Breaking News
light_mode
Beranda » Kabar Kota Pulau » Ternate dan Tidore dalam Filosofi Rempah  

Ternate dan Tidore dalam Filosofi Rempah  

  • account_circle
  • calendar_month Rab, 22 Jun 2022
  • visibility 1.301

“Doka gosora se bualawa. Om doro fo mamote. Foma gogoru, foma dodara”

Kalimat di atas merupakan sebuah filosofi hidup yang dianut orang Ternate  dan daerah Moloku Kie Raha umumnya. Kalimat dalam Bahasa Ternate itu menggambarkan , kedekatan  serta jiwa kekeluargaan yang dianut orang orang yang berada di negeri para sultan tersebut. 

Ternate dan Tidore menjadi salah satu titik penting dalam Muhibah Budaya Jalur Rempah 2022. Salah satu rempah yang sampai hari ini menjadi primadona adalah cengkeh yang merupakan tanaman endemik Maluku Utara.

Berbagai penelitian, studi dan catatan sejarah menjelaskan pengaruh rempah-rempah, salah satunya cengkeh, dalam membentuk peradaban dunia.Karena cengkeh pula berbagai artefak sejarah dalam bentuk benteng benteng kaum colonial bertebaran di pulau Ternate dan Tidore.

Zainuddin Muhammad Arie, sejarawan dan budayawan Ternate, mengatakan bahwa pada masa lalu, cengkeh digunakan sebagai obat. “Daun cengkeh itu dulu obat herbal yang cukup ampuh bagi orang-orang Maluku yang saat ini sudah dilupakan. Jadi, daun cengkeh diambil dan dijadikan obat sehingga ada kemungkinan besar orang-orang Maluku mempertahankan dan melestarikannya karena dia menjadi obat yang sangat baik bagi masyarakat setempat pada saat itu,” jelasnya, di Ternate, (16/6) lalu.

Zainuddin menjabarkan begitu pentingnya  cengkeh bahkan menjadi filosofi hidup masyarakat Maluku Utara, khususnya Ternate. “Doka gosora se bualawa. Om doro fo mamote. Foma gogoru, foma dodara” yang berarti kehidupan bermasyarakat layaknya cengkeh dan pala yang masak (hidup) dan gugur (mati) bersama-sama.


Kedatangan Laskar Rempah ke Maluku Utara pun dilakukan untuk melihat berbagai jejak kejayaan yang dihasilkan dari perdagangan cengkeh masa silam. Pemuda-pemudi terpilih yang berasal dari 34 provinsi berbeda ini diajak mengunjungi beberapa cagar budaya serta perkebunan cengkeh dan pala di Desa Tubo, Kota Ternate (14/6). Di desa ini, peserta berdialog dengan petani cengkeh serta berkesempatan untuk memanennya dan mencicipi rempah istimewa tersebut. Di desa yang mayoritas penduduknya berprofesi sebagai petani cengkeh, peserta bisa melihat rekatnya masyarakat dengan rempah dan turut melestarikannya dari dulu hingga saat ini.

Tokoh masyarakat Desa Tubo, Haji Ade Safar, menjelaskan bahwa sampai sekarang masih ada sistem adat yang masyarakat jalankan terkait penanaman cengkeh.  “Setelah cengkeh dan pala panen, ada sistem bagi hasil yang kemudian disedekahkan ke masjid karena masyarakat Tubo percaya bahwa ada bagian dari orang lain dari setiap cengkeh yang mereka hasilkan,” ujarnya.

Salah satu Laskar Rempah asal Jawa Barat, Amos mengungkapkan pengalaman yang berharga ini. “Perjalanan ke Tubo ini menurutku paling berkesan, karena seumur-umur baru kali ini main di kebun cengkeh dan pala langsung. Apalagi pengalaman ngunyah cengkeh yang segar langsung di kebunnya,” tutupnya.

Sebagai budayawan, Zainuddin berharap masyarakat Maluku Utara bisa mengembalikan lagi cengkeh sebagai barang hidup hayati, “Setiap hari bergaul dengan cengkeh, di makanan kita, di obat-obatan kita. Kalau kita mengembalikan lagi cengkeh sebagai tanaman budaya atau tanaman identitas, maka mungkin kita akan mempertahankan cengkeh. Oleh karena itu, jangan lihat cengkeh sebagai barang komoditi, tapi sebagai tanaman budaya.” Pungkasnya. (*)

Dikutip dari (https://www.kemdikbud.go.id/main/blog/2022/06/laskar-rempah-mengenal-cengkeh-sebagai-tanaman-budidaya-dan-budaya)

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Cara Libatkan Warga Pantau dan Kelola Data Kehati Lewat Citizen Science   

    Cara Libatkan Warga Pantau dan Kelola Data Kehati Lewat Citizen Science   

    • calendar_month Sel, 18 Agu 2026
    • account_circle Redaksi
    • visibility 203
    • 0Komentar

    Dalam mendukung pemantauan dan pengelolaan kelestarian biodiversitas dibutuhkan data lapangan yang lebih luas. Menghadapi tantangan  luasnya wilayah dan keterbatasan sumber daya manusia, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Pusat Riset Sains Data dan Informasi menyelenggarakan DESAIN #8 (Dialog Eksplorasi Sains Data dan Informasi yang memberi Peran Citizen Science dalam Transformasi Data Biodiversitas belum lama […]

  • Halmahera Kaya Jenis Anggrek,  Belum Ada Riset Khusus

    Halmahera Kaya Jenis Anggrek, Belum Ada Riset Khusus

    • calendar_month Sen, 17 Nov 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 1.206
    • 0Komentar

    Kekayaan keanekaragaman hayati di Halmahera dan pulau-pulau  sekitarnya tidak tepermanai.  Tak hanya satwa, jenis tumbuhan terutama yang endemic juga masih butuh riset untuk menemukan lebih banyak jenisnya.  Salah satu jenis flora yang  belum juga mendapatkan perhatian dalam bentuk riset adalah jenis anggrek atau  Orchidaceae.  Dosen Jurusan Biologi Universiteras Khairun Ternate Dr Naser Tamalene yang banyak […]

  • Daya Dukung Halmahera Tengah Terlampaui,  Tambang Perlu Dibatasi

    • calendar_month Kam, 29 Agu 2024
    • account_circle
    • visibility 1.074
    • 0Komentar

    Komunitas Fakawele: Warga Sagea Butuh Sungai dan Laut  Bersih Bukan Nikel Akhir Juli 2024, Kabupaten Halmahera Tengah mengalami banjir terparah dalam beberapa tahun terakhir. Kejadian ini  menyebabkan kerugian besar bagi warga karena akses jalan terputus, rumah terendam air, 1.726 orang mengungsi, dan menghilangkan satu nyawa. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Maluku Utara mencatat tujuh […]

  • KTH Woda Oba Tidore Kepulauan Kirim Damar ke Surabaya

    • calendar_month Sab, 22 Jul 2023
    • account_circle
    • visibility 983
    • 1Komentar

    Diambil dari Hutan Desa Program Perhutanan Sosial Hasil hutan yang dikelola masyarakat   dalam program Perhutanan Social (PS) tidak hanya hasil hutan kayu.  Hasil non kayu serta jasa lingkungan juga bisa dikelola dan menjadi sumber pendapatan penting. Hal ini juga yang dilakukan Kelompok Tani Hutan (KTH)   Desa Woda Kecamatan Oba Tidore Kepulauan saat ini. KTH  Woda saat […]

  • Kawasan Segitiga Terumbu Karang  Didorong  Dapat  Pendanaan Berkelanjutan  

    • calendar_month Ming, 14 Sep 2025
    • account_circle
    • visibility 905
    • 0Komentar

    Sejumlah Negara termasuk Indonesia yang masuk kawasan segitiga terumbu karang dunia mendapat perhatian khusus. Perhatian itu salah satunya adalah dalam bentuk pendanaan berkelanjutan. Saat ini Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mendorong penguatan skema pendanaan berkelanjutan sebagai langkah strategis mencapai tujuan Regional Plan of Action (RPOA) 2.0 Coral  Triangle Initiative on Coral Reefs, […]

  • Wilayah Kelola Hutan Oleh KPH Bertambah

    • calendar_month Jum, 25 Mar 2022
    • account_circle
    • visibility 1.244
    • 1Komentar

    BPHP- KPH  Bahas Update  Peta Arahan HP-HL di Malut  Arahan pemanfaatan hutan produksi- hutan lindung mulai dibahas. Pembahasan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan melalui Balai Pengelolaan Hutan Produksi (BPHP) Wilayah XIV Ambon itu, dilaksanakan di hotel Muara Ternate, Kamis (24/3/2022). BPHP yang membawahi wilayah Maluku dan Maluku Utara membahasnya  dengan  gelar Focus Discussion Group […]

expand_less