Breaking News
light_mode
Beranda » Kabar Kampung » Kisah “Kampung Tua” Tifure di Pulau Batang Dua

Kisah “Kampung Tua” Tifure di Pulau Batang Dua

  • account_circle
  • calendar_month Kam, 17 Jun 2021
  • visibility 1.003

Dari Rentan Bencana Geologi  hingga Minim  Infrastruktur

Setiap kampung  punya kisah masa lalu.  Dari orang pertama  membangunnya menjadi kampung yang maju dan berkembang seperti sekarang, kisah pilu,  bahkan heroic mewarnai setiap tuturan para tetua.  Ada  bencana dan kejadian alam, peperangan hingga penaklukan mewarnai perjalanan kampung dalam membangun peradaban.

Seperti halnya Tifura Kecamatan Pulau Batang Dua Kota Ternate. Kampung Pulau di bagian barat Ternate itu posisinya  strategis sebagai pulau terluar berbatasan langsung dengan  Sulawesi Utara  dan memiliki banyak kekayaan alam laut dan darat. Meski kaya  masih “ditinggalkan” dari sisi infrastruktur. Dalam keterbatasan  hidup itu warganya mesti bertarung di bawah ancaman bencana geology dan perubahan iklim yang cukup serius. 

Untuk mengetahui kisah kampung di pulau kecil ini serta apa yang dilakukan warga agar ada reseliensi atau daya lenting terhadap bencana,  Asgar Saleh  aktivis kemanusiaan  yang juga Direktur  LSM Rorano Maluku Utara, mengisahkannya dalam sebuah essay pendek    Tifure  “Kampung Tua”   

Berikut ulasannya.

Tentang Kampung Tua..

Bahagia saya bisa mendatangi dan berbincang dengan beberapa warga di Kampung Tua, sebuah penamaan dari masa lalu yang menunjukan di mana peradaban orang-orang Tifure bermula. Ketika orang Wayoli pertama menjejak kaki, mereka memilih pantai ini sebagai pemukiman. “Dulu orang bisa berjalan kaki menyeberangi hamparan pasir dan karang ke pulau Gurida saat air surut. Itulah mengapa banyak kebun-kebun milik warga yang berada di pulau Gurida,” kisah para tetua kampung Tifure .

Suhu bumi yang makin panas dan reklamasi di mana-mana membuat warga kini tak bisa ke seberang selain berperahu karena permukaan air telah meninggi.

Cerita turun temurun yang berkembang, pada masa lalu ada gempa besar disertai tsunami. Warga kemudian memilih naik ke gunung dan bertahan di sana. Kampung Tua tersapu tsunami. Peradaban gunung ternyata tak lama. Ada wabah yang menyerang sehingga memaksa mereka mencari pemukiman baru dan turun dari gunung. Lokasi baru itulah yang kini berkembang  menjadi Kelurahan Tifure dan Pante Sagu. Jejak gempa dan tsunami masa lalu seperti “membenarkan” apa yang saya lakukan selama tiga hari di Tifure. Bersama Angkatan Muda Gereja Protestan Maluku ranting Makedonia dan Filadelpia, sebuah komunitas anak muda Gereja di Tifure dan Pante Sagu, kami melakukan pelatihan merespons potensi ancaman bencana di pulau ini.

Aktifitas warga Tifure: Selain menjadi nelayan mereka juga punya kebun untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. foto koleksi pribadi Asgar Saleh

Tifure ada di zona pertemuan lempeng Pasifik dan Euroasia. Pulau ini dan pulau Gurida juga dikepung banyak subduksi dari lempeng Filipina, Sangihe dan Halmahera. Karena itu, di hari pertama pelatihan, saya berbagi pengetahuan dasar kebencanaan, Apa itu gempa bumi dan tsunami dan bagaimana menghadapinya, menyampaikan pentingnya aspek Pengurangan Resiko Bencana (PRB), pentingnya assesment, kajian resiko bencana lokal, membentuk tim relawan, menentukan jalur evakuasi dan titik kumpul serta membangun komitmen untuk bekerja sebagai relawan kemanusiaan.

Sungguh bahagia ada 35 teman Angkatan Muda GPM yang bergabung, serius menerima dan mendiskusikan materi, serta berkomitmen memberikan pelayanan sebagai relawan yang akan membantu masyarakat. Sebuah kesadaran bersama yang menurut saya akan jadi modal sosial Tifure ke depan. Para relawan ini juga akan jadi ujung tombak bagi inisiasi pelatihan lainnya di masa depan.

Sebuah catatan inspiratif bagi saya karena di tengah berbagai keterbatasan semisal listrik yang hanya “hidup” di malam hari, tak ada jaringan telepon, tak ada puskesmas, tak ada fasilitas air bersih, tak ada sarana transportasi cepat dan banyak lagi, anak-anak muda ini tak peduli dan mau belajar untuk menjadi yang terbaik bagi tanah kelahiran mereka.

Salam Kemanusiaan

Catatan: Publikasi catatan ini seizin penulisnya.  

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Dugaan Korupsi Gubernur Malut, KPK Harus Sasar Praktik Korupsi Sektor Tambang  

    • calendar_month Sen, 25 Des 2023
    • account_circle
    • visibility 654
    • 3Komentar

    Thabrani: Petinggi Harita Tersangka jadi Jalan Masuk Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah menetapkan Gubernur Maluku Utara, Abdul Gani Kasuba (AGK), sebagai tersangka korupsi lelang jabatan dan pengadaan barang dan jasa. KPK telah menetapkan 7 orang tersangka yang terjaring Operasi Tangkap Tangan (OTT) pada Senin, 18 Desember 2023 lalu. Selain Gubernur  Malut, ada  6 tersangka lainnya, […]

  • Akademisi: Ancaman Ekosistem Halmahera Serius

    • calendar_month Sel, 9 Feb 2021
    • account_circle
    • visibility 751
    • 0Komentar

    Maluku Utara sebagai daerah kaya bahan mineral,   menjadi incaran investor asing. Baru baru ini pemerintah Provinsi Maluku Utara melalui Sekretaris Daerah Provinsi (Sekprov) Samsudin Abd Kadir menyampaikan bahwa investasi asing masuk ke Maluku Utara yang mengelola tambang, sudah menginvestasikan modalnya di atas 100 triliun. Angka ini dianggap sebagai sebuah keberhasilan menggenjot perekonomian Maluku Utara. Termasuk […]

  • “Oji” Si Yakis Bacan akan Dikembalikan ke Alam Liar

    • calendar_month Rab, 10 Mar 2021
    • account_circle
    • visibility 890
    • 0Komentar

    Seekor monyet atau “yakis Bacan” berjenis kelamin laki-laki yang dipelihara oleh salah satu warga Guraping Kecamatan Oba Kota Tidore Kepulauan, akhirnya diamankan pihak petugas Taman Nasional Ake Tajawe Lolobata. Yakis Bacan ini   selanjutnya diserahkan ke Balai Konservasi Sumber daya Alam (BKSDA) untuk dirawat sebelum dilepas ke alam liar. Pengambilan  satwa dilindungi ini dilakukan petugas dari […]

  • Ekonomi dan SDA Morotai Berbasis Lingkungan akan Dibedah Bersama

    Ekonomi dan SDA Morotai Berbasis Lingkungan akan Dibedah Bersama

    • calendar_month Ming, 15 Jul 2018
    • account_circle
    • visibility 500
    • 0Komentar

    Untuk menggagas model pembangunan ekonomi dan pengelolaan sumberdaya alam secara partisipatif  dan berbasis lingkungan, diperlukan semua pihak duduk bersama..  Dalam  upaya itu,  direncanakan  akan  digelar kegiatan  bertajuk Sarasehan dan Rembuk Rakyat Morotai yang rencana  dilaksanakan 18 hingga  9 Agustus 2018  mendatang di public space Taman Kota Daruba Morotai. Kegiatan yang  rencana dilaksanakan selama 2 hari […]

  • Mangrove Mangga Dua Ternate Nasibmu Kini

    • calendar_month Sen, 15 Nov 2021
    • account_circle
    • visibility 655
    • 0Komentar

    Kondisi terakhir mangrove di Mangga Dua yang digusur dan direklamasi untuk kepentingan bisnis

  • Pulau-pulau Rentan Akibat Industri Ekstraktif

    • calendar_month Sen, 20 Jun 2022
    • account_circle
    • visibility 556
    • 1Komentar

    Tongkang-mengangkut-ore-dari-otoperusahaan- di Pulau Gebe Foto M Ichi

expand_less