Breaking News
light_mode
Beranda » Laut dan Pesisir » Pulau Kecil, Kaya Biodiversitas Tapi Rentan

Pulau Kecil, Kaya Biodiversitas Tapi Rentan

  • account_circle
  • calendar_month Sen, 10 Jul 2023
  • visibility 586

Pembangunan di pulau-pulau kecil tidak cukup sekadar membangun berbagai fasilitas, salah satunya seperti pariwisata. Keberadaan  fasilitas yang menunjang wisatawan  di satu sisi bisa menjadi ancaman kelestarian sumber daya alam. Karena itu  pemerintah perlu menyusun peta jalan pembangunan berkelanjutan untuk pulau-pulau kecil.

“Perlu memerhatikan daya dukung lingkungan pulau-pulau kecil,’’kata Guru Besar Kelautan Universitas Mataram Prof Sitti Hilyana dalam diskusi Uniknya Biodiversitas di Pulau-Pulau Kecil yang diselenggarakan oleh Forest Watch Indonesia  dengan Universitas Pattimura dan Universitas Mataram, Selasa (27/6) lalu.

Dia  bilang pulau-pulau kecil memiliki kekayaan flora dan fauna darat dan   bawah laut yang hingga saat ini masih terus dieksplorasi. Kekayaan  tersebut memiliki  daya tarik penelitian dan turis. Ketika pariwisata berkembang, pulau-pulau kecil  menjadi salah satu destinasi wisata. Hampir sebagian besar pulau-pulau kecil menjadi destinasi wisata unggulan.

Kehadiran wisatawan yang berlebih dan pembangunan fasilitas yang tanpa memerhatikan kelestarian bisa menjadi ancaman baru bagi kekayaan di pulau-pulau kecil itu. Kehadiran wisatawan di satu sisi mendatangkan manfaat ekonomi, tapi limbah yang dihasilkan juga bisa menjadi masalah baru.

Begitu juga pengembangan sektor pertanian dan peternakan di pulau-pulau kecil harus menghitung daya dukung pulau kecil tersebut.

Prof Nana, panggilan akrab Sitti Hilyana mencontohkan, jika ada peternakan skala besar di pulau kecil, kotorannya bisa masuk ke perairan. Akan menyebabkan kesuburan berlebihan dan pada gilirannya bisa mengganggu ekosistem terumbu karang.

“Pengembangan pulau kecil itu bisa untuk pariwisata, riset, perikanan, peternakan, pertanian. Tapi semuanya itu harus berkelanjutan,’’ katanya.

Di Maluku Utara  misalnya punya 1474  pulau   dan hanya 89  di antaranya yang berpenghuni. Sebagian pulau berpenghuni tersebut menjadi kawasan wisata,  dan daerah nelayan. Sebagian pulau tidak berpenghuni juga dikembangkan untuk pariwisata.

Pulau-pulau kecil memiliki karakteristik khas. Kekayaan biologinya sangat beragam. Menjadi laboratorium hidup untuk berbagai riset baik di daratannya maupun di lautannya.

Pulau Widi  di Maluku Utara yang indah dan menawan sempat menjadi polemic karena sempat dilelang di situs lelang internasional hingga mengheboihkan Indonesia.   Pulau ini memiliki keanekragaman hayati luar bisa dari darat dan lautnya

Kepulauan Widi sudah dicadangkan sebagai Kawasan Konservasi Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (KKP3K) Suaka Pulau Kecil (SPK). Berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Maluku Utara No.251/KPTS/MU tahun 2015, SKP itu luasnya 7.690 ha. Setelah ditetapkannya Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP3K) melalui Peraturan Daerah Maluku Utara No.2/2018, luas kawasan konservasi Kepulauan Widi direvisi menjadi 324.945,36 ha.

Pencadangan Kepulauan Widi sebagai Suaka Pulau Kecil ditinjau kembali untuk penyesuaian jenis kategori kawasan serta penyederhanaan bentuk kawasan. Dari hasil peninjauan tersebut Kepulauan Widi diusulkan menjadi Kawasan Konservasi Perairan (KKP) tipe kawasan Taman Wisata Perairan (TWP) dengan luasan 315.117,11 ha.

TWP Kepulauan Widi memiliki berbagai potensi dari segi ekologis, sosial budaya hingga ekonomi yang penting untuk dijaga dan dikembangkan manfaatnya. Potensi ekologi meliputi ekosistem terumbu karang dengan luasan total 5913,87 ha, ekosistem mangrove 84,61 ha dan ekosistem padang lamun 298,74 hektar. Di ekosistem tersebut hidup berbagai jenis organisme penting seperti ikan karang dan satwa laut kharismatik seperti lumba-lumba, hiu martil dan pari manta.

Zonasi KKP TWP Kepulauan Widi dibagi menjadi beberapa zona sesuai peraturan dan perundangan yang berlaku. Ada tiga zona, yaitu zona inti, zona pemanfaatan, dan zona perikanan berkelanjutan. Di dalam zona pemanfaatan terdapat sub zona pariwisata alam perairan, sedangkan zona perikanan berkelanjutan ditujukan untuk sub zona penangkapan ikan.

Masing-masing zona memiliki target konservasi atau objek yang ingin dilindungi yang akan menentukan indikator pengelolaan kawasan dan menjadi acuan dalam menentukan strategi pengelolaan sumber daya hayati yang ada.

Menjaga Kekayaan Pulau Kecil

Masyarakat yang mendiami pulau-pulau kecil memiliki kekayaan yang beragam dan berbeda dengan pulau utama.  Pulau-pulau kecil menjadi pertemuan masyarakat nelayan dari berbagai daerah. Pertemuan itu menghasilkan budaya yang baru. Begitu juga dengan sistem sosial masyarakat di pulau-pulau kecil menjadi bahan menarik untuk riset-riset sosial budaya di pulau kecil.

Di satu sisi pulau-pulau kecil yang jauh dari daratan utama menghadapi masalah kelangkaan sumber daya pendukung. Misalnya air bersih. Sebagian besar pulau kecil berpenghuni  memiliki keterbatasan sumber air bersih. Begitu juga dengan pulau-pulau kecil lainnya di Nusantara.

“Tampungan air tawar terbatas, cadangan air tawarnya rendah,’’ katanya.

Kondisi ini semakin rentan dengan dampak perubahan iklim. Musim kemarau dan hujan yang tidak menentu, kenaikan permukaan air laut menjadikan masyarakat di pulau-pulau kecil harus berjuang lebih keras. Begitu juga dengan kekayaan biologi. Kerusakan terumbu karang, kelangkaan berbagai spesies burung, penyu, ikan juga menjadi tantangan pengembangan pulau-pulau kecil.

“Perlu ada upaya menetapkan beberapa pulau-pulau kecil sebagai kawasan konservasi,’’ katanya.

Diolah dari Mongabay.co.id    

  • Penulis:

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pakativa – Dinkes Lakukan Penyuluhan Kesehatan

    • calendar_month Kam, 10 Sep 2020
    • account_circle
    • visibility 445
    • 0Komentar

    Jalannya kegiatan penyuluhan kesehatan yang digelar Paka Tiva dan Dinkes Ternate/foto Ima Paka tiva

  • Pekan  Ini Tiga Warga di Malut Diterkam Buaya

    • calendar_month Rab, 3 Agu 2022
    • account_circle
    • visibility 530
    • 1Komentar

    Keindahan-Danau-Tolire-menyimpan-bahaya-jika-turun-dan-masuk-ke-dalam-area-ini-Pasalnya-buaya-yang-hidup-di-danau-ini-menginai-setiap-saat foto M Ichi

  • Untuk Ikan Lestari, AS Dukung Hentikan Illegal Fishing

    • calendar_month Jum, 19 Jan 2018
    • account_circle
    • visibility 393
    • 0Komentar

    Upaya  menjaga kelestarian sumberdaya alam laut Indonesia terutama bidang perikanan, menjadi sebuah keharusan. Dalam upaya itu membutuhkan dukungan berbagai pihak. Salah satunya dilakukan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP)yang  bekerjasama dengan Badan Pembangunan Internasional AS (USAID), dan the U.S. National Oceanographic and Atmospheric Administration (NOAA) bermitra menerapkan Perjanjian tentang Ketentuan Negara Pelabuhan (PSMA). Seperti rilis yang dikirimkan USAID […]

  • Anak Muda Pulau Bacan Dorong Literasi, Konservasi dan Ekonomi

    • calendar_month Ming, 5 Okt 2025
    • account_circle
    • visibility 552
    • 0Komentar

    Bentuk Komunitas, Kampanye Lindungi  Satwa, Buat Perdes dan  Kelompok Tani Suasana di kawasan zero point pusat Kota Labuha Halmahera Selatan terlihat sibuk. Jumat (11/7/2025) siang  itu  sejumlah anak muda tengah menyiapkan acara pendukung kegiatan Merayakan Hari Keragaman Burung Indonesia  (MKBI) yang dilaksanakan  LSM Burung Indonesia.  Kegiatan ini  adalah bagian dari Festival Konservasi Satwa  Liar Maluku […]

  • Menjaga Mangrove di Titik Nol Khatulistiwa

    • calendar_month Sel, 19 Mar 2024
    • account_circle
    • visibility 765
    • 0Komentar

    Membangun Asa dari Kampung Tawabi     Senin (11/2/2024) sekira pukul 12.00 siang itu terasa  menyengat. Matahari tegak lurus di atas ubun-ubun. Cuaca panas  itu begitu terasa karena  sedang berada di titik nol khatulistiwa.  Tepatnya di desa Tawabi Kecamatan Kayoa Kabupaten Halmahera Selatan. Sebuah patok   menjadi penanda  titik nol khatulistiwa  berada di  hutan mangrove tepi pantai […]

  • Ternate Masuk 10 Kota Berketahanan Iklim Inklusive

    • calendar_month Rab, 13 Okt 2021
    • account_circle
    • visibility 569
    • 1Komentar

    Pelatihan rencana aksi iklim yang digelar Senin (1/10/2021)

expand_less