Kam, 29 Apr 2021
    • account_circle
    • visibility 786
    • 0Komentar

    Nuri Ternate yang dilepasliarkan setelah di tempatkan di kandang transit Ternte

  • Penemuan Lebah pluto di Halmahera Jadi Perbincangan Ilmuan Dunia

    Penemuan Lebah pluto di Halmahera Jadi Perbincangan Ilmuan Dunia

    • calendar_month Jum, 1 Mar 2019
    • account_circle
    • visibility 2.411
    • 0Komentar

    Penemuan kembali lebah raksasa Wallace atau lebah pluto (Megachile pluto Smith 1861) di Maluku Utara menjadi perbincangan hangat di kalangan ilmuwan, terutama bidang zoologi. Rilis resmi yang dikeluarkan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melalui Biro Kerja Sama, Hukum, dan Humas LIPI  (Vhttp://lipi.go.id/siaranpress/penemuan-kembali-lebah-megachile-pluto-di-maluku-utara/21545), menyebutkan,   bahwa  lebah dengan rahang bawah (mandibula) yang sangat besar ini dikoleksi oleh Alfred Russel Wallace pada  1859 dan […]

  • Tradisi Gotong-Royong Tangkap Ikan di Mayau

    • calendar_month Sel, 26 Sep 2023
    • account_circle
    • visibility 947
    • 3Komentar

    Dikelola Bersama  Hasilnya Dibagi Merata Jumat (25/8/2023) pagi sekira pukul 08.00 WIT di kawasan Pantai Kelurahan Bido Pulau Mayau Kecamatan Batang Dua Kota Ternate Maluku Utara, terdengar riuh.   30 an orang nelayan beres-beres jaring/pukat   persiapan menangkap ikan cakalang. Terdengar teriakan-teriakan saling menyahuti meminta agar  percepat serta  rapikan pukat atau jaring yang ada. Kebetulan juga pagi […]

  • Ada 3 Spesies Baru Ditemukan Pada 2023

    • calendar_month Rab, 6 Sep 2023
    • account_circle
    • visibility 894
    • 1Komentar

    Sejak 2021 -2023 Ada 90 Spesies TSL Baru Berdasarkan hasil eksplorasi BRIN dan KLHK, lebih dari 90  jenis spesies baru telah ditemukan dalam kurun waktu tahun 2021-2023. Berbagai spesies baru tumbuhan dan satwa liar (TSL) telah banyak ditemukan, baik di dalam kawasan konservasi maupun di luar kawasan hutan. Rilis yang dikeluarkan oleh Kementeruan Lingkungan Hidup […]

  • Nama Pejabat Ada pada Burung dan Tanaman

    • calendar_month Sel, 22 Agu 2023
    • account_circle
    • visibility 788
    • 1Komentar

    Ada hal yang unik dari perkembangan ilmu pengetahuan bidang lingkungan di Indonesia belakangan ini. Ada temuan spesies baru dari tumbuhan atau tanaman  serta hewan  misalnya, untuk mengingat namanya  kemudian diabadikan nama pejabat atau istri pejabat. Ini berbeda dari sebelum sebelumnya,  Jika kita  perhatikan berbagai penamaan tumbuhan serta hewan yang baru ditemukan dan belum memiliki nama, […]

expand_less