Breaking News
light_mode
Beranda » Kabar Kampung » Toyom, Pohon Penyembuh Luka dari Halmahera

Toyom, Pohon Penyembuh Luka dari Halmahera

  • account_circle
  • calendar_month Sab, 23 Jan 2021
  • visibility 964

“Sterculia oblongifolia atau yang dikenal dengan sebutan toyom  atau sebagian warga Halmahera menyebutnya dengan Tapaya, merupakan tumbuhan yang sangat bermakna bagi masyarakat sekitar Taman Nasional Aketajawe Lolobata, Halmahera Timur, Maluku Utara. Tumbuhan ini berperan penting dalam kehidupan komunitas suku Ohongana Manyawa atau  orang Tobelo Dalam. Warga yang  sebagian masih hidup nomaden di Hutan Halmahera menjadikan pohon ini multi fungsi.Selain untuk kebutuhan hidup juga menjadi herbal yang bermakna penting.

Hasil riset yang dilakukan Lis Nurrani , S.Hut, M.Sc yang juga Peneliti Ilmu Kayu dan Teknologi Hasil Hutan – Balai Litbang LHK Manado menjelaskan, Kayu Toyom dimanfaatkan suku Togutil sebagai bahan baku pembuatan pondok/rumah tradisional. Selain itu juga sebagai kayu bakar untuk memasak dan membuat perapian di dalam hutan.

Ternyata pohon ini tidak hanya menjadi sumber bahan bangunan  dan kayu bakar tetapi   memiliki khasiat tertentu.  Pasalnya dari hasil riset yang dilakukannya menemukan  kulit toyom juga dimanfaatkan masyarakat sekitar hutan lainnya untuk pengobatan.

“Tumbuhan obat ini digunakan masyarakat Desa Akejawi, salah satu desa penyangga Taman Nasional Aketajawe Lolobata untuk mengatasi infeksi luka bakar,” katanya sebagaimana dikutip dari  https://www.forda-mof.org/berita/post/7673-obat-luka-dari-alam-aketajawe-lolobata)

  Dia jelaskan, berdasarkan pengalaman masyarakat di sana, kulit toyom dapat mengobati luka infeksi berat misalnya akibat terkena tembakan, yang telah divonis amputasi oleh dokter.

Cara membuat ramuannya sangat sederhana. Dimulai dari pengambilan kulit batang di alam dengan ukuran selebar tangan orang dewasa sebanyak tiga hingga lima lembar, kemudian dibakar hingga gosong atau menjadi arang. Atau orang local menyebutnya dengan biu.  Setelah itu ditumbuk hingga halus lalu campurkan dengan minyak kelapa (Cocos nucifera). Ramuan dalam bentuk pasta inilah yang dioleskan pada bagian tubuh yang terluka infeksi disertai dengan pijatan ringan.

Dia bilang lagi selain itu kearifan lokal lainnya yang perlu diperhatikan agar ramuan ini terjaga khasiatnya adalah minyak kelapa yang digunakan sebagai campurannya. Minyak kelapa haruslah merupakan hasil olahan dan buatan tangan manusia, bukan minyak pabrikan yang umum diperdagangkan.

Dia bilang  lagi, menurut pengalaman masyarakat, ramuan dioleskan pada luka sebanyak tiga kali dalam sehari selama dua minggu. Dalam kurun waktu tersebut luka berangsur membaik dan penderita pulih serta mulai bisa berjalan kembali setelah sebelumnya kaki yang terluka sulit untuk digerakkan.

Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa S. oblongifolia atau toyom mengandung senyawa steroid, flavonoid, tanin dan saponin. Kombinasi senyawa tersebut memiliki peran penting dalam mengobati luka.

Mengutip Saifudin et al., 2011 menyebut tanin berfungsi menghentikan pendarahan dan menyembuhkan infeksi luka bakar, mampu membuat lapisan pelindung pada luka dan ginjal. Sementara steroid dengan konsentrasi tinggi berpotensi sebagai bahan pengobatan untuk menghilangkan keletihan kronis (Kissinger et al., 2013).

Tanin dan steroid diketahui memiliki persamaan fungsi sebagai penyembuh luka yang mengakibatkan keletihan kronis. Saponin dapat digunakan sebagai antiseptik dan antibiotik alami. Seperti halnya pada tanaman lidah buaya (Aloe vera), kandungan saponin mempunyai kemampuan membunuh kuman, menghilangkan rasa sakit dan berperan sebagai antibiotic (Koswara, 2012).

Karenanya, saponin sangat baik dimanfaatkan sebagai obat luka terbakar. Sebagaimana diketahui luka sangat rentan terjangkit kuman dan mikro organisme melalui udara yang dapat berdampak infeksi. Selain itu, zat ini juga mampu merangsang terbentuknya sel-sel baru pada kulit bekas terbakar.

Sumber: Dikutip langsung dari https://www.forda-mof.org/berita/post/7673-obat-luka-dari-alam-aketajawe-lolobata).

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Arah  Baru  Tata Kelola  Kota  Tidore  Kepulauan 

    • calendar_month Ming, 12 Jun 2022
    • account_circle
    • visibility 653
    • 0Komentar

    Bawah Laut Tidore Kekayaan yang dieksplore untuk pembangunan daerah, foto Abdul Khalis Tidore

  • Tradisi Padi Ladang yang Hilang di Halmahera (3) Habis

    Tradisi Padi Ladang yang Hilang di Halmahera (3) Habis

    • calendar_month Rab, 20 Mei 2026
    • account_circle Redaksi
    • visibility 237
    • 0Komentar

    Bisakah Kedaulatan Pangan Desa Dihidupkan Kembali? Kedaulatan pangan  desa  harus dihidupkan lagi. Tentu dengan berbagai upaya harus dilakukan. Untuk  tradisi menanam padi, Arsyad Hasyim salah satu penyuluh pertanian yang bertugas di Desa Samo memulainya dengan membentuk beberapa kelompok  tani  padi ladang termasuk tanaman perkebunan.  Kelompok itu  difokuskan menanam padi untuk memunuhi kebutuhan  mereka. “Dua kelompok […]

  • Kampung di Tengah Kaldera, Talaga di Tidore dan Aogashima di Jepang  

    • calendar_month Kam, 14 Nov 2024
    • account_circle
    • visibility 1.168
    • 0Komentar

    Mengagumkan jika terdapat kampung atau pemukiman di tengah kaldera gunung berapi.  Baik  yang masih aktif maupun  yang sudah tidak lagi.  Benar saja ternyata kampung di tegah kaldera itu ada. Di Pulau Tidore Maluku Utara ada kampung bernama Talaga,  berada di tengah kaldera gunung api yang tidak aktif lagi. Sementara  di Negeri Sakura Jepang, terdapat  di tengah […]

  • Tambang di Pulau Kecil, Langgar Undang-undang Tapi Aman Saja

    • calendar_month Sab, 7 Jun 2025
    • account_circle
    • visibility 2.396
    • 0Komentar

    Jumlah  pulau di Maluku Utara (Malut) berdasarkan data Pemerintah Provinsi Maluku Utara  ada 805 pulau. Dari jumlah itu, hanya  Halmahera, Obi, Taliabu dan Morotai masuk kategori pulau sedang. Selebihnya pulau kecil yang luasnya tidak lebih dari 2000 hektar. Pulau sebanyak itu, 82 diantaranya berpenghuni dan sebagian besar tidak berpenghuni. Terutama pulau kecil dan sangat kecil. […]

  • Tiga Isu Fokus ICMI untuk Masa Depan Malut

    • calendar_month Sel, 24 Okt 2023
    • account_circle
    • visibility 690
    • 0Komentar

    Ada banyak persoalan di bidang lingkungan yang menghantui dunia saat ini. Beberapa di antaranya  adalah dampak perubahan iklim (climate change) dan problem pangan. Sementara kepedulian public terhadap dua persoalan ini masih masih terbilang minim. Karena itulah  Organisasi Wilayah (ORWIL) Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Maluku Utara menjadikan dua isyu ini    didorong  ke tengah masyarakat dan […]

  • Sebuah Catatan Tentang  Laut Maluku Utara

    • calendar_month Kam, 13 Jul 2023
    • account_circle
    • visibility 1.214
    • 1Komentar

    Dari Tambang, Sampah  hingga Matinya Mamalia Laut Studi dari Survei Geologi Amerika Serikat (USGS), menyebutkan bahwa sekitar 72 persen bagian dari bumi tertutup air. 97 persen air yang ada  adalah  lautan.    Indonesia yang merupakan negara kepulauan terbesar di dunia, terbentang dari Sabang sampai Merauke,   dengan 17.499 pulau besar dan kecil  memiliki  luas wilayah  sekitar […]

expand_less