Breaking News
light_mode
Beranda » Kabar Kota Pulau » Ternate, Tidore  dalam Muhibah Budaya Jalur Rempah  

Ternate, Tidore  dalam Muhibah Budaya Jalur Rempah  

  • account_circle
  • calendar_month Rab, 15 Jun 2022
  • visibility 965

Rombongan Muhibah Budaya Jalur Rempah 2022 diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) bekerja sama dengan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL), dan pemerintah daerah serta berbagai komunitas budaya. Menggunakan  kapal KRI Dewa Ruci rombongan  tiba di Ternate pada Selasa (14/6/2022) pagi.  

Muhibah ini  sebagai upaya diplomasi budaya dan menguatkan posisi Indonesia sebagai poros maritim dunia serta keinginan untuk melihat narasi sejarah peradaban rempah dari geladak kapal Indonesia sendiri.

Rilis   Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat Sekretariat Jenderal Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi  yang diterima media menjelaskan bahwa,  saat ini pemerintah sedang berupaya mengajukan Jalur Rempah sebagai Warisan Budaya Dunia yang diakui oleh United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) di 2024 mendatang.  

“Jalur rempah ini bukan hanya kenangan terhadap masa lalu tetapi juga memiliki arti penting di masa sekarang. Dan Muhibah Budaya Jalur Rempah adalah wujud nyata untuk mengaktualisasi arti penting dari jalur rempah bagi kita sekarang ini,” tulis rilis tersebut.

Dijelaskan Muhibah Budaya Jalur Rempah dimulai dari 1 Juni 2022 hingga 2 Juli 2022 dengan menggunakan kapal legendaris KRI Dewaruci milik TNI AL menyusuri enam titik Jalur Rempah yakni Surabaya, Makassar, Baubau dan Buton, Ternate dan Tidore, Banda Neira, dan Kupang serta dijadwalkan kembali ke Surabaya pada 2 Juli 2022.

Rombongan Muhibah jalur rempah disambut di Ternate

Para peserta Muhibah Budaya Jalur Rempah 2022 atau Laskar Rempah merupakan pemuda-pemudi yang dipilih dari 34 provinsi di Indonesia yang berjumlah 149 orang, yang dibagi menjadi 4 kelompok (batch). Yaitu kelompok Lada (35 orang) dengan rute pelayaran Surabaya-Makassar; kelompok Cengkeh (37 orang) dengan rute pelayaran Makassar- Baubau,Buton-Ternate dan Tidore; kelompok Pala (37 orang) dengan rute pelayaran Ternate dan Tidore-Banda Neira-Kupang serta  kelompok Cendana (38 orang) dengan rute pelayaran Kupang-Surabaya.

 “Melalui program Muhibah Budaya Jalur Rempah diharapkan dapat menumbuhkan kebanggaan masyarakat di berbagai daerah sekaligus memperkuat jejaring interaksi budaya antardaerah sehingga menimbulkan semangat nasionalisme, meningkatkan kesadaran masyarakat dalam mengembangkan dan memanfaatkan Warisan Budaya dan Cagar Budaya Nasional, serta menginisiasi berbagai program dan aktifitas terkait Jalur Rempah di daerahnya masing-masing sebagai modal untuk meningkatkan kesejahteraan,” jelasnya dalam rilis tersebut.

Selama di titik Ternate dan Tidore, Laskar Rempah napak tilas kejayaan rempah dengan mengunjungi situs-situs cagar budaya, mempelajari karakteristik rempah-rempah dan budaya setempat, mengunjungi Perkebunan Cengkeh dan Pala, serta menghadiri jamuan yang telah disiapkan. Laskar Rempah dijadwalkan akan melanjutkan pelayaran tanggal 15 Juni 2022 menuju Tidore, dan melanjutkan pelayaran ke Banda Neira pada 16 Juni 2022 dari Tidore.

Ternate dan Tidore dalam Jalur Rempah

Ternate dan Tidore seolah menjadi satu kata yang tak terpisah. Padahal Ternate dan Tidore adalah bagian dari Kepulauan Maluku bagian utara, yaitu pulau-pulau Ternate, Tidore, Makian, Bacan, dan Moti. Ternate memiliki rempah cengkeh, salah satu rempah raja Nusantara yang mulanya hanya tumbuh dan ditemukan di Ternate, serta terbukti telah berkelana jauh hingga ditemukan di belahan dunia lain.  Merunut kepada bukti sejarah, Ternate dan Tidore adalah bagian dari Kepulauan Maluku bagian utara yang oleh para pedagang Arab kepulauan itu diberi nama Jazirah Al Mamluk. Kepulauan Raja–Raja merujuk kepada empat kerajaan bahari yang jejaknya masih bisa kita temui hingga saat ini, yaitu Kerajaan Jailolo, Ternate, Tidore, dan Bacan. Wilayah tersebut digadang-gadang sebagai taman firdaus yang penuh misteri. Para pedagang Arab dan Tiongkok selama berabad-abad sengaja merahasiakan keberadaannya hingga maskapai dagang Eropa berhasil membuka tabir misteri rempah Nusantara pada abad ke-16 Masehi. Sampai dengan awal abad ke-17 Masehi, cengkeh dan pala hanya bisa ditemukan kepulauan Maluku bagian utara dan Banda.

Benteng menjadi saksi sejarah rempah menghipnotis bangsa Eropa

Sebagai masyarakat bahari, orang-orang Ternate dan Tidore sangat akrab dengan lautan. Laut bukanlah pemisah bagi pulau-pulau mereka, tapi justru pemersatu bagi masyarakat yang beragam, mendampingi memori kolektif kejayaan rempah Nusantara yang pernah mengharumkan nama Maluku dalam kancah perdagangan dunia. Tradisi berperahu dengan menggunakan perahu Kora-Kora yang dulu digunakan untuk pelayaran Hongi masih terus dilestarikan. Peradaban rempah di wilayah ini pada suatu masa telah menciptakan laboratorium keragaman bangsa-bangsa dunia. Semua keragaman itu tercermin dengan jelas dalam bentuk seni budaya Maluku pada saat ini.

Di Ternate, masih tersisa benteng-benteng yang bersaksi atas sengitnya kompetisi perdagangan rempah-rempah antarbangsa di dunia. Di pulau ini terpancang dengan megah Gunung Gamalama dan bernaung di bawahnya bangunan bersejarah Kedaton Kesultanan Ternate, saksi lainnya dari perdagangan cengkeh pada abad ke-19 di Maluku.  

Rempah Raja Nusantara yang Melegenda dalam Sejarah Dunia

Cengkeh, salah satu rempah raja Nusantara yang terbukti telah berkelana jauh hingga ditemukan di belahan dunia lain, ribuan kilometer dari Nusantara. Pada 1980-an, arkeolog merilis temuan cengkeh Maluku yang telah menjadi arang dalam wadah keramik yang tertata rapi di suatu dapur rumah Tuan Puzurun dalam tembok kota kuno Suriah. Artefak butiran cengkeh itu disinyalir telah berusia lebih dari 3.500 tahun lalu. Ini adalah temuan penting dalam sejarah rempah dunia, melengkapi temuan lainnya, bahwa rempah Nusantara telah digunakan di Mesir sebagai bahan pengawet jenazah raja-raja sejak 3.000 tahun Sebelum Masehi.

Perjalanan yang ditempuh oleh rempah raja Nusantara itu hingga mampu berkelana ribuan kilometer dari wilayah timur Nusantara hingga sampai di jazirah Arab, Afrika, dan Eropa, hingga saat ini belum ada yang dapat mengungkapnya dengan jelas. Sumber Yunani pada awal abad Masehi, dokumen yang memberikan deskripsi spesifik tentang rute perdagangan Samudra Hindia menunjukkan dengan jelas bahwa Nusantara terlibat dalam hubungan dagang antara India dan Romawi.

Sementara itu di kawasan Asia, Tiongkok sejak 200 tahun Sebelum Masehi juga diketahui telah mengimpor cengkeh dari Maluku. Rentang waktu ribuan tahun itu tentu menghambat dalam pelacakan rute kelana rempah raja Nusantara hingga sampai di belahan dunia lain. Jack Turner (2005) menyatakan bahwa untuk beberapa abad lamanya, asal muasal rempah dan wewangian Nusantara adalah misteri bagi masyarakat dunia. Para pedagang Arab dan Tiongkok selama berabad-abad sengaja merahasiakan keberadaannya hingga maskapai dagang Eropa berhasil membuka tabir misteri rempah Nusantara pada abad ke-16 Masehi.

Salah satu peserta Muhibah melihat secara seksama cengkih sebagai salah satu rempah yang menarik minat bangsa Eropa

Meski tidak sehebat masa lalu, hingga hari ini perkebunan cengkeh terus dikembangkan di Kepulauan Maluku. Perubahan iklim global dan kondisi alam Indonesia yang terus berubah secara dinamis menjadi tantangan tersendiri dalam usaha pelestarian dan pengembangan tanaman rempah. Kesadaran mengulik jati diri rempah adalah upaya untuk mengumpulkan kembali Indonesia secara utuh. Indonesia yang bergerak dinamis menuju masa depan menempati ruang sejarah dunia yang lebih gemilang.

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Saatnya Pariwisata Malut Genjot Wisatawan Domestik

    • calendar_month Sel, 19 Jan 2021
    • account_circle
    • visibility 703
    • 0Komentar

    Talaga Rano Halbar salah satu destinasi wisata alam di Maluku Utara

  • Dicari Tim SAR, Warga Sanana Pulang Rumah dengan Selamat

    • calendar_month Ming, 4 Apr 2021
    • account_circle
    • visibility 638
    • 2Komentar

    Pencarian Salim Fatgehipon yang dilakukan Tim SAR Gabungan Sabtu malam. foto Tim SAR

  • Berapa Banyak Ikan yang Dicuri dari Laut Kita?

    • calendar_month Sel, 6 Jun 2023
    • account_circle
    • visibility 1.171
    • 0Komentar

    Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia yang didominasi oleh lautan, potensi kelautan dan perikanan di Indonesia sudah tidak perlu diragukan lagi. Dilansir dari Kementerian Kelautan dan Perikanan Indonesia (KKP), pada tahun 2019, nilai hasil ekspor perikanan Indonesia mencapai Rp73.631.883.000 dan termasuk salah satu sektor yang sangat diandalkan untuk pembangunan nasional.   Namun,  kita sering mendengar […]

  • Pulau Kecil  Masalah Besar, “Dijual hingga Diperebutkan” 

    • calendar_month Jum, 11 Jul 2025
    • account_circle
    • visibility 1.344
    • 0Komentar

    Sebuah Catatan dari  Kisruh Pulau di  Maluku Utara The Jakarta Post  media berbahasa Inggris terbitan 9 Juli 2025,  menurunkan artikel berjudul Pulau  Kecil, Masalah Besar. Dalam artikel itu diungkap sejumlah persoalan yang dihadapi  pulau-pulau kecil saat ini. Salah satu yang diangkat adalah munculnya penjualan pulau-pulau kecil secara illegal,  di berbagai situs internasional. Bagi The Jakarta […]

  • Dampak Perubahan Iklim di Ternate, Kota Pesisir dan Pulau Kecil (2)

    Dampak Perubahan Iklim di Ternate, Kota Pesisir dan Pulau Kecil (2)

    • calendar_month Sab, 6 Des 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 959
    • 0Komentar

    Nelayan Terancam di Laut,  Hasil Tangkapan Makin Menurun Gafur Kaboli (59) tahun sudah dua hari tidak melaut. Ditemui Selasa (25/11/2025) sekira pukul 12.20 WIT di rumahnya di Kelurahan Jambula Kota Ternate Selatan, dia mengaku  istrahat mengingat cuaca tidak menentu. Dia bercerita jika aktivitas melaut para nelayan Kota Ternate saat ini sangat beresiko karena cuaca yang […]

  • Jurnalisme Lingkungan, Jalan Pulang Melihat Isu  Publik

    • calendar_month Kam, 6 Jul 2023
    • account_circle
    • visibility 691
    • 0Komentar

    AMSI-BBC Media Action Program Kerjasama   Isu lingkungan  mestinya menjadi jalan pulang para jurnalis untuk melihat apa yang lebih dibutuhkan publik saat ini. Bukan sekadar traffic dan pageview atau  pengunjung. Pasalnya, dalam tren jurnalisme viral, banyak informasi penting yang terlewatkan untuk dikonsumsi publik. Pesan ini disampaikan oleh  Wenseslaus Manggut Ketua Umum Asosiasi Media Siber Indonesia […]

expand_less