Breaking News
light_mode
Beranda » Kabar Kampung » Kisah “Kampung Tua” Tifure di Pulau Batang Dua

Kisah “Kampung Tua” Tifure di Pulau Batang Dua

  • account_circle
  • calendar_month Kam, 17 Jun 2021
  • visibility 1.325

Dari Rentan Bencana Geologi  hingga Minim  Infrastruktur

Setiap kampung  punya kisah masa lalu.  Dari orang pertama  membangunnya menjadi kampung yang maju dan berkembang seperti sekarang, kisah pilu,  bahkan heroic mewarnai setiap tuturan para tetua.  Ada  bencana dan kejadian alam, peperangan hingga penaklukan mewarnai perjalanan kampung dalam membangun peradaban.

Seperti halnya Tifura Kecamatan Pulau Batang Dua Kota Ternate. Kampung Pulau di bagian barat Ternate itu posisinya  strategis sebagai pulau terluar berbatasan langsung dengan  Sulawesi Utara  dan memiliki banyak kekayaan alam laut dan darat. Meski kaya  masih “ditinggalkan” dari sisi infrastruktur. Dalam keterbatasan  hidup itu warganya mesti bertarung di bawah ancaman bencana geology dan perubahan iklim yang cukup serius. 

Untuk mengetahui kisah kampung di pulau kecil ini serta apa yang dilakukan warga agar ada reseliensi atau daya lenting terhadap bencana,  Asgar Saleh  aktivis kemanusiaan  yang juga Direktur  LSM Rorano Maluku Utara, mengisahkannya dalam sebuah essay pendek    Tifure  “Kampung Tua”   

Berikut ulasannya.

Tentang Kampung Tua..

Bahagia saya bisa mendatangi dan berbincang dengan beberapa warga di Kampung Tua, sebuah penamaan dari masa lalu yang menunjukan di mana peradaban orang-orang Tifure bermula. Ketika orang Wayoli pertama menjejak kaki, mereka memilih pantai ini sebagai pemukiman. “Dulu orang bisa berjalan kaki menyeberangi hamparan pasir dan karang ke pulau Gurida saat air surut. Itulah mengapa banyak kebun-kebun milik warga yang berada di pulau Gurida,” kisah para tetua kampung Tifure .

Suhu bumi yang makin panas dan reklamasi di mana-mana membuat warga kini tak bisa ke seberang selain berperahu karena permukaan air telah meninggi.

Cerita turun temurun yang berkembang, pada masa lalu ada gempa besar disertai tsunami. Warga kemudian memilih naik ke gunung dan bertahan di sana. Kampung Tua tersapu tsunami. Peradaban gunung ternyata tak lama. Ada wabah yang menyerang sehingga memaksa mereka mencari pemukiman baru dan turun dari gunung. Lokasi baru itulah yang kini berkembang  menjadi Kelurahan Tifure dan Pante Sagu. Jejak gempa dan tsunami masa lalu seperti “membenarkan” apa yang saya lakukan selama tiga hari di Tifure. Bersama Angkatan Muda Gereja Protestan Maluku ranting Makedonia dan Filadelpia, sebuah komunitas anak muda Gereja di Tifure dan Pante Sagu, kami melakukan pelatihan merespons potensi ancaman bencana di pulau ini.

Aktifitas warga Tifure: Selain menjadi nelayan mereka juga punya kebun untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. foto koleksi pribadi Asgar Saleh

Tifure ada di zona pertemuan lempeng Pasifik dan Euroasia. Pulau ini dan pulau Gurida juga dikepung banyak subduksi dari lempeng Filipina, Sangihe dan Halmahera. Karena itu, di hari pertama pelatihan, saya berbagi pengetahuan dasar kebencanaan, Apa itu gempa bumi dan tsunami dan bagaimana menghadapinya, menyampaikan pentingnya aspek Pengurangan Resiko Bencana (PRB), pentingnya assesment, kajian resiko bencana lokal, membentuk tim relawan, menentukan jalur evakuasi dan titik kumpul serta membangun komitmen untuk bekerja sebagai relawan kemanusiaan.

Sungguh bahagia ada 35 teman Angkatan Muda GPM yang bergabung, serius menerima dan mendiskusikan materi, serta berkomitmen memberikan pelayanan sebagai relawan yang akan membantu masyarakat. Sebuah kesadaran bersama yang menurut saya akan jadi modal sosial Tifure ke depan. Para relawan ini juga akan jadi ujung tombak bagi inisiasi pelatihan lainnya di masa depan.

Sebuah catatan inspiratif bagi saya karena di tengah berbagai keterbatasan semisal listrik yang hanya “hidup” di malam hari, tak ada jaringan telepon, tak ada puskesmas, tak ada fasilitas air bersih, tak ada sarana transportasi cepat dan banyak lagi, anak-anak muda ini tak peduli dan mau belajar untuk menjadi yang terbaik bagi tanah kelahiran mereka.

Salam Kemanusiaan

Catatan: Publikasi catatan ini seizin penulisnya.  

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • KKP Janji 20 M ke 10 Kampung di Tiga WPP

    • calendar_month Kam, 23 Mar 2023
    • account_circle
    • visibility 685
    • 0Komentar

    Foto Pengukuran ikan tuna dalam program fair trade foto MDPI

  • Negara Tetapkan Bidadari Halmahera sebagai SDG Penting

    Negara Tetapkan Bidadari Halmahera sebagai SDG Penting

    • calendar_month Rab, 15 Jul 2026
    • account_circle Redaksi
    • visibility 300
    • 0Komentar

    Semioptera wallacii atau Burung Bidadari Halmahera adalah salah satu spesies burung endemik Pulau Halmahera, Maluku Utara. Burung yang  sudah menjadi ikon itu, kini telah tercatat secara resmi sebagai Sumber Daya Genetik (SDG).Dengan begitu  burung ini memperoleh pelindungan dari negara melalui Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) Kementerian Hukum. Burung yang dikenal karena keindahan dengan mahkota berwarna […]

  • Ini Dampaknya Bagi Malut, Jika Judicial Review UU Pesisir dan Pulau-pulau Kecil Diakomodir   

    • calendar_month Sab, 20 Jan 2024
    • account_circle
    • visibility 796
    • 0Komentar

    Jumlah pulau di Maluku Utara sesuai data terbaru dari pemerintah provinsi Maluku Utara berjumlah 1008 pulau. Termasuk  Halmahera, Morotai, Obi dan Taliabu yang tidak tergolong pulau kecil. Selebihnya masuk kriteria pulau kecil yang terbilang rentan. Saat ini saja, dari pulau yang ada sebagian sudah ditambang bahkan ada yang telah dikeluarkan izin untuk ditambang. Sebut saja […]

  • KTH Woda Oba Tidore Kepulauan Kirim Damar ke Surabaya

    • calendar_month Sab, 22 Jul 2023
    • account_circle
    • visibility 984
    • 1Komentar

    Diambil dari Hutan Desa Program Perhutanan Sosial Hasil hutan yang dikelola masyarakat   dalam program Perhutanan Social (PS) tidak hanya hasil hutan kayu.  Hasil non kayu serta jasa lingkungan juga bisa dikelola dan menjadi sumber pendapatan penting. Hal ini juga yang dilakukan Kelompok Tani Hutan (KTH)   Desa Woda Kecamatan Oba Tidore Kepulauan saat ini. KTH  Woda saat […]

  • Pulau Mitita Surganya Hiu Sirip Hitam

    • calendar_month Sen, 1 Nov 2021
    • account_circle
    • visibility 1.011
    • 1Komentar

    Kabupaten Pulau Morotai memiliki 33 pulau kecil yang mengelilinginya. Pulau yang tidak berpenghuni berjumlah 26  dan yang berpenghuni   7 pulau. Pulau  yang berpenghuni adalah pulau Morotai (main island), pulau Kolorai, pulau Ngele-ngele kecil, pulau Ngele-ngele besar pulau Golo-golo, pulau Rao, dan pulau Saminyamau. Tahun 2014, Presiden Jokowi menetapkan Pulau Morotai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata […]

  • Di Hari Bhakti Rimbawan, Diingatkan Jaga Hutan dan Perubahan Iklim

    • calendar_month Kam, 17 Mar 2022
    • account_circle
    • visibility 707
    • 0Komentar

    Kepala Dinas Kehutanan M Syukur Lila saat melakukan penanman pohon di pantai Doe doe Guraping sebagai bagian dari rangkaian Hari Bhakti Rimbawan ke 39 16 Maret 2022

expand_less