Breaking News
light_mode
Beranda » Telusur Pulau » Jalan Pendek

Jalan Pendek

  • account_circle
  • calendar_month Sen, 1 Mei 2023
  • visibility 913

Sketsa Kehidupan di Pulau Hiri

Siang itu saya dan dua kawan jalan-jalan ke Pulau Hiri. Pulau kecil yang letaknya dekat dengan pulau Ternate. Hanya 20 menit menyeberangi pulau itu menggunakan perahu motor. Pulau Hiri masih terjaga, tradisi dan budayanya. Meskipun struktur geografis di pulau tersebut tidak jauh beda dengan pulau-pulau lain di Maluku Utara, namun tetap saja menyenangkan saat menyusuri jalanan yang berjarak dekat dengan bibir pantai.

Ada enam desa di pulau Hiri, yaitu desa Dorari Isa, Faudu, Mado, Tafraka, Togolobe dan Toma Jiko. Desa-desa tersebut letaknya mengelilingi pulau. Namun sayang sebagian jalan masih dalam perbaiakan. Cukup beresiko jika melintas saat penghujan.

Perjalanan singkat ini saya rekam lewat sketsa, seperti aktivitas yang terlihat di dermaga, orang-orang di atas perahu motor dan interaksi masyarakat setempat. Gambaran penuh ekspresi ini saya sebut sebagai “Jalan Pendek”.

Setiap pagi hingga sore beginilah aktivitasnya, entah di pelabuhan Ternate atau pun di Hiri, kesibukkannya selalu sama. Saat hendak berangkat, tampak tiba kapal perahu dari pulau Hiri yang berlabuh di dermaga Sulamadaha-Ternate.

Sejumlah penumpang mulai mempersiapkan barang bawaanya untuk turun, termasuk sepeda motor.

Perahu motor yang kami tumpangi tidak terlalu besar. Ada ruang duduk di dalam dan di luar (bagian atas). Penumpang bisa memilih dengan sesuka hati, bahkan di samping juru mudi juga boleh. Kebanyakan mereka (para penumpang) punya alasan tersendiri menikmati hal itu, seperti menghindari mual atau menghirup angin segar. Sekalipun cuaca panas atau hujan, mereka tetap saja merasa senang hingga sampai tujuan.

Sesekali yang dirasakan adalah sensasi air laut yang wangi asinnya di sepanjang air laut. Tampak juga gunung yang seolah-olah turut mendekat dari satu dan menjauh pelan dari arah yang berbeda. Air laut dan wangi khasnya terasa begitu dekat menjejal karang dan ikan-ikan kecil melompat-lompat.

Saat tiba di pulau Hiri, hal menarik yang saya jumpai yaitu tentang tukang ojek. Para tukang ojek menawarkan jasanya dengan cara yang sangat santai. Bahkan penampilan mereka pun tak meyakinkan untuk bisa tahu bahwa mereka adalah tukang ojek. Berbeda dengan Ojol (ojek online) penumpang tidak perlu sibuk mengorder pakai aplikasi, cukup dengan mendengar teriakan dari tukang ojek sendiri,  “Ojek?,” maka, penumpang siap diantar hingga ke tujuan.

Setelah selesai beraktivitas, kami kembali ke Ternate. Saya merekam kondisi di pelabuhan Hiri saat para penumpang sedang menunggu perahu motor datang. Di koridor dermaga, orang-orang menunggu sambil duduk di tembok koridor. Ruangnya sangat terbuka. Bisa melihat pemandangan yang indah dari kejauhan. Gunung Ternate dan birunya laut disertai perahu-perahu nelayan yang sedang memancing, berjejeran bagai garis-garis pendek kecil.

Saya tidak membayangkan jika kondisi cuaca buruk, seperti hujan atau angin kencang. Para penumpang yang sedang menunggu di ruang tunggu pelabuhan itu akan merasa tidak aman dan nyaman. Sungguh kondisi ini sangat memprihatinkan.

Dermaga di kedua pulau ini hampir sama kondisinya, tidak memberi rasa nyaman dan aman bagi para penumpang karena infrastruktur yang kurang layak.

Padahal, setiap hari para penumpang harus melakukan aktivitas, sementara jalur transportasi dan kondisi dermaga mengungkap sisi lain yang berbeda. Para penumpang harus saling mengulur tangan, membantu melewati tangga-tangga darurat hasil bikinan warga setempat.

Saya merekamannya dalam garis-garis sketsa yang haptik.

Pada kondisi yang berbeda, roda kehidupan harus terus bergerak walaupun masih banyak yang harus dibenahi. Sebuah kesadaran bersama, bahwa prioritas dan tanggung jawab merupakan bentuk kemanusiaan untuk mendukung roda kehidupan. Pandangan saya tertuju pada seorang juru mudi, keteguhan dan tak pernah goyah karena ombak, tak lantas membuatnya patah harapan karena badai. Baginya itu hanya musim, musim pasti berganti. Sementara Tuhan punya cara sendiri menanggulangi itu. Waktu terus berjalan dalam segala harapan baik, asal tidak sampai kelaparan. Sebab ada orang-orang terkasih yang disebut keluarga patut diperjuangkan dan alam tetap diperlakukan dengan baik.(*)

Profil

Fadriah adalah seniman asal Ternate yang saat ini aktif dalam kerja-kerja seni rupa di Maluku Utara. Karya-karya seni yang ia hadirkan selalu mengangkat tema-tema sosial, budaya berdasarkan argumen artistik penuh simbolik. Di sela-sela waktunya setiap momen dilewatinya dengan karya sketsa dan menulis. Kali ini beberapa sketsanya diungkapkan melalui aktivitas kehidupan masyarakat kepulauan dengan catatan sketsa yang disebut Jalan Pendek.

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kiprah Jamal Adam Jaga dan Rawat Paruh Bengkok    

    • calendar_month Ming, 4 Feb 2024
    • account_circle
    • visibility 811
    • 2Komentar

    Sabtu (17/12/2023) siang sekira pukul 12.30 WIT itu terasa menyengat.  Suasana Suaka Paruh Bengkok (SPB) di kawasan Taman Nasional Ake Tajawe Lolobata (TNAL) Desa Koli Oba Kota Tidore Kepulauan Maluku Utara itu juga, terlihat hanya ada 3 pengunjung. Mereka adalah karyawan sebuah perusahaan tambang yang datang selain berwisata juga menyerahkan seekor kakatua jambul kuning (cacatua […]

  • Ini Rekomendasi untuk Selamatkan Pulau Hiri

    • calendar_month Sen, 6 Jan 2025
    • account_circle
    • visibility 861
    • 0Komentar

    Embung Hiri Perlu Dievaluasi Sebelum Muncul Masalah Forum Koordinasi Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Moloku Kie Raha (FKDAS-MKR) Provinsi Maluku Utara merekomendasikan kepada pemerintah daerah Kota Ternate  dan pihak terkait perlu mengevaluasi embung air hujan yang  sudah dibangun di Pulau Hiri. Embung Hiri adalah salah satu poin penting dari 10 rekomendasi yang dikeluarkan FORDAS MKR untuk […]

  • Seni dan Tradisi Togal Tergerus Zaman?

    • calendar_month Jum, 20 Nov 2020
    • account_circle
    • visibility 1.489
    • 0Komentar

    Ditinggal Muda-mudi, Digandrungi Kaum Tua      Ibu-ibu berkebaya memakai sarung dan selendang  itu usianya sudah di atas 50 tahun. Mereka duduk berbaris di bawah tenda, sambil menunggu bapak-bapak yang datang dan ikut  pesta ronggeng togal. Ini adalah cara warga Desa Samo di Halmahera Selatan meramaikan  Festival Kampung Pulau dan Pesisir yang diinisiasi perkumpulan PakaTiva bersama […]

  • Pulau- pulau Kecil di Malut yang Butuh Perhatian ( Bagian 1)

    • calendar_month Sab, 30 Nov 2019
    • account_circle
    • visibility 2.207
    • 0Komentar

    Maluku Utara sebagai provinsi Kepulauan memiliki luas wilayah secara keseluruhan mencapai 145.801,1 kilometer meliputi daratan 45.069,66 Km2 (23,72 persen) dan wilayah perairan seluas 100.731,44 Km2 (76,28 persen). Maluku Utara juga memiliki  panjang garis pantai 3.104 Km. Data  hasil identfikasi jumlah pulau di Maluku Utara terdiri dari 1.474 pulau, dengan jumlah pulau yang dihuni sebanyak 89  atau 1.385 […]

  • Berburu Kesempatan Kerja di UI Career

    • calendar_month Rab, 15 Mar 2023
    • account_circle
    • visibility 686
    • 1Komentar

    Ini  jadi kesempatan emas bagi mahasiswa semester akhir maupun mereka yang kategori fresh graduate yang ada di Maluku Utara danIndonesia umumnya . Peluang kerja tersedia di berbagai perusahaan terkemuka di Indonesia. Bisa  berburu berbagai peluang itu  dalam UI CAREER, INTERNSHIP, SCHOLARSHIP  dan ENTREPENEURSHIP (CISE) EXPO MARET 2023 ini Melalui Career Development Center Universitas Indonesia (CDC […]

  • Pengelolaan Pesisir dan Pulau Kecil Tak Berdasar Saintifik

    • calendar_month Sel, 30 Jan 2024
    • account_circle
    • visibility 694
    • 0Komentar

    Ini Masukan Masyarakat Sipil untuk Capres dan Cawapres   Center of Maritim Reform for Humanity atau Pusat Kajian Maritim untuk Kemanusiaan mengingatkan semua pihak terutama para calon presiden dan wakil presiden  agar perlu memiliki ikhtiar yang kuat terhadap perbaikan bangsa terutama terkait isyu lingkungan hidup dan pertanahan dalam konteks pengelolaan perikanan dan sumberdaya agraria di […]

expand_less