Breaking News
light_mode
Beranda » Kabar Kota Pulau » Transportasi Sumbang 5 Persen Emisi Karbon

Transportasi Sumbang 5 Persen Emisi Karbon

  • account_circle
  • calendar_month Jum, 15 Mar 2024
  • visibility 981

Ternate Punya 157873 Unit Kendaraan 

Penulis Mahmud Ichi/Mubarak Falahi

Penggunaan transportasi sulit dipisahkan dari aktivitas sehari-hari, terutama masyarakat yang berada di perkotaan. Ketergantungan akan transportasi ketika berpindah dari satu tempat ke tempat lain, membuat transportasi menjadi faktor signifikan pada besarnya jejak karbon yang dikeluarkan setiap individu.  

Jejak karbon adalah jumlah karbon atau gas emisi yang dihasilkan dari berbagai kegiatan (aktivitas) manusia pada kurun waktu tertentu. Jejak karbon yang dihasilkan akan memberikan dampak yang negatif bagi kehidupan  di bumi, seperti kekeringan dan berkurangnya sumber air bersih, timbul cuaca ekstrim dan bencana alam, perubahan produksi rantai makanan, dan berbagai kerusakan alam lainnya.

Ada tiga aktivitas  manusia yang  menimbulkan jejak karbon. Pertama Penggunaan Kendaraan yang menggunakan bahan bakar fosil seperti bensin, solar, atau gas. Proses pembakaran bahan bakar menimbulkan jejak karbon. Bepergian menggunakan kendaraan pribadi,  berkontribusi  menghasilkan lebih banyak gas emisi (CO2). Semakin banyak kendaraan berbahan bakar fosil digunakan, akan menambah lebih banyak pelepasan jejak karbon ke udara.Kedua. Penggunaan Energi Listrik dan Air. Penggunaan energi listrik untuk keperluan sehari-hari, misalnya TV, AC, lampu, kulkas, mesin cuci, microwave dan berbagai peralatan listrik lainnya  berbanding lurus dengan dihasilkannya gas emisi.  Hal ini  karena sumber energi listrik  sumbernya dari pembakaran bahan fosil pada pembangkit listrik. Begitupun dengan penyalahgunaan air. dibutuhkan banyak energi  mengelola air bersih, dan itu masih didapat dari penggunaan energi fosil.  

Ketiga Konsumsi Makanan.  Makanan yang  menjadi salah satu sumber gas emisi. Terutama jika makanan berpotensi menjadi gunungan sampah. Mulai dari ekstraksi bahan baku, proses produksi, proses distribusi, hingga barang  sampai di tangan manusia  ternyata meninggalkan jejak karbon.

Sektor transportasi merupakan satu dari tiga sektor yang mendorong peningkatan jejak karbon dari penggunaan energi ke level yang tinggi. Berdasarkan data dari Kementerian Perhubungan, sektor transportasi Indonesia menyumbang 5% dari total emisi. Secara global, sektor transportasi adalah penyumbang seperlima emisi dari total jejak karbon global. Serta menyumbang 24% emisi karbon dalam  penggunaan energi seluruh dunia.  IPCC juga melaporkan bahwa   62% penggunaan bahan bakar berasal dari sektor transportasi.  

Sebuah contoh bisa diambil dari Maluku Utara dengan 9 kabupaten dan 2 kota memiliki jumlah kendaraan  tidak sedikit. Ternate adalah kota yang memiliki kendaraan paling banyak. Meskipun berada di sebuah pulau kecil,  kendaraan roda dua saja sudah mencapai 142609 unit. Berdasarkan data Registrasi dan Identifikasi Elektronik yang dikeluarkan Kepolisian Daerah (Polda) Maluku Utara menyebutkan  jumlah kendaraan terbanyak ada di Kota Ternate. Sesuai data yang diperbaharui  hingga 23 Februari 2024 lalu, mobil penumpang saja ada 10807 unit,  bus 32 unit, mini bus 4807 unit, kendaraan roda dua  142069 unit, kendaraan khusus 40 unit. Total kendaraan di Kota Ternate termasuk Moti, Hiri dan Batang Dua mencapai 157873 unit atau 42 persen total kendaraan 11 kabupaten dan kota  di Maluku Utara. Kendaraan sebanyak itu melewati 311 ruas jalan atau total panjangnya mencapai 319,79 kilometer (BPS Malut, 2020).

Sementara untuk Bahan Bakar Minyak yang digunakan untuk kebutuhan kendaraan per harinya sesuai data PT Pertamina Patra Niaga Sub Holding Commercial  dan Trading Regional Papua Maluku tahun 2022  mencapai  25 ribu hingga 32 ribu liter (25 (KL  hingga 32 KL). Di dalam 1 liter  bahan bakar minyak (BBM) menghasilkan emisi karbon sebesar 2,4 kilogram CO2e. Secara ekuivalen, 1 liter BBM sama dengan 1,5 Kwh.   

Hutan Halmahera salah satu penyerap karbon terbaik perlu dijaga dan diletastarikan foto Opan Jacky

Perkotaan Penyumbang Terbesar Emisi Gas Rumah Kaca

Kota menjadi pusat pertumbuhan ekonomi dengan tingkat kepadatan penduduk yang tinggi, disebut-sebut menjadi salah satu penyumbang terbesar terjadinya krisis iklim. Dari sisi konsumsi energy, perkotaan mengonsumsi 78% pasokan energi utama, dan menghasilkan lebih dari 60% emisi gas rumah kaca global.

Doddy S. Sukardi, Direktur Eksekutif Yayasan Mitra Hijau Indonesia  awal Maret 2024 ini mengatakan, ada beberapa faktor yang mendasari perkotaan menjadi salah satu kontributor terbesar terjadinya krisis iklim.

Pertama, di perkotaan masyarakat yang menggunakan kendaraan pribadi untuk melakukan aktifitas sehari-hari masih jamak dijumpai. Sedangkan, umumnya kendaraan pribadi yang digunakan itu masih didominasi  kendaraan berbahan bakar fosil. Padahal selain pesawat, motor maupun mobil yang menggunakan bahan bakar fosil ini bisa menimbulkan jejak karbon yang cukup besar.

Secara nasional data dari Kementerian Perhubungan mencatat, sektor transportasi di Indonesia menyumbang 5% dari total emisi. Sementara secara global, sektor transportasi merupakan penyumbang seperlima emisi dari jejak karbon global.

Bukan hanya itu, dalam laporan Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim atau IPCC menyebutkan bahwa sebanyak 62% penggunaan bahan bakar berasal dari sektor transportasi.

Terapkan Prinsip Rendah Emisi

Di kota besar adanya pembangunan yang pesat seperti gedung-gedung tinggi maupun pabrik-pabrik di perkotaan, secara langsung maupun tidak,  dapat mengubah karakteristik tanah, begitu pun dengan sirkulasi udara, serta gerakan angin jadi terhambat. Hal tersebut bisa menyebabkan terjadinya olakan dan turbulensi yang bergerak naik.

Sedangkan angin yang bergerak ke atas itu akan membawa partikel-partikel seperti asap kendaraan, polusi, debu ke atmosfer permukaan.

Tidak hanya itu, gedung-gedung bertingkat berdinding kaca yang terus menjejali perkotaan itu akan memantulkan radiasi panas dari matahari yang menyebabkan daerah sekitarnya juga mengalami peningkatan panas.

“Umumnya, kota-kota besar merupakan penyebab terjadinya partikel-partikel halus atau asap industri maupun asap kendaraan bermotor ke dalam lapisan atmosfer,” katanya.

Beberapa gas buangan yang diemisikan ke dalam atmosfer akan bertindak sebagai gas rumah kaca yang transparan dengan radiasi gelombang yang pendek matahari, serta menyerap radiasi gelombang panjang bumi sehingga pemanasan bumi meningkat. Akibatnya, seiring perkembangan perkotaan suhu udara akan semakin naik.

Faktor ketiga yaitu gaya hidup masyarakat perkotaan. Menurutnya, peningkatan populasi perkotaan tentu berbanding lurus dengan kebutuhan energi listrik yang semakin tinggi. Peningkatan ini terjadi hampir semua sektor industri, sektor rumah tangga, maupun sektor komersial.

Secara tren, sejak tahun 2017 konsumsi listrik perkapita terus mengalami peningkatan. Terbaru, berdasarkan laporan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral pada 2023 realisasi konsumsi setiap orang di Indonesia rata-rata mencapai 1.285kWh/kapita. Angka ini disebut meningkat dari tahun sebelumnya yaitu 1.173 kWh/kapita.

“Untuk itu saya menghimbau kepada pemerintah maupun masyarakat agar memulai mengimplementasikan prinsip-prinsip hidup yang rendah emisi, jadi bagaimana merubah gaya hidup, merubah pembangunan agar tidak boros emisi,” tuturnya.

Cukup Adaptif

Pada saat bersamaan, selain menjadi kontributor terbesar krisis iklim, masyarakat miskin perkotaan juga dinilai menjadi kelompok yang rentan terdampak perubahan iklim. Ari Mochamad, Program Director Climate Change and Circular Economy, Save the Children-Indonesia mengatakan, rentannya kelompok masyarakat miskin kota ini dilandasi karena keadaan lingkungan mereka yang kurang memadai.

Ari menyoroti, tanpa ada perubahan iklim, kota juga memiliki persoalan yang sangat kompleks. Misalnya, kurangnya ruang resapan, drainase yang kecil dan tidak terpelihara dengan baik membuat perkotaan lebih mudah banjir.

Selain itu, sedikitnya ruang terbuka hijau di perkotaan juga dapat menyebabkan berkurangnya oksigen dan rusaknya kualitas ozon.

Walaupun mempunyai tingkat ancaman yang besar, lanjutnya, wilayah perkotaan umumnya juga memiliki kemampuan daya tangkal yang tinggi, atau cukup adaptif untuk melakukan mitigasi ancaman perubahan iklim.

Hal ini dilatarbelakangi karena perkembangan infrastruktur, kemampuan finansial, juga aplikasi teknologi untuk mendorong perbaikan kualitas lingkungan hidup di perkotaan lebih bagus.

“Dengan tingkat pendidikan yang jauh lebih baik, otomatis orang-orang yang menikmati fasilitas pendidikan itu jauh lebih paham terhadap isu perubahan iklim dan kerusakan lingkungan,” ujarnya.

Sebuah studi yang rilis dalam laporan “The Future of Urban Consumption in a 1,5 celcius World” tahun 2021 menunjukkan peran besar masyarakat perkotaan terhadap penanganan perubahan iklim.

Dari sisi emisi karbon saja, seluruh wilayah perkotaan menyumbang sedikitnya 10 persen dari emisi karbon global.

Studi ini dilakukan di 96 kota besar di dunia, termasuk Jakarta. Sedangkan pendekatan yang digunakan merupakan enam pola konsumsi penduduk, yaitu pakaian/tekstil, makanan dan minuman, industri penerbangan, pembangunan ifrastruktur, kendaraan bermotor, dan teknologi.

“Ini seharusnya menjadi momentum kepada para pemimpin kota maupun kabupaten mulai dari daerah atau provinsi, serta pelaku usaha agar menyadari, bahwa pembangunan ke depan merupakan pembangunan yang ramah lingkungan,” pungkasnya.(*)

Diolah oleh Mahmud Ichi dari berbagai sumber dan mongabay.co.id

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Tiga Persen APBD Harus Dialokasikan Atasi Sampah

    • calendar_month Sen, 16 Des 2024
    • account_circle
    • visibility 881
    • 0Komentar

    Gubernur/Bupati Wali Kota Didesak Buat Aksi Nyata Kepala Daerah di Indonesia termasuk Provinsi Maluku Utara  dan Kabupaten/kota  didesak segera melakukan aksi nyata  atasi sampah yang  makin tidak bisa tertangani  saat ini. Aksi nyata  yang harus dilakukan kepala daerah  Gubernur maupun Bupati dan Wali Kota itu, disampaikan Menteri Lingkungan Hidup (LH)/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH), […]

  • Buku Adalah Subversif ?

    Buku Adalah Subversif ?

    • calendar_month Sen, 30 Nov 2020
    • account_circle
    • visibility 589
    • 0Komentar

    Penulis: Syaiful Bahri Ruray Putra Wayabula A room without books is like body without soul (Cicero). Ditengah hiruk pikuk pandemik yang belum juga selesai, tiba-tiba saja jagad maya kita dikagetkan dengan tarik menarik soal buku. Dan itu berawal ketika ada postingan Anis Baswedan yang berkain sarung, sedang membaca How Democracies Die, buku karya Steven Levitsky […]

  • Melihat Kehati Halmahera Lewat Bird Race Competition   

    Melihat Kehati Halmahera Lewat Bird Race Competition   

    • calendar_month Sel, 28 Jul 2026
    • account_circle Redaksi
    • visibility 150
    • 0Komentar

    Halmaherapedia– International Bird Race Competition 2026 pertama digelar di  Maluku Utara. Acara  ini secara resmi dibuka pada Senin (27/7/2026). Kegiatan yang diinisiasi oleh Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata (BTNAL) ini diikuti  puluhan peserta dari berbagai latar belakang.  Mahasiswa, sektor swasta, fotografer profesional, hingga  dari mancanegara. Acara ini digelar sebagai bentuk memperkenalkan potensi pusat keanekaragaman hayati di […]

  • Pemerintah Rencana Produksi Bioetanol dari Seho

    • calendar_month Sab, 14 Des 2024
    • account_circle
    • visibility 1.270
    • 0Komentar

    Kekayaan sumber daya hutan tidak hanya dari kayu. Ada hasil hutan non kayu yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan dalam  program energy terbarukan. Pohon arena atau orang Maluku Utara mengenalnya dengan Seho, adalah salah satu potensi besar yang dapat dikembangkan menjadi bio etanol. Hutan Halamhera dan beberapa pulau lainnya di Maluku Utara menyimpan potensi besar […]

  • Hutan Orang Tobaru Terus Menyusut

    • calendar_month Kam, 11 Nov 2021
    • account_circle
    • visibility 631
    • 0Komentar

    Yusak Bulere (67 tahun) sibuk mengasapi kelapa yang telah diolah menjadi kopra. Saat ditemui di kebunnya Minggu sekira pukul 11.30 WIT pertengahan Februari 2021 lalu, Ayah tiga ini sibuk melemparkan  gonofu  (sabut kelapa dan tempurung kelapa,red) ke dalam api untuk menambah  api bafufu (pengasapan,red). Yusak sejak pagi menunggu kopra matang untuk segera dijual  kepada pedagang  […]

  • Keppres Moratorium Sawit Segera Terbit?

    • calendar_month Jum, 26 Jan 2018
    • account_circle
    • visibility 479
    • 0Komentar

    Ini Poin- poinnya   Ini kabar baik bagi warga Maluku Utara yang saat ini sedang  berjuang membebaskan daerahnya dari  industry perkebunan sawit. Pasalnya, saat ini  sedang digodok inpres yang mengatur tentang  moratorium perkebunan kelapa sawit di Indonesia. Seperti dilansir )Mongabay.co.id http://www.mongabay.co.id/2018/01/25/moratorium-sawit-segera-terbit-berikut-poin-poin-draf-inpresnya/) Setelah hampir dua tahun—sejak April 2016– rencana pemerintah keluarkan aturan tunda sementara (moratorium) izin […]

expand_less