Breaking News
light_mode
Beranda » Kabar Malut » Ada Apa, Kecelakaan Nelayan Selalu Berulang?  

Ada Apa, Kecelakaan Nelayan Selalu Berulang?  

  • account_circle
  • calendar_month Ming, 4 Jun 2023
  • visibility 785

Sebulan Tiga Orang  Jatuh dan Tewas  di Laut

Tingkat kecelakaan nelayan makin mengkhawatirkan. Para nelayan  dengan perahu  kecil saat mencari ikan berulangkali  alami kecelakaan.  Terbaru  nelayan  Morotai yang keluar melaut selama tiga hari belum kunjung pulang. Laporan  yang diterima pihak Basarnas  nelayan bernama Kasmin Bangunan (45) asal Desa Tanjung Saleh Kabupaten  Pulau Morotai, Maluku Utara itu belum kembali saat keluar melaut sejak Jumat (02/06/23).

Kronologis kejadiannya pada Jum’at  02 Juni 2023 pukul 15.00 WIT, korban melaut menggunakan perahu sampan namun sampai hari ini korban belum kembali. Warga dan keluarga  telah berupaya melakukan pencarian di sekitar pulau Tabailenge Morotai Utara, namun belum menemukan korban.

Tim Rescue Unit Siaga SAR Morotai juga bergerak menuju lokasi kejadian  menggunakan Rescue Car dan membawa Rubber Boat untuk  operasi SAR. Sayang hingga berita ini ditulis korban belum juga ditemukan.

 Sebelumnya pada pekan lalu, seorang nelayan dari Halmahera Utara hilang selama 6 hari  akhirnya ditemukan dalam kondisi meninggal.  

Korban benama Yolap Togolo pada 28 Mei 2023 lalu  melaut dengan jarak kurang lebih 1 kilometer dari pantai  desa Igo Loloda  menggunakan perahu sampan. Namun korban diperkirakan jatuh saat melaut dan ditemukan meninggal setelah 6 hari kemudian oleh aparat gabungan bersama tim SAR di  kawasan laut Wayabula dan Saminyamau Morotai.   

Pada 4 Mei 2023 lalu, juga seorang  nelayan asal desa Yao Morotai  alami kecelakaan laut. Korban diperkirakan jatuh  saat  melaut  kemudian ditemukan meninggal dunia.  

Tiap Saat  Lakalaut  Dialami Nelayan Kecil di Malut  

Rangkaian  peristiwa ini adalah kasus berulang dari banyaknya  nelayan kecil mengalami kecelakaan saat melaut.  Apalagi di kala cuaca buruk,  nelayan dihadapkan pada ancaman kecelakaan yang ikut merenggut nyawa.

Kasus  ini bisa saja terjadi karena selain armada tangkap kecil juga  kurang alat keselamatan maupun komunikasi.   Ada kasus yang pernah dialami nelayan  Morotai, mereka hilang  berhari  hari  dan  terakhir ditemukan di   Filipina. 

Dua nelayan  asal Kabupaten Pulau Morotai, Maluku Utara, dilaporkan hilang saat melaut sejak  21 Juli  dengan  perahu fiber dua mesin jhonson. Setelah dilakukan pencarian tidak ditemukan. Keduanya  ditemukan   setelah  7 Agustus 2022. Korban kaka  beradik atas nama Abdul Mandea (47 tahun)  dan Buhari Mandea  (31 tahun) itu, ditemukan kapal ikan  dari General Santos City Filipina  dan diselamatkan ABK kapal ikan tersebut ke Filipina.   Informasi temuan ini melalui Penghubung General Santos City 2 kepada Konjen RI di Filipina. Kabar ini lalu diteruskan ke pihak keluarga korban di Morotai Utara.    Pada Rabu (30/12/2022) nelayan asal Kabupaten Halmahera Selatan bernama Samad Sidiq  (60 tahun)  jatuh  dan  ditemukan dalam keadaan meninggal dunia.  Korban  hilang di perairan Desa Obit Bacan ditemukan di perairan Desa Belang-belang Bacan sehari setelah kejadian tersebut. Korban pertama kali dilaporkan hilang saat pergi melaut Selasa (29/12/2022).

Data Kantor Jasa Raharja Ternate memperlihatkan korban lakalaut sepanjang 2021 dan 2022 terbilang  tinggi.  Tahun 2022 meningkat dibanding 2021. tercatat, sepanjang Januari hingga September 2021 ada 138 korban kecelakaan laut. Sementara di periode sama 2022  ada 164 korban kecelakaan laut. Banyaknya korban kecelakaan  laut itu  sebagian  adalah  nelayan kecil  saat menangkap ikan.

Nelayan  tiap hari melakukan aktivitas menangkap ikan di laut. Meski begitu, tidak semua  memahami  standar  dasar  keselamatan ketika di laut.

Hal ini terungkap saat para nelayan  ikan tuna di Kelurahan Kampung Makassar Timur Kota Ternate, diberi pemahaman tentang standar  keselamatan di laut oleh Kantor Pencarian dan Pertolongan (SAR) Ternate belum lama ini di Ternate. Kegiatan yang difasilitasi  lembaga Masyarakat dan Perikanan Indonesia (MDPI) itu  membuat   mereka paham betapa pentingnya mengutamakan  keselamatan di laut.

MDPI yang selama ini melakukan pendampingan terhadap nelayan kecil desa di Maluku Utara merasa penting memberikan pemahaman ini terutama nelayan yang tergabung dalam program nelayan fair trade  dan non fair trade  dalam pelatihan Keselamatan di Laut  Nelayan Tuna Fair Trade Ternate  di aula Kantor Lurah Makassar Timur itu. Para nelayan ini tidak hanya diberikan teori tetapi juga  praktek.

Field Implementer MDPI Hidayat D Muhammad menjelaskan, dalam program nelayan fair trade yang dijalankan MDPI, salah satu standar persyaratannya itu  mengikuti dan memahami pelatihan keselamatan untuk nelayan kecil. Melalui pelatihan ini   diharapkan mendapatkan ilmu mengenai tekhnik bertahan hidup di laut saat menghadapi keadaan darurat, mendapatkan pelatihan dasar P3K serta memahami teknik navigasi. “Ini syarat  bagi nelayan fair trade  karena sangat bermanfaat ketika mereka beraktivitas melaut,” jelas Hidayat. Program MDPI,  pelatihan SAR adalah persyaratan  latihan keselamatan.     

Para nelayan mendapatkan  materi  belajar  dasar dasar navigasi laut,  survival at sea  atau bertahan hidup di laut, basic first aid atau pertolongan pertama, water rescue  pertolongan atau penyelamatan di air  dan   masalah  dehidrasi.

Selain  penyelamatan diri  dan cara bertahan di laut,  para peserta dilatih teknik penyelamatan  diri tanpa life jacket  dan menggunakan life jacket. Termasuk cara mengambang atau survival self rescue menggunakan pakaian. Caranya dengan menjebak udara di bahu untuk membantu mengambang.

Yang  menarik juga  adalah materi mengenai  survival di laut. Dalam materi ini para nelayan diberikan pengetahuan dasar mengenai teknik mempertahankan diri dari keadaan darurat di laut. Ketika seseorang  sudah survival di laut 50 persen total keselamatan sudah ada. Dalam hal ini kasus utamaya  seperti  dehidrasi, udara dingin, minum air laut dan bahaya terbesarnya adalah ketakutan dan panik. Ada juga beberapa bahaya dihadapi korban karena kondisi dingin. Misalnya hypothermia atau kehilangan panas tubuh akibat udara dingin, frostbite  yang disebabkan oleh angin dingin  yang membekukan tubuh  dan kaki yang kaku karena tidak digerakan dalam waktu yang lama di dalam air yang dingin.

Iskanda  Dano Dasim salah satu nelayan dari Kelurahan Kampung Makassar Timur mempertanyakan tata cara   menyelamatkan  teman  atau korban panik  apa yang harus dilakukan. Usai  menerima materi dalam ruangan, para peserta dibekai  materi di dalam ruangan bersama pelampung yang dimiliki melakukan praktek di laut pantai Kelurahan Makassar Timur. 

YPPTI Hibahkan Radio untuk Nelayan Kecil     

Hampir semua nelayan kecil yang di Maluku Utara ternyata saat melaut juga tidak memiliki kelengkapan alat control  berada di laut. Misalnya  radio control untuk dapat memantau posisi maupun kondisi mereka saat melaut.   

Apa yang digagas oleh Yayasan Penelitian dan Pengembangan Telematika Indonesia (YPPTI)  bekerjasama dengan MDPI  dengan menyediakan radio control bagi nelayan adalah sesuatu yang sangat menyenangkan bagi para nelayan. Saat ini YPPTI  sedang mengembangkan radio  untuk membantu para nelayan kecil di Ternate Maluku Utara. Di Maluku Utara YPPTI  dan MDPI berhasil melakukan uji coba  keperluan nelayan kecil atau dibawah 5 GT. 

Dua daerah yang jadi lokasi    ujicoba radio untuk nelayan kecil adalah, nelayan tuna Kelurahan Jambula Kota Ternate   Maluku  Utara hasil Kerjasama YPPTI dan MDPI dan  kerjasama Pemkab Pesawaran Provinsi Lampung dengan YPPTI. dimulai sejak Agustus – Desember 2022.

Perangkat radio yang diberi nama Radio Nelayan Nusantara atau RANN ini tidak hanya untuk komunikasi suara, namun juga dapat mengirimkan lokasi terupdate nelayan, sinyal tanda bahaya (SOS), dan menariknya nelayan juga bisa menerima pesan dari back station atau petugas di darat. 

“Begitu nelayan menekan fitur yang terdapat pada perangkat ini langsung dikirimkan ke back station, sehingga mereka yang di darat bisa tau kalau nelayan lagi minta pertolongan,”  jelas Muhammad Riski  Staf Teknik YPPTI  dalam kegiatan Pertemuan Reguler Komite Pengelola Bersama Perikanan (KPBP) Tuna Maluku Utara, di Emerald Hotel, Ternate, Kamis (11/5/2023). 

Setelah   uji coba pada  2022, YPPTI lalu mengembangkan perangkat dalam jumlah terbatas dan dihibahkan ke MDPI sebanyak 20 unit untuk diserahkan ke Koperasi Nelayan Bubula Ma Cahaya Jambula Ternate. 

Bantuan  ini diserahkan langsung pembina YPPTI, Ingrid R. Pandjaitan kepada Program Associate Specialist, Yayasan Masyarakat dan Perikanan Indonesia (MDPI), dan disaksikan Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Malut, Abdullah Assagaf. 

Riski mengungkapkan, salah satu alasan pihaknya mengembangkan perangkat itu lantaran sulit ditemukan lokasi nelayan jika menghadapi cuaca ekstrem di laut.  “Dengan adanya radio ini kan kita bisa tau posisi terakhir mereka (nelayan) ada dimana saat terjadi sesuatu,”jelasnya 

Sebagai informasi, perangkat ini termasuk jenis Very High  Frekuensi (VHF) dengan jarak maksimal 40 Km dari titik antena. Di samping punya kelebihan, RANN juga memiliki kekurangan seperti ukuran yang dinilai masih tergolong besar. Karena itu, YPPTI berkomitmen terus melakukan pembaharuan.    Dalam pertemuan itu beberapa pihak menyarankan agar didisain lebih kecil sehingga lebih mudah memudahkan nelayan saat membawanya melaut.  “Terkait masukan dari berbagai pihak dalam pertemuan ini terutama   ukurannya pasti kita review lagi,” katanya.

Muhammad Rizky mengaku alat ini dibuat sebagai bagian dari upaya membantu nelayan kecil terutama  keselamatan para nelayan ketika berada di laut. 

“Misi kita membantu nelayan kecil dalam hal keselematan mereka. Alat ini setidaknya memudahkan  komunikasi ke daratan jika  sewaktu waktu ada bahaya baik karena cuaca maupun   lainnya,” ujarnya.

Beberapa nelayan tuna yang hadir dalam pertemuan tersebut memberi apreseasi karena alat ini bisa membantu mereka. Berharap hand phone  mengabarkan kondisi mereka di lautan sangatlah terbatas.

“Alat ini akan sangat membantu. Banyak kasus terjadi  untuk  nelayan Tuna Morotai.  Bahkan  ada yang hilang sampai ke negara lain, karena tidak ada alat komunikasi,” jelas M Sabil  nelayan Morotai dalam pertemuan  itu. (*) 

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Perkumpulan Pakatifa Ikut Kampanyekan Perlindungan Satwa Laut

    • calendar_month Sab, 14 Mar 2020
    • account_circle
    • visibility 1.651
    • 0Komentar

    Pagi pukul 04.30 WIT Sahman Hasyim (40) warga Desa Samo Kecamatan Gane Barat Kabupaten Halmahera Selatan Maluku Utara turun ke pantai hendak menyiapkan jaringnya   dipasang di kawasan laut kampung itu. Saat menuju ke perahu yang berisi jaring, di sampingnya  ada seekor penyu jenis lekang sedang bertelur. Karena kebiasaan sebagian warga desa ini mengkonsumsi daging penyu, […]

  • Ekspedisi Maluku dan Festival Kampung Pulau

    • calendar_month Sab, 24 Okt 2020
    • account_circle
    • visibility 629
    • 0Komentar

    Kapal Kurabesi Explorer

  • WALHI Gelar Camping Kaum Muda Kepulauan

    • calendar_month Rab, 8 Nov 2023
    • account_circle
    • visibility 557
    • 0Komentar

    Bangun Kesadaran Sejak Dini untuk Lingkungan Pada Jumat hingga Minggu (03-05/11/ 2023) lalu Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Maluku Utara,  menggelar Camping Kaum Muda Kepulauan. Kegiatan tersebut dipusatkan di kawasan wisata Pantai Kastela Kecamatan Pulau Ternate Maluku Utara.  Kegatan  itu mengusung tema “Selamatkan Ruang Hidup Rakyat Maluku Utara Dari Solusi Palsu Transisi Energi”  Kegiatan outdor […]

  • Pulau- pulau Kecil di Malut yang Butuh Perhatian ( Bagian 1)

    • calendar_month Sab, 30 Nov 2019
    • account_circle
    • visibility 2.205
    • 0Komentar

    Maluku Utara sebagai provinsi Kepulauan memiliki luas wilayah secara keseluruhan mencapai 145.801,1 kilometer meliputi daratan 45.069,66 Km2 (23,72 persen) dan wilayah perairan seluas 100.731,44 Km2 (76,28 persen). Maluku Utara juga memiliki  panjang garis pantai 3.104 Km. Data  hasil identfikasi jumlah pulau di Maluku Utara terdiri dari 1.474 pulau, dengan jumlah pulau yang dihuni sebanyak 89  atau 1.385 […]

  • Kelola Hutan Bersama Masyarakat Bermanfaat Bagi Kelestarian

    • calendar_month Rab, 4 Jul 2018
    • account_circle
    • visibility 627
    • 0Komentar

    Sumber daya hutan telah terbukti memberikan kehidupan dan sumber penghidupan bagi semua. Selain manfaat jangka pendek berupa kayu, hutan juga memberikan manfaat jangka panjang yang sangat beragam, seperti sumber tanaman obat-obatan, jasa lingkungan air, iklim mikro, mikroba, jamur, penjaga keseimbangan air permukaan-air tanah, menjaga kesuburan lahan, pencegahan banjir, tanah longsor, habitat satwa liar, yang mewakili […]

  • Masyarakat Adat Terancam  Program Biofuel

    Masyarakat Adat Terancam  Program Biofuel

    • calendar_month Sen, 17 Nov 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 686
    • 0Komentar

    Ikrar Belém 4x akan Sia-Sia bila Hutan dan Masyarakat Adat terus Dieksploitasi Bersama lebih dari 1.900 organisasi masyarakat sipil yang tergabung dalam Climate Action Network (CAN), Greenpeace menolak “Belém 4x Pledge,” inisiatif guna melipatgandakan produksi bahan bakar berkelanjutan (biofuel) hingga empat kali lipat dalam satu dekade mendatang. Kepala Kampanye Solusi untuk Hutan Global Greenpeace, Syahrul […]

expand_less